Tika menganga melihat isi apartemen Janar. Namun, beberapa detik kemudian ia menyadari bahwa ia lupa kalau Janar adalah seorang model.
Tentu saja ia memiliki banyak uang dan apartemen seperti ini sangatlah murah baginya. Tika sendiri tidak yakin bisa tinggal di sini dengan nyaman, apa lagi bersama laki-laki yang baru dikenalnya. Sebaiknya ia pamit pulang saja ke kostnya. Memulai hidup dengan mencari pekerjaan baru.
"Sini duduk!"panggil Janar.
Tika menggeleng."Kayaknya aku pulang aja, deh. Niat bunuh diriku udah hilang kok. Suer! Besok aku mau cari kerjaan baru aja."
"Nggak boleh, lah. Kamu harus tinggal di sini sama aku." Janar duduk, kaki kanannya ia letakkan dk lutut kiri sambil menatap Tika yang masih berdiri di depan pintu.
"Ma...mana bisa, kita ini bukan siapa-siapa. Masa tinggal bareng,sih!" protes Tika dengan suara keras.
"Bisa kok, nggak akan ada masalah. Soal pekerjaan, kamu kerja sama aku aja. Masalah gaji, aku bakalan kasih lebih tinggi dari kantor kamu itu,jawab Janar santai.
Tika berjalan mendekat, ia mendengkus ke arah Janar."Gimana kamu bisa gaji aku, kamu, kan kabur."
Janar mengembuskan napas berat,"kalau itu bisa diatur. Aku hanya perlu membuat kesepakatan sama mereka. Beres. Karena kamu sudah di sini, kamu tinggal di sini saja melayani aku."
"Me...melayani?" Tubuh Tika langsung gemetaran. Kata 'melayani' itu membuat pikirannya kotor. Apa iya, seorang model seperti Janar mau dilayani oleh wanita sederhana seperti dirinya ini.
"Iya, siapkan pakaianku, bersihkan apartment, dan lain-lain, lah! Bisa disebut asisten rumah tangga juga. Tapi, kerjaannya nggak berat kok. Kamu boleh tinggal di sini gratis. Makan juga gratis. Bagaimana?" Janar menatap Tika intens.
"Oh, asistem rumah tangga." Tika mengembuskan napas lega. Ia pikir, Janar memintanya melayani di atas ranjang, menjadi wanita pemuas hasrat. Pikiran Tika terlalu jauh.
Kalau dipikir-pikir, ini adalah kesempatan yang bagus. Mendapat tempat tinggal dan makan gratis. Mengerjakan pekerjaan rumah tangga juga sudah biasa ia lakukan sejak kecil sampai sekarang, gajinya juga lumayan. Tidak ada salahnya mencoba, memangnya apa lagi yang akan ia lakukan setelah ini, mencari pekerjaan, sekarang susah.
Tinggal bersama Janar, mungkin tidak terlalu buruk karena pria itu pasti lebih sering menghabiskan waktu di luar. Ia akan sendirian, jika ia tidur, cukup mengunci pintu.
"Heh!" panggil Janar.
"Namaku Tika!"tatap Tika kesal.
"Mikirin apa?"
"Nggak ada!"balas Tika.
"Itu kamarmu,"tunjuk Janar, "bersihkan sendiri,ya?"
"Aku belum bilang setuju,"protes Tika, walaupun dalam hati, ia sudah yakin akan menerima tawaran Janar.
"Ah, aku sudah tahu kalau kamu bakalan terima,"jawab Janar sambil membuka pakaiannya.
"E..eh, ja...jangan buka baju sembarangan!" Tika memejamkan matanya malu. Tapi, jika dilihat-lihat, tubuh Janar sangat bagus. Pasti pria iti rajin olahraga dan perawatan. Sebagai wanita, Tika merasa gagal, kulitnya tidak semulus itu.
"Kamu harus terbiasa, kalau nanti kuajak pemotretan,aku bakalan sering ganti baju,"balas Janar sambil berjalan ke kamarnya. Dibiarkan pintunya terbuka. Ternyata, pria itu mengganti pakaiannya. Beberapa saat kemudian, ia kembali.
"Kamu bakalan balik jadi model?"
"Ya."
"Bukannya kamu bosan? Capek? Atau apalah itu sampai-sampai kamu niat bunuh diri."
"Awalnya, sih, begitu. Tapi, setelah ketemu Kakek tadi...dan juga kamu, aku sadar...hidupku amatlah sempurna, punya orangtua yang sebenarnya sangat peduli dengan masa depanku, perekonomianku bagus, aku diberi ketampanan dan kemampuan yang tidak dimiliki orang lain. Aku hanya perlu membahagiakan diri sendiri dengan bersyukur, Tika,"jawab Janar diiringi dengan senyuman tipis.
"Syukurlah kalau begitu, semoga karirmu berjalan dengan baik."
"Begitu juga kamu, ya?" Janar berdiri di hadapan Tika. Entah kenapa tiba-tiba saja wajah wanita itu berubah menjadi mendung. Jika Janar sudah sadar akan hidup yang sebenarnya harus disyukuri, apakah ia harus melakukan hal yang sama? Padahal semuanya sudah pergi. Air mata Tika mengalir deras.
"Hei, kenapa nangis?"
Tika menggeleng."Nggak apa-apa, aku senang kamu sudah mensyukuri hidup kamu."
Janar tersenyum, diraihnya tubuh Tika dan ditarik ke dalam pelukannya."Hidup ini sempurna, Tika, kita harus mensyukuri apa pun termasuk masih diberi kehidupan, diberi kesehatan, diberi udara sehar secara gratis,masih dipertemukan dengan orang-orang baik...bukankah begitu?"
Tangisan Tika berhenti, betapa bodohnya ia, memiliki pikiran tetapi tidak digunakan dengan baik. Banyak hal yang sebenarnya harus kita syukuri, tapi, terkadang kita justru memilih mengeluhkan secuil masalah yang menghampiri."Thanks, Nar."
"Sama-sama, Tika. Ngomong-ngomong...sebenarnya aku ini enggak baik-baik banget loh jadi orang,"kata Janar misterius.
"Maksudnya?" Tika menyipitkan matanya.
"Ehhmmm...aku nggak akan izinkan kamu keluar dari apartmen ini tanpa aku,"kata Janar.
"Loh...loh, kenapa jadi begitu? Aku ini,kan asisten rumah tangga, pasti harus keluar untuk belanja, kan?"
Janar memerhatikan lekukan tubuh Tika. Jika dilihat sekilas, Tika memang gadis biasa, tidam memiliki daya tarik. Tapi, dengan sedikit sentuhan tangan beberapa ahlinya, Tika bisa cantik bak bidadari.
Menyadari tubuhnya sedang diperhatikan, Tika menarik bantal sofa dan menutupinya."Kamu lihat apa?"
Janar menarik bantal tersebut, "jangan ditutup, aku mau lihat!"
"Apa? Kamu mau perkosa aku?"
"Tubuhmu nggak menarik! Masuk kamar sana!"kata Janar sambil membuang pandangannya.
"Nyesel aku nerima tawaran kamu!" Tika bangkit, lalu diedarkan pandangannya mencari toilet.
"Toilet di sana!"tunjuk Janar.
Tika melirik kesal, kemudian ia segera masuk ke dalamnya untuk buang air kecil.
**
Sudah pagi, tapi, Tika belum juga bangun. Gadis itu benar-benar kelelahan setelah peristiwa bersejarah semalam. Janar sudah memberikannya tempat tinggal dan pekerjaan, Tika sudah berpasrah diri dengan masa depannya.
Berbeda dengan Janar, pria itu sudah terbiasa bangun pagi karena banyaknya kegiatan yang ia punya. Satu hari saja, Ia bisa berpindah-pindah kota untuk pemotretan. Jika kelelahan, ia akan tidur di dalam perjalanan. Janar mengeringkan rambutnya dengan handuk aembari berjalan keluar kamar. Diliriknya jam dinding, kemudian ia sadar bahwa Tika belum bangun.
"Anak ini,"gerutunya. Ia mengetuk pintu kamar Tika, tidak ada jawaban daei wanita itu. Pintu itu memiliki celah, yang artinya, Tika tidak mengunci pintu. Lalu, terdengar suara dengkuran yang begitu keras.
"Dia ngorok?" Janar terbelalak, didorong pintu kamar itu dengan pelan. Janar menggeleng-gelengkan kepalanya, baru kali ini ia melihat wanita tidur dengan dengkuran keras, juga dengan posisi yang unik.
"Hei, bangun!" Janar mengguncangkan tubuh Tika.
"Nggg..." Tika menepis tangan Janar. Kemudian wanita itu mengelap air liurnya.
Janar bergidik jijik melihat kelakuan Tika."Bangun,oi!" Kali ini suaranya sedikit lebih keras.
Tika membuka mata dan terlonjak kaget. Gadis itu cepat-cepat duduk dan menutupi tubuhnya dengan bantal. "Kamu ngapain di sini?"
"Bangun,eh, udah pagi! Biasanya bangun siang,ya?"tebak Janar.
"Enak aja, kebetulan aja aku capek banget malam tadi. Dan...kasurnya empuk,"kata Tika tertawa tanpa merasa bersalah.
"Ya udah kamu mandi sana, kita sarapan terus belanja!"perintah Janar.
"Aku nggak punya baju, ih, aku di sini aja,"ucap Tika, padahal itu adalah alasan supaya ia bisa melanjutkan tidurnya.
"Nggak bisa!" Janar menarik Tika. "Kamu pakai bajuku,ayo!"
"Bajumu?" Tika membayangkan dirinya yang pendek ini memakai kaus Janar yang pastinya sangat besar. Ia akan terlihat seperri anak kecil yang memakai kaus Ayahnya. Tapi, sebagai orang yang bekerja pada Janar, Tika berusaha mengalah dan menuruti kemauan Janar. Lagi pula, belanja itu,kan, menyenangkan.
Dengan kaus dan celana pendek Janar yang kebesaran, Tika mengikuti Janar ke sebuah super market. Demi apa pun, Tika sangat malu berada di posisi ini. Pria itu berjalan duluan dengan langkah yang lebar, sementara Tika mengikuti di belakang dengan langkah yang cepat.
"Beli ini,ya?" Tika berjalan cepat ke arah daging-daging.
"Pilih yang rendah lemak,"kata Janar mengingatkan.
"Yang rendah lemak itu yang gimana? Semua ada lemaknya, ih!"sungut Tika. Sementara matanya sudah berbinar-binar melihat daging merah di dalam etalase.
Tentang belanja itu menyenangkan ternyata tidak sepenuhnya benar. Belanja menjadi tidak menyenangkan ketika bersama Janar. Pria yang suka marah dan banyak aturan.
"Itu daging sapi,kan? Ambilkan aku d**a ayam aja,"kata Janar sambil berlalu.
"Ish, dikasih yang enak nggak mau." Tika mengambil d**a ayam sesuai permintaan Janar. Kemudian ia berjalan ke deretan buah-buahan."Wah enaknya, kalau buah, pasti sehat, kan?"
Dengan kedua tangan yang masuk ke dalam kantong celana, Janar melirik Tika."Buah apa?"
"Ini enak banget loh, aku punya resep khusus untuk bikin buah ini jadi enak banget!" Tika mengangkat buah alpukat.
"Kalorinya terlalu tinggi.
"Terus mau makan apa, hah? Semua-semua nggak bisa." Tika meletakkan buah alpukat kembali pada tempatnya.
"Aku nggak bisa makan sembarangan, aku,kan harus jaga badan."
Tika melipat kedua tangannya di d**a. "Hah, apa enaknya ...seperti itu."
"Ya sudah, kamu beli sesukamu, tapi, tolong ambilkan ini." Janar menunjukkan beberapa daftar makanan pada Tika."Kamu ambilkan semuanya,ya."
"Oke." Tika mengacungkan jempolnya dengan semangat.
"Janar..."
Suara dingin itu membuat gedung itu terasa semakin dingin. Janar dan Tika menoleh ke sumber suara.