Pagi-pagi sekali, Tika merasakan tubuhnya terguncang. Semalam, usai makan, Tika langsung tidur. Masakan Alice sangat lezat. Wanita yang betul-betul sempurna, cantik, kaya raya, dan pintar memasak. Terkadang dunia memang tidak pernah berpihak pada serpihan upil seperti Tika.
"Tika!"panggil Janar.
Tika membalikkan badannya."Hmmm, sudah kuduga... kaulah segalah penyebabnya. Apa, sih! Masih pagi udah rese aja!"
"Kerja, woy, kerja!"
"Astaga..." Tika bangun, melihat jam dinding masih pukul empat pagi. "Masih subuh!"
"Aku ada pemotretan jam delapan, harus siap-siap dari sekarang. Setengah jam lagi kita dijemput. Cepetan!"omel Janar.
"Besok-besok, aku bakalan kunci kamarku!" Tika menggerutu sambil melangkah ke kamar mandi.
"Coba saja kalau berani, aku bobol!"ancam Janar sambil keluar.
Setengah jam kemudian, Lupita beserta asisten-asisten Janar yang lain sudah menjemput. Tika diseret paksa oleh Janar karena sedari tadi wanita itu tak kunjung selesai bersiap-siap. Pakaian yang dibelikan Alice semalam hanya tiga pasang, tetapi, Tika bingung harus memakai yang mana. Tika terpaksa memakai apa saja yang kebetulan saat itu ia pakai, lalu ditarik paksa oleh Janar.
"Sudah?"tanya Lupita pada Janar.
Janar mengangguk saja. "Oh,ya...ini asistenku,namanya Tika."
"Iya, Mamamu sudah cerita. Salam kenal, Tika. Selamat datang di tim ini."
"Salam kenal, Mbak. Kita mau ke mana,ya?"
"Tika...tidur sana, nggak usah banyak tanya!"ucap Janar sambil memejamkan mata.
Tika mengalah saja, pun, ia masih mengantuk. Lebih baik melanjutkan tidur saja. Entah berapa lama, Tika tertidur. Tahu-tahu, mobil sudah berhenti dan ia diajak sarapan. Setelah itu, mereka sampai ke tujuan. Lupita dan beberapa asisten Janar yang lain langsung sibuk, sementara Tika hanya bisa berdiri kebingungan.
"Nih, pegang!" Janar melempar tasnya dengan pelan pada Tika.
"Bisa baik-baik, nggak ngomongnya. Nggak usah lempar-lempar," protes Tika.
"Eits!" Janar menempelkan jari telunjuknya pada bibir Tika,"jangan protes! Aku mau pemotretan, tugas kamu jagain barang-barang pribadi aku aja. Duduk yang tenang, jadi anak baik. Aku mau make up dulu."
"Iya." Tika mengerucutkan bibirnya. Ia mengangguk pasrah, lalu berbalik mencari tempat duduk yang nyaman. Di sudut ruangan, ada bangku, sebaiknya ia duduk di sana saja.
Tika mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Semua orang tampak sibuk, kecuali dirinya. Ia hanya bisa merenung, memerhatikan kesibukan satu ke kesibukan yang lainnya. Sampai akhirnya Janar selesai make up dan melalukan pemotretan. Pria itu terlihat sempurna di depan cahaya lampu-lampu itu. Lalu, perhatian Tika tertuju pada orang yang baru saja masuk.
Seorang wanita cantik masuk bersama seorang pria. Wajahnya tidak begitu jelas terlihat karena pencahayaan di belakang kamera tidak begitu jelas. Tika memerhatikan saja karena ia sedang bosan, tidak tahu harus melakukan apa. Wanita yang baru datang itu duduk dan wajahnya dipoles sedikit sambil mendengarkan arahan dari fotografer.
Tika tertegun, ternyata pria yang datang bersama wanita tadi adalah Aditya. Kemudian Tika menajamkan pandangannya, wanita itu adalah istri Aditya, sesempurna itu. Tika melihat dirinya sendiri, dengan tinggi badan hanya seratus lima puluh lima sentimeter, tidak bisa dandan, dan berpakaian ala kadarnya, sebab ia hanya mampu membeli pakaian yang murah.
Wajar saja, Aditya berpaling, wanita itu sempurna. Tidak akan pernah ada pria yang menolak bila ditawarkan wanita seperti itu.
Mata Tika berkaca-kaca, lalu cepat-cepat menunduk. Ia tidak boleh menatap masa lalunya berlama-lama. Aditya sudah menjadi suami orang.
Janar selesai, ia berjalan menghampiri Tika."Mana minum aku?"
Tika meraih sebotol air mineral di sebelahnya. Lalu menyerahkan minuman itu pada Janar.
"Thanks."
"Sama-sama,"ucap Tika yang masih memerhatikan Aditya.
"Dari tadi, kamu merhatiin suaminya Giselle! Kenapa?"tanya Janar sembari duduk di sebelah Tika.
"Giselle? Siapa?"
"Itu, model yang lagi pemotretan,"kata Janar.
"Oh, bukan begitu. Tapi, aku... cuma kenal aja sama orang itu." Tika tertawa lirih.
"Siapa? Kok orang biasa-biasa seperti kamu bisa kenal dengan suaminya Giselle?"
"Heh, memangnya orang biasa-biasa itu nggak bisa kenal sama orang kaya atau orang penting?" Nada bicara Tika meninggi, bicara dengan Janar memang selalu menguras tenaga. Cara bicara Janar memang santai, tetapi, menyakitkan.
"Iya... iya...aku masih ada dua pemotretan lagi,nih. Sabar,ya."
"Aku bosan,tahu!" Tika memanyunkan bibirnya.
"Kalau cuma duduk di sudut begini sambil melamun,ya, pasti bosan. Kamu bisa ngemil sambil nonton di hape."
"Aku nggak punya kuota. Lagi pula, hape aku masih yang jadul, nih, nggak asyik buat ditonton." Tika terkekeh, tanpa rasa malu ia menunjukkan ponsel yang layarnya sudah retak seperti sarang laba-laba.
"Bikin malu aja!" Janar mengambil salah satu ponsel miliknya. Ponsel yang jarang ia pakai, namun, itu adalah barang endorse,harus ia bawa kemana-mana, suatu saat bisa saja dibutuhkan."Pakai ini..."
"Terlalu bagus...nanti kamu nggak punya hape lagi."
"Aku punya dua,nih." Janar menunjukkan hape yang lainnya."Pakai aja deh, aku jarang pakai. Ada kuota internetnya kok."
"Beneran,nih?" Tika memekik senang, menatap ponsel pemberian Janar dengan takjub.
"Iya. Aku tidur sebentar,ya." Janar berjalan ke sofa, lalu memejamkan matanya. Sementara Tika mulai sibuk dengan ponsel barunya.
**
Sudah pukul sebelas malam, Janar baru selesai pemotreran terakhir. Tapi, pria itu masih tampak segar bugar seperti tadi pagi. Tika berjalan lesu, rambutnya sudah berminyak, wajahnya kusam, aroma badannya juga sudah tidak sedap. Ia ingin langsung pulang dan berendam air panas.
"Udah selesai,kan?"tanya Tika pada Janar.
Janar mengangguk, melirik Tika yang kelelahan."Kita langsung pulang."
"Iya." Tika mengikuti langkah Janar dengan lesu, masuk ke dalam mobil dan langsung tidur.
Janar tersenyum geli melihat tingkah Tika. Sikapnya yang aneh dan polos itu menunjukkan kealamian Tika sebagai wanita. Janar melamun di tepi jendela, mengingat kapan terakhir kali ia berurusan dengan wanita, rasanya sudah lama sekali, mungkin saat ia masih kuliah di semester awal.
Kini, mereka sudah sampai di apartemen. Janar melirik Tika yang tidur nyenyak, mulutnya terbuka lebar dan air liurnya juga menetes.
"Tika!" Janar mengguncang tubuh wanita itu.
"Apa!" Tika spontan terbangun dengan suara keras. Lalu, ia tersenyum malu saat Janar menatapnya,"maaf."
"Kita sudah sampai!"
Tika mengangguk, mengambil tas Janar lalu turun. Dengan mata sedikit terpejam, ia berjalan. Janar menggelengkan kepalanya, sesekali ia harus menarik Tika agar tak salah jalan. Di dalam lift, terpaksa ia menyandarkan kepala wanita itu ke lengannya.
"Pinjam lengannya sebentar,ya," ucapnya setengah sadar.
"Buat kamu aja,"balas Janar sembari tersenyum geli. Ia berani berkata demikian, karena ia yakin Tika tidak mendengar perkataannya.
Saat lift berhenti di lantai dimana apartemen Janar berada, pria itu menarik Tika dengan paksa."Ayo..."
Tika sedikit sempoyongan, berjalan sambil memegangi lengan Janar."Masih jauh,ya..."
"Masih. Seratus kilometer!"jawab Janar sekenanya. Ia membuka pintu dan masuk ke dalam,"sudah sampai. Lepas tangannya."
Tika membuka matanya dengan berat. "Makasih, aku mau mandi dulu."
"Malam-malam nggak boleh mandi. Kamu langsung tidur aja!"kata Janar.
"Tapi, badan aku lengket, bau lagi!"kata Tika.
"Kalau bau, besok mandi juga sudah hilang. Kalau kamu paksakan mandi malam ini, nanti kamu sakit. Ngerepotin aku!" Janar mendorong Tika masuk ke dalam kamar,"tidur aja. Aku juga mau istirahat."
"Bye!" balas Tika.
Janar menutup pintu kamar Tika dengan debaran d**a yang begitu kencang. Pria itu pergi mencuci muka dan sikat gigi,mengganti pakaian lalu memakai masker di wajahnya. Setelah itu, ia pergi tidur.