"Kamu Kiara kan, bisa kita bicara?" tanya Evelyn dengan ramah, Kiara bingung akan ke mana, ke kantin kampus rame karena jam makan siang, akhirnya Kiara memutuskan ke gazebo di samping tempat parkir motor, kebetulan tempat itu sejuk.
"Ke sana saja kak Evelyn, sejuk kayaknya," Kiara berusaha mengimbangi keramahan Evelyn, wajah Evelyn sempat kaget karena Kiara tahu namanya.
Mereka duduk berhadapan dan Kiara merasa bersyukur kali ini ia menggunakan baju dengan benar karena bimbingan skripsinya pada dosen killer itu. Paling tidak ia tidak begitu kelihatann kumal di depan Evelyn yang penampilannya selalu berkelas. Ia perhatikan wajah lembut di depannya, rasanya tak percaya jika wajah selembut ini mampu mendua.
"Terus terang aku kaget kamu tahu namaku, apa Pandu bercerita semua padamu?" tanya Evelyn menghembuskan napas berat, Kiara mengangguk.
"Kami berhubungan cukup lama, kami punya banyak kenangan manis, ia sangat mencintaiku, sampai kejadian itu menghancurkan segalanya," mata Evelyn berkaca-kaca.
"Yah kak Pandu bercerita semuanya," ujar Kiara pelan.
"Bagaimana bisa Pandu bercerita semuanya Padamu, padahal kamu belum lama mengenalnya, itu bukan kebiasaan Pandu, ia tidak mudah terbuka, ia memang ramah, tapi sulit untuk terbuka pada seseorang, berapa bulan kamu mengenal Pandu?" tanya Evelyn. Mata Kiara terbuka lebar dan menyembunyikan senyumnmya, ia katupkan bibirnya dan menjawab.
"Bertahun-tahun lalu, sejak aku SD, sudah terbiasa melihatnya ke luar masuk kamar kakakku, kak Dani, bahkan sejak SD pula aku selalu duduk dipangkuannya sambil minta cium pipiku, dan khayalan anak SD juga, aku selalu bilang padanya bahwa suatu saat nanti aku akan menikah dengannya dan dia berucap kata yang sama, siapa yang tahu dengan takdir Allah, setelah bertahun-tahun berpisah, kami kembali dipertemukan dan dia beserta keluarganya melamarku, kami akan menikah," ujar Kiara dengan nada datar.
Evelyn menggelengkan kepalanya, air matanya menetes dengan deras, Kiara memberinya tisu.
"Tapi ia tidak mencintaimu," ujar Evelyn dengan suara parau menahan tangis. Kiara menghela napas.
"Kami, aku sama kak Pandu sudah capek dengan kata cinta kak, saat kami sama-sama mencintai pasangan kami dengan membabi buta hanya rasa sakit yang kami dapatkan, makanya kami mulai hubungan kami dengan bismillah, in shaa Allah, kami akan mendapat hal yang lebih indah dari sekedar cinta," mata Kiara juga berkaca-kaca, ia jadi teringat hubungannya hang selalu kandas.
"Lalu hubungan macam apa jika tidak ada cinta di dalamnya, apa kamu tidak merasa jika hanya dijadikan pelarian?" tanya Evelyn seolah memancing kemarahan Kiara, Kiara hanya tersenyum.
"Tidak kakak, aku tidak merasa dijadikan pelarian, kami menikmati jika kami berdua, bahkan kak Pandu tidak ingin aku menyebut nama siapapun, selain nama kami saat kami berdua, hanya kami membatasi diri, untuk selalu berdua di tempat ramai, karena jika berdua di tempat sepi, aku yang nggak mau kak, kami manusia normal, sentuhan kulit kami semacam ada aliran listrik yang tak jelas, jika itu terjadi saat kami benar-benar berdua, aku tidak yakin pada diriku sendiri kak, dan kak Pandu menghormati penolakanku, biarlah waktu yang menjawab bagaimana kelanjutan hubungan kami," jawab Kiara panjang lebar.
Evelyn masih mengusap matanya, ia berusaha mencari celah agar Kiara melepaskan Pandu.
"Kamu mencintainya?" tanya Evelyn.
"Sepertinya aku akan segera mencintainya kak, siapa yang tidak akan tertarik pada kak Pandu yang tampan, sabar dan selalu mengalah," ujar Kiara dengan suara yakin meski hatinya mentertawakannya.
Terdengar ponsel Kiara berdering, Kiara lihat ah kak Pandu, Kiara ubah mode ponselnya, ia keraskan agar Evelyn bisa mendengar suara Pandu
Ya kak
Sayang, nanti aku ke rumahmu ya, nggak enak ngajak kamu ke luar tiap hari, ngeri sama mamamu (terdengar tawa Pandu)
Terserah kakak deh, udah dulu ya kak, aku mo pulang
Sayaaang suara kamu kenapa
Nggak papa kak, bai
Sayaaang..
Kiara menutup ponselnya dan melihat Evelyn yang masih mengucurkan air mata.
"Harusnya, harusnya hanya aku yang dia panggil sayang," suara Evelyn semakin tak terdengar diantara isakannya.
"Aku juga nggak mau dipanggil sayang kok kak, dianya yang maksa, kak Ev mungkin pembicaraan kita, kita akhiri saja, kita juga nggak jelas mau ngapain iya kan kak?" tanya Kiara, Kiara berdiri dan Evelyn juga berdiri.
"Aku masih mencintainya Kiara, amat sangat," ujar Evelyn menatap Kiara dan berlalu meninggalkan Kiara di gazebo.
Lama Kiara menatap punggung itu menjauh, melihatnya menghapus air mata berkali-kali.
Kiara menghela napas berat, dan melangkah menuju motornya.
***
"Kiaraaaa, kiaaaa, banguuun, duh anak gadis sulit amat dibangunin, hampir maghrib nih, sudah sholat asar belum?" tanya mama Kia dan agak kaget melihat mata Kiara yang sembab.
"Sudah sholat tadi ma, trus tidur," Kiara bangun dan perlahan menuju kamar mandi.
"Ngapain kamu nangis ampe gitu matanya, tengkar sama Pandu?" tanya mama.
"Dia sabar banget mama, nggak akan ngajakin tengkar, kalau suatu saat nanti tengkar, ya paling akunya yang mulai duluan," ujar Kiara pelan.
"Eh Kia, persiapan pernikahan kamu dah 75% ok, gedung, catering, undangan, souvenir udah, tinggal kapan Pandu ada waktu ngukur untuk baju akad sama resepsinya," ujar mama lagi, Kia mengangguk menuju kamar mandi.
***
"Kiaaa, ada Pandu di depan tuh," mama membuka perlahan pintu dan menemukan wajah lelah anaknya.
"Suru nunggu di taman belakang aja ma," terdengar suara Kiara pelan.
***
Kiara tertegun menatap wajah Pandu yang tidak jelas antara tersenyum dan tertegun.
"Kamu, kamu kenapa lagi?" tanya Pandu melihat mata sembab Kiara.
"Kakak mau kemana rapi amat?" Kiara balik bertanya.
"Aku nanya kamu kok balik nanya, keluar aja yuk, nggak enak diliat mama papa kamu, pasti kamu marah lagi sama kakak," ajak Pandu dan Kiara mengangguk, kembali ke kamarnya untuk mengambil tas dan memakai sneakersnya.
***
"Mau cerita sama kakak, ada apa kamu hari ini, karena kakak merasa kita, kita sedang tidak ada masalah," tanya Pandu menatap Kiara dengan lembut.
Kiara menikmati makanannya dan mengabaikan pertanyaan Pandu.
"Aku akan cerita, tapi kakak diem aja nggak usah komen, jangan dipotong, tadi kak Evelyn nemui aku di kampus," Kiara memghembuskan napas berat.
"Diaaa, ngapain, dia nyakitin kamu?" suara Pandu terdengar menahan kemarahan.
"Aku pulang kalo kakak motong pembicaraanku lagi," ancam Kiara dan Pandu menurut.
Kiara menceritakan semua percakapan mereka dari awal, dan perlahan senyum Pandu semakin lebar. Mengacak rambut Kiara dan menarik hidungnya pelan, Kiara menepis tangan Pandu.
"Ih, kakak," ujar Kiara memasukkan potongan banana krispi dengan toping keju dan s**u.
"Kadang kakak suka bingung ngadepin kamu, kadang kamu manja, kadang tiba-tiba kamu dewasa, hmmm tapi kamu pinter ngedapin wanita itu, kamu nggak emosi, dan bener kamu akan mudah jatuh cinta sama kakak yang ganteng ini?" tanya Pandu menyindir Kiara.
"Hmmmm aku cuman sok yakin ajaa tadi di depan kakak cantik itu, biar gak keliatan sedih-sedih amat, sekalinya mau nikah eeeh kok ya adaaa aja gangguan ya Allah sabaaar Kiara, ini cobaan," dan Pandu tertawa mendengar kata-kata Kiara.
"Trus kenapa kamu nangis sampe sembab gitu?"tanya Pandu.
"Mangkel aja, kok ya adaaaa aja, pacaran bermasalah eh mau nikah adaaa aja gangguan, capek rasanya kak," jawan Kiara kesal.
"Kakak kan udah bilang, dan bahkan kamu nasehatin kakak, hal yang dirasa nggak penting dalam hidup nggak usah dipikir, dia nggak penting dalam hidup kita Kia, nggak usah kamu pikirin, kakak juga udah nggak mikir dia, ngapain juga sekarang malah kamu yang mikir," ujar Pandu sambil mengusap punggung tangan Kiara.
"Hmmm..,"Kiara bersuara sambil menarik tangannya, Pandu menahan tawa melihat Kiara yang melotot.
Jam 9 malam mereka meninggalkan cafe.
***
Pandu menghentikan mobilnya di depan rumah Kiara, dan ia melihat Kiara yang meringkuk tertidur dengan nyenyak.
Dipandanginya wajah imut nan cantik di depannya. Ingin dibangunkan tapi nggak tega, jadi Pandu diam saja, menyandarkan kepalanya dan memandangi wajah Kiara saat tertidur dengan napas teratur.
Pandu tersenyum bahkan menahan tawa mengingat lagi mengapa ia kemudian mengajak Kiara menikah. Meski sebenarnya awalnya ia ragu karena jarak usia yang terpaut cukup jauh, ternyata justru dengan Kiara Pandu menemukan kenyamanan.
Pandu menatap Kiara yang membalikkan kepalanya dan terlihat jelas bibir mungil Kiara yang terbuka,ada keinginan menciumnya tapi Pandu kawatir Kia marah.
Tanpa sadar Pandu mendekatkan wajahnya ke arah Kiara, jarinya mengusap bibir Kiara dan Pandu berdebar tak karuan...