Bab 6

1048 Words
Janar berdehem,"ada apa, Ma?" Wanita cantik itu tersenyum tipis. "Kita harus bicara, Janar...." "Janar sibuk, Ma." Tika langsung bergeser jauh-jauh agar keberadaannya tidak disadari oleh wanita yang dipanggil Janar dengan sebutan 'Mama'. Sepertinya wanita itu tidak begitu bersahabat. Sebaiknya ia tidak berurusan dengannya. "Kamu sama siapa itu?" Janar menoleh ke arah Tika yang bersembunyi di balik susunan buah."Itu..." "Pacar kamu?" "Temen Janar, Ma,"jawab Janar. "Semalam kamu pergi ke mana, sayang? Kita semua cari kamu, kamu pergi sama teman kamu itu?"tanya Sang Mama dengan hati-hati,"kamu boleh pergi,kok, tapi, bilang sama kita." "Semalam aku nyaris bunuh diri, Ma...Janar merasa capek. Mama tahu,kan, kenapa Janar bisa sampai seperti itu..." Mama Janar mematung, hatinya terpukul mendengar pengakuan Janar. Tapi, syukurlah sekarang ia masih bisa melihat Janar baik-baik saja, jika tidak, mungkin hari ini ia sedang menangis-nangis di rumah menatap jasad sang anak."Maafkan Mama, Nar...." "Jika Tika nggak menghalangi Janar, mungkin...Janar udah nggak bernyawa." "Kita bicara di rumah saja, ya. Ajak Tika juga, nama teman kamu itu Tika,ya?" Mama Janar menghampiri Tika. "Halo..." "Ha...halo, Ibu..." Mama Janar memerhatikan penampilan Tika yang aneh, baju dan celana besar, wajah polos tanpa make up, lalu sandal jepit yang sudah kebesaran."Salam kenal, saya Mamanya Janar." "Saya Tika, Bu, Asisten Rumah Tangga Pak Janar." Tawa Janar hampir pecah mendengar pengakuan Tika. Tapi, karena Mama sedang ada di sana, pria itu pura-pura tidak peduli saja. "Kalian sedang belanja,ya. Ayo Saya bantu...." Mama Janar menarik tangan Tika, keduanya sibuk memilih-milih barang yang ingin dibeli. Tentunya sebagai Ibu, ia tahu apa yang dibutuhkan Janar sehingga pekerjaan Tika menjadi ringan. Sementara Janar, ia mengikuti sambil terus mengawasi sang Mama. Bisa saja ini salah satu trik agar ia mau kembali lagi seperri dulu. Selesai berbelanja, mereka kembali ke apartment Janar. Tika pura-pura sibuk dengan barang belanjaan mereka di dapur, mengeluarkan isi kantongan, dan menatanya di dalam lemari pendingin. Alice melihat Tika, kemudian beralih pada Janar yang duduk di hadapannya."Tika itu beneran asisten rumah tangga kamu?" "Kayaknya iya, deh, Ma,"jawab Janar. "Iya, deh? Kok begitu?" Janar mengangkat kedua bahunya, kemudian memanggil Tika."Tika, ke sini sebentar. Tolong tinggalkan belanjaan itu." Tika mengangguk, lalu bergabung bersama Janar dan Mamanya. Ia duduk di kursi single, lalu terdiam. "Tika, kamu beneran asisten rumah tangganya Janar?"tanya Alice. Tika menatap Janar yang kini justru pura-pura tidak melihat. Menyebalkan sekali lekaki itu, seolah-olah lari dari tanggung jawab. Padahal ,pria itu yang memaksanya untuk tinggal di sini."Saya butuh pekerjaan, Bu. Saya...baru aja dipecat." Alice mengangguk-anggukkan kepalanya. "Terima kasih,ya, sudah menolong Janar." "Sama-sama, Bu, Janar juga nolongin saya. Karena pada malam itu...kami sama-sama mau bunuh diri,"ungkap Tika dengan senyum malu-malu. "Loh kenapa?" "Saya baru saja kehilangan segalanya. Kondisi orangtua yang sudah bercerai, lalu kekasih saya yang tiba-tiba menikah dengan orang lain, dan di hari yang sama...saya dipecat dari kantor." "Oh, ya ampun,"ucap Alice iba,"kamu yang sabar,ya." Alice mengusap punggung tangan Tika. "Iya, Bu makasih,ya." "Jadi, Ma, tolong izinkan wanita yang tidak cantik ini bekerja di sini,"kata Janar. "Tidak cantik?"ucap Tika dalam hati, kesal sekaligus ingin melempar wajah Janar dengan vas bunga. Mana ada wanita yang tidak cantik. "Boleh, Nar, tapi, kamu harus tetap jadi model,ya?" "Janar masih mau, Ma. Tapi, tolong...jangan sepadat itu. Janar juga manusia, butuh beristirahat dan menjalani kehidupan selayaknya pria seumuran Janar." "Ini sudah sesuai dengan usia kamu,loh. Kamu,kan sudah dewasa. Pria dewasa itu memang harus bekerja keras,"sahut Alice. "Betul!" Tika menjentikkan jarinya yang langsung disambut dengan lirikan tajam Janar. Janar mengembuskan napas kasar. Ia terdiam beberapa saat, lalu melirik Tika."Kamu balik ke dapur sana. Saya mau bicara empat mata sama Mama." "Baik." Tika langsung berdiri, inilah saat yang ia tunggu-tunggu, pergi dari pembicaraan ini dan melanjutkan pekerjaannya.   "Ma, Janar mau tinggal di apartemen ini sampai seterusnya. Janar akan tetap kerja. Selama Janar di sini, jangan ada Manager atau siapa pun yang datang ke sini dan ganggu Janar. Kalau ada kerjaan, langsung hubungi aja,"pinta Janar. "Tapi, Nar, nggak bisa begitu..." Alice mendecak kebingungan. "Mama, Janar cuma minta satu hal itu saja. Biarkan Janar tenang dan menjalani kehidupan sebagai manusia." "Tapi, ada beberapa kontrak yang tidak bisa dibatalkan, Nar, kamu harus mengerti soal itu. Ada orang-orang yang selama ini berjuang di belakang kamu. Kalau kamu batalkan, kasihan mereka, Nar. Mereka harus menafkahi keluarga mereka." Janar menundukkan wajahnya, sementara Tika menguping sambil berpura-pura sibuk. Posisi Janar saat ini pasti sangat dilema. Di sisi lain ia ingin tenang dan menghentikan segala rutinitasnya di dunia permodelan. Tapi, jika ia berhenti, akan bertambah pengangguran di kota ini. "Janar..." Alice memegang pundak putranya dengan lembut."Mama ngerti, Nar, tapi..." "Mama nggak ngerti!"balas Janar. Pria itu menarik napas dalam-dalam."Begini saja, Ma. Untuk pekerjaan yang diterima sampai saat ini, akan Janar laksanakan. Cukup dengan pekerjaan yang diterima sampai hari ini. Jika ada pekerjaan besok, tolong diskusikan dengan Janar." "Baiklah kalau begitu." Alice bernapas lega. Setidaknya kontrak yang sudah ditanda tangani tidak mengalami masalah."Nanti Mama bilang ke Adel, ya." "Iya, Ma ...dan Janar minta tolong supaya Tika diizinkan kerja di sini, kasihan dia nggak punya siapa-siapa." "Tapi, apa nggak apa-apa, kalian berdua tinggal di sini?"tanya Alice khawatir. "Tenang aja, Ma. Janar nggak akan tertarik sama Tika. Apa lagi sampai menidurinya,"kata Janar. "Siapa juga yang mau sama laki-laki kayak kamu!"ucap Tika tiba-tiba dengan suara keras. Alice tertawa kecil, ia menghampiri Tika di dapur. "Ya ampun, kalian mau tinggal seatap kok malah bertengkar. Malam ini...Tante yang masak,ya. Udah lama nggak masakin Janar." "Tika bantu,ya, Tante,"kata Tika dengan riang. "Iya,"balas Alice sambil melihat isi lemari pendingin yang sudah ditata sebagian oleh Tika."Kamu bisa masak, nggak, Tik?" "Nggak bisa,Tante." Tika tertawa nyengir. Mendengar ucapan Tika, Janar langsung bergerak ke dapur."Kamu nggak bisa masak? Terus gimana mau jadi ART di sini?" Pria itu melotot. "Tenang...tenang, aku bisa masak kok. Masak air, mi instan, goreng telur, goreng sosis, masak nasi goreng. Udah itu aja,"ucap Tika tersenyum lebar. "Terus, kamu mau kasih aku makan begituan setiap hari?" "Iya,kan kamu sendiri yang maksa aku jadi ART di sini!" "Dasar..." Janar semakin menajamkan matanya ke arah Tika. "Eh, sudah...sudah. Tika bantuin potong,ya. Janar, kamu ke depan aja sana,"kata Alice. "Iya sana, hush...hush." Tika menggerakkan tangan, mengusir Janar dengan wajah songongnya. "Belajar masak makanan kesukaanku dari Mama. Kalau besok kamu nggak bisa, kubuang di selokan!"kata Janar sambil meninggalkan dapur. Alice tertawa kecil,"Janar bercanda saja, jangan diambil hati ya, Tika." "Iya, Tante." Tika memang tidak lagi peduli dengan pedasnya ucapan Janar. Ia tahu, lelaki itu peduli dengannya, hanya saja caranya berbeda.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD