Jeremy menguap bosan.
Sejak tadi soal latihan di papan tulis yang berjumlah 30 nomor sudah selesai ia kerjakan dalam waktu kurang dari dua puluh menit.
Walau tidak pernah diajarkan saat SMP atau saat Universitas dulu, ia sudah dapat mengerti hanya dalam sekali penjelasan saja dari sang gurunya. Ber terikamasih lah pada otaknya yang jenius, sehingga ia dapat mengerti dengan mudah apalagi ia memiliki daya ingat fotografis, jadi otaknya bisa mengingat apa saja yang diterangkan gurunya.
Mata safir indah yang dihalangi softlens hijau daun itu menatap ke arah teman-teman sekelasnya yang terlihat serius mengerjakan soal di buku tugas masing-masing.
Jeremy belum mengenal mereka semua, kecuali dua orang.
Jenifer dan teman sebangkunya, Juni. Ah, juga si rambut dark blue aneh yang duduk di sebelah adiknya- walau ia belum tahu siapa nama perempuan itu.
"Bagi siapa yang sudah selesai, silahkan kumpulkan tugas kalian di depan!"
Suara dari guru Aurelia membuat Jeremy sedikit tersentak kaget.
Pemuda berambut merah cokelat itu menarik napas pelan, kemudian menggeser tempat duduknya- lalu dengan langkah perlahan ia berjalan ke depan kelas.
Aksinya itu membuat seisi kelas menatap ke arahnya dengan tatapan tidak percaya.
"Kau sudah selesai, Kenzo?" tanya guru wanita itu sama tak percayanya dengan para murid kelas 2A.
Jeremy mengangguk dan tersenyum ke arah guru cantik tersebut, lalu meletakkan tugasnya di atas meja guru.
"Ah, kebetulan saat di Jerman dulu materi ini sudah pernah diajarkan, jadi saya tinggal mengingat- ingat saja,"
ucap Jeremy dengan senyum manis. Tentu saja berbohong.
Aurelia menganggukkan kepala, jika dilihat lebih dekat lagi ada sebaris rona merah muda di kedua pipi putih wanita itu.
Ia membalas senyuman muridnya dengan sumringah. Wanita itu terlihat begitu senang, pasalnya selama ia mengajar di sekolah elit ini belum pernah ada murid yang menyelesaikan soal yang ia berikan sebelum waktunya berakhir.
"Kau boleh duduk kembali, Kenzo," ujar wanita berambut panjang tersebut, tidak lupa memberikan senyuman terbaiknya.
Seisi kelas minus Jeremy terlihat melongo. Belum pernah rasanya mereka melihat salah satu guru killer tersebut tersenyum begitu ramah kepada muridnya. Apa dunia sudah mau kiamat?
"Emm, Guru_- Aurelia ... kalau boleh saya ingin ke kamar kecil sebentar," balas Jeremy sopan.
"Ah, tentu saja boleh. Silahkan Kenzo, kamar kecilnya tidak terlalu jauh dari sini," jawab Kurenai cepat.
Lagi- lagi seisi kelas dibuat melongo oleh tingkah tak biasa guru killer macam Aurelia.
"Thanks, Teacher. Saya permisi....,"
pamit Jeremy tak lupa membungkuk hormat dan memberi senyuman tipis, kemudian ia bergegas keluar kelas meninggalkan para murid yang masih bertampang bodoh dan sang wali kelas yang kembali merona.
"Ehm!" Aurelia berdehem mencoba mengembalikan raut wajahnya seperti semula- ia tidak mau para muridnya melihat rona merah di kedua pipinya.
"Lanjutkan tugas kalian, kemudian kumpulkan di depan! Waktu kalian tinggal 10 menit,"
ujar wanita itu seraya menatap garang para muridnya.
Seisi kelas yang melihat guru mereka kembali mengerikan segera mengerjakan pekerjaan mereka yang sempat tertunda, tidak ingin mendapat bonus dari guru killer tersebut.
"Kenzo Abigail ... dia itu ... aku tidak menyangka hanya karena memberi sedikit senyuman guru killer seperti Mam Aurelia bisa berekspresi seperti itu. Aku masih ingat bagaimana wajahnya yang merona,"
ujar Ira saat ia berada di kantin bersama beberapa temannya. Jenifer serta Keyla termasuk di dalamnya.
"Dia tampan," celetuk pemuda berambut hitam cokelat. Ashura.
"So handsome...." Rika menimpali dengan senyuman manis.
"Dan seksi!" pekik perempuan berambut hitam pendek yang duduk di samping Rika. Sisil.
"Kau tahu dari mana dia seksi?" tanya Jenifer datar.
"Oh, kau tidak melihatnya, Jen? Lengan Kenzo berotot begitu, sudah pasti di balik jas SMA Pratama itu ada tubuh atletisnya yang begitu memesona ... sudah pasti sangat seksi," balas Sisil seraya berblusing ria.
"Aku setuju denganmu, Sil," timpal Ira seraya bertos dengan Gadis berkulit pucat yang menjadi sahabatnya itu.
"Ck! Dasar kalian itu ... mesumn!" decak Jenifer jengah.
"Apanya yang m***m, Jen? Kita hanya menilai saja. Iya, kan?"
ucap Sisil seraya melirik ke arah teman- temannya, dan dibalas anggukkan kepala dari mereka, kecuali Keyla serta Jenifer tentu saja.
"Tapi, setampan apapun Kenzo, dia tidak akan pernah bisa mengalahkan ketampanan Remy," ucap Rika sambil menatap langit-langit kantin.
"Haaa, kau benar Rika," sahut Ira sambil mendesah lesu.
"Aku jadi rindu nyanyiannya di atas panggung....," tutur perempuan itu sambil memasang wajah sendu.
"Ah, kau jangan membuatku sedih, dong!"
kata Sisil dengan bibir mengerucut.
"Tuh, kan, aku jadi ingin menangis," ujar perempuan manis tersebut.
"Ck! Kalian semakin alay saja. Dasar fangirls!" cibir Keyla yang sejak tadi diam memakan makanannya dengan tenang.
"Kenapa tidak menjadi babunya saja sekalian?" lanjutnya sadis.
Dalam hati Jenifer mengangguk menyetujui ucapan temannya yang berwajah datar itu.
"Uuuhhh, kau itu pendiam, Keyla, tapi sekalinya berbicara omonganmu sangat menusuk tepat di hati. Seperti ditembak ... door!" ujar Sisil berlebihan.
"Kau berlebihan," kata Jenifer datar.
"Cih!" Keyla mendecih tidak peduli.
"Huh! Kalian berdua tidak ada bedanya," gerutu keempat teman keduanya kompak.
Keyla bergumam tidak jelas, sementara Jenifer mendengus.
"A,"
"Kyaaaaaa-~ tampan sekali pemuda itu."
"Kau benar ... kyaaaaaa~~"
"Dia tinggi sekali ... tipe idamanku--"
"Oh, tidak! Dia melihat ke arahku! Apa dandanku tidak luntur?"
"Oh, betapa memesonanya pemuda itu,"
Serentak keenam sahabat itu memutar kepala mereka ke arah pintu masuk kantin.
Bisa mereka lihat sosok Jeremy atau yang mereka kenal Kenzo, tengah berdiri di depan pintu.
Pemuda itu terlihat heran juga bingung melihat teriakan -teriakan mendadak dari mahluk bergender perempuan ketika ia ingin masuk ke kantin.
Keyla mendengus dan segera membuang muka ke arah lain, tidak ingin terlalu lama melihat pemuda berambut merah cokelat yang tengah diteriaki oleh sebagian penghuni kantin.
Tidak jauh berbeda dengan Keyyla, Jenifer pun melakukan hal sama.
Enggan menatap terlalu lama pada pemuda yang
entah mengapa selalu membuatnya berdebar-debar walau hanya sekedar melihat saja.
Beda Jenifer, dan Keyla. keempat teman mereka malah ikut- ikutan memperhatikan Jeremy yang saat ini tengah garuk-garuk kepala.
"Oii, sini!" Terdengar suara berat seorang pemuda.
Jeremy yang mendengar suara itu segera melirik sana- sini guna melihat siapa yang bersuara, dan netra hijaunya melihat sosok pemuda berambut hitam dikuncir tinggi yang menyerupai nanas duduk di pojokkan kantin bersama beberapa temannya yang saat ini tengah mengubar senyum ke arahnya.
Awalnya Jeremy ragu jika pemuda itu memanggilnya, tapi ketika sang pemuda yang menjadi teman sekelasnya itu menatap padanya juga mengacungkan tangan ke atas, iya yakin jika pemuda itu memanggil dirinya.
Dengan langkah pelan dan senyum lebar, ia berjalan menghampiri pemuda berkepala nanas tersebut.
"Kau memanggilku?" tanya Jeremy berbasa- basi begitu ia sampai di tempat pemuda yang memanggilnya.
"Tentu saja. Siapa lagi pikirmu?" balas si pemuda nanas yang belum diketahui namanya.
Jeremy menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.
"Sini duduk. Kau mau berdiri terus?" ucap pemuda berambut merah berwajah baby face.
"Ah, ya ... thank you," balas Jeremy kaku, lalu ia mendudukkan diri di samping pemuda yang tadi memanggilnya.
Suara bising pekikkan histeris para gadis telah mereda karena sudah dihentikan oleh gerakkan tangan pemuda tampan berambut hitam panjang.
"Hm, kau pasti belum mengenal kami," ujar pemuda berambut panjang tadi.
"Tentu saja' batin Jeremy sweatdrop.
Pemuda berambut panjang itu mengulurkan tangannya ke arah Jeremy, tidak lupa memberi senyuman tipis.
"Namaku Neji, aku ketua kelas di kelas kita ... kelas 2A," ucap pemuda yanı mengaku bernama Neji itu.
Tanpa ragu Jeremy membalas uluran tangan Neji."Kenzo Abigail," katanya seraya tersenyum lima jari.
" Anton," ujar pemuda berambut merah.
"Devan." Pemuda berambut nanas tadi.
"Raka," ucap pemuda yang terakhir.
"Ah, salam kenal ... semoga kita bisa berteman dengan baik," ucap Jeremy sambil mengubar senyumannya, dan keempat pemuda itu membalas senyuma teman baru mereka.