Bab 8

1268 Words
Tika terbangun dengan badan segar. Walau masih sedikit malas, Tika memaksa dirinya untuk bangun dan segera mandi, berdandan seadanya, dan berpakaian rapi. Begitu keluar kamar, ia kaget melihat Janar yang baru saja masuk. Pria itu mengenakan celana pendek, kaus ketat, dan sepatu olah raga. Peluh memenuhi wajah dan tubuh lelaki itu. Pria itu melirik Tika."Baru bangun?"tanyanya sambil melepas sepatu. "Iya. Ka...kamu dari mana?" Tika menelan ludah, tatapannya tertuju pada setiap lekukan tubuh Janar. "Olah raga,"jawab Janar sambil membuka kausnya yang basah oleh keringat. "Olahraga apa?" Janar melirik Tika."Jogging aja kok, supaya sehat dan nggak gampang ngantuk." "Oh, hari ini jadwal kita apa saja? Aku sudah siap,nih!" "Jadwal kita habis ini,setelah makan siang. Katanya,Lupita udah kirim jadwalku ke kamu, tapi, kamu kan masih tidur." Janar pergi ke tempat penyimpanan pakaian kotor dan memasukkan kausnya ke dalam sana. "Ah, iya. Maaf..." Tika tersenyum malu,"besok aku akan bangun lebih cepat." "Ya sudah, kamu masakin aku aja." "Baik, mau makan apa?" Janar melirik lagi, ia ingat Tika tidak bisa masak."Sudahlag, delivery saja, daripada aku sakit perut makan masakan kamu." Bibir Tika mengerucut,"baik, kupesankan saja, aku ambil hape dulu." "Eh!" Janar menarik lengan Tika. "Kenapa?" Tika menatap Janar kesal, tubuhnya hampir tersungkur ditarik tiba-tiba seperti itu. "Kita makan di luar saja. Tolong ambilkan kausku di lemari,"perintah Janar. "Iya." Tika masuk ke dalam kamar Janar yang sangat rapi dan wangi. Berbeda sekali dengan kamar Tika yang baru dua hari ditinggali, sudah seperti kapal pecah. Tika masuk ke dalam walk in closet Janar, membuka salah satu lemari dan mengambil kaus bewarna hitam bertuliskan salah satu brand ternama. "Ini kausnya." "Thanks." Janar memakainya cepat,"ayo!"dipeluknya pundak Tika. Tika menoleh pada Janar,memang kelas mereka berbeda jauh. Meskipun berkeringat, pria itu tetap wangi. berbeda dengan Tika yang hanya duduk-duduk saja sudah berkeringat dan mengeluarkan aroma tidak sedap. "Kamu mau makan apa?" "Makan nasi,"balas Tika. "Masih pagi kok makan nasi," komentar Janar sambil masuk lift. "Apa pun itu,lah...aku tetap mau makan nasi!" "Oke!" Janar mengalah. Kali ini ia mengendarai mobil sendiri, menuju salah satu restoran cepat saji yang menyediakan menu sarapan pagi. "Nggak bisa sarapan nasi uduk atau lontong sayur aja gitu?" Tika terlihat begitu kecewa melihat gedung yang didominasi warna merah dan kuning di hadapannya. "Jangan protes. Di sini ada nasi uduk! Ayo turun, kalau nggak, kucium!"kata Janar dengan suara keras. Tika langsung keluar dari mobil. Apa pun yang disediakan Janar, ia harus makan. Ini juga salahnya karena tidak bisa masak. Bukannya menbantu Janar, ia malah menyusahkan pria itu. Tapi, sepertinya Janar santai saja disusahkan oleh Tika. Janar sudah selesai makan. Sekarang, ia memerhatikan wanita di hadapannya yang masih lahap makan porsi keduanya. Janar memang sangat berbaik hati, membebaskan Tika makan sepuasnya. Lagi pula, ia merasa aneh dengan Tika yang bisa makan sebanyak itu. "Pelan-pelan makannya!"kata Janar mengingatkan. Tika tersenyum saja dengan mulut penuh. Ia benar-benar kelaparan pagi ini. "Kamu bilang, nggak suka makanan di sini...." "Hmmmm apa,ya..." Tika menelan makanannya dengan susah payah, lalu diteguknya air mineral."Karena yang ada ini,ya, udah aku makan aja. Kan, harus mensyukuri yang ada. Cuma...kalau kita makan di penjual sarapan pinggir jalan, kan, lebih murah." "Hah, hitungan perempuan memang selalu begitu,ya." Janar menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Tika melihat ke sekeliling yang ramai."Kamu ini nggak takut dikerubutin fans,ya? Santai aja di tempat ramai begini?" "Aku ini model, bukan artis." "Bukannya sama aja,ya?" "Ya beda,lah...beberapa model nggak akan dikejar-kejar seperti artis,"balas Janar. Ia memang sering diajak foto bersama oleh orang-orang yang ia temui di beberapa pusat perbelanjaan atau di tempat pemotretan. Hanya saja ia menganggap, mereka hanya sekadar mengajak berfoto, bukan fans atau pengagumnya. "Tapi, gadis-gadis muda akan mengidolakanmu, kamu,kan ganteng," ucap Tika polos, tanpa ia sadari pria yang ia bilang tampan, wajahnya sudah merona. Janar berdehem, membuang pandangannya. Kemudian ia beralih lagi pada Tika."Mau nambah lagi?" Tika menggeleng."Cukup...." "Habis ini kita balik ke apartemen,ya. Mau tidur." "Masih pagi kok tidur,sih? Ntar siang aja tidurnya,"ucap Tika mengakhiri sarapan paginya. Janar mengabaikan apa yang dikatakan Tika. Melihat Tika sudah selesai makan, pria itu menarik wanita itu ke mobil."Kita pulang." "Pemotretan masih lama, kan? Kenapa udah pulang?" "Kamu mau kemana?"tanya Janar. "Nggak ada, sih." "Kamu temenin aku aja di apartemen." Janar memutuskan. Pria itu menyetir mobilnya dengan cepat. Begitu sampai, ia berjalan cepar masuk ke dalam. Tika berusaha mengimbangi langkah Janar. Janar duduk di sofa, menyandarkan tubuhnya dengan perasaan lega."Sampai juga..." Diliriknya Tika yang masih berdiri. "Kenapa bengong di situ? Sini!" Tika menggeleng. "Tika, sini!" Janar melotot ke arah gadis itu, memaksanya menuruti keinginannya. Tika berjalan pelan, duduk di ujung sofa."Sudah." "Dekat lagi!" Tika menggeleng Janar menarik paksa hingga Tika jatuh ke dalam pelukannya. Pria itu tersenyum puas."Begini..." "Kena anumu, tahu!" Tika menggeser duduknya dengan wajah merona. Telapak tangannya menyentuh benjolan di dalam celana Janar, rasanya kenyal-kenyal.. "Hei!" Janar mengambil wajah Tika. perlahan dikecupnya bibir wanita itu. "Janar..." Mata Tika terbelalak, "maksudnya apa ini?" Janar tidak menjawab, pria itu berbaring, sementara Tika masih di atas tubuhnya. Tangan lembut laki-laki itu merengkuh tubuh Tika tanpa berkata apa-apa. "Kenapa dia cium aku? Kenapa aku dipeluk, kenapa sekarang posisinya jadi begini?" Banyak pertanyaan muncul di benak Tika. Ia dan Janar baru kenal beberapa hari, tapi, sikap Janar tiba-tiba saja semanis ini, eh, bukan, tapi, semesum ini. Tapi, Tika tidak merasa Janar m***m, melainkan menyampaikan kasih sayangnya. Ah, entahlah, Tika pusing. "Apa yang kamu rasakan,Tika?" "Sesak!"balas Tika jujur. Ia tidak kuat dengan dekapan Janar seperti ini, apa lagi dengan posisi yang tidak nyaman. "Dasar nggak romantis!" Janar melepaskan pelukannya hingga Tika jatuh ke lantai. "Aduhh!" Tika meringis."Apa,sih!" Janar yang sudah terlanjur malu membalikkan badan, membelakangi Tika dan memilih tidur."Bangunkan aku jam sebelas!" "Iya!"balas Tika sembari mendengkus, pria itu benar-benar aneh pagi ini. ** Tika mengecek jadwal pemotretan Janar dengan benar. Kali ini ada pesan khusus untuk Tika sebagai orang baru. Nanti, usai Janar bangun tidur, ia harus menyiapkan pepaya dingin yang dipotong-potong. Tika ingat, ketika berbelanja dengan Mamanya Janar, wanita itu membeli dua buah pepaya. Tika segera beranjak ke dapur, mengupas buah pepaya dan memotongnya kecil-kecil. Disusun rapi di atas piring, lalu meletakkan sendok garpu di atasnya. Ia segera membawa ke meja sofa dimana Janar sedang tidur. Sudah jam sebelas, waktunya membangunkan pria itu."Janar!" Pria itu masih tidur. "Janar!" Tika mengeraskan suaranya. "Apa!"balas Janar tanpa bergerak sama sekali. "Udah jam sebelas!" "Terus?" "Kamu ada pemotretan, bangun,"kata Tika. Janar membalikkan badan, melihat wanita yang kini duduk di lantai. Diliriknya buah kesukaannya di atas meja, terlihat begitu menggiurkan. Ia duduk, lalu pergi mencuci muka. Setelah itu, ia kembali dan memakan buah pepaya tanpa berkata apa-apa. Tanpa sadar, Tika terus memperhatikan Janar sampai-sampai pria itu geli sendiri. Ia menusukkan garpunya ke salah satu potongan pepaya, lalu menyuapkan ke Tika yang mulutnya memang sedikit terbuka. "Makan,nih, daripada bengong..." Mau tidak mau Tika membuka mulutnya lebih lebar lagi dan mengunyah pepaya suapan Janar."Aku nggak minta, tahu!"gerutu Tika sambil mengunyah. "Daripada mulut kamu kemasukan lalat, lebih baik kemasukan pepaya, kan?" Janar melirik Tika sambil memainkan alisnya. Tika merengut saja sambil terus mengunyah."Kata Mbak Lupita, satu jam lagi kita berangkat." "Iya." Janar menghabiskan pepayanya, beberapa kali ia menyuapkan pepaya itu ketika Tika sedang melamun. Setelah itu, mereka bersiap menuju lokasi pemotretan. Kali ini lokasi pemotretan berada di luar ruangan. Tika menatap ke sekeliling, mencari tempat berteduh. Tapi, tiba-tiba kerah bajunya ditarik oleh Janar ke sebuah kursi di bawah pohon rindang."Sini, jagain tasku!" "Iya..." Tika duduk dengan manis.         "Nggak usah dimanis-manisin gitu wajahnya!"omel Janar tiba-tiba. "Apa, sih? Sakit,ya, otak kamu?" Tika langsung merengut dan membuang wajahnya. Janar pun dimake up dan mulai pemotretan sendiri. Lalu, Tika menangkap pemandangan yang kembali membuat hatinya miris, Aditya bersama istrinya. Kali ini, Tika tidak bisa bersembunyi karena mereka duduk di sebelah kursinya. Tika pura-pura tidak lihat saja. Ia pura-pura merapikan barang-barang Janar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD