Wanita yang mirip denganku

1449 Words
“Sudah siap?” tanya Mas Arka saat aku baru saja sampai di teras rumah kami. “Sudah, Mas.”Aku menganggukkan kepalaku sambil mengambil sepatuku. “Kamu mau memakai sepatu itu?” tanya Mas Arka sambil menunjuk ke arah sepatu yang akan aku pakai. Aku kembali menganggukkan kepalaku, “Kenapa, Mas?” tanyaku bingung. Bukankah sepatu ini yang selalu aku pakai setiap kali aku pergi bekerja? “Mas kurang suka,” ucap Mas Arka. Aku terdiam menatap Mas Arka kemudian sepatu yang ada di depanku. Kenapa Mas Arka selalu memperhatikan detail setiap barang yang akan aku pakai? “Sebentar.” Aku mengangkat wajahku dan melihat ke arah Mas Arka yang berjalan masuk kembali ke dalam rumah. Sekitar lima menit kemudian, Mas Arka kembali dengan membawa sesuatu di tangannya. “Kamu pakai ini aja ya,” ucap Mas Arka sambil meletakkan sepasang sepatu di depanku. Aku mengambil sepatu yang baru saja diletakkan oleh Mas Arka. Sepatu dengan model pumps berwarna hitam dengan ujung runcing dan heels ramping setinggi tujuh sentimeter. “Mas yakin aku harus pakai sepatu seperti ini saat bekerja?” “Kaki jenjangmu sangat cantik memakai sepatu seperti itu sayang.” “Bukan masalah cantiknya, Mas. Aku kan nanti banyak jalan dan berdiri. Aku pasti tidak nyaman memakai sepatu seperti ini,” sanggahku. “Ya sudah. Ganti saja,” ucap Mas Arka sambil berlalu menuju ke mobil. Aku terperanjat menatap kearah Mas Arka yang berjalan semakin menjauh. Aku menghelakan napasku kemudian menggelengkan kepala. “Ternyata Mas Arka bawel juga ya,” gumamku sambil memakai sepatu yang di berikan Mas Arka tadi. “Aku bisa menggantinya nanti di ruangan saat bekerja. Mas Arka benar-benar ingin melihatku selalu tampil cantik.” Aku berjalan dengan cepat menuju ke mobil Mas Arka. “Ayo kita berangkat, Mas,” ucapku sambil tersenyum ke arah Mas Arka begitu masuk ke dalam mobil. Mas Arka menatapku. Sudut matanya mengalir menuju ke kakiku kemudian menganggukkan kepalanya. “Ukurannya cocok?” tanya Mas Arka sambil menyetir mobilnya. “Pas sekali. Kapan mas belinya?” tanyaku. “Belum lama.” “Makasih ya, Mas.” Aku tersenyum manis ke arah Mas Arka. Mas Arka melihat kearahku sekilas dan membalas senyumku. Mobil kami berhenti tepat di depan rumah sakit tempat kami bekerja setelah hampir dua puluh menit menempuh perjalanan. “Aku kerja dulu ya, Mas.” Aku mengulurkan tanganku ke arah Mas Arka. Mas Arka memberikan tangannya dan aku segera mencium punggung tangan suamiku. “Nanti siang Mas jemput,” ucap Mas Arka saat aku akan membuka pintu mobil. Aku menganggukkan kepalaku kemudian keluar dari dalam mobil. Aku berdiri di depan rumah sakit itu sampai mobil Mas Arka menghilang dari pandanganku. Aku segera melangkahkan kakiku sembari melihat jam yang ada di pergelangan tanganku. “Hari pertama yang terlambat. Mereka pasti akan mengira yang macam-macam padaku,” gumamku sambil setelah berlari. “Selamat pagi, Nyonya Arka Emyr Haddad.” Aku spontan menghentikan langkahku yang hampir saja sampai di ruangan yang bertuliskan poli anak. Aku melihat ke arah sumber suara yang baru saja menyebutkan nama lengkap suamiku itu. “Maya!” ucapku sambil berjalan mendekatinya. “Bagaimana rasanya menjadi istri seorang dokter spesialis, Kinan?” ucap Maya yang enggan berhenti menggodaku. “Please, May, jangan begitu ah. Aku tidak nyaman mendengarnya.” “Apa aku harus memanggilmu dengan panggilan ibu Arka sekarang?” Maya terdengar menghelakan napasnya, “Entah amal apa yang sudah kamu lakukan sampai bisa menikah dengan laki-laki sesempurna Dokter Arka, Kinan.” Aku mengulum senyumku melihat ekspresi sendu di wajah temanku itu. Maya adalah asisten praktek Mas Arka di rumah sakit. Ruangan kami bersebelahan. Aku di ruang poli anak dan dia di ruangan poli kebidanan. “Dokter Adrian sudah datang?” tanyaku dengan wajah yang telah berubah serius. “Sudah sepuluh menit yang lalu. Tapi dia pasti akan mengerti kenapa kamu terlambat di hari pertama kerja setelah cuti bulan madumu.” “Mampus aku! Aku pergi dulu.” Aku segera ke stasiku. Menyusun meja kerjaku dan rekam medis pasien yang sudah mendaftar hari itu. setelah itu mengetuk pintu ruangan Dokter Adrian. “Selamat pagi, Dokter.” Aku menundukkan kepalaku memberikan hormat pada laki-laki dengan kemeja biru langit yang sedang duduk di kursi kerjanya setelah membuka pintu. Adrian menatapku sekilas kemudian kembali membaca berkas yang ada di tangannya. Aku segera melangkahkan kakiku masuk ke dalam ruangan itu dan menutup pintunya. “Ini rekam medis pasien yang akan berkonsultasi hari ini, Dokter,” ucapku sambil meletakkan tumpukan lembaran rekam medis yang aku bawa ke atas meja kerja Adrian. “Hari yang berat untuk pengantin baru. Terlambat sepuluh menit, bukan masalah,” ucap Adrian sambil terus melihat ke arah kertas yang sedang dibacanya. Aku terdiam menatapnya beberapa saat kemudian meraih kembali tumpukan lembaran rekam medis yang tadi baru aku letakkan di atas meja. “Kamu tidak ingin meminta maaf padaku?” Aku menimpuk kepalanya dengan lembaran rekam medis yang aku ambil tadi. Dokter Adrian terkejut dan spontan melindungi kepalanya yang sudah berhasil aku pukul. “Astaga! Cuma kamu asisten yang berani memukul dokter, Kinan!” ucap Adrian. “Teman macam apa yang lebih memilih berlibur ke Bali daripada menghadiri acara pernikahan temannya sendiri?” Dokter Adrian terdiam. Tangannya yang tadi menutupi kepalanya perlahan turun. “Apa tidak bisa kamu mengundur waktu liburanmu, Adrian Harun? Kamu tiba-tiba mengatakan sedang berada di pesawat menuju ke Bali satu jam sebelum akad nikahku. Kenapa harus mendadak liburan?” ucapku lagi dengan kesal. “Bukan rencana liburanku yang mendadak, tapi rencana pernikahanmu yang sangat tiba-tiba, Kinanti Chyntia. Liburan itu sudah aku rencanakan sejak sebulan yang lalu,” balas Adrian. Adrian adalah teman masa kecilku. Kami begitu akrab namun tetap bersikap profesional saat di depan teman sejawat kami di rumah sakit. Aku mengehelakan napasku dan duduk di kursi yang ada di depan Adrian. “Kamu bahagia?” tanya Adrian sambil menatapku. “Bahagia, tapi sedikit kesal padamu.” Adrian tersenyum, “Aku senang mendengarnya.” Adrian berdiri dari tempat duduknya dan mengambil jas putihnya dari gantungan yang ada di belakang. “Pasien sudah datang?” tanya Adrian. “Tadi baru ada dua orang.” “Siang nanti ada dokter anak yang baru,” ucap Adrian sambil membenarkan jas putihnya kemudian kembali duduk. “Dokter anak yang baru?” tanyaku bingung, “Jangan bilang kamu mau pindah, Adrian!” “Gak. Dia menggantikan Profesor Handoko yang mengundurkan diri minggu lalu karena alasan kesehatan.” “Pantesan aku gak tahu. Aku masih cuti minggu lalu.” “Yah, kamu masih menikmati manisnya madu-madu cinta saat itu,” ucap Adrian sambil menatap layar komputernya. “Sudah aku duga kalian semua akan terus mengejekku seperti ini.” Aku berdiri dari tempat dudukku, “Permisi Dokter Adrian, apakah prakteknya sudah bisa kita mulai?” “Silahkan, Suster,” jawab Adrian masih tanpa melihat ke arahku. Aku memajukan mulutku ke depan dan mulai berjalan menuju ke arah pintu. “Tunggu, Kinan!” panggil Adrian. Aku membalikkan tubuhku, “Apa?” “Kamu yakin akan memakai sepatu seperti itu saat bekerja?” Aku melihat ke arah kakiku, “Oh ini, tadi aku lupa menggantinya di depan karena terburu-buru. Mas Arka yang membelikannya padaku,” ucapku sambil tersenyum lebar. Adrian memutar matanya begitu mendengar ucapanku barusan. Entahlah, mungkin dia merasa jijik dengan ucapan sok manjaku barusan. “Saya permisi, Dokter.” Aku segera berjalan keluar dari ruangan itu sebelum Adrian semakin ingin muntah melihatku. Aku duduk di kursi kerjaku di stasi dan membuka sepatu dengan heels tinggi itu. “Baru sebentar saja kakiku sudah terasa sakit memakainya. Aku memang tidak pernah terbiasa memakai sepatu setinggi ini,” gumamku sambil memijat lembut kakiku. Aku mengambil flatshoes yang sengaja aku tinggalkan di loker meja kerjaku dan memakainya. Ketika aku akan menyimpan sepatu dari Mas Arka, netraku menangkap sesuatu yang ganjil. Aku mendekatkan kembali sepatu itu dan melihatnya dengan lebih teliti. Bagian sepatu itu sudah kusam seperti sudah berkali-kali dipakai. Aku memperhatikan setiap detail sepatu itu. Tampak beberapa goresan bekas pemakaian. “Sepertinya ini bukan sepatu baru. Ini sepatu yang sudah pernah dipakai sebelumnya. Tidak mungkin bekas-bekas ini muncul setelah aku memakainya dari rumah tadi.” Aku terus memperhatikan sepatu dengan brand mahal itu. “Dokter Adriannya ada, Sus?” Sebuah suara mengejutkanku. Dengan cepat aku memasukkan sepatu yang aku pegang ke dalam loker dan berjalan kembali ke stasi depan. “Selamat pagi, ada yang bisa saya ban-“ kalimatku terputus. Aku terperanjat begitu melihat wanita cantik yang ada di hadapanku. Bukan hanya aku, bahkan wanita yang sedang berbicara padaku itupun terkejut melihatku. Aku memindai wanita itu dari atas sampai ke bawah. Bagaimana tidak, aku seperti melihat wajahku sendiri di depanku. Namun dia versi sempurnanya. Dia sangat cantik dan modis. “Saya Wina Jasmine, Dokter spesialis anak yang baru,” ucapnya memperkenalkan diri sambil tersenyum kearahku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD