Kepikiran ya

2363 Words
Ruangan pertemuan di lantai paling atas itu terbungkus keheningan yang tebal. Hanya terdengar suara lembut sistem pendingin ruangan, sesekali diselingi bunyi kertas yang dibalik, memecah sunyi di tempat itu. Sebuah meja panjang berwarna hitam mengilap membentang luas di tengah ruangan yang mewah itu, dengan pemandangan kota yang megah terlihat jelas di balik dinding kaca setinggi langit-langit. Beberapa orang, para investor asing, duduk dengan rapi di sepanjang meja itu—berasal dari Singapura, Amerika, Korea Selatan, hingga Jerman. Namun ada satu kesamaan yang terlihat dari mereka semua: seluruh perhatian mereka tertuju pada satu sosok yang duduk di ujung meja. Seorang pria muda mengenakan setelan hitam mahal, duduk dengan tenang sambil membolak-balik berkas-berkas di hadapannya. Garis rahangnya tegas, tatapannya tajam, hidungnya mancung, dan di sekelilingnya tergantung sebuah aura dingin yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Dia adalah Skyler Alexander Kingsley. Baru berusia dua puluh dua tahun, namun sudah dikenal sebagai pewaris takhta dari keluarga kerajaan modern, sekaligus direktur muda yang memegang kendali perusahaan investasi terbesar di bawah naungan kerajaan. Meskipun usianya masih sangat muda, tak seorang pun di ruangan itu berani meremehkannya. Semua orang tahu betul satu hal: Skyler bukanlah orang biasa. Ia terlalu cerdas untuk ukuran usianya, terlalu ambisius, dan terlalu berbahaya untuk dianggap sekadar anak muda yang baru belajar berjalan. Seorang investor asal Amerika bahkan sempat berbisik pelan kepada rekannya, “He’s only twenty-two?” Rekannya mengangguk pelan, “Crazy, right? But he’s brilliant.” Di sisi lain meja, seorang wanita investor asal Korea bahkan diam-diam beberapa kali melirik ke arah Skyler, lalu berbisik pelan kepada asistennya, “Tampan sekali…” Namun pria itu seolah tidak menyadari sama sekali. Tak ada perubahan ekspresi sedikit pun di wajahnya. Skyler berdiri perlahan. Seketika, semua pandangan di ruangan itu tertuju padanya. “Good morning.” Suaranya rendah, tenang, namun memiliki bobot yang mampu membuat seluruh ruangan otomatis terdiam. “Thank you for attending today’s investment meeting.” Ia menekan tombol pada alat kendali kecil di tangannya, dan seketika layar besar di depannya menyala, menampilkan grafik serta data perusahaan yang tersusun rapi. Skyler berjalan pelan mendekati layar itu, satu tangannya dimasukkan ke dalam saku celana. “Saya tidak suka membuang waktu.” Kalimat pertamanya itu sukses membuat beberapa orang saling berpandangan. Tegas, langsung pada intinya—sangat khas gaya Skyler. “Saya akan langsung menjelaskan poin utama.” Asistennya, seorang pria bernama Damian, segera bergerak membagikan alat bantu presentasi ke setiap meja. Skyler mulai menjelaskan. Ia tidak berbicara terlalu banyak, tidak bertele-tele, namun setiap kalimat yang keluar dari mulutnya terdengar sangat jelas, penuh keyakinan, dan mudah dipahami akal sehat. “Kerja sama ini akan meningkatkan nilai perusahaan sebesar tiga puluh persen dalam kurun waktu dua tahun.” Layar berganti menampilkan data baru. “Namun saya tidak menjual janji.” Tatapan Skyler menyapu seluruh ruangan, menatap satu per satu orang yang ada di sana. “Saya menjual hasil.” Suasana kembali hening. Seorang investor asal Singapura mengangkat tangannya. “Mister Skyler, what makes you think this investment is safe enough?” Skyler menoleh, ekspresinya tetap datar tanpa perubahan. “Because I already calculated the risk.” Ia kembali menekan tombol, dan data-data baru muncul di layar. “Worst-case scenario?” Skyler menggeser tampilan di layar. “Still profitable.” Pertanyaan itu terdiam sejenak, lalu mengangguk kagum. “Impressive.” Skyler melanjutkan penjelasannya. “Dan jika Anda takut mengambil risiko…” Ia berhenti sejenak, tatapannya terlihat semakin dingin. “Then maybe this partnership isn’t for you.” Ruangan mendadak menjadi sunyi senyap. Damian di sampingnya sampai menelan ludah. Ya Tuhan, Pangeran Skyler sedang dalam suasana galak. Namun anehnya, tak ada satu pun yang merasa tersinggung. Beberapa orang bahkan tertawa kecil. Seorang investor asal Jerman tersenyum lebar. “I like his confidence.” Investor asal Amerika pun mengangguk setuju. “He knows exactly what he’s doing.” Skyler kembali duduk di kursinya. “Pertanyaan lain?” Seorang wanita investor tersenyum kecil, lalu mengangkat tangannya sedikit, wajahnya tampak sedikit memerah. “Mister Skyler…” “How do you manage such a huge company at your age?” Damian yang berdiri di sampingnya menahan senyum. Duh, mulai lagi… Skyler mengangkat sedikit alisnya. “Simple.” Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, bersikap santai namun tetap berwibawa. “Saya tidak memberi ruang untuk kegagalan.” Jawaban dingin itu membuat wanita tersebut sedikit salah tingkah, namun diam-diam rasa kagum di hatinya semakin bertambah. Tak bisa dipungkiri, pria ini memang memiliki segalanya: muda, tampan, cerdas, serta menyandang status sebagai pewaris takhta—sebuah paket lengkap yang sulit ditemukan. Hampir satu jam berlalu, akhirnya sesi presentasi itu selesai. Skyler menatap satu per satu orang di hadapannya. “Saya tidak akan memaksa siapa pun.” Damian memberi kode kepada beberapa asisten yang berdiri di sudut ruangan. Mereka segera berjalan masuk membawa map berwarna hitam yang terlihat elegan, lalu meletakkannya satu per satu di depan para investor. “Di dalam map terdapat rincian kontrak kerja sama.” Skyler berbicara dengan nada tenang. “Jika setuju, silakan tanda tangan.” Ia berhenti sejenak, bahunya sedikit terangkat dengan santai. “Kalau tidak—” “You’re free to walk away.” Damian melirik diam-diam dari samping. Ya ampun, rasa percaya dirinya yang setinggi langit itu muncul lagi. Suasana kembali menjadi sunyi. Semua orang mulai membuka map di hadapannya. Ada yang membaca dengan serius, ada yang berdiskusi pelan dengan rekannya, sementara Skyler hanya duduk diam, terlihat sangat tenang tanpa ada tanda-tanda gugup sedikit pun, seolah ia sudah mengetahui hasil akhirnya sejak awal. Damian mendekat pelan. “Yang Mulia…” “Hmm?” “Gimana kalau ada yang nolak?” Skyler bahkan tidak menoleh sedikit pun. “Mereka gak akan nolak.” “Yakin banget?” Skyler melirik sekilas, ekspresinya tetap datar. “Kalau nolak, berarti mereka rugi.” Damian seketika terdiam. Oke, memang terdengar sombong, tapi nyatanya memang begitu. Belum sampai lima belas menit berlalu, terdengar suara pena yang mulai bergerak di atas kertas. Sret… Sret… Satu per satu investor mulai menandatangani kontrak itu. Investor asal Amerika berdiri paling awal, lalu mengulurkan tangannya ke arah Skyler. “Congratulations, Mister Skyler.” “You got yourself a deal.” Kemudian disusul oleh orang-orang lainnya. “Kami setuju.” “Excellent presentation.” “You’re truly impressive.” “Very smart young man.” Skyler berdiri, lalu menyalami tangan mereka satu per satu. Sikapnya tetap tenang, tetap dingin, dan tetap sulit untuk ditebak. Namun Damian yang sudah lama mengenalnya tahu betul—pangerannya itu sedang merasa puas, terlihat dari sudut bibirnya yang sedikit terangkat, sangat tipis hingga nyaris tidak terlihat. Setelah semua orang keluar dari ruangan itu, Damian langsung menjatuhkan tubuhnya ke kursi terdekat sambil menghela napas panjang. “Gila…” Skyler masih sibuk merapikan dokumen di atas meja. “Apaan?” “Yang Mulia serem banget tadi.” Skyler menatapnya datar. “Meeting biasa.” “Biasa dari mana?! Investor sampai kagum semua.” Skyler melepas jasnya pelan, lalu meletakkannya di atas kursi. “Kerja selesai?” “Udah.” “Bagus.” Damian tiba-tiba menyeringai jahil. “Tapi serius…” Skyler mengangkat alisnya. “Kenapa?” “Investor cewek tadi kayak naksir deh.” Skyler mendecak kecil. “Gak penting.” “Yaelah.” Skyler berdiri dari kursinya. “Mending urusin kerjaan.” Damian menghela napas lagi. Pangeran Skyler memang susah sekali dimengerti. Tampan, pintar, kaya, tapi hatinya sedingin es. Saat mereka berjalan keluar dari ruangan itu, entah mengapa sebuah bayangan tiba-tiba terlintas di benak Skyler. Seorang gadis yang mengenakan mantel berwarna krem, dengan mata yang indah dan hidung yang mancung, serta suaranya yang terdengar panik saat itu— “Sorry! Sorry banget…” Langkah Skyler sedikit melambat. Damian yang berjalan di sampingnya sampai bingung. “Yang Mulia?” Skyler mengerutkan dahi kecilnya. “…Aneh.” “Hah?” “Gak ada.” Ia kembali melangkah dengan langkah yang sama seperti sebelumnya, namun ada satu hal yang bahkan tidak ia sadari: untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ada seseorang yang tiba-tiba muncul di pikirannya—seorang gadis asing yang ia temui secara tidak sengaja di bandara. di Hotel Skyler berdiri di depan jendela kaca besar yang memenuhi satu sisi dinding kamar hotel mewahnya. Di bawah sana, pemandangan kota terbentang luas—gedung-gedung tinggi yang menjulang, jalan raya yang mulai dipenuhi kendaraan menjelang senja, serta cahaya lampu yang mulai berkelap-kelip satu per satu. Namun entah kenapa, pikirannya justru terasa lebih penuh dan berisik dibanding biasanya. Biasanya, usai memimpin pertemuan penting yang berjalan sukses seperti tadi, kepalanya langsung terasa lega. Target tercapai, kerja sama terjamin, para investor puas—semua selesai, dan ia bisa beristirahat dengan tenang. Tapi hari ini… rasanya sangat berbeda. “Lo hari ini free.” Skyler melepaskan kancing jasnya satu per satu, lalu melemparkan benda itu sembarangan ke atas sofa empuk di dekatnya. Damian yang sedang sibuk merapikan dokumen-dokumen di meja kerja langsung menoleh dengan mata terbelalak. “Hah?” “Free. Lo boleh ke mana aja.” Skyler melonggarkan ikatan dasinya dengan gerakan lambat, napasnya terasa sedikit lebih lega kini. “Dan jangan aneh-aneh.” Damian menyipitkan mata, tak percaya mendengar kalimat yang baru saja diucapkan tuannya itu. “Buset. Tuan baik banget hari ini.” Skyler mendecak kecil, nada suaranya terdengar malas. “Banyak ngomong.” Alih-alih takut, Damian malah menyeringai lebar. “Baik, Yang Mulia. Terima kasih atas kemurahan hati Anda yang luar biasa ini.” Skyler melirik sekilas dengan tatapan datar. “Drama banget.” Damian tertawa kecil, lalu memasukkan tablet dan berkas-berkasnya ke dalam tas kerja. “Tapi serius…” Ia berhenti sejenak, menatap Skyler. “Tuan mau ngapain kalau sudah bebas begini?” Skyler terdiam sebentar, pandangannya melayang ke arah bagian dalam kamar yang lebih privat. “Hmm…” Tangannya dimasukkan ke dalam saku celana. “Masih mau berendam air panas.” Damian mengangguk paham. “Oke. Waktu bersantai ya.” “Hm.” “Tapi inget, jangan kerja lagi.” Skyler mengangkat sebelah alisnya. “Ngatur?” “Demi kesehatan Yang Mulia.” Skyler menghela napas pendek, lalu melambaikan tangan dengan malas. “Pergi sana.” Damian terkekeh kecil sambil berjalan mundur menuju pintu. “Oke oke. Kalau ada apa-apa langsung telepon ya.” Namun sebelum benar-benar melangkah keluar, Damian berhenti sejenak, menoleh lagi.“Oh iya.” Skyler melirik tanpa banyak ekspresi. “Kenapa?” “Besok makan malam bersama keluarga kerajaan, jangan lupa.” Seketika ekspresi wajah Skyler berubah kembali menjadi datar, bahkan terlihat sedikit kesal. “…Males.” “Yang Mulia…” “Bilang gue sakit.” Damian menggeleng-gelengkan kepala dengan pasrah. “Gak mempan.” Skyler mendecak pelan, rasa kesalnya semakin bertambah. “Nyebelin.” “Bye, Prince.” Pintu tertutup rapat, meninggalkan Skyler sendirian di dalam kamar yang seketika menjadi sunyi. Ia berdiri diam beberapa saat, lalu perlahan berjalan menuju area privat di bagian dalam kamar. Lampu-lampu dengan cahaya hangat menyala lembut, menerangi ruangan yang didominasi nuansa tenang dan mewah. Di tengahnya terdapat kolam air panas pribadi yang luas, uap air yang tipis mengepul pelan ke udara, menciptakan suasana yang damai dan menenangkan. Skyler melepas jam tangannya dan meletakkannya di meja kecil di pinggir kolam, lalu masuk perlahan hingga air hangat menyelimuti seluruh tubuhnya, mulai dari ujung kaki hingga bahu. Biasanya, momen ini adalah bagian yang paling ia sukai. Saat di mana kepalanya benar-benar bisa kosong, saat tak ada lagi pertemuan, tak ada lagi urusan kerajaan, tak ada lagi harapan dari keluarga, serta segala hal yang kerap membuatnya merasa muak dan lelah. Skyler menyandarkan kepalanya ke pinggir kolam, lalu mengembuskan napas panjang. “Finally…” Matanya terpejam, berusaha menikmati ketenangan yang seharusnya datang. Sunyi, damai, dan damai—tapi anehnya, rasa rileks yang ia harapkan tak kunjung hadir. Sebaliknya, satu bayangan justru muncul begitu saja di benaknya, jelas dan tak bisa diabaikan. Seorang gadis dengan mantel berwarna krem, wajahnya tampak panik, serta suara lembut yang terdengar terburu-buru saat itu “Sorry! Sorry banget, aku gak sengaja!” Skyler membuka matanya perlahan, lalu menghela napas kecil. “Aneh…” Kenapa malah kepikiran? Padahal itu cuma tabrakan biasa, bahkan tidak sampai berlangsung dua menit. Namun entah kenapa, tatapan mata gadis itu masih teringat sangat jelas di ingatannya—matanya yang besar dan indah, serta caranya yang panik namun tulus saat meminta maaf. Skyler menggeleng pelan, merasa bingung dengan dirinya sendiri. “Gue kenapa sih.” Biasanya, ia bahkan tidak peduli sedikit pun pada orang asing yang baru saja ditemuinya, apalagi perempuan. Selama ini terlalu banyak orang yang mencoba mendekatinya hanya karena statusnya, karena kekuasaannya, atau karena nama besar keluarganya—semua itu terasa membosankan dan dibuat-buat. Tapi gadis tadi… beda. Ia bahkan tidak terlihat mengenal siapa dirinya. Dan yang membuatnya semakin teringat, setelah selesai meminta maaf, gadis itu malah terdiam beberapa detik, seolah benar-benar memperhatikan wajahnya dengan seksama. Tiba-tiba satu kenangan lain muncul di benak Skyler. Saat itu juga, di bandara, gadis itu tiba-tiba berlari lagi sambil berteriak keras— “ABANGGG!” Langkahnya sempat berhenti saat itu juga, karena sesaat setelah itu terdengar sebuah nama: Alex. Skyler membuka matanya lebar, keningnya sedikit berkerut. “Alex…” Nama itu terasa sangat familiar, bahkan sangat dekat dengan lingkaran pergaulannya. Ia meraih ponsel yang diletakkannya di meja kecil, lalu jari-jarinya bergerak cepat membuka profil bisnis yang tersimpan di sana. Membaca nama yang tertulis di layar, sudut bibir Skyler terangkat sedikit, membentuk senyum tipis yang jarang muncul. Ia terkekeh kecil, suaranya sangat pelan hingga nyaris tak terdengar. “Pantesan.” “Dia adeknya Alex ternyata…” Alex Ardelian—salah satu pewaris keluarga bangsawan besar yang hubungan keluarganya cukup erat dengan lingkaran kerajaan modern tempat Skyler berada. Berarti… gadis itu bukan orang sembarangan. Skyler menyandarkan kepalanya kembali, tatapannya mengarah ke langit-langit ruangan yang diterangi cahaya lembut. Tanpa sadar, senyum kecil itu kembali terukir di bibirnya, sangat tipis hingga nyaris tidak terlihat. “Ansel…” Ia bahkan baru sadar sekarang, bahwa sempat mendengar nama itu disebutkan tadi di bandara. Nama yang terdengar indah, sangat cocok dengan pemiliknya. Beberapa detik berlalu, lalu Skyler mendecak pelan pada dirinya sendiri, merasa heran dengan apa yang sedang terjadi. “Ish…” Tangannya mengusap wajahnya dengan kasar, berusaha menghilangkan bayangan itu dari pikirannya. “Ngapain malah kepikiran.” Namun sayangnya, semakin ia mencoba mengabaikan dan melupakannya, semakin jelas bayangan wajah gadis itu muncul di kepalanya. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Pangeran Skyler Kingsley merasa penasaran pada seseorang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD