Pemuda dan Pemudi berbeda umur itu turun dari taksi yang mereka tumpangi, yaitu; di depan gedung tinggi dan luas bertuliskan SMA PRATAMA BANDUNG'.
Setelah membayar taksi yang ditumpanginya, perempuan berambut raven yang pergi bersama Jeremy segera memasuki gedung sekolah elit tersebut lebih tepatnya ke arah gedung asrama putra dan putri yang letaknya tidak begitu jauh dari gedung sekolahan. Perempuan itu pergi tanpa sedikit pun mengatakan sesuatu padaJeremy atau sekedar melirik saja.
Jeremy yang melihat sikap aneh Perempuan tak dikenalinya itu hanya bisa memandang kepergian sosoknya dengan tatapan sebal. Dalam hati pemuda berusia 21 tahun tersebut berdoa supaya tidak pernah dipertemukan kembali dengan pemuda yang memiliki rambut aneh itu menurutnya.
Jeremy memandangi gedung sekolah yang menjulang begitu tinggi nan luas di depan mata. Pemuda itu tersenyum tipis. Ia tidak pernah merasakan yang namanya bangku SMA. Ia hanya pernah duduk di bangku SMP kelas 1, kemudian loncat kelas langsung ke Universitas dan lulus kuliah S3 diusianya yang masih
muda, 15 tahun.
Lalu, setelah lulus ia menjadi traine di perusahaan rekaman milik Ayahnya dan memulai debut pada usia 17 tahun. Karena itulah ia berada di sini sekarang, untuk merasakan yang namanya anak SMA. Ia akan menikmati masa-masa remaja yang sepertinya begitu menyenangkan.
Senyum Jeremy kembali berkembang, kali ini lebih lebar dari sebelumnya.
Pemuda itu menegakkan kepala ke atas langit biru, ia menutup matanya tenang. Senyum di wajahnya tak hilang.
"Aku akan menikmati kesempatan langka ini....," gumamnya seraya merentangkan tangan, dengan kepala yang masih menengadah ke atas.
Tanpa Jeremy sadari, Perempuan yang tadi bersamanya tengah memperhatikan dari atas lantai dua yang berada di asrama putri, bersebelahan dengan gedung asrama putra.
"Cowok aneh," gumam Perempuan itu seraya melanjutkan jalannya yang sempat tertunda.
"Kenzo Abigail...," gumam seorang Wanita berumur enam puluhan, berambut hitam panjang, dan bermata onyx. Wanita yang merupakan pemilik yayasan
sekolah elit SMA PRATAMA BANDUNG' itu membaca surat pendaftaran murid baru yang diterimanya dari sang murid langsung, Jeremy.
Sejenak wanita bernama lengkap Lusi Pratama tersebut memperhatikan penampilan Jeremy. Dimulai dari ujung rambut sampai kepala, membuat orang yang diperhatikan merasa risih.
Setelah beberapa menit memperhatikan Jeremy, Wanita itu mengangguk -anggukkan kepala seraya menatap datar ke arah pemuda berambut merah coklat di hadapannya.
"Dari Jerman. Betul?" tanya Lusi tanpa intonasi.
Jeremy hanya mengangguk saja. Kalau boleh jujur sekarang ini pemuda itu sangatlah lelah, ia ingin membaringkan tubuhnya di atas kasur yang empuk.
"Orang tuamu ada yang dari Jepang. Mereka sudah meninggal beberapa tahun lalu karena kecelakaan."
Lusy kembali membaca surat pendaftaran Jeremy yang berada di tangannya.
Dalam hati Jeremy mengucapkan kata
'Amit- amit' berharap sandiwaranya yang mengatakan jika kedua orang tua dan sanak keluarganya telah tiada tidak menjadi kenyataan.
Lusi meletakkan surat di tangannya di atas meja, kemudian mengambil sebuah kunci yang berada di laci.
"Baiklah, saya menerimamu untuk bersekolah di sini," kata Lusi.
Jeremy bernapas lega mendengarnya. Pemuda itu sempat was- was jika ia tidak akan diterima di sekolah ini.
"Kamar asramamu nomer 17 C, berada di lantai 3. Ini kuncinya," kata Lusy seraya menyerahkan kunci kamar asrama kepada Jeremy.
"Dan, kelasmu berada di kelas 2A," kata Wanita itu lagi.
Jeremy kembali menganggukkan kepalanya, ia sedikit memberikan senyum ke arah wanita tua tersebut.
"Terimakasih, nyonya Lusi. Saya permisi ingin beristirahat," ucap pemuda itu sambil membungkuk memberi hormat, setelahnya ia berbalik untuk keluar.
"Seragammu ada di ruang TU. Kau bisa mengambilnya sekarang jika memang
ingin." Suara Madara kembali terdengar di telinga Jeremy.
Pemuda itu mengangguk lagi, kemudian pergi dari ruangan tersebut.
"Entah mengapa aku tak asing dengan pemuda itu....," gumam Lusi seraya menatap ke arah pintu ruangannya.
Jeremy memandang pintu kamar bertuliskan '17C' di hadapannya dengan cermat. Ia mendengar suara-suara ribut murid Perempuan di dalam kamar masing-masing entah tengah melakukan apa. Yang lebih berisik di dalam kamar di depan kamarnya, kamar nomer '17B'. Menurut pemilik yayasan tadi, sekamar biasanya diisi dua orang murid. Dikarenakan murid baru, jadi ia hanya sendiri dalam satu kamar. Hal tersebut merupakan keberuntungan untuknya, karena dengan begitu tidak ada yang mencurigainya, kan?
Menghela napas tidak peduli akan keributan yang dibuat murid-murid itu, Jeremy memutuskan untuk segera masuk ke kamarnya. Ia ingin segera membaringkan tubuh di kasur dan tidur dengan nyenyak.
Ah~ Jeremy tidak sabar menjatuhkan tubuhnya di atas kasur empuk secara dua hari ini ia tidur di dalam kendaraan terus. Rasanya badan seperti ditiban beban berat. Pegal semua.
Sementara di dalam kamar nomor 17B, di sampingnya yang sempat berisik kini keadaan menjadi sunyi senyap. Tak ada satu suara pun yang terdengar dari dalam, yang samar-samar terdengar malah suara televisi.
Jeremy mengedikan bahu tidak peduli. Ia tak perlu memikirkan tetangganya bukan? Yang sekarang ia pikirnya hanya satu, yaitu istirahat.
"Yaaa! Dia melanjutkan studinya! Akhirnya, akhirnya ada pencerahan!"
Suara keras dari dalam salah satu kamar membuat Jeremy terlonjak kaget. Belum juga masuk ke kamar ia sudah dikagetkan oleh suara melengking seorang Perempuan yang begitu memekakan telinganya.
"Kau benar, Ira! Aku sangat senang...." Terdengar suara Perempuan lain yang menyahut suara teriakkan Perempuan pertama.
"Lihat ... pihak agensi akhirnya mengungkapkan perihal kepergian Remy -boy yang mendadak itu. Sekarang kita bisa tenang mendengarnya, tak ada lagi berita yang aneh-aneh tentang princee Remy -boy." Suara lain menimpali.
"Tapi, sayang ia vakum untuk sementara." Suara Perempuan pertama kembali terdengar, kini dengan suara yang berbeda dari sebelumnya.
"Ah, itu tidak masalah, yang terpenting keberadaan Remy -boy sudah diketahui. Itu sudah membuat kita tenang bukan?" Itu suara Perempuan kedua yang kini terdengar.
Alis Jeremy terangkat saat telinganya mendengar namanya disebut-sebut dalam pembicaraan mereka. Apa yang mereka bahas? Pikirnya penasaran.
"Apa yang kau lakukan di situ?" tanya seseorang yang kini berdiri di belakang Jeremy.
Jeremy yang mendengar suara Perempuan di belakangnya langsung menoleh. Seketika itu pula matanya melebar kala melihat siapa orang tersebut.
"Tuhan, kenapa aku lupa jika adikku bersekolah di sini?' batin Jeremy berucap pilu.
Oh, ternyata suara Perempuan itu adalah adik kandungnya, Jenifer Wijaya.
Yang bersekolah di SMA PRATAMA. Agaknya pemuda itu melupakan kebenaran jika sang adik sekolah di sini. Ah, sekarang dia hanya berharap agar adiknya tidak mengenalnya.
"Kau terlihat terkejut saat melihatku. Ada yang aneh?" Perempuan berambut oranye bermata coklat, dengan penampilan bak brandalan.
Walau tidak bisa dipungkiri jika Perempuan itu sangat manis disaat ia tersenyum.
Perempuan yang lebih muda empat tahun dari Jeremy itu memperhatikan penampilan sang artis dengan intens, kadang-kadang alis Perempuan itu mengkerut seiring ia memperhatikan penampilan pemuda di hadapannya.
"Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Jeremy risih bercampur was -was, takut jika sang adik dapat mengenali dirinya.
Jenifer yang di tanya seperti itu hanya mengedikan bahunya, kemudian menjawab dengan nada kelewat santai. "Sepertinya kau anak baru...."
Sekarang Jeremy bisa bernapas lega. Sang adik tidak mengenali dirinya.
"Ah, iya aku baru saja sampai di sini," jawab Jeremy seraya tersenyum ramah.
"Oh, lalu apa yang kau lakukan di depan kamarku?" tanya Jenifer sambil menyilangkan tangan di depan d**a.
Mata Jermy kembali melebar sedikit. Jadi, kamar yang berisik ini adalah kamar adiknya?
"Ini kamarmu?" tanya Jeremy. "Ah, maaf ... tadi saat aku mau masuk ke kamarku, aku mendengar suara teriakkan di kamarmu. Jadi, aku hanya ingin mengecek apa yang terjadi di dalam," katanya melanjutkan.
Jenifer mendengus pelan mendengar itu, mata coklatnya menatap kebarah Jeremy. "Biarkan saja, mereka biasa seperti itu. Kau tidak perlu memusingkannya," kata Perempuan itu.
"Siapa namamu?" Ia bertanya dengan nada penasaran.
"Kenzo Abigail. Kau sendiri?" Jeremy balas bertanya sebagai pormalitas.
"Kenzo Abigail? Kau bukan orang Indonesia?" tanya Jenifer dengan tatapan heran. "Aku Jenifer," ucapnya lagi saat menyadari jika Jeremy menanyakan namanya.
"Ehm ... begitulah aku dari Jerman," jawab Jeremy.
"Begitu ya ... salam kenal," sahut Jenifer seraya berjalan melewati Jeremy, lalu membuka pintu kamar yang tadi berisik.
Jeremy tersenyum hangat tanpa di ketahui Jenifer. "Ya, salam kenal, Jenifer," sahut Jeremy 'Adikku' ia melanjutkan dalam hati.
Adiknya tidak lagi menjawab dikarenakan Perempuan itu telah masuk ke kamar. Ia malah mendengar suara ribut -ribut di dalam kamar Jenifer.
"Jangan berisik, i***t! Kalian membuat yang di luar terganggu!"
Itu suara Jenifer, yang tengah mecak -mecak kepada teman-temannya. Perlahan senyum di wajah Jeremy kembali berkembang.
Hm, sekarang tujuannya bukan hanya untuk mencari 'dia' di sini, tetapi juga menjaga
sang adik yang selama ini selalu jauh dari dirinya.
'Kakak akan menjaga dan melindungimu mulai sekarang Jen... Kakak akan menembus segala kesalahan Kakak padamu, yang tidak pernah ada disaat kau membutuhkan seorang Kakak,' tekadnya di dalam hati.