“Ayo pulang,” ajak Adrian begitu Wina keluar dari ruangannya.
Netraku masih terpaku pada sosok Wina yang sudah berjalan menjauh dari hadapannya.
“Kinan,” panggil Adrian lagi, menyadarkanku dari fokus yang memaku pada bayangan Wina di ujung lorong.
“Dia dokter anak yang baru itu?” tanyaku sambil melihat ke arah Adrian yang berdiri di dekat meja kerjaku.
“Iya.” Adrian menganggukkan kepalanya.
Adrian melihat ke arahku yang masih melongo.
“Muka kamu kalau melongo mirip banget kayak dompet kosong yang lagi di buka. Menyedihkan.”
Aku sekejap menatap Adrian dengan tatapan tajam, “Apaan sih!”
Adrian terkekeh melihat wajah marahku yang melotot ke arahnya.
“Kamu merasa ada yang aneh gak sih dengan Dokter anak yang baru itu?” tanyaku. Sekejap ekspresi di wajahku berubah drastis.
“Maksud kamu Dokter Wina?”
Aku menganggukkan kepalanya dengan cepat.
“Kalian berdua mirip.”
“Nah kan. Ternyata bukan aku aja yang merasa begitu.” Aku menjentikkan jariku dengan wajah berbinar karena merasa dugaanku sejak tadi benar.
“Aku juga sempat kaget tadi waktu pertama kali melihatnya. Aku kira tadi kamu yang sedang main-main masuk ke dalam ruanganku.”
“Kamu belum pernah bertemu dengannya? Ketika kuliah, praktek, pelatihan atau pertemuan-pertemuan sesama dokter anak gitu?”
Adrian menggelengkan kepalanya, “Dia mengambil spesialis dari luar negeri, dan baru kembali setelah menyelesaikan studinya. Rumah sakit kita langsung merekrutnya begitu tahu dia sudah menyelesaikan studi spesialisnya.”
“Ooohh.” Aku menganggukkan kepala.
“Kamu mau pulang gak? Ayo buruan.”
Aku tersadar kemudian mengambil tas yang ada di atas meja kerja yang sudah Aku rapikan tadi.
“Ayo,” ucapku sambil berjalan keluar dari stasi.
“Sepertinya Dokter Arka tidak praktek hari ini,” ucap Adrian sambil berjalan bersamaku menuju ke depan rumah sakit.
“Iya, dia ada pertemuan di POGI.”
“Kalau dia tidak bisa menjemputmu, aku antar kamu pulang aja,” ucap Adrian.
“Sebentar.”
Aku mengambil ponsel miliknya dari dalam tas dan memeriksa notifikasi yang masuk.
“Coba aku telepon Mas Arka dulu.”
Aku mencari nomor kontak suamiku itu dan mulai menelponya.
“Ya, Sayang? Aku sudah hampir sampai di depan rumah sakit.” terdengar suara Mas Arka begitu panggilan telepon Aku diangkat..
“Oke, Mas. Aku juga baru saja selesai.”
“Tunggu sebentar ya,” ucap Mas Arka.
“Oke. Jangan buru-buru. Hati-hati di jalan.” Aku menutup panggilan telepon setelah mengucapkan salam.
“Mas Arka sudah di jalan. Kalau kamu mau duluan, tidak apa-apa, Adrian,” ucapku sambil memasukkan ponselku kembali ke dalam tas.
“Tidak apa. Aku akan menemanimu sampai Dokter Arka tiba.”
Tiba-tiba angin yang bertiup lebih kencang terasa berhembus ke arah mereka.
“Kayaknya akan turun hujan hari ini,” ucap Adrian sambil melihat ke arah langit yang mulai menggelap.
Adrian terlihat terkekeh begitu melihatku yang sibuk merapikan rambut yang berantakan karena tertiup angin.
“Ngapain di rapiin. Kamu itu lebih cantik kalau rambutnya begini.” Tangan Adrian mengacak kembali rambutku yang tadi sudah aku rapikan.
“Adrian Harun!” ucapku menggeram sambil menatap tajam ke arah Adrian.
Adrian tersenyum puas melihat ekspresi kesal di wajahku.
“Nah itu Mas Arka akhirnya datang.” Aku melihat ke arah sebuah mobil yang baru saja masuk ke halaman rumah sakit. Dengan cepat Aku memperbaiki rambutku yang tadi di acak-acak oleh Adrian.
Adrian ikut melihat ke arah mobil itu sampai tiba di hadapan kami.
“Sudah lama menunggu, Sayang?” tanya Mas Arka begitu menurunkan kaca mobilnya sambil melihat ke arahku.
“Tidak kok. Kami baru saja tiba di sini tak lama mas datang,” jawabku, “Kami duluan, Dokter Adrian.”
“Silahkan, Kinan.” Adrian tersenyum ke arah Aku yang mulai berjalan masuk ke dalam mobil Mas Arka.
Mata Adrian terlihat nanar menatap ke arahku yang berlahan menghilang tertutupi oleh tubuh dan wajah Mas Arka yang berada di depan Adrian. Kini matanya tanpa sengaja bertemu dengan tatapan Mas Arka.
“Kami duluan, Dokter,” pamit Mas Arka sambil tersenyum namun tatapan dingin terpancar dari matanya.
Adrian membalas senyum Mas Arka, “Silahkan, Dokter. Hati-hati di jalan.”
Mobil Mas Arka perlahan pergi meninggalkan halaman rumah sakit.
“Kelihatannya kalian sangat dekat.”
“Apa, Mas?” Aku menolehkan kepala menatap Mas Arka. Fokusku masih belum terkumpul tadi.
“Kamu dan Dokter Adrian kelihatan sangat dekat. Apa kalian sudah lama kenal? Maksudnya selain sebagai asisten dan dokter.” Mas Arka kembali mengulangi pertanyaannya dengan lebih jelas.
“Oh, aku dan Adrian teman sejak kecil, Mas.”
“Kalian pernah berpacaran?” tanya Mas Arka lagi..
“Pacaran? Gak lah. Kami hanya berteman,” jawabku, “Kenapa mas bertanya seperti begitu?”
Mas Arka melihat ke arahku sekilas kemudian fokusnya kembali ke arah jalan yang ada di hadapannya.
“Tidak ada. Mas cuma bertanya saja. Kalian kelihatan sangat dekat. Tatapannya juga berbeda ketika dia menatap kamu.”
Aku tersenyum sambil manatap Mas Arka. Aku merasa geli dengan ekspresi dan ucapan yang dilontarkan oleh suamiku itu.
“Oh iya, Mas. Hari ini ada dokter spesialis anak yang baru loh di rumah sakit.”
“Spesialis anak yang baru? Kenapa rumah sakit merekrut spesialis anak lagi? Bukankah spesialis anak di rumah sakit sudah cukup?”
“Spesialis anak yang baru itu menggantikan Profesor Handoko yang mengundurkan diri karena alasan kesehatan seminggu yang lalu. Kita kan masih cuti menikah waktu itu Mas, jadi kita tidak tahu,” jelasku.
Mas Arka menganggukkan kepalanya pelan sembari terus fokus menyetir mobilnya.
“Tapi ada hal yang aneh waktu aku bertemu dengan dokter itu, Mas.”
“Apa itu, Sayang?” tanya Mas Arka santai.
“Wajah dokter anak itu sangat mirip denganku, Mas.”
“Mirip? Mirip bagaimana?”
“Mirip banget. Tapi dia lebih cantik sih. Aku takut Mas jadi melirik dokter itu.” Aku menatap sendu suamiku.
Mas Arka terkekeh sambil melihat sekilas ke arahku, “Tidak mungkin, Sayang.”
“Siapa ya tadi nama dokternya?” Aku berusaha mengingat nama dokter spesialis anak yang baru tadi.
“Oh iya, baru ingat sekarang!” Wajahku berbinar begitu berhasil mengingat nama dokter spesialis anak yang baru itu, “Namanya Wina Jasmine. Iya, itu namanya. Namanya secantik ora-.”
Kalimatku terputus karena tiba-tiba Mas Arka menginjak pedal rem mobilnya dengan kuat, membuat kami terhempas ke arah depan. Untungnya kami memakai sabuk pengaman jadi tidak mengalami cedera.
Aku berusaha mengatur napas yang tersengal dan detak jantung yang berdegup begitu cepat karena terkejut dengan apa yang barusan terjadi. Aku melihat ke sekitar sekitar kami dengan panik.
“Astaga, Mas. Untung jalanan sedang sepi. Kalau ramai, kita pasti sudah di tabrak dari belakang oleh kendaraan lain,” ucapkuu dengan suara bergetar dan tanganku masih memegangi d**a.
Napas Mas Arka tersengal. Wajahnya terlihat menegang dan memucat.
“Mas kenapa?” tanyaku bingung melihat keadaan Mas Arka yang tampak tidak baik-baik saja.
“Mas tidak apa-apa. Hanya terkejut saja tadi,” jawab Mas Arka. Tangannya meremas kuat kemudi mobilnya.