Episode 4

1274 Words
Jenifer membuka pintu kamarnya kembali, tetapi pemuda yang mengaku bernama Kenzo Abigail itu sudah tidak ada di sana. Ke kamarnya, kah? Begitu pikir Jenifer. "Apa yang kau cari?" tanya Ira, Perempuan yang tadi berteriak mengangetkan Jeremy. "Tidak ada," jawab Jenifer. " Sebaiknya kau kembali ke kamarmu. Aku ingin istirahat," kata Perempuan itu seraya berjalan ke arah tempat tidurnya. "Kalian juga!" Ia menunjuk kepada empat temannya yang masih asyik melihat televisi. "Ck! Jen, tunggulah sebentar ... kami ingin melihat berita dulu," ujar Rika. "Gaah! Apanya yang menarik dari berita, sih? Tidak bermutu!" gerutu Jenifer jengkel "Kau ini, Jen. Lihatlah ... di televisi tengah memberitakan tentang Kakakmu yang menghilang itu," ujar Perempuan berambut hitam, namanya Sisil. "Kau tahu tidak? Ternyata Kakakmu menghilang itu untuk melanjutkan studinya di luar negeri," kata Perempuan itu lagi bersemangat. Jeniver yang mendengar perkataan tersebut segera menatap temannya dengan kening berkerut. "Siapa yang mengatakannya?" Ia tanya. "Pihak Agensi. Lebih tepatnya manajer dan asisten CEO Wijaya. Itu ... lagi diberitakan di televisi," jawab Ira sambil menunjuk ke arah televisi. Jenifer mendengus. Jelas berita itu hanya karangan semata Ayahnya agar berita hilangnya sang Kakak segera mereda. Ia sangat tahu betul jika Kakaknya itu sudah menyelesaikan studinya dari beberapa tahun lalu, dan sepertinya publik percaya dengan rekayasa Ayahnya. "Itu benar, kan, Jen?" tanya Rika serius. "Aku tidak tahu," jawab Jenifer. "Yang benar, Jen! Masa kau Adiknya tidak tahu?" ujar Sisil kurang puas. "Walau aku Adiknya, aku jarang bertemu atau mengobrol dengannya. Aku tidak tahu apa-apa tentangnya. Karena dia selalu sibuk. Puas?" balas Jenifer dengan nada datar. Kelima teman Jenifer memandang ke arah perempuan itu dengan tatapan berbeda-beda. "Sekarang enyahlah dari kamarku! aku ingin tidur!" ujar Jenifer seraya membaringkan tubuhnya di tempat tidur. "Ya, ampun, Jen! Kau tidak asyik sekali....," gerutu Rika. "Sudahlah, Rika. Kita keluar saja. Sepertinya Jenifer sedang tidak ingin diganggu," kata Sisil. Rika mendengus, lalu berdiri dari tempat duduknya. "Ya, sudah. Kami pergi dulu," ujar perempuan itu sambil berjalan keluar kamar Jenifer diikuti keempat temannya. Setelah kelima temannya pergi, Jenifer membuka matanya yang sempat tertutup. Pandangan perempuan itu menerawang kosong ke arah lemari pakaiannya. "Di mana kau, Kak?" lirih Jenifer dengan suara nyaris berbisik. Keyla menatap datar seorang pemuda berambut merah cokelat berkacamata yang baru saja keluar dari kamar. Perempuan itu melipat tangan di depan d**a, memperhatikan si pemuda yang tengah merapikan seragam sekolahnya. Pemuda berambut merah cokelat tersebut menoleh ke arah Keyla. Bisa dilihat mata hijau daun pemuda itu sedikit melebar kala melihat sosok perempuan yang ditemuinya kemarin. Namun, itu hanya sebentar, setelahnya ia kembali memasang wajah cool. Lalu berjalan mendekati Keyla. "Kau yang kemarin itu?" kata Jeremy, pemuda itu. "Aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu kembali, padahal aku berharap jika kita tidak akan bertemu lagi," ucapnya melanjutkan. Keyla- perempuan yang kemarin ditemui Jeremy- hanya memandang pemuda itu dengan tatapan datar. Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Keyla membalikkan badan dan berjalan meninggalkan Jeremy yang tengah menatapnya dengan alis saling bertautan. "Dia menyebalkan sekali ... tadi memperhatikanku, sekarang pergi begitu saja. Apa maunya, sih!" gerutu Jeremy sambil membenarkan letak kacamatanya. "Mau berangkat, ya?" tanya sebuah suara yang berada tepat di sampingnya. Senyum Jeremy berkembang kala melihat Jenifer, Adiknya. "Iya ... kau belum berangkat? Aku pikir sudah," balas Jeremy tersenyum hangat. Jenifer yang mendapat senyuman itu entah mengapa merasakan sesuatu yang aneh di dadanya, dan tiba-tiba ia merasa canggung berdekatan dengan pemuda berambut merah coklat tersebut. "Mau berangkat bersama?" tawar Jenifer berusaha menutupi kecanggungannya. Jeremy mengangguk mengiyakan. "Kau di kelas mana?" tanya Jenifer yang saat ini berjalan di samping Jeremy. "2A. Kau sendiri?" Ada secercah harapan di kedua bola safir indah di balik iris hijau yang menutupinya- berharap sang Adik berada di kelas yang sama dengan dirinya. Jenifer mengubar senyum tipis "Sama....," katanya. "Sungguh? Aku tidak menyangka kita satu kelas," balas Jeremy tersenyum lega harapannya menjadi kenyataan. "Iya...." Jenifer berucap pelan, sampai Jeremy sulit untuk mendengar ucapannya. "Kau ada masalah?" tanya Jeremy saat melihat Jenifer menundukkan kepalanya. Jenifer mengangkat kepalanya dan menatap pemuda itu dengan kening berkerut. "Kenapa bertanya seperti itu?" tanyanya bingung. "Ah, maaf jika aku lancang. Hanya saja tadi aku melihatmu menundukkan kepala. Aku pikir kau ada masalah. Maaf, jika aku ikut campur," kata Jeremy merasa tak enak. "Tidak, kok," jawab Jenifer. Setelahnya, kedua murid itu kembali mengobrol begitu akrab. Sesekali mereka tertawa ketika merasa ada yang lucu. Begitu terus hingga keduanya sudah berada di depan gedung sekolah. Mereka berdua berpisah di tikungan kolidor menuju kelas 2. Jenifer berjalan ke arah kelasnya, sementara Jeremy ke arah ruang kepala sekolah. Tidak bisa dipungkiri Jeremy sangat senang bisa berbicara begitu banyak dengan adiknya. Setelah sekian lama jarang mengobrol bahkan bertatap mata, akhirnya sekarang ia bisa melakukan itu setiap hari; sepuasnya. Arif menatap puas ke arah televisi yang tengah menampilkan berita tentang penjelasan mengapa anaknya menghilang. Ia sangat puas karena publik percaya akan ucapan asistennya. Sekarang tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi, masalah satu telah mereda secara perlahan. Kini tinggal menemukan keberadaan putranya. "Bagaimana, Jordan ... kau menemukan petunjuk?" tanya Arif pada sang manajer anaknya. "Sepertinya....," jawab lelaki berusia 31 tahun tersebut. "Apa maksudmu dengan sepertinya?" tanya Arif dengan alis berkerut heran, begitu pula dengan lima orang yang berada satu ruangan dengannya. Jordan menghela napas, kemudian ia menjawab dengan nada setenang mungkin. "Sekitar lima hari yang lalu, Jeremy pergi ke Paris. Petugas di Bandara yang mengatakannya saat beberapa pengawal mencari ke Kota itu tadi siang," kata Jordan sambil menatap wajah -wajah orang yang berada satu ruangan dengannya. "Beberapa pengawal yang kebetulan berada di Bandara Paris mengatakan jika Jeremy memang sempat singgah di kota itu. Ada beberapa orang yang melihat siluetnya di beberapa tempat," ucapnya lagi. "Tapi, setelah mencari ke semua hotel yang ada di kota itu, tidak ada orang asing yang menginap. Kemungkinan besar dia sudah tidak ada di Paris." Ia melanjutkan. "Paris?" Samuel memijit keningnya pusing. "Anak itu ... di mana dia sekarang, dan kapan dia menghentikan aksi kucing-kucingan ini?" Ia berujar lelah. Arif tidak kalah pusingnya dengan sang Ayah. Bahkan pria itu sampai menarik napas berkali-kali. "Cari dia terus ke seluruh negara! Aku yakin dia akan ditemukan," ujarnya pada Jordan. "Ya, kami tengah berusaha mencarinya," sahut lelaki itu dengan helaan napas berat. Seisi kelas 2A memandang tidak berkedip pada sosok pemuda tinggi berambut merah coklat yang tengah berdiri di depan kelas. Pemuda itu — Jeremy, baru saja memperkenalkan diri pada teman- teman sekelasnya. Akan tetapi, setelah selesai memperkenalkan diri seisi kelas diam membisu menatap ke arahnya dengan penuh minat. Membuat pemuda itu sedikit risih diperhatikan oleh teman sekelasnya. 'Aku tahu aku tampan, tapi berhentilah memandangiku seperti itu,' batinnya naris. "Baiklah, sekarang kau boleh duduk di sebelah Juni Andara. Juni, angkat tanganmu!" ucap wali kelas 2A, Aurelia. Seorang gadis berambut senada dengan bunga sakura mengangkat tangannya sambil berdiri dari tempatnya duduk. "Kau boleh duduk di sampingnya," ucap guru wanita tersebut sambil mempersilahkan Jeremy untuk duduk di tempat duduk pemuda itu. Jeremy mengangguk dan berjalan ke arah gadis yang bernama Juni tersebut. Beberapa teman sekelas pemuda itu memperhatikan setiap langkah kakinya. "Baiklah, kembali ke pelajaran. Buka buku halaman 56!" perintah Aurelia sambil siap-siap memberikan soal kepada para muridnya. "Hai, Juni ... benar?" sapa dan tanya Jeremy dengan sopan, tak lupa sebuah senyuman charming ia tunjukkan untuk gadis yang menjadi teman sebangkunya. "Ah, emm ... i-iya ... hai,Kenzo ...." balas Juni gugup melihat senyuman yang diberikan teman barunya. Jeremy terkekeh geli melihat tingkah gadis itu, menurutnya wajah merona Juni sangatlah manis. "Salam kenal, semoga kita menjadi teman yang baik," kata Jeremy dengan senyuman maut, membuat beberapa murid yang melihat senyuman itu langsung merona. Termasuk Keyla, Jenifer serta dua perempuan berbeda warna rambut lainnya. 's**t! Apa-apaan dia!' "Oh~ tidak! Aku tidak menyangka jika ada senyuman seindah itu selain milik Princee Remy-boy' 'Dia tampan sekalin' 'Apa dia seorang pangeran?'
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD