Crown Prince

1408 Words
Suasana aula kerajaan malam itu makin ramai saja. Alunan musik klasik terdengar lembut mengisi setiap sudut ruangan yang luas. Di sana berkumpul para bangsawan, pengusaha besar, tokoh politik, hingga keluarga cabang kerajaan semua hadir dalam jamuan makan malam keluarga besar Kingsley. Sementara di salah satu sudut ruangan, Ansel masih asyik menikmati kue cokelat kecil di piringnya. “Enak banget sih…” gumamnya pelan. Ia menggigit sedikit lagi sambil sesekali melirik orang-orang yang berlalu-lalang. Jujur saja, rasanya dia masih agak canggung. Semua orang terlihat terlalu rapi, terlalu elegan, dan penuh nama besar. Kalau bukan karena diajak Alex, mungkin dia sudah pulang dari tadi. Ansel menghela napas pendek. “Wah, pai kecilnya juga kelihatan enak…” Tangannya baru mau menjangkau, tapi tiba-tiba suara langkah kaki terdengar mendekat dari arah pintu utama. Dalam sekejap, suasana di ruangan itu langsung berubah. Banyak kepala menoleh, bahkan ada yang memperbaiki posisi berdiri agar lebih tegap. Bisik-bisik mulai terdengar samar-samar. “Pangeran Mahkota datang…” “Prince Skyler…” “Akhirnya muncul juga…” Pintu besar aula terbuka perlahan, dan sesosok pria melangkah masuk dengan tenang. Jas hitam berkelas membungkus tubuh tingginya dengan sempurna. Rambut hitamnya tertata rapi, tatapannya tajam, rahangnya tegas, dan memancarkan aura dingin yang langsung terasa oleh siapa pun di dekatnya. Di belakangnya, Damian berjalan mengikuti sambil membawa tablet di tangannya. Seketika itu, seluruh perhatian ruangan terpusat pada satu orang: Skyler Alexander Kingsley, Pangeran Mahkota sekaligus pewaris takhta, sosok paling berpengaruh di lingkaran keluarga kerajaan modern. Damian melirik sekeliling, lalu mendekat sedikit. “Wah… Yang Mulia, semua mata lagi tertuju ke sini lho.” Skyler tetap berjalan santai. “Iya sudah biasa yang penting kita tidak lupa untuk tersenyum dan ramah.” “Iya deh, salah sendiri terlalu ganteng jadi bikin orang nggak bisa berkedip,” canda Damian. Skyler menoleh dengan tatapan datar. “Mau gue potong gaji bulan ini?” Damian langsung batuk kecil, buru-buru mengubah nada. “Hehe… cuma bercanda, Yang Mulia.” Skyler memasukkan satu tangan ke saku celananya, pandangannya sekilas menyapu seluruh isi ruangan. “Kita temui Mama dan Papa dulu.” “Siap, Tuan.” Mereka melangkah menuju area keluarga utama. Di sana tampak sepasang suami istri yang sedang mengobrol dengan tamu lain. Sang Raja terlihat berwibawa dengan karismanya yang kuat, sedangkan wanita di sisinya memancarkan keanggunan yang lembut. Itu adalah Raja Alaric Kingsley dan Ratu Elena Kingsley. Begitu melihat putranya datang, Ratu Elena langsung tersenyum. “Akhirnya muncul juga.” Raja Alaric hanya mengangkat alis. “Kamu terlambat lagi, ya?” “Rapatnya terlalu lama pa, jadi aku baru bisa berangkat, Maaf atas keterlambatan nya” jawab Skyler santai. Damian di belakangnya sampai pura-pura batuk. Padahal tadi yang bikin lama adalah Skyler terlalu teliti memilih jas yang pas dipakai. Skyler melirik sekilas ke arah asistennya itu, membuat Damian langsung memalingkan wajah pura-pura melihat langit-langit ruangan. “Papa, Mama,” sapa Skyler sopan sambil mencium tangan kedua orang tuanya. “Aku sudah sampai.” Ratu Elena mengusap lengan putranya pelan. “Sudah, sekarang makan dulu saja.” “Yang penting kamu datang, itu sudah cukup,” tambah Raja Alaric sambil mendecak kecil. Skyler hanya mengangguk singkat. Ratu Elena tersenyum lebih lebar, lalu matanya menyipit sedikit seolah punya rencana. “Malam ini banyak tamu penting yang hadir, lho.” “Aku tahu,” jawab Skyler pendek. “Dan…” Ratu Elena melanjutkan dengan nada menggoda, “banyak juga putri bangsawan yang datang malam ini.” Wajah Skyler langsung terlihat malas. “Ma…” Damian yang mendengarnya sampai menahan senyum. Sudah mulai lagi kebiasaan ini. Raja Alaric malah tertawa pelan. “Ibumu ini sudah tak sabar menunggu cucu, makanya begitu.” Skyler hanya diam, lalu mengambil gelas minuman yang dibawa pelayan. “Belum ada minatnya.” “Dingin banget jawabnya,” bisik Damian pelan. Skyler mengabaikan saja ucapan asistennya itu, lalu mulai menyeruput minumannya perlahan. Pandangannya bergerak menyusuri seisi ruangan—sampai tiba-tiba berhenti di satu titik. Di sudut dekat taman kecil, ada seorang gadis mengenakan gaun berwarna keemasan muda, yang sedang asyik sekali menyantap kue cokelatnya dengan ekspresi serius. Skyler terdiam sejenak, lalu sedikit mengerutkan dahi. Nggak mungkin salah lihat… Meskipun malam ini dia tampil jauh lebih rapi dan elegan, dengan wajah dan sorot mata yang sama persis—dia pasti ingat. Ini gadis yang tadi menabraknya di bandara. Tanpa sadar, sudut bibir Skyler terangkat sedikit, sangat tipis sampai nyaris tak terlihat. Damian yang mengikuti arah pandangan tuannya langsung mengernyit bingung. “Hah? Ada apa, Yang Mulia?” Skyler tidak menjawab. Ia justru mulai melangkah perlahan menuju sudut itu. Damian sampai tertegun di tempat. Lho? Pangeran Skyler mendatangi orang duluan? Ini baru pertama kali dia lihat kejadian begini. Sementara itu, Ansel masih asyik mengunyah kuenya. “Seriusan sih, kue di sini enak banget rasanya…” Belum sempat dia mengambil suapan berikutnya, sebuah suara rendah terdengar tepat di depannya. “Hai.” Ansel langsung mendongak, dan gerakannya berhenti total. “Eh?” Matanya sedikit membulat. Orang ini… bukankah dia cowok yang ketemu di bandara kemarin? Yang bertopi hitam dan terlihat dingin itu? Tapi malam ini penampilannya beda jauh—sampai terlihat luar biasa tampan. Dan tunggu… bukannya orang ini tadi disebut-sebut sebagai Pangeran Mahkota keluarga Kingsley? Ansel buru-buru menelan kunyahannya, lalu tersenyum kikuk. “Oh… hai juga.” Skyler berdiri santai di hadapannya, satu tangannya tetap masuk ke saku celana. Tatapannya tetap tenang, tapi entah kenapa rasanya nggak sedingin waktu pertama kali mereka bertemu. “Gue Sky,” katanya memperkenalkan diri. Ansel sempat tertegun sebentar, baru sadar dia diminta balas perkenalan. “Gue Ansel. Gue ingat kok lo… orang yang gue tabrak di bandara kemarin.” Skyler sedikit mengangkat alisnya. “Iya, kejadian itu.” Wajah Ansel langsung memerah sedikit. “Ya ampun… maaf banget ya soal itu, gue nggak sengaja lho.” “Santai saja, nggak apa-apa,” jawab Skyler ringan. Ansel masih merasa canggung sedikit. “Ngomong-ngomong… ternyata lo Pangeran Kingsley ya?” Skyler mengangguk pelan. “Sayangnya iya.” Ansel sampai tertawa kecil mendengar jawabannya. “Hah? Maksudnya?” “Kadang rasanya ribet juga jadi begini,” jelas Skyler sambil mengangkat bahu. Ansel berusaha menahan senyum. Ternyata dia nggak seseram yang dibayangkan, jauh beda sama kesan pertama di bandara. Skyler melirik piring di hadapan Ansel. “Kue cokelatnya enak ya?” Mata Ansel langsung berbinar cerah. “BANGET!” Begitu sadar nada suaranya terlalu antusias, dia buru-buru berdeham. “Maksud gue… iya, rasanya lumayan enak kok.” Skyler sampai mengeluarkan tawa kecil yang pelan. Ansel hampir melongo. Loh, dia bisa ketawa juga ternyata? “Lo nggak bergabung dengan tamu yang lain?” tanya Skyler. Ansel menggeleng. “Abang gue lagi ketemu temannya, jadi gue disuruh duduk di sini saja.” “Abang lo… Alex?” Ansel terkejut. “Lo kenal abang gue?” “Sedikit saja,” jawab Skyler singkat. “Oh begitu…” Skyler melirik kursi kosong di samping Ansel. “Boleh gue duduk di sini?” “Hah? Oh tentu saja boleh!” jawab Ansel cepat. Begitu Skyler duduk, Damian yang masih berdiri agak jauh sampai melotot tak percaya. Ya Tuhan… tuannya rela duduk semeja dan mengobrol akrab dengan seorang gadis? Ini hal yang nggak pernah terjadi sebelumnya! “Lo tadi baru selesai rapat ya?” tanya Ansel membuka obrolan. Skyler menoleh. “Tahu dari mana?” “Abang gue bilang kalau pewaris kerajaan biasanya selalu sibuk dengan urusan kantor dan rapat,” jelas Ansel. Skyler mendecak kecil. “Membosankan memang.” Ansel tertawa lagi. “Kalau nggak begini juga nggak akan datangnya telat, kan?” “Ngomong-ngomong, kuliah lo gimana kelanjutannya?” balik bertanya Skyler. Ansel langsung bersemangat. “Baru saja selesai kuliah di Amerika kok.” “Jurusan apa?” “Bisnis dan media.” Skyler mengangguk mengerti. “Pantes saja.” “Kenapa pantesnya?” tanya Ansel bingung. “Cara bicara dan bicaranya santai tapi pas,” jawab Skyler jujur. Ansel sampai tersenyum lebar. “Wah, terima kasih… itu dianggap pujian kan?” “Bisa jadi,” jawab Skyler santai. Obrolan pun berlanjut makin akrab. Mereka membicarakan soal kehidupan di Amerika, makanan kesukaan, pengalaman kuliah, sampai hal-hal sepele lainnya. Tanpa sadar, Ansel merasa makin nyaman. Ternyata Skyler nggak sedingin dan sesulit didekati seperti yang dibayangkan orang banyak. Sementara itu, bagi Skyler sendiri ini pertama kalinya dia nggak merasa bosan atau tertekan saat mengobrol dalam acara resmi keluarga. Dari kejauhan, Alex baru saja kembali dari pertemuannya. Ia baru mau melangkah menuju tempat duduk, tapi langsung berhenti dan memicingkan mata tak percaya. Itu kan… Skyler Kingsley? Yang sedang asyik mengobrol santai sama adikku?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD