#10

1350 Words
Pandu semakin mengutuki dirinya, melihat wajah tirus di depannya terpejam. Alat bantu napas dan infus di tangan Kiara membuat dadanya terasa sakit. Mama Kiara sengaja ke luar dari kamar dan menuju kantin rumah sakit. Perlahan Pandu melihat mata Kiara yang bergerak-gerak gelisah. Tangan Kiara disentuhnya perlahan. Kiara membuka mata dan memejamkan kembali. "Kiaaa ini kakak," suara Pandu parau menahan tangis. Kiara membuka matanya lagi, ia merasakan tangan Pandu perlahan mengusap punggung tangannya, ia semakin yakin ini bukan mimpi seperti hari-hari sebelumnya. Kiara memejamkan matanya dan air mata mengalir dengan deras. Pandu menciumi tangan Kiara. "Maafkan kakak, kakak terlalu sibuk, tapi kakak tidak melupakanmu," suara Pandu semakin tercekat. "Kakak.. pulang.. untuk....Kia?" suara Kiara terdengar lemah. "Yah kakak pulang untuk Kia," Pandu menahan tangis mendengar suara Kiara yang semakin lemah. "Kak Evelyn.. dia..nyusul....kakak..Kia pikir... kakak.. kakak..nggak akan...pernah...pulang..," dan napas Kia kembali terlihat sesak, bersamaan dengan mama Kiara masuk. Mama Kiara memanggil perawat dan perawat melihat kondisi Kiara, menyarankan agar Kiara tidak diajak bicara terlebih dahulu. Kiara kembali memejamkan matanya, Pandu menunggui Kiara, mengusap punggung tangannya sampai Kiara tertidur kembali. Pandu pamit pada mama Kiara, dan berjanji akan kembali lagi. Pandu melangkah lebar, terlihat ia menelpon seseorang, menanyakan keberadaan Evelyn pada temannya yang ada di Tokyo, dan melajukan mobilnya menuju sebuah kantor. Pandu menunggu di lobi, ia terlihat mondar-mandir tak sabar. "Sayaaang, akhirnya kamu mencariku," suara Evelyn terdengar tertahan hendak menangis dan hendak memeluk Pandu, diseretnya tangan Evelyn ke luar dari ruang lobi, menyisakan tatapan aneh dari resepsionis dan beberapa orang yang kebetulan lewat. Setelah sampai di luar dikibaskannya tangan Evelyn. "Apa yang kau katakan pada calon istriku, jika sampai terjadi apa-apa, kamu yang akan menanggung akibatnya," suara Pandu terdengar menahan marah. Mata Evelyn berkaca-kaca.. "Jadi kau ke sini hanya untuk mencaciku, kau akan menukar lima tahun kebersamaan kita dengan anak kecil itu?" tanya Evelyn dengan air mata yang sudah mulai mengalir. "Apa kau lupa, kau yang menukar lima tahun kita dengan keringat laki-laki lain ditubuhmu, lalu siapa yang menghancurkan siapaaa ?" tanya Pandu balik bertanya. "Yah aku memang mengatakan akan menyusulmu, aku memang mengatakan kau tak akan pernah melupakan tubuhku meski kita tak pernah melakukan lebih, setidaknya kau akan selalu mengingat apa yang ada di...," Pandu hampir saja kehilangan kendali, ia hampir menampar mulut Evelyn dan tangannya berhenti di depan wajah wanita itu dengan bergetar dan geraham yang terkatup rapat. "Kau .... mulutmu, lima tahun aku hanya menciummu dan tak lebih dari itu, aku tak pernah taju kulitmu di balik bajumu itu..dan kau ... menyakitinya sedemikian rupa dengan mulutmu, jika sampai ia tak tertolong, akan aku buat hidupmu menderita," Pandu meninggalkan Evelyn yang meneriakkan namanya di depan kantornya yang megah. *** Pikiran Pandu kalut, meski akhirnya ia tahu penyebabnya, ia tidak tahu cara meyakinkan Kiara bahwa yang dikatakan Evelyn tidak benar. Pandu melajukan kembali mobilnya menuju rumah sakit, selama perjalanan pikirannya dapat menebak apa yang terjadi pada Kiara. Aku tahu sakitmu karena lelah memikirkan semuanya Kiara, awalnya kamu menerima ajakan pernikahanku karena lelah disakiti, saat kamu mau menerima ajakanku, kamu mengira aku di Jepang kembali bersama Evelyn lagi, salahku juga mengapa tak menghubunginya sama sekali. Tak terasa Pandu sudah sampai di rumah sakit kembali. Ia bergegas melangkahkan kakinya menuju ruangan Kiara lagi. Pandu membuka pintu perlahan dan melihat mama Kiara hendak menyuapi Kiara sambil mengelus punggung tangan Kiara, berusaha membangunkan Kiara. "Biar saya yang akan menyuapi Kiara tante," Pandu mengambil boks makan Kiara dan duduk di sampingnya. "Sayaaang banguuun, makan yuk, kakak suapi," mata Kiara perlahan terbuka, menatap Pandu dan menggeleng lemah, memejamkan matanya lagi. "Sayang, kamu harus sehat, ntar kita kan mau nikah?" Pandu mendekatkan wajahnya pada Kiara. Perlahan Kiara membuka matanya lagi, berkaca-kaca dan luruh air matanya perlahan. "Mau ya makan, kakak nggak mau pengantin kakak jadi keliatan kurus," Pandu berusaha tersenyum. "Makan ya?" pinta Pandu lagi dan Kiara mengangguk. Pelan Pandu suapi Kiara. Mereka saling memandang tanpa bersuara. Mama Kiara menoleh saat pintu kamar Kia terbuka tampak papa Kia dan mereka berdua ke luar, meninggalkan Pandu dan Kiara berdua. Setelah selesai makan, Pandu memberi minum Kiara dan mengambil tisu membersihkan sisa-sisa makanan di bibir Kiara. "Kia percaya kakak kan, hubungan kita harus dilandasi saling percaya Kia, jadinya nggak mudah goyah kalo ada orang yang nyoba misahkan kita, coba Kia ingat, selama kita ke luar berdua, pernah nggak kakak ngapa-ngapain Kiara?" Pandu memandang Kiara yang hanya menatapnya. "Lima tahun banyak hal bisa terjadi kak, dan akan ada hal yang akan kakak ingat selamanya," suara Kia pelan bahkan hampir tak terdengar. "Banyak memang Kia, banyak hal bisa terjadi tapi dalam batas kewajaran, kakak akan jujur pada Kiara, selama lima tahun kakak dengan wanita itu hanya sebatas berciuman, dan tak lebih, kakak menghormati dia dan tidak ingin mengotori hubungan kami karena niat kakak sejak awal akan menikahi dia, kakak akan menikmatinya saat kami sudah menikah, kakak pikir itu akan lebih indah, tapi dia mengkhianati kakak," suara Pandu terdengar menahan marah. "Yang diinginkan wanita itu hanya satu, agar kamu lepas dari kakak, dan sepertinya dia hampir berhasil, tapi kakak tidak akan pernah melepaskan kamu, apapun yang terjadi, dia tidak kemana-mana, dia tidak menyusul kakak, tadi kakak mendatangi dia, dan hampir menamparnya, untungnya kakak masih bisa menahan diri, kakak katakan jika sampai terjadi apa-apa padamu, dia yang akan menanggung akibatnya, Kiaaa maafkan kakak, kakak juga salah nggak ngubungin Kia, pekerjaan kakak banyak Kia, tidak hanya di Tokyo, tapi juga di Kyoto dan Osaka, maafkan kakak," Pandu duduk di samping kasur Kiara dan mendekap kepala Kiara ke dadanya. "Kakak tahu kamu lelah, kakak tahu kamu benci selalu ditinggalkan, kakak nggak akan pernah ninggalin Kiara, pernikahan kita tinggal empat bulan setengah, kakak tidak sabar menunggu, kamu akan kakak bawa ke mana pun kakak tinggal, entah di sini, atau saat di Jepang nanti," Pandu melepas pelukannya dan menatap wajah pucat Kiara. "Kiara percaya kakak kan?" tanya Pandu lagi, Kiara mengangguk ragu. "Tiga hari lagi kakak akan kembali ke Tokyo, kakak hanya ijin lima hari di sini Kiara, ikut kakak yuk, kakak nggak mau kamu punya pikiran aneh-aneh pada kakak," Pandu melihat Kiara menggeleng. Pandu memeluk Kiara lagi, menciumi rambut lebatnya. "Sepertinya akan mudah bagi kakak untuk jatuh cinta sama kamu Kia, kamu takut kakak kembali pada wanita itu lagi kan?" Kiara mengangguk, Pandu bernapas lega. "Kamu ingin kakak tetap di samping Kiara kan?" kembali Kiara mengangguk. "Kiara mencintai kakak kan?" lama Kiara tak bergerak dan perlahan Kiara mengangguk. Pandu semakin mengeratkan pelukannya. "Terima kasih Kiara, terima kasih," Pandu melepas pelukannya pada Kiara saat terdengar pintu kamar terbuka. "Saya pulang dulu om, tante, tiga hari lagi saya akan kembali ke Tokyo, saya hanya ijin lima hari, pekerjaan saya di sana masih banyak," ujar Pandu pamit pada orangtua Kiara. "Iya silakan Pandu, aaahh kami, om dan tante benar-benar titip Kiara, ia masih sangat muda, bersabarlah, dan bimbing dia dengan baik, kami percaya, kamu akan membahagiakan Kiara," papa Kiara menatap Pandu yang tiba-tiba matanya berkaca-kaca. "Terima kasih om, tante, maaf jika saya sudah bikin Kiara sedih, saya janji akan selalu menjaga Kiara dan membuatnya bahagia," ujar Pandu, yang kemudian diantar papa Kiara sampai di depan kamar Kiara. *** Sesampainya di rumah, Pandu menelpon mamanya berkabar tentang kondisi Kiara dan penyebab Kiara sakit. Duuuh mama jadi mangkel bener Panduuuu, dulu kenapaaa kamu bisa tertarik sama wanita kayak gitu, bener papa kamu, sejak awal papa kamu sudah ngingatkan mama saat dia masih jalan kamu, sebenarnya papa kamu dah dengar dari salah satu staf kedutaan di sini, dia juga jalan sama orang lain, mama mau ngingatkan kamu, tapi nggak punya bukti, mau gimana lagi kamunya dibutakan cinta.. Iya dah aku mau nelpon Mia, dia di rumah sakit kaan? Pandu menutup sambungan telpon dengan mamanya dan perlahan merebahkan diri di kasur, kembali mengingat saat papanya selalu menampakkan wajah tidak suka saat ia membawa Evelyn, hanya papanya tidak pernah memberi tahu apa alasannya. Pandu mendesah perlahan dan meraih ponselnya, melihat foto-foto konyolnya dengan Kiara saat mereka di cafe, perlahan Pandu tersenyum, namun merasa sangat menyesal karena Kiara yang ceria dan manja jadi murung, pucat dan semakin kurus, semua karena dirinya. Diciumnya foto Kiara yang ada di ponselnya dan meletakkan ponsel di dadanya, Pandu memejamkan matanya, wajah Kiara melintas kembali di matanya, aku mencintaimu Kiara.... ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD