'Sudah Mas duga kamu akan mengajak Mas baikan, Nis. Mas tahu kamu masih cinta dan sayang sama Mas. Oke, tunggu sebentar ya, sebentar lagi Mas otewe kesana. (Emot cium)' Aku membaca balasan atas pesan wa yang kukirim pada Mas Arman tadi dengan perasaan jengah dan hati dongkol setengah mati. Dasar lelaki berotak mes*m. Bukannya bertanya mengapa aku mendadak menyuruhnya segera datang ke tempat ini, tapi malah menggombal tak jelas begini. Tak kusangka sekonyol itu penilaiannya padaku. Kuarahkan kamera ke sosok Yuni yang tengah duduk di atas sofa lalu mengirim foto gadis itu pada Mas Arman. 'Bukan aku yang ingin kamu datang ke sini, Mas tapi gundikmu itu! Dia nyari-nyari kamu dari tadi. Dia bilang dia lagi hamil dan sekarang minta pertanggungjawaban kamu. Jadi tanggung jawablah. Nikahilah d

