Bab 3

1471 Words
"Nissa, ada apa ribut-ribut?" Mendengar aku membentak Yuni, Mas Arman datang dan bertanya penuh rasa ingin tahu padaku. Matanya menyapu wajahku dengan tajam, meminta penjelasan. Aku menghela nafas, bingung mau menjawab apa, khawatir jawaban itu justru menjadi sebab kesalahpahaman dan pertengkaran kami lagi seperti kemarin. Namun, melihatku hanya diam, Mas Arman mengulangi lagi pertanyaannya. "Nissa, tolong jelaskan kenapa kamu marah-marah sama Yuni seperti tadi?" ujarnya lagi. "Nggak ada apa-apa, Mas. Aku cuma nyuruh Yuni goreng ikan aja, tapi dia menolak. Jadi aku menegur dia. Itu aja." Akhirnya kujawab juga pertanyaannya dengan enggan. Hatiku gundah melihat Mas Arman yang begitu protektif pada Yuni. Apa-apa yang bersangkutan dengan gadis itu, suamiku ini seperti ingin ikut campur terus. Kadang aku bertanya-tanya sendiri siapa Yuni sebenarnya. Bagaimana bisa Mas Arman bertemu dia dan memperkerjakannya sebagai ART di rumah kami. Setiap ditanya, Mas Arman hanya bilang Yuni adalah anak saudara ibunya di desa yang hendak mencari pekerjaan di kota ini. Karena aku butuh ART untuk mengasuh Silla pasca diterima sebagai ASN, jadilah kuterima Yuni bekerja di rumah ini. Sebenarnya bukan aku tak pernah menaruh rasa curiga jika bisa saja Yuni adalah wanita selingkuhan Mas Arman yang sengaja dibawanya ke rumah ini, tetapi aku memilih diam untuk menghindari konflik dengannya karena enggan malu pada tetangga jika kami ribut-ribut. Terbukti sejak kehadiran Yuni sebulan lalu, lambat laun sikap Mas Arman padaku pun memang mulai berubah. Kehangatan dan keromantisan yang sering ia tunjukkan padaku sekarang berganti dengan kemarahan jika sedikit saja aku menyinggung perasaannya atau mencurigainya seperti kemarin. Mas Arman juga sering menunjukkan gelagat aneh akan hubungannya dengan Yuni. Seperti kali ini di mana ia justru lebih memilih menyuruh Yuni yang melayani kebutuhannya ketimbang menyuruhku, istrinya sendiri. "Benar begitu Yuni? Ibu nggak marahin kamu tanpa alasan tadi?" Seolah tak percaya, Mas Arman kembali bertanya pada Yuni yang segera ditanggapi gadis itu dengan menundukkan wajahnya pura-pura sedih. "Ngg...tadi saya memang diperintahkan Ibu untuk menggoreng ikan, tetapi saya minta Ibu sabar dulu sampai saya selesai bikin teh buat Mas, eh Bapak. Tapi bukannya sabar, ibu malah marah-marah dan mengatakan kalau Yuni ini cuma pembantu hu...hu...hu...." Yuni tergugu. Gadis itu menundukkan wajahnya seolah tak mampu menahan luka hati karena kata-kataku yang dianggap menghina statusnya padahal itu kuucapkan hanya agar ia menyadari kedudukannya. Namun, bukannya sadar, ia malah menggunakan kesempatan itu untuk membuat Mas Arman simpati dan menilaiku buruk karena telah menghina status pekerjaannya. Padahal jelas tidak begitu. Kepura-puraan yang sungguh membuatku ingin mengusir gadis itu sekarang juga dari rumah ini, sayang aku belum menemukan penggantinya. Hatiku rasanya panas bukan main. Ini benar-benar tidak bisa dimaafkan. Berani-beraninya ia mengadu yang tidak-tidak pada Mas Arman, seolah-olah aku sengaja mengatainya pembantu dan merendahkan profesinya itu, padahal tidak sama sekali. Sialnya Mas Arman kelihatannya justru lebih percaya pada ucapan ART itu daripada denganku. "Benar begitu, Nissa? Kamu menghina Yuni karena statusnya? Sadarlah, Nis, roda kehidupan ini berputar, hari ini mungkin dia cuma seorang pembantu, tapi besok lusa bisa saja berubah menjadi majikan. Jangan sombong!" tegas Mas Arman lagi dengan nada yang tak enak didengar telinga, membuatku merasa bingung karena terkesan ia seperti memusuhi istrinya sendiri. "Siapa yang sombong, Mas? Maksud Mas apa ngomong begitu? Mas mau bilang kalau Mas lebih percaya pada Yuni daripada sama istri Mas sendiri? Keterlaluan!" Aku benar-benar merasa tersinggung mendengar perkataan Mas Arman hingga akhirnya mengucapkan kalimat yang harusnya tak keluar dari mulutku karena hanya akan membuat pembantu itu besar kepala. Namun mendengar ucapan Mas Arman, hatiku memang menjadi kesal bukan main. Dengan kasar aku beranjak meninggalkan dapur di mana kami berada saat ini, tetapi belum sempat melangkah, Mas Arman keburu mencekal tanganku dan menahanku supaya tidak bisa pergi. "Kamu mau ke mana? Mas belum selesai bicara. Tolong hargai suami kalau sedang ngomong! Ngerti?" bentak Mas Arman sembari menguatkan cekalannya hingga aku meringis kesakitan. Aku berontak berusaha melepaskan cekalan itu tetapi tak bisa karena kalah tenaga. Menyadari hal itu aku hanya mampu menelan ludah dengan getir. Tak mengerti mengapa Mas Arman tiba-tiba jadi kasar dan tega begini padaku. "Mas, kamu kenapa sih jadi kasar begini?" tanyaku sembari terus berontak. Tak mampu lagi menahan diri terus-menerus. Kata orang sabar itu ada batasnya, demikian pula yang terjadi padaku saat ini. Tak bisa lagi menahan sabar menghadapi sikap Mas Arman yang mulai kelewatan. "Makanya dengarkan dulu suami bicara, jangan main pergi seenaknya saja! Jawab dulu pertanyaan Mas, kenapa kamu ribut terus sama Yuni? Apa belum puas juga dengan penjelasan kemarin hingga kamu masih marah-marah seperti ini? Iya?" Mas Arman melotot hingga rahangnya terlihat mengeras. Melihat itu aku hanya mampu menggigit bibir. Betapa Mas Arman sudah jauh berubah. Entah apa yang membuatnya begitu, yang pasti sejak kedatangan Yuni ke rumah ini, hubunganku dengan Mas Arman mulai menjadi tegang. "Aku nggak ngajak dia bertengkar, Mas. Aku cuma mau dia tahu kedudukannya di rumah ini kalau dia di sini itu kerja! Jadi, sudah sepatutnya dia menghormati orang yang sudah mempekerjakannya, Mas, bukan malah membantah perintahnya," ucapku membela diri tanpa rasa takut lagi. Ya, aku tak peduli lagi siapa Yuni sebenarnya, bahkan jika gadis itu memutuskan keluar dari pekerjaan sebagai pengasuh Silla, hari ini juga aku tidak peduli. Walau harus bersusah payah mencari penggantinya akan kulakukan demi bisa tenang tanpa kehadirannya di rumah ini lagi. "Kamu bilang Yuni tidak menghormati kamu? Asal tahu ya Nis, yang dia ucapkan itu benar adanya. Tadi memang Mas yang meminta dia membuatkan teh panas. Kenapa Mas nyuruh dia bukannya kamu? Itu karena kamu kalau buat teh kurang panas dan kurang manis. Makanya Mas minta Yuni yang buat karena dia lebih tahu takarannya," ucap Mas Arman lagi seolah tak kuatir aku marah atau tersinggung mendengar perkataannya. Cres! Rasanya ada sembilu tajam yang menusuk dan mengiris jantung ini. Mendengar suami sendiri terang-terangan memuji ART di depan istrinya. Siapa yang tidak terluka? Jadi, itu alasannya Mas Arman lebih memilih teh buatan Yuni ketimbang teh seduhanku? Drama apa sebenarnya yang sedang Mas Arman dan Yuni pertontonkan di depanku saat ini? "Baik, Mas. Silahkan kamu minta Yuni yang bikinkan teh buat kamu, aku nggak papa, kok. Bahkan aku nggak peduli kamu mau minta apa saja sama Yuni. Tapi jangan lupa kalau saat ini Mas tinggal di rumahku. Rumah yang kubeli jauh sebelum kita menikah. Jadi sudah seharusnya Mas menghargaiku karena aku juga punya hak menentukan siapa-siapa saja orang yang boleh tinggal bersamaku di rumah ini!" ucapku dengan keberanian yang tiba-tiba saja muncul. Mungkin karena sudah terlalu sakit dan terhina akan kata-kata dan perlakuan yang Mas Arman berikan, membuat pada akhirnya keberanianku untuk melawan bangkit juga. Sepertinya Mas Arman memang harus disadarkan akan posisinya di rumah ini, sama seperti Yuni. "...dan kamu Yuni, ingat ya, kamu di sini itu bekerja atas izinku, jadi tolong jaga sikap jika kamu mau terus bekerja di sini. Kalau tidak, silakan keluar sekarang juga!" tandasku padanya dengan tegas. Ya, menghadapi orang-orang seperti Mas Arman dan Yuni sepertinya memang perlu sedikit keberanian dan ketegasan agar kepala ini tidak diinjak-injak seenaknya. Usai berucap begitu dengan langkah tenang dan jumawa kutinggalkan ruangan dapur menuju kamar untuk mengistirahatkan tubuh dan benak yang terasa penat. Sebelum berlalu masih sempat kulihat wajah Mas Arman dan Yuni yang seketika memerah mendengar ucapanku. Namun, aku tidak peduli, saat ini aku hanya ingin istirahat saja. *** Dengan hati gundah kututup daun pintu kamar dengan keras. Tetapi belum tertutup sempurna, tangan Mas Arman menghalangi. "Nisa, tunggu! Mas mau bicara!" ucapnya sembari dengan cepat menyelinap masuk mengejarku. Kuurungkan menutup daun pintu kayu persegi empat itu dan membiarkan sosok Mas Arman masuk. Lelaki itu tampak begitu tersinggung pada ucapanku dengan nya tadi. Terbukti wajahnya terlihat kelam dan sinar mata yang tajam menusuk. Namun, aku tak gentar. Kalau Mas Arman bisa tersinggung, aku juga jauh lebih bisa karena aku tak pernah memulai pertengkaran melainkan Mas Arman sendiri. "Bisa kamu jelaskan apa maksud ucapan kamu tadi, Nissa? Kamu ingin mengancam dan mempermalukan aku di depan Yuni, begitu?" tanya Mas Arman dengan suara tertekan. Tetapi jangan dikira aku takut. Tidak, sebagai seorang sarjana hukum dengan predikat kelulusan terbaik, aku tahu bagaimana cara melindungi dan mempertahankan hakku sebagai istri di depannya. Bagaimana pun agama memerintahkan seorang istri untuk taat pada suaminya tetapi jika suami telah mulai bertindak semena-mena, maka istri pun berhak meminta keadilan. Bahkan Islam membolehkan istri meminta talak jika suami tak memperlakukan istrinya lagi dengan baik. Apalagi hukum negara yang jelas-jelas melarang seorang suami berlaku semena-mena pada istrinya. Tak akan kubiarkan Mas Arman melakukan itu lagi padaku. Tidak! "Mas sudah dengar kan tadi aku bilang apa? Nggak perlu rasanya kuulangi lagi karena Mas pasti sudah dengar? Ini rumahku Mas, jadi tolong hargai aku atau kupersilahkan Mas keluar kapan saja Mas mau. Sekarang aku mau istirahat dulu, jadi tolong Mas tinggalkan kamar ini karena aku mau sendiri dulu!" Kubuka kembali daun pintu kamar dengan lebar, mempersilahkan lelaki itu keluar, tetapi Mas Arman hanya tegak membisu dengan wajah memerah. Entah apa yang ada di benaknya, aku tak tahu dan tak peduli. Hatiku terlanjur sakit mendapat perlakuan tak sepatutnya darinya ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD