#9

1188 Words
Kiara mengerjabkan matanya saat dirasakannya napas hangat Pandu menerpa wajahnya. Dan dia terbelalak. "Kak?" Kiara terpekik perlahan. "Kakak cuman mau bangunin kamu, cuman gak tahu caranya, kasihan lihat kamu tidur nyenyak," ujar Pandu memundurkan wajahnya dan tertawa pelan. "Astaghfirullahal adziiim heeeeehh," Pandu mengusap wajahnya perlahan. "Kenapa kak?" tanya Kiara lagi, Pandu menggeleng dan mengacak rambut Kiara. "Eeeeh awas tadi beneran yaaa mau cium Kia, kok baca istighfar, untung Kia bangun, iiih kakak,  nakutin," Kiara menutup wajahnya. "Heh usia kamu tuh udah 22, kalo cuman dicium apanya yang bikin takut?" tanya Pandu lagi. "Yeeee efek yang lainnya selain ciuman," jawab Kiara cepat. "Kok tahu,  katanya belum pernah ngapa-ngapain?" kejar Pandu dan Kiara bingung. "Anuuu ituu baca di novel-novel," ujar Kiara malu dan tawa Pandu meledak dengan keras. "Aaah udah-udah ayo turun, kakak antar sampe rumah, nggak enak sama mamamu,  ini sudah malam,"ujar Pandu membuka pintu mobil dan berjalan memutar untuk membukakan pintu untuk Kiara. *** Hari Sabtu, Kiara, Pandu dan mama Kiara mendatangi sebuah butik milik teman mama Kia. Keduanya diukur dan memilih model seperti apa,  dua bulan lagi mereka akan datang untuk fiting baju. "Nanti setelah nikah,  Kiara tinggal sama saya ya tante, di rumah yang saya tempati sekarang," ujar Pandu pada mama Kiara saat perjalanan pulang. "Ya iyalah Pandu, Kiara harus tinggal sama kamu setelah nikah," jawab mama Kiara sambil tertawa. "Saya hanya kawatir, Kiara akan mengajak saya tinggal di rumah tante,saya hanya ingin agar saya dan Kiara benar-benar belajar mengatasi masalah kami sendiri," ujar Pandu lagi. "Iya bener bagus itu,  meski dekat,  rumah jejer sama mama,  jangan sampek kalau ada apa-apa seenaknya minggat kalau ada masalah,  tetep harus kalian selesaikan sendiri,  kami para orang tua pasti membantu,  tapi bukan berarti kami seenaknya ikut campur,  saat kalian menikah ya kalo ada apa-apa harus kalian selesaikan berdua," mama Kiara menasehati Pandu dan Kiara. "Tante cuma minta sama Pandu yang sabar,  karena usia kalian cukup jauh,Kiara ini bungsu,  biasalah agak kolokan gitu," mama Kiara menahan tawa saat Kiara menoleh dan menampakkan wajah kesal. "Iya tante,  makasih nasehatnya," ujar Pandu. *** Pagi-pagi saat akan ke kampus tiba-tiba ponsel Kiara berbunyi, ah kak Pandu ada apa, pikir Kiara. Setelah Kiara angkat,  ternyata Pandu. Sayang,  bisa ke rumah bentaaar aja... Pandu menutup sambungan ponselnya. Kiara sekalian pamit ke mamanya dan motornya ia parkir di depan pagar rumah Pandu. Ia melangkah masuk dan menemukan Pandu duduk menunggunya di ruang tamu,  menatapnya tanpa senyum. "Ada apa kak?" tanya Kiara berdiri di hadapan Pandu. "Sini duduk dekat kakak," ujar Pandu menepuk sofa di sampingnya. Kiara melihat travel bag yang ada di samping Pandu. Ia duduk dan menatap Pandu tak berkedip, melihat wajah serius Pandu pagi itu. "Kakak mau pamit,  kantor pusat yang di Jepang memanggil kakak, ada urusan yang harus kakak selesaikan, sekitar seminggu atau sepuluh harilah di sana," ujar Pandu pelan. Kiara tak mengeluarkan suara,  ia hanya mengangguk. Pandu menggeser duduknya mendekati Kiara. Ia pandangi wajah bingung di depannya. "Boleh kakak meluk Kiara?" tanya Pandu dengan suara yang hampir hilang ditenggorokannya. Kia menggangguk. Pandu mendekap tubuh mungil Kiara yang tak membalas pelukannya. Ia cium ujung kepala Kiara sambil memejamkan matanya. Sesaat kemudian ia lepas pelukannya dan menyari mata Kiara yang agak memerah. Ada rasa berat meninggalkan Kiara,  perasaan aneh yang entah datang dari mana. "Kiara nggak ngomong apa-apa sama kakak, karena setelah dari kantor,  kakak langsung ke bandara," tanya Pandu lagi. Kiara hanya menelan salivanya dengan berat. "Kok mendadak?" ucapnya pelan sambil menunduk. "Emang kenapa Kia, Kia mau ikut kakak ke Jepang,  kan ada mama kakak,  biar di sana sama mama," tanya Pandu lagi. Kiara menggeleng. Tanpa ijin Kiara, Pandu memeluk Kiara lagi,  entah mengapa ia jadi sesak melihat wajah sedih di depannya,  ia belum merasakan apapun pada gadis kecil di hadapannya,  tapi mengapa ia berat meninggalkan Kiara. "Pergilah kak,  berangkatlah, Kia nunggu kakak di sini," ujar Kiara melepas pelukan Pandu. Kiara juga tak mengerti,  mengapa dadanya terasa sakit saat Pandu pamit, ia merasa bahwa ia belum mencintai Pandu. "Kakak berangkat ya Kiara, kakak pasti kembali untuk Kiara, kakak juga tahunya tadi malam,  ditelpon langsung dari Jepang dan tak lama kepala cabang yang di sini juga nelpon kakak, kakak pasti akan nelpon Kiara tiap hari," Pandu mencium ujung kepala Kiara dan berdiri, Kiara berdiri, berjalan di samping Pandu dan menunggu Pandu mengunci pintu rumahnya. Pandu mengeluarkan mobil dari garasi dan mengunci pagar rumahnya,  sebelum naik ke mobilnya kembali Pandu memeluk Kiara. Kiara diam saja tak membalas pelukan Pandu. Pandu duduk di belakang kemudi,  sekali lagi menatap wajah Kiara yang terlihat sedih. "Nggak mau kasih senyum untuk kakak?" pinta Pandu, Kiara memaksakan melengkungkan bibirnya dan matanya berkaca-kaca. "Kakak berangkat Kia sayang," Pandu menghidupkan mobil dan melajukan mobilnya pelan, dari kaca spion Pandu melihat Kiara menutup wajahnya, aaah gadis kecilku menangis, Pandu melajukan kemudinya,  karena jika ia menoleh dan kembali, ia takkan pernah berangkat lagi. Sepanjang perjalanan ia menghembuskan napas berat berkali-kali, ingin rasanya ia menolak perjalanan kali ini,  tapi perusahaan sedang membutuhkannya. *** Kiara memasukkan motornya kembali ke garasi dan tidak jadi ke kampus, toh hari ini ia tidak ada urusan apapun,  hanya karena teman-teman sekelasnya yang mengajak berembuk minggu depan akan berlibur ke puncak. Kiara jadi tidak ingin ke mana-mana,  ia hanya ingin merebahkan diri di kasurnya dan tidur selama mungkin. "Kok kembali sayang,  katanya mau ke kampus?" tanya mama. "Nggak jadi ma,  tiba-tiba pusing,  nggak ada apa-apa juga di kampus,".jawab Kiara melangkah menuju kamarnya. *** Kiara benar-benar tidur dan bangun saat terdengar sayup-sayup suara adzan. Ia beranjak ke kamar mandi,  mengambil wudu, dan meraih mukenanya. *** Selesai sholat Kiara masih melanjutkan berdzikir, saat berdzikir entah mengapa justru tangis Kiara mulai terdengar, Kiara bingung sebenarnya apa yang ia rasakan. Perlahan ia melantunkan doa untuk orang tua dan orang-orang yang ia sayangi, Kiara menutup wajah dengan kedua tangannya, ah kok mendadak melo sih,  pikir Kiara. Ia membuka mukenanya dan merebahkan kembali ke kasurnya,  menutup wajahnya dengan bantal dan berharap hari cepat berlalu. *** Pandu benar-benar bingung, seharian ia menelpon Kiara, tidak diangkat sama sekali, ke mana gadis kecilku? Pandu benar-benar merasa bersalah selama seminggu ia benar-benar tenggelam dalam pekerjaannya dan selalu ingat untuk menelpon  Kiara saat badannya sudah sangat lelah. Pandu menelpon mamanya dan minta tolong untuk mencari kabar Kiara, agar mamanya menelpon mama Kiara. Satu jam kemudian Pandu menelpon mamanya lagi. Apa maaa Kiara masuk rumah sakit, kenapa? Kenapa masuk rumah sakit? Dan Pandu semakin mengutuki dirinya yang tidak memberi kabar sama sekali pada Kiara. Maafkan kakak Kiara,  maafkan kakak. Pandu menelpon mama Kiara menanyakan perkembangan kesehatan Kiara. Gimana Kiara tante? Sudah lumayan,  dia kecapean, seminggu ini dia menyibukkan diri dengan skripsinya, melupakan makan dan jadwal tidurnya juga amburadul, kami menemukan dia lemas di kamarnya, dehidrasi dan agak sesak juga..maaf Pandu nggak ada apa-apa kan antara kamu sama Kia? Nggak tante,  kami baik-baik saja,  emang kenapa Kia? Seminggu ini dia pendiam banget,  malah bisa dikatakan Kia jadi males ngomong,  hanya mengangguk dan menggeleng jika tante nanya, selama di Jepang, emang Pandu berapa kali ngubungin Kia? Itu dia tante,  disini kerjaan berat banget, saya harus ke beberapa kota karena banyak yang harus saya selesaikan, saya belum menghubungi Kia sama sekali Oooh barangkali itu salah satu penyebabnya Pandu.. Saya akan pulang tante,  saya akan pulang ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD