"Nisa! Jadi kamu yang sudah merekam video itu? Mas nggak nyangka kamu sejahat itu ya! Kamu istri durhaka ternyata!" Mas Arman menatapku nyalang. Air mukanya berubah kelam. Mungkin tak percaya aku sanggup melakukan apa yang barusan kukatakan dengan tegas padanya. Namun, aku tak peduli. Sakit hati karena sudah dikhianati membuatku kehilangan rasa kasihan dan iba yang biasanya begitu besar untuknya. "Ya, aku yang sudah merekam perbuatan menjijikkan kamu, Mas. Jadi sekarang kamu nggak usah mengelak lagi. Silahkan pergi sekarang juga dari rumah ini karena secara hukum rumah ini adalah milikku pribadi, atau terpaksa aku akan mempidanakan kamu dengan perbuatan zinah? Kupastikan kamu akan kalah di persidangan jika aku melakukan itu karena aku memiliki semua bukti yang nggak akan bisa kamu sangka

