Ada kelegaan di mata Pandu saat melihat orang yang dicintainya terlihat segar hari ini, meski wajah pucatnya masih kelihatan. Saat ia membuka pintu, Kiara duduk di kasurnya, ia tidak menggunakan alat bantu pernafasan lagi. Senyum Pandu mengembang lebih lebar.
Kiara tengadah menatap wajah Pandu dan matanya mulai berkaca-kaca.
"Kenapa mau nangis?" tanya Pandu mendekat dan memeluk kepala Kiara.
"Aku sempat memutuskan mau menyudahi segalanya dengan kakak, belum nikah aja cobaannya gini, apalagi nikah entar, tapiiii setelah penjelasan kak Pandu...," Pandu menutup bibir Kiara dengan tangannya.
"Ssstttt.. kakak nggak mau dengar apapun lagi, cepat sembuh, makan yang banyak, kita nikah, bulan madu ke Jepang, nanti kita pilih tempat romantis," Pandu duduk di kasur Kiara. Memegang pipi Kiara dan mendekatkan wajahnya pada wajah Kiara.
"Eeemm kakak mau ngapain?" tanya Kiara gugup.
"Nggaaak nggak akan ngapa-ngapain, cuman mau memastikan kamu baik-baik aja, " Pandu masih saja tersenyum memandang Kiara yang terlihat masih lemas.
"Nih pipinya jadi kayak gini, enakan waktu kamu SD dulu, kalo kamu minta cium sekali, biasanya kakak cium dua kali, soalnya temben sih jadinya gemes, sekarang hmmmm ?" Pandu masih mengelus pipi Kiara dan Kiara menarik tangan Pandu dari pipinya.
"Kiara jadi jelek?" tanya Kiara dan Pandu mengangguk menahan tawa.
"Biarin ntar Kia mau dandan ke salon biar cantik lagi," dan tawa Pandu memenuhi kamar Kiara.
Bersamaan dengan itu papa dan mama Kiara masuk.
"Eh Pandu, sudah lama?" tanya mama kia.
"Barusan kok tante," jawab Pandu.
"In shaa Allah besok Kiara boleh pulang, karena tadi menurut dokter kondisinya sudah semakin baik, cuman nggak boleh capek ya Kia," ujar mama.
"Tante, om, dua hari lagi saya balik ke Tokyo, boleh nggak kalo Kiara ikut, di sana kan ada mama, kalo papa sih sibuk terus di kantor kedutaan," tanya Pandu pada papa mama Kia, Kiara sempat melongo menatap Pandu yang tanpa menawarinya lebih dulu.
"Terserah Kiara sih, kalo merasa sehat ya nggak papa, trus skripsinya juga kan tinggal bab terakhir apa ya Kiara, gimana ?" tanya mama.
"Udah kok ma bab terakhir, tinggal ngajuin aja, ya gara-gara sakit ini jadi tertunda deh, berapa hari kak di sana ntar?" tanya Kiara.
"Empat-lima harilah, cuman karena mungkin kakak sibuk, kakak nggak bisa ngajak Kiara jalan-jalan, sama mama nggak papa ya Kia, paling tidak kalau kamu ikut kakak jadi tenang, biar bisa memastikan kamu nggak ada yang gangguin lagi," ujar Pandu pada Kiara.
"Nggak papa kalau Kia ngerasa sehat, besok sebelum keluar dari rumah sakit mama mau tanya dulu ke dokternya," papa Kiara mengiyakan saran mama.
"Atau Kia ngajukan bab terakhir dulu kak, ntar revisinya setelah Kia dari Tokyo," ujar Kiara pada Pandu.
"Iya nggak papa, kakak antar kamu ke kampus, kakak tungguin sampe kamu selesai," ada kelegaan di mata Pandu saat Kiara mau ia ajak meski ia harus dengan cara nodong.
***
"Tidurlah, perjalanan masih jauh sekitar tujuh jam-an lagi," Pandu melihat Kiara memejamkan matanya sesaat setelah pesawat takeoff.
Pandu menatap Kiara yang tidur sangat nyenyak, masih terlihat wajah pucatnya. Pandu sengaja membeli tiket pesawat kelas bisnis agar Kiara dapat beristirahat dengan nyaman. Dua jam kemudian Pandu menyentuh tangan Kiara.
"Sayang, makan dulu ya, tuh sudah kakak taruk di dekatmu, makanlah," Pandu berjalan mendekati Kiara.
"Kakak duduk aja, nggak usah disuapi, malu diliatin ntar, tuh pramugarinya yang cantik udah lirik-lirik kakak," Kiara cepat memegang sendok dan ia mulai mencicipi makanan yang ada di dekatnya.
"He'eh, soalnya kakak kamu ini ganteng, makanya pada ngelirik kakak," Pandu mencium kening Kiara dan kembali menempati tempat duduknya.
"Enak?" tanya Pandu, saat Kiara makan dengan lahap.
"Apa aja enak bagi Kiara, kayak nggak tahu Kia aja," ujar Kiara yang disambut tawa Pandu.
***
Malam sangat larut saat Kiara dan Pandu menapakkan kakinya di Bandara Internasional Narita, Tokyo. mereka bergegas menuju mobil yang sudah disiapkan oleh perusahaan tempat Pandu Bekerja.
***
"Sayaaang akhirnya nyampe juga, ayo, ayo istirahat dulu, sebenarnya Pandu punya apartemen di sini Kiara tapi tante yakin kamu nggak akan mau di ajak nginep di sana berdua sama Pandu kan, Ya udah di sini saja, nggak papa ya kamarnya mungil-mungil," ujar mama Pandu.
"Iya nggak papa tante, Kiara di mana aja nggak papa kok," ujar Kiara setelah mencium pipi mama Pandu.
"Nah kamar kamu yang ini aja Kiara, kamu disitu ya Ndu, nyelempit hihihi nggak papa ya Ndu?" mama Pandu tertawa karena kamar yamg ditempati Pandu memang benar-benar kecil.
"Nggak apa-apa mama sayaaang, yang penting Pandu tenang, bidadari kecil ini Pandu bawa ke sini," Pandu mencubit hidung Kiara dan wajah Kiara memerah menahan malu.
"Heeys ini, kalo sama Kiara maunya jowal jawil aja, udah sana masuk sayang, istirahat ya, cuman kamar mandinya nih di sini tante tunjukin, ada dua," Kiara mengekor di belakang mama Pandu dan melihat-lihat interior yang menarik meski tidak seberapa luas.
***
Pagi setelah sholat subuh Kiara ke dapur membantu mama Pandu membuat sarapan.
"Pengen apa Kia?" tanya mama Pandu.
"Sembarang tante, Kia semua mau kok." jawab Kiara mendekat ke arah mama pandu.
Pandu muncul di belakang Kiara, mengusap rambut Kiara, Kia kaget dan wajahnya memerah saat dilihatnya Pandu hanya menggunakan celana katun dan bertelanjang d**a.
"Panduuu sana mandi trus sholat, tuh si Kianya malu, kamu nggak pake baju, mana celananya melorot lagi," mama Pandu menjewer telinga Pandu.
"Iya iya maaa Pandu juga bentar lagi berangkat, Kia sayang bikinin coklat hangat ya," Pandu berbisik ke telinga Kiara dan Kia mengangguk.
Dengan cekatan Kia membuat coklat hangat untuk Pandu dan dirinya sendiri.
"Om mau dibuatin apa ya tante?" tanya Kiara.
"Wah ntar aja, om mu itu biasa minum kopi kalo pagi, tapi ya yang biasa aja, kalo terlalu kental dia nggak mau," mama Pandu membuat nasi goreng pedas yang di dalamnya ada potongan sosis, ayam dan kacang polong.
***
"Aaaah senangnya sarapan berempat kayak gini, nggak sabar kalian segera nikah," mama Pandu menatap bahagia pada suaminya, Kia dan Pandu.
"Ayo Kiara makanlah, kalau ngeladeni mamanya Pandu bisa-bisa ndak jadi makan kamu, ayo ini nasi gorengnya, itu juga kalo mau ada ayam goreng," papa Pandu menawari Kiara.
"Eh papa ini, aku kan membayangkan senangnya nanti bakalan rame setelah Pandu nikah dan punya anak," ujar mama Pandu menyendokkan nasi untuk suaminya.
" Mama aku titip Kiara ya, karena kayaknya aku pulang malam," ujar Pandu sambil menatap wajah mamanya.
"Beres bos, akan mama ajak jalan-jalan, mau kan Kiara?" tanya mama Pandu, Kiara mengangguk cepat sambil tersenyum.
***
Malam telah larut saat mama membukakan pintu untuk Pandu. Terlihat wajah lelah anaknya.
"Kia mana ma?" tanya Pandu.
"Ya tidurlah, jam segini," jawab mama.
Pandu masuk ke kamar Kiara dan memandang wajah nyenyak Kiara. Mengusap rambutnya dan mencium kening perlahan, hanya sekilas, kawatir Kiara bangun.
Pandu ke luar kamar dan mendapati mamanya yang duduk di ruang makan.
"Kok nggak tidur ma?" tanya Pandu
"Nunggui kamu, kawatir ngapa-ngapain Kiara," ujar mama Pandu menahan tawa.
"Ah mama, ada-ada aja," ujar Pandu menahan malu dan membuka jas, menarik dasi serta membuka kemejanya.
"Mama ini sudah tua Panduuu, mama ngerti apa yang ada dipikiran kamu hanya dengan melihat mata kamu, baru kali iniiiii kamu kayak gemes aja kalau liat Kiara, dulu waktu sama wanita itu kamu nggak segitunya, makanya mama tungguin, bisa-bisa aku ditonjokin sama Mia kalau anaknya kamu cicipin," mama Pandu menutup mulutnya saat Pandu terbelalak kaget.
"Mamaaaa, kueee kali dicicipin, ih mama, nggak lah ma, nggak akan Pandu apa-apain Kiara sampai waktunya tiba, dan Kiara itu emang gemesin ma, apa karena badannya mungil ya aku maunya gendong dia atau mendudukkannya di pangkuan Pandu ma," ujar Pandu mengusap wajahnya dengan kasar.
"Eh eeeeh aih aiiiih fantasi anak mama boleh juga nih mainnya pangku-pangkuan sama gendong-gendongan lagi," dan tawa mama Pandu semakin jadi.
"Mamaaaa itu cuma pikiran Pandu maaaa, hadduuuh nggak akan bener-bener dilakuin sekarang, capek nih ngomong sama mama," Pandu menggelengkan kepalanya, ia selalu kalah jika melawan mamanya, heran juga kok bisa papanya yang serius berjodoh dengan mamanya yang ramenya ngalahin orang sekampung.
"Kamu tuh sudah 30 umurmu, harusnya canggih gitu-gituannya, pernikahan kamu sudah di depan mata, nanti tugas kamu ngajarin Kia, kalau kamu sama istri kamu sama-sama bengong di malam pertama yaaaa mending main monopoli di gardu ronda deh," akhirnya mama dan Pandu sama-sama tertawa.
"Maaaa laki-laki urusan gituan nggak usah diajarin," ujar Pandu mencari-cari sesuatu di dapur.
"Ngapain Ndu?" tanya mama.
"Laper lagi ma, ada lauk apa?" tanya Pandu.
"Tuh mama bikin rendang, rendang kw tapi hihihihiii, oh iya itu ada opor,si Kiara yang bikin eh ternyata tuh anak bisa masak Ndu, kok ya beruntung kamu, meski kayak manja gitu dia kayak nggak canggung di dapur," ujar mama Pandu duduk di dekat Pandu dan malah ikut makan.
"Loh mama ini gimana sih, aku yang lapar kok malah mama yang makannya banyak," Pandu menyendokkan opor ke piringnya.
"Halah nggak usah banyak omong kamu, ini juga gara-gara kamu pulang malam, mama nungguin jadi laper," mama Pandu menambah nasi lagi ke piringnya.
Papa Pandu melewati mereka menuju kamar mandi.
"Rameee aja mama sama anak, gangguin orang tidur aja."
Mama Pandu terkekeh pelan dan Pandu yang menahan tawa.
***
Pagi kedua di Tokyo, hari ini Pandu berjanji tidak akan pulang malam dan bermaksud menemani Kiara jalan-jalan.
"Mending nggak usah janji deh, kasian Kia juga ntar kadung berharap," ujar mama menatap Pandu yang terlihat bingung, menghela napas berat dan menatap Kiara.
"Nggak papa kok kak, Kia ada tante, tante Meri hari ini mau ngajakin Kia jalan-jalan lagi, menyenangkan hidup di sini, rapi, teratur, suka banget sama moda transportasi umumnya, bersih nyenengin, antri sepanjang apapun tetep aja rapih," ujar Kiara terlihat senang.
"Gini Kia, ada yang mau kakak sampaikan ke Kia, kayaknya sehabis kita nikah, kak Pandu bakalan ditarik ke sini lagi, mau kan Kia ikut kakak di sini?" tanya Pandu yang melihat Kiara menghentikan makannya dan menatap Pandu dengan hati gamang.
****