Tatapan Tanpa Sengaja
Bandara internasional itu masih seramai biasanya.
Suara roda koper yang bergesekan dengan lantai mengisi udara, bercampur dengan pengumuman penerbangan yang terus terdengar dari pengeras suara.
Di tengah keramaian itu, seorang gadis berambut panjang dengan coat krem panjang tampak berjalan terburu-buru sambil menyeret koper berwarna putih di belakangnya.
Wajah cantiknya tampak begitu antusias.
Sudah terlalu lama.
Terlalu lama sejak terakhir kali ia pulang.
Ansel Ardelia.
Gadis yang sejak kecil diperlakukan bak seorang putri oleh keluarga bangsawan kerajaan modern itu baru saja kembali setelah menyelesaikan studinya di Amerika.
Sudut bibirnya tak berhenti tersenyum.
Ponselnya bergetar.
Alex Calling
“Ya ampun, abang udah nunggu pasti…”
Dengan cepat ia mengangkat telepon sambil tetap berjalan.
“Bang! Iya iya aku udah keluar kok. Kamu di gate mana?” tanyanya cepat.
Suara laki-laki di seberang terdengar malas.
“Gate tiga. Cepetan. Dari tadi gue nungguin.”
Ansel tertawa kecil.
“Yaelah cerewet banget. Aku kangen tau!”
“Udah sana lari aja. Papa sama mama juga nunggu di rumah.”
Mata Ansel langsung berbinar.
“Serius? Ahh aku gak sabar!”
Panggilan dimatikan.
Tanpa sadar langkah Ansel berubah jadi setengah berlari.
Sepatu heels putihnya berdetak cepat di lantai bandara.
“Bang Alexxx!”
Karena terlalu terburu-buru dan fokus melihat ke arah depan—
Bruk!
Tubuhnya menabrak seseorang.
Koper kecil di tangannya hampir terlepas.
“Oh my God!”
Ansel langsung mundur satu langkah.
“Sorry! Sorry banget, aku gak sengaja!”
Di hadapannya berdiri seorang laki-laki tinggi dengan hoodie hitam dan topi hitam yang menutupi sebagian wajahnya.
Tangannya menggenggam handle koper dengan santai.
Saat laki-laki itu sedikit mengangkat wajahnya Ansel terpaku.
Mata tajam.
Hidung mancung.
Rahang tegas.
Tatapan dingin yang entah kenapa membuat suasana mendadak terasa berbeda.
Dan untuk sepersekian detik mata mereka bertemu.
Mata cantik Ansel membalas tatapan laki-laki asing itu.
Ada sesuatu yang aneh.
Tatapan yang sulit dijelaskan.
Laki-laki itu tak terlihat marah. Tak juga tersenyum. Hanya diam. Kemudian ia mengangguk kecil. “It's okay.” Suaranya berat.
Terdengar Tenang dan Dingin.
Tanpa berkata apa-apa lagi, laki-laki itu kembali menggeret kopernya dan berjalan melewati Ansel begitu saja.
Ansel masih berdiri di tempat. Berkedip pelan. “Cakep banget…” gumamnya pelan tanpa sadar.
Namun detik berikutnya “ANSEL!”
Suara familiar membuatnya menoleh cepat.
Di kejauhan, seorang pria tampan dengan kacamata hitam melambaikan tangan dari area gate.
Alex.
Wajah Ansel langsung berubah cerah.
“ABANGGG!”
Tanpa pikir panjang, ia kembali berlari ke arah Alex.
Tak menyadari dari kejauhan, laki-laki bertopi hitam tadi sempat menoleh satu kali ke arahnya sebelum akhirnya pergi.
Dan Ansel sama sekali tidak tahu…
“ABANGGG!”
Ansel langsung berlari kecil tanpa peduli orang-orang di sekitar bandara yang menoleh ke arahnya.
Alex yang berdiri sambil bersandar santai di dekat mobil hanya menggeleng pelan melihat adiknya itu.
“Anak ini…” gumamnya kecil.
Belum sempat Alex berkata apa-apa, tubuh mungil Ansel sudah lebih dulu menabraknya—kali ini dengan sengaja.
Buk!
“Ya ampun aku kangen banget!”
Ansel langsung memeluk pinggang Alex erat-erat.
Alex mendecak pelan.
“Eh eh, napa sih lebay banget?” ucapnya, meski tangannya tetap otomatis membalas pelukan sang adik.
“Abang gak kangen aku ya?”
“Kangen.”
“Boong.”
“Kalo gak kangen ngapain gue jemput dari sejam lalu?”
Ansel langsung mendongak.
“Sejam?”
“Macet. Dan ada anak kecil yang jalannya lama banget keluar bandara.”
“Yeee nyindir!”
Alex terkekeh pelan lalu mengusap kepala Ansel.
“Udah gede ternyata.”
“Apaaa sih. Aku cuma setahun doang di Amerika.”
“Setahun tapi video call tiap hari nangis minta pulang.”
“Aku gak nangis!”
Alex menaikkan alis. “Siapa yang bilang, ‘Bang aku kangen masakan mama… aku kangen rumah… aku capek tugas’?”
Pipi Ansel langsung merah.
“Itu kan cuma sekali!”
“Seratus kali lebih tepatnya.”
Ansel langsung manyun lalu memukul lengan Alex pelan.
“Ih abang nyebelin banget.”
Alex hanya tersenyum tipis.
Jujur saja ia benar-benar merindukan adiknya.
Rumah terasa terlalu sepi tanpa suara cerewet Ansel.
Tak ada lagi yang tiba-tiba masuk kamar cuma buat pinjam hoodie.
Tak ada lagi yang ngambek minta dibelikan dessert jam sebelas malam.
Dan yang paling terasa…
tak ada lagi anak manja yang selalu memeluk mama papanya tiap pagi.
“Udah ayo masuk mobil.”
Alex mengambil koper besar Ansel tanpa kesulitan.
“Abang aku bisa sendiri.”
“Gak usah sok mandiri. Lo lagi pulang jadi tuan putri lagi.”
Ansel langsung tertawa kecil.
Mobil hitam mewah mereka melaju meninggalkan bandara.
Ansel sibuk melihat ke luar jendela.
Indonesia.
Rumah.
Ia benar-benar merindukan semuanya.
“Papa mama di rumah?” tanyanya.
Alex melirik sekilas. “Dari pagi ribut nyiapin semuanya.”
“Hah?” kaget Ansel.
“Papa kita masak.”
Mata Ansel membulat. “SERIUS?!”
“Dan mama bantuin.”
Ansel langsung menutup mulutnya tak percaya.
“Ya ampun… aku jadi pengen cepet sampai rumah…”
Alex terkekeh. “Tuh kan, emang anak mama papa.”
“Ya emang aku anak mereka…”
“Anak kesayangan lebih tepatnya.” ucap Ansel mengejek
“Abang juga kesayangan!” Alex melirik.
“Beda level.” balas Ansel
Ansel langsung tertawa sampai bahunya bergerak. “Kasian banget abang…”
“Ya gimana, rumah ini pusat tata suryanya ya kamu.”
Empat puluh menit kemudian mobil mereka akhirnya memasuki area kediaman keluarga besar itu.
Gerbang hitam besar terbuka perlahan.
Lampu-lampu taman menyala indah.
Air mancur besar berdiri megah di tengah halaman.
Rumah mereka lebih pantas disebut istana modern.
Bangunan putih besar dengan sentuhan klasik dan modern berdiri megah.
Mata Ansel langsung berbinar.
“Ya ampun…”
“Akhirnya pulang juga ya?”
Ansel mengangguk cepat. “Kangen banget…”
Mobil berhenti tepat di depan pintu utama.
Belum sempat Ansel turun pintu besar rumah sudah terbuka.
Dua orang berdiri di sana dengan senyum lebar.
“NON ANSELLL!”
Ansel langsung tertawa kecil.
“mbak Maya! mbak Lilis”
Begitu turun dari mobil, ia langsung dipeluk erat oleh dua orang kepercayaan keluarga itu.
Maya bahkan sampai berkaca-kaca.
“Ya ampun non makin cantik…”
“mbak Maya juga sehat!”
Lilis langsung mengelus pipi Ansel.
“Kurusan ya ampun adek mbak…”
“Enggak kok…”
“Kurusan! Di sana makan gak sih?” ucap Mereka.
Ansel tertawa kecil.
“Kangen banget sama kalian…”
Alex menghela napas kecil.
“Udah drama banget belum? Masuk gak?”
Belum selesai suara familiar terdengar dari dalam rumah.
“ANSEL!”
Ansel langsung membeku.
Matanya membesar. “Papa… mama…”
Seorang wanita cantik elegan berlari kecil mendekat.
Di belakangnya, seorang pria tampan dewasa berjalan cepat sambil tersenyum lebar.
“Sayang mama…”
Rena langsung memeluk Ansel erat sekali.
Ansel otomatis membalas pelukan itu.
“Mama…”
Suaranya bahkan sedikit bergetar. “Aku kangen banget…”
“Ya ampun anak mama…”
Rendi ikut tersenyum melihatnya.
Rendi tak mau kalah. “Papa sini.”
Ansel langsung berpindah memeluk papanya. “Papa…”
“Kangen banget?” ucap Rendi
Ansel mengangguk cepat.“Banget…”
“Papa juga.” Rendi mengecup puncak kepala putrinya. “Rumah sepi tanpa princess papa.”
Alex langsung menyela. “Yaudah aku pergi aja kali ya.”
“Abang beda, bukan princess btapi prince. Emang kamu mau jadi princess?” jawab papanya santai.
Ansel langsung ngakak. “Kasian banget abang!”
“Liat gak? Gue anak tiri. Ya jelas ogah la pa jadi princess"
Mereka semua tertawa.
Rumah itu langsung terasa hidup lagi.
Di ruang tengah koper Ansel belum sempat dibuka. Ia malah sibuk mengeluarkan paper bag besar.
“Eh tunggu!”
Semua menoleh. “Aku bawain hadiah!”
Rena langsung tersenyum.“Ya ampun gak usah repot-repot sayang…”
“ tapi Harus mama! Aku sayang kalian semua nya" ucap Ansel.
Ansel mulai membagikan satu per satu.“Ini buat papa.”
Rendi membuka kotak jam mewah.
Matanya langsung berbinar. “Bagus banget sayang makasih ya darling…”
“Aku pilih sendiri loh papa.” ucap Ansel
“Papa suka.” ucap Rendi.
Lalu ia memberikan tas branded elegan pada mamanya.
“Mama pasti suka ini…”
Rena langsung memeluk Ansel.“Cantik banget…”
“Kan mama suka warna itu.” balas Ansel
“Anak mama emang paling ngerti.” ucap Rena
Alex langsung menyilangkan tangan. “Mana punya gue?”
Ansel sengaja pura-pura lupa. “Hm… gak ada kayaknya.”
“ANSEL.”
Ansel langsung tertawa dan menyerahkan kotak besar.
Alex membuka.
Sneakers limited edition.
Alex langsung diam. “Buset…”
“Tau kan abang suka?” ucap nnya lagi
“Anjir…” ucap Alex mengumpat
“Bahasa!” ucap Rendi
Rena langsung menatap tajam.
Alex berdeham. “Maksud gue… keren.”
Ansel tertawa puas.
Lalu dua paper bag terakhir diberikan ke Lilis dan Maya.
“Ini buat kalian.”
“Non…”
“Kalian juga keluarga aku.”
Lilis dan Maya sampai terharu. “Ya ampun…”
Tak lama kemudian aroma masakan memenuhi ruang makan.
Ansel langsung berbinar. “BAUUU NYAAA…mmm Enak banget ni”
Meja makan penuh. Semua makanan favoritnya ada. Ayam madu,Sup hangat, Udang saus mentega, Pasta favorit.
Dan dessert kesukaannya.
Ansel sampai terdiam.
“Mama…”
“Papa…” panggilnya
“Semua ini buat kamu.” ucap Rena
“Papa masak ayamnya sendiri,” ujar Rendi bangga.
Mata Ansel mulai berkaca-kaca.
“Kalian tuh so sweet sekali…”
Alex duduk sambil tersenyum kecil."Makanya pulang yang bener. Kalau bisa sebulan sekali.”
“Makasih…” ilucal Ansel
“Udah duduk,” kata Rena. “Princess lapar pasti.”
Dan benar saja malam itu dipenuhi tawa.
Suara bercanda.
Obrolan sederhana.
Alex yang terus menggoda Ansel.
Papa yang diam-diam menambahkan lauk ke piring putrinya.
Mama yang berkali-kali menyuruh makan lebih banyak.
Rumah itu akhirnya terasa utuh lagi.
Keluarga cemara yang begitu hangat.