Malam mulai membungkus kediaman keluarga Beaumont dalam keheningan yang tenang. Lampu-lampu taman di luar jendela kamar Ansel menyala dengan cahaya keemasan yang hangat, sementara suara gemericik air mancur kecil di halaman belakang terdengar samar namun menenangkan, masuk lewat celah kaca balkonnya yang luas.
Berbeda dengan ruang keluarga di lantai bawah yang masih riuh—terdengar jelas suara Alex dan Papanya yang seolah sedang berdebat sengit soal pertandingan basket—kamar Ansel justru terasa damai, sangat damai.
Ruangan bernuansa putih gading dengan sentuhan warna emas itu tampak persis seperti kamar seorang putri. Ada lemari pakaian raksasa yang memenuhi satu sisi dinding, rak-rak yang berjejer rapi penuh dengan berbagai produk perawatan kulit dan parfum kesukaannya, koleksi boneka-boneka kecil yang telah ia kumpulkan sejak kecil, serta layar lebar yang terpasang di depan ranjang, di mana drama Tiongkok kesukaannya sedang berputar.
Ansel duduk bersila di atas kasur empuk, tubuhnya bersandar pada tumpukan bantal sambil memeluk erat salah satunya. Matanya tak berkedip menatap layar, wajahnya penuh semangat.
“AYOOO CIUMMM…” gumamnya pelan, seolah bisa mempengaruhi jalan cerita.
Namun detik berikutnya, karakter laki-laki di layar itu justru berbalik pergi begitu saja.
Reflek, Ansel langsung berteriak kesal.
“YAHHHHH! g****k banget cowoknya!”
Tok… Tok… Tok…
Suara ketukan pintu terdengar. Ansel segera menoleh, wajahnya kembali cerah.
“Masukkk!”
Pintu terbuka perlahan. Seorang wanita dengan penampilan anggun masuk sambil membawa beberapa kantong kertas besar di tangannya. Rambut hitam panjangnya tersisir rapi, jatuh lembut di punggungnya, sementara gaun satin yang dikenakannya semakin mempertegas keanggunan yang terpancar dari seluruh sosoknya.
Itu Rena—Mama tersayang Ansel.
“Mamaaa…”
Ansel langsung tersenyum lebar, wajahnya berseri-seri melihat kedatangan ibunya.
“Kok belum tidur?” tanya Rena sambil melangkah masuk, senyum tipis terukir di bibirnya. Ia mengangkat kantong-kantong di tangannya. “Ini. Mama bawain sesuatu buat putri kesayangan Mama.”
Mata Ansel langsung berbinar antusias.
“Apa tuh?!”
Rena duduk di tepi ranjang, lalu mulai mengeluarkan isi kantong itu satu per satu dan meletakkannya di atas seprai. Seketika mata Ansel membulat takjub.
“YA AMPUN…”
Sebuah gaun berwarna keemasan muda terhampar indah di hadapannya. Desainnya sederhana namun penuh detail yang elegan—mewah, berkelas, namun tetap terlihat lembut dan manis. Benar-benar sesuai selera Ansel.
Ansel segera menyentuh bahannya pelan, merasakan kehalusannya.
“Cantik banget…”
“Mama pilih sendiri loh,” kata Rena bangga.
Ansel mengangguk, namun kemudian keningnya sedikit berkerut bingung.
“Kita ada acara apa, Ma?”
Rena tersenyum tipis.
“Besok kamu sama Abang datang ke acara makan malam keluarga Kingsley ya.”
Gerakan tangan Ansel berhenti seketika.
“Kingsley?”
“Iya.”
“Mama sama Papa gak ikut?”
Rena menghela napas pelan.
“Besok jadwal Mama Papa bentrok. Ada acara kerajaan juga yang tidak bisa ditinggalkan.”
Ansel mengangguk pelan, meski di dalam hatinya ia merasa sedikit malas. Acara-acara resmi kerajaan biasanya selalu membosankan. Terlalu banyak basa-basi yang tidak penting, terlalu banyak orang-orang berpengaruh yang suka bersikap angkuh, dan terlalu banyak tatapan yang seolah menghakimi setiap gerak-geriknya.
“Mmm…” Ansel memainkan ujung gaun itu dengan jari-jarinya. “Cuma makan malam aja kan, Ma?”
Rena tertawa kecil melihat wajah ragu putrinya.
“Kenapa? Takut bosan?”
“Sedikit…”
“Kamu tuh,” Rena menggeleng gemas, lalu mencubit pelan pipi Ansel. “Nanti kamu bakal ketemu banyak orang di istana itu loh.”
“Istana?” Mata Ansel sedikit membesar. “Keluarga Kingsley ngadain acaranya di istana?”
“Iya sayang.”
Mendengar itu, Ansel langsung merebahkan tubuhnya ke atas kasur dengan gerakan dramatis.
“Ma… aku takut canggung…”
Rena malah tertawa lebar.
“Putri Mama ini, suka banget berlebihan.”
“Aku tuh gak terlalu suka ngobrol ngalor-ngidul sama orang yang baru dikenal…”
“Makanya belajar,” kata Rena lembut sambil mengusap-usap rambut panjang putrinya. “Kamu pasti senang kok.”
“Masa?”
“Iya. Nanti banyak anak muda juga, kan?”
“Mungkin.”
Ansel masih tampak ragu. Jujur, kalau bukan karena permintaan orang tuanya, ia pasti lebih memilih tinggal di rumah saja. Menonton drama kesukaannya, merawat kulit wajah, lalu tidur nyenyak—hidup yang damai tanpa perlu berpura-pura ramah.
“Pokoknya datang ya,” kata Rena tegas namun tetap lembut.
“Iya…”
“Dan jangan pakai pakaian yang aneh-aneh.”
Ansel langsung duduk tegak, wajahnya terlihat tidak terima.
“EMANG AKU PERNAH ANEH?”
Rena mengangkat sebelah alisnya.
“Terakhir kali kamu datang ke pesta makan malam besar, kamu pakai sepatu hak tinggi berwarna merah muda yang berkilau-kilauan.”
“Itu lucu!”
“Itu menyilaukan mata.”
Ansel langsung tertawa terbahak-bahak.
“Ya ampun Mama…”
Rena ikut tersenyum melihat tingkah anaknya.
“Udah, besok pakai ini saja.” Ia menunjuk gaun keemasan muda tadi. “Sederhana tapi tetap terlihat elegan.”
Tiba-tiba Ansel memeluk ibunya erat-erat.
“Makasih Mama…”
Rena otomatis membalas pelukan itu, mengelus punggung putrinya lembut.
“Putri Mama harus selalu terlihat cantik.”
“Aku kan udah cantik dari sananya.”
“Iya sih.”
Ansel menyeringai puas.
“Anak siapa dulu coba.”
“Anak Mama.”
Belum lama berselang, pintu kamar terbuka lebar tanpa diketuk terlebih dahulu.
BRAK!
“WOI.”
Alex masuk sambil membawa semangkuk buah segar.
“Masih bangun ternyata.”
“ABANG KNOCK DULU DONG!” protes Ansel.
“Rumah gue,” jawab Alex santai.
“Rumah kita!”
Alex mendecak kecil, lalu duduk sembarangan di sofa yang ada di sudut kamar. Tatapannya langsung tertuju pada gaun yang tergeletak di atas ranjang.
“Oh. Besok ya?”
Ansel mengangguk dengan wajah malas.
“Males banget…”
Alex malah tertawa kecil.
“Cuma ke rumah keluarga Kingsley doang kok, takut apa?”
“Bukan takut, takut bosan.”
Alex mengambil sepotong apel dari mangkuk.
“Banyak makanan enak di sana.”
“Hm…”
“Makanan penutupnya juga banyak banget, semuanya enak.”
Mata Ansel kembali berbinar.
“Serius?”
“Iya.”
“Oke, aku jadi semangat sekarang.”
Alex langsung tertawa terbahak-bahak.
“Dasar.”
Rena hanya menggeleng pelan melihat tingkah kedua anaknya, hatinya terasa hangat melihat kedekatan mereka.
“Pokoknya Abang jagain adik kamu ya.”
Alex mengangguk santai, seolah itu hal yang paling mudah di dunia.
“Tenang aja. Putri kesayangan ini gak bakal hilang.”
“Emang aku anak kecil?”
“Masih.”
“Abang ngeselin banget!”
Alex tertawa puas melihat ekspresi kesal adiknya.
Setelah Rena keluar dari kamar, Ansel kembali duduk di ranjang dan melanjutkan menonton dramanya. Alex masih duduk di sofa, sibuk dengan ponsel di tangannya.
Namun tiba-tiba, Alex bersuara.
“Sel…”
“Hm?” Ansel menoleh sedikit tanpa mengalihkan pandangan sepenuhnya dari layar.
“Besok jangan terlalu banyak ngomong sama orang yang tidak dikenal.”
Ansel langsung menoleh penuh, keningnya berkerut bingung.
“Hah?”
“Banyak orang dari keluarga kerajaan tuh kadang suka rese dan ribet.”
“Kenapa emangnya?”
“Ya pokoknya hati-hati aja.”
Ansel tersenyum kecil, nada bercanda terdengar di suaranya.
“Oke deh Tuan Pengawal.”
Alex mendecak kecil.
“Bukan pengawal. Ini Abang.”
Ansel tertawa kecil, lalu kembali memusatkan perhatiannya pada layar televisi. Namun jauh di dalam benaknya, satu pertanyaan mulai muncul.
Keluarga Kingsley itu seperti apa ya?
Ia sama sekali tidak tahu, bahwa esok hari, ia akan kembali bertemu dengan seseorang. Seseorang yang mengenakan topi hitam itu, yang bayangannya masih samar namun tak bisa dilupakan dari ingatannya.