Episode 4

1002 Words
"Nisa, dengarkan dulu Mas mau bicara!" Mas Arman tak mau keluar kamar, malah mendekat dan berusaha menggapai tanganku yang serta merta kukibaskan dari genggamannya dengan kasar. "Tak ada lagi yang perlu dibicarakan Mas. Semua sudah jelas. Kalau Mas mau perkawinan kita langgeng dan tetap tinggal di sini bersamaku, Mas harus bisa menghargaiku. Itu saja!" tegasku kembali. "Siapa bilang Mas tidak menghargai kamu. Mas cuma nggak suka kalau kamu selalu bersikap tidak baik pada Yuni. Dia itu anak saudara ibuku, Nis. Ibu menitipkan dia pada Mas, jadi sudah sewajarnya kalau Mas memastikan dia di sini mendapat perlakuan yang baik dari kamu. Apalagi dia sudah membantu kamu mengasuh Silla. Harusnya kamu bisa memperlakukan dia lebih baik lagi dari ini, bukannya selalu marah-marah sama dia, Nis!" ucap Mas Arman kembali dengan nada tinggi yang sama. "Aku memperlakukan dia dengan tidak baik, Mas? Bagaimana Mas bisa punya kesimpulan seperti itu sementara jelas-jelas dia yang selalu membantah perintahku? Dia di sini kerja kan? Dibayar untuk itu? Tapi kenapa dia selalu menentang perintanku, Mas? Kamu gila kalau menyuruhku diam saja menerima perlawanannya! Dia pembantu, Mas dan aku majikan dia! Dia yang harus mendengar perintahku, bukan sebaliknya!" ucapku masih meradang. Tak habis pikir mengapa Mas Arman masih saja membela Yuni yang jelas-jelas sudah melawanku dengan kurang ajar. Harusnya Mas Arman bisa menasihati Yuni bukan menegurku seolah aku yang salah dan Yuni yang benar. Saking marahnya, aku sampai tak bisa membendung kata-kata yang mungkin bisa dianggap menghina oleh Mas Arman. Rasa jengkel karena tak dipandang oleh ART sendiri itu membuatku geram tak karuan. Tapi mau bagaimana lagi, Mas Arman selalu beralasan Yuni adalah anak saudara ibunya di desa, itu membuatku harus bertimbang rasa. Sayang, Yuni tidak berpikir hal yang sama. "Nisa, jaga bicaramu! Jangan kelewatan. Meski pun Yuni hanya pembantu tapi tidak seharusnya kamu bicara kasar seperti ini tentang dia. Tolong hargai dia, Yun. Dia itu ...." "Sudahlah, Mas. Daripada kamu sibuk menasehati aku, lebih baik kamu nasehati saja Yuni supaya dia tidak melawan dan membantah perintahku terus menerus. Walau pun dia saudara kamu tapi kalau dia melawan terus, aku juga nggak akan segan-segan memecat dia. Dia di sini dibayar, Mas! Aku yang bayar gajinya. Bukan gratis! Jadi, nggak mungkin aku makan hati sementara dia enak-enakan nggak mau ditegur. Kalau dia masih mau kerja, dia harus patuh dan mendengar perintahku. Itu aja syarat dariku, nggak ada yang lain lagi." tandasku dengan nada keras akhirnya. Ya, jika Yuni masih mau bekerja di rumah ini tentu dia harus bisa menghormatiku sebagai majikan. Begitu pula Mas Arman, kalau ia mau rumah tangga kami baik-baik saja maka ia harus bisa menjaga hubungan kami sebagai mana aku juga berusaha menjaga hubungan dengannya, agar RT ini langgeng ke depannya. *** Aku baru saja hendak keluar kamar setelah memakai seragam dinas saat kulihat sosok Mas Arman masih bergelung di bawah selimut. Meski bukan satu dua kali kudapati lelaki itu bangun siang karena Mas Arman memang tidak harus buru-buru ke tempat usaha yang merupakan milik pribadi yang sekarang ia kelola, tetapi melihat ia sering bangun siang hari seperti ini menyebabkan perasaanku kadang kala dilanda tidak enak. Terutama sejak Yuni datang menggantikan Bik Sari yang diberhentikan Mas Arman sebulan lalu karena alasan sudah terlalu tua untuk mengasuh Silla yang mulai aktif masuk Taman kanak-kanak dan harus diantar jemput setiap hari. Bik Sari yang tidak bisa mengendarai sepeda motor memang membuat kami kadang kesulitan jika hendak minta tolong gantian menjemput Silla di sekolah bila kebetulan sedang ada kesibukan yang tidak bisa ditinggalkan. Itu sebabnya, Mas Arman kemudian berinisiatif menawarkan pekerjaan menjadi ART di rumah ini pada anak saudara ibunya yang berarti sepupu Mas Arman sendiri untuk bekerja di rumah ini. Tapi benarkah gadis itu benar-benar sepupu Mas Arman? Aku memang tak begitu kenal dekat dengan keluarga suamiku yang notabene tinggal jauh dari kota ini. Apalagi selama menikah, Mas Arman jarang pulang kampung dengan alasan jauh dan kasian Silla yang masih kecil jika harus dibawa berpergian keluar kota, tetapi rasanya selama ini aku memang tak pernah mendengar ibunya bercerita tentang Yuni, kerabat mereka yang berasal dari keluarga tidak mampu hingga harus melamar pekerjaan menjadi seorang ART di kota ini. Lantas benarkah Yuni adalah saudara sepupu Mas Arman? Atau sebenarnya itu hanya akal-akalan dia saja supaya bisa membawa Yuni ke rumah ini? Berbagai pertanyaan itu membuatku bingung. Ah, apa sebaiknya aku menelpon ibu mertua saja ya untuk menanyakan kebenaran itu? Aku menimbangnya-nimbang sendiri. Jujur, aku memang jarang berhubungan dengan ibu. Usia beliau yang sudah lanjut dan sakit-sakitan serta mulai pikun, membuat Mas Arman melarangku berkomunikasi dengan ibu. Aku hanya bisa melihat profilnya setiap kali Mas Arman menelepon ibunya di dekatku. Hanya itu satu-satunya cara berhubungan dengan ibu, melalui sambungan video call yang terkadang hanya bisa beliau jawab sepatah dua patah kata. Ya, rasanya memang mustahil bisa menanyai ibu yang ingatannya sudah mulai berkurang. Apalagi kudengar saat ini sedang tidak sehat di desa. Sementara saudara Mas Arman yang lain juga tidak ada yang mengikuti jejak Mas Arman mencari penghidupan di kota ini. Semua saudara Mas Arman tinggal di desa, anak beranak tak bisa jauh dari ibu mereka. Hanya Mas Arman saja yang merantau hingga kemudian bertemu denganku saat masih bekerja di sebuah perusahaan pembiayaan. Sampai kemudian kami menikah. Tiga bulan berkenalan dan merasa saling cocok kami pun akhirnya memutuskan menikah dalam suatu pesta meriah yang diadakan keluargaku. Orang tuaku memang berasal dari strata ekonomi menengah. Sementara Mas Arman berasal dari keluarga sederhana. Itu sebabnya biaya pesta hampir sebagian besar berasal dari keluargaku. Demikian pula setelah menikah, bapak dan ibu menyarankan agar Mas Arman membuka usaha sendiri agar bisa cepat berkembang. Modalnya sebagian besar juga berasal dari tabunganku. Mas Arman hanya menambahi sedikit. Lantas jika kemudian sikap Mas Arman berubah setelah saat ini sukses dengan usaha percetakan yang kami kelola, salahkah jika aku mulai berpikir untuk bertindak tegas pada Mas Arman? Ya, tentu aku tak mau dipecundangi semudah ini. Setelah membantunya meraih kesuksesan hidup seperti sekarang ini, Mas Arman bukannya berterima kasih atas segenap bantuanku dan semakin menyayangi istrinya ini justru hendak senang-senang dan berbuat curang di depanku. Tidak! Tak akan kubiarkan itu terjadi!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD