Wajahnya tampak berubah memerah mendengar ucapanku. Wajah yang dulu kukagumi tapi sekarang membuatku muak saat melihatnya setiap kali teringat akan perbuatan rendahnya pada Yuni kemarin. Sungguh aku benci lelaki ini. Lelaki yang apa daya telah menjadi suami dan ayah dari putriku. Lelaki yang pernah kutolong bangkit dari kesulitan hidup tetapi setelah berhasil dan sukses justru menjadi seorang pengkhianat. Bak menolong anj**g terjepit, setelah ditolong malah menggigit. Begitulah peribahasa yang mungkin paling tepat untuk menggambarkan keadaan Mas Arman saat ini. "Apa maksud kamu, Nis? Kenapa kamu tiba-tiba mengungkit soal pinjaman itu? Ada apa sebenarnya?" Tanyanya seolah tidak percaya dengan kata-kata yang barusan keluar dari mulutku. "Aku baru ingat, Mas jika modal usaha yang dulu kamu

