Kejanggalan di pertemuan pertama

1330 Words
“Mas sudah bangun? Aku nyariin Mas loh tadi,” ucapku sembari menuruni anak tangga begitu melihat Mas Arka di berjalan ke ruang tamu. Mas Arka terkejut melihat ke arahku dan langsung menghentikan langkahnya. “Mas sudah sholat?” tanyaku lagi yang sudah tidak sabar merongrongnya dengan berbagai pertanyaan padahal belum satupun dijawabnya. “Sebentar lagi, Sayang. Baru aja Mas mau ke atas,” jawab Mas Arka sambil mengusap lembut kepalaku. Aku menatap wajahnya yang kusut dan matanya yang terlihat mengantuk. “Mas kelihatan lelah banget. Kenapa? Ada masalah?” Mas Arka tersenyum padaku kemudian menggelengkan kepalanya, “Kamu mau masak sarapan? Bik Ida udah di dapur itu. Kalau kamu capek, istirahat aja dulu di kamar. Biar Bik Ida yang masak.” “Baru bangun tidur kok capek sih, Mas.” “Kalau begitu Mas sholat dulu ya.” Aku menganggukkan kepalaku. Manik hitamku mengikuti gerakan Mas Arka menaiki anak tangga sampai menghilang masuk ke dalam kamar. Aku melangkahkan kakiku menuju ke dapur. Aku melihat Bik Ida sudah mulai berjibaku di dapur. “Pagi, Bik,” sapaku sambil berjalan mendekatinya. “Pagi, Non.” “Masak apa, Bik?” tanyaku sambil melihat ke dalam panci yang ada di depan Bik ida. “Kata Non kemarin mau sarapan soto ayam. Ini sudah hampir mateng kok, Non.” “Maaf ya, Bik. Agak telat bangunnya.” “Gak apa-apa atuh, Neng. Tadi malam bibik terbangun mau ambil minum, rupanya Den Arka masih belum tidur. Subuh habis sholat Bibik keluar kamar, Den Arka masih belum tidur juga. Bibik kira Neng Kinanti yang baru bangun, rupanya Den Arka yang masih belum tidur.” Aku mengernyitkan keningku, netraku menatap Bik Ida dengan tatapan bingung, ”Mas Arka semalaman gak tidur, Bik?” “Iya, Neng. Bibik berulang kali keluar masuk kamar, Den Arka masih aja duduk sendirian di teras samping,” jawab Bik Ida. Aku terdiam memaku beberapa saat. Seingatku semalam aku dan Mas Arka sama-sama masuk ke dalam kamar. Dia masih memelukku sampai aku tertidur. “Apa Mas Arka bangun lagi sampai pagi?” “Apa Mas Arka sedang punya masalah besar yang menyita pikirannya sampai tidak bisa tidur?” “Sotonya mau bibik hidangkan sekarang atau nanti, Non?” tanya Bik Ida, membuyarkan lamunanku. “Nanti aja saya yang menatanya setelah Mas Arka selesai sholat, Bik.” “Baik kalau, Neng. Ini Bibik tutup dulu ya. Bibik mau beresin teras dulu.” “Terima kasih ya, Bik,” ucapku sambil tersenyum. “Sama-sama, Neng. Bibik permisi dulu ya, Neng.” Aku menganggukkan kepalaku. Baru saja aku akan naik ke atas hendak menemui Mas Arka, disaat yang bersamaan Mas Arka berjalan menuruni anak tangga. “Sarapan dulu, Mas,” ucapku begitu melihat Mas Arka berjalan ke arahku. Wajahnya sudah lebih segar setelah sholat subuh. “Aromanya enak banget. Soto ya?” Mas Arka memelukku dari belakang begitu aku akan menyendokkan kuah soto ke dalam mangkok. “Iya, Mas. Bik Ida tadi yang masak. Aku datang eh sudah mau selesai masaknya.” “Gak apa-apa. Lain kali masih bisa.” Mas Arka mencium pipiku dari samping. “Duduk dulu mas. Panas nih.” Mas Arka terkekeh kemudian melepaskan pelukannya. Diambilnya mangkok yang sedang aku pegang. “Sini biar Mas saja yang mengambilkan ini. kamu duduk saja ya,” ucap Mas Arka. “Tapi, Mas..” “Sudah, duduk sana.” Mas Arka mulai menyendokkan kuah soto ke dalam mangkok. Aku mengalah, kemudian mengambil nasi dan membawanya ke meja makan. “Mari kita sarapan,” ucap Mas Arka sambil membawa dua buah mangkok kuah soto ke atas meja makan. “Hari ini Mas masih pertemuan dengan POGI ya?” tanyaku sambil menuangkan air minum ke dalam dua gelas dan meletakkannya di dekat Mas Arka dan di dekatku. “Gak lagi, Dek. Hari ini Mas ke rumah sakit.” Aku menyendokkan nasi ke atas piring Mas Arka dan ke atas piringku. Kami mulai menikmati sarapan kami. “Kenapa Mas tidak tidur semalaman? Apa ada masalah, Mas?” tanyaku setelah menelan suapan pertama. “Kamu terbangun ya semalam? Maaf ya, Mas gak bisa tidur semalam. Gak tahu kenapa. Mungkin karena kebanyakan minum kopi di acara POGI kemarin.” “Seharusnya Mas jangan banyak-banyak minum kopi. Mas kan punya maag kronis juga. Nggak boleh minum kafein terlalu banyak,” omelku. “Iya, Dek, lain kali nggak lagi kok,” ucap Mas Arka sambil mengukir senyum yang mampu meredakan omelanku seketika. Kami kembali menikmati sarapan kami. Setelah menghabiskan sarapan kami pagi itu, kami kembali ke kamar untuk bersiap berangkat ke rumah sakit. “Mas mandi duluan aja. Aku masih mau nyiapin pakaian,” ucapku pada mas Arka begitu masuk ke dalam kamar kami. “Mandi bareng aja yuk.” Mas Arka memeluk dan mengangkat tubuhku. Aku spontan berteriak karena terkejut begitu merasa tubuhku terangkat ke atas. “Kalau mandi bareng, kita gak bakalan jadi berangkat kerja, Mas. Poli rumah sakit udah tutup, kita baru sampe kesana karena kelamaan di kamar mandi,” ucapku sambil tertawa dan memukul pelan pundak Mas Arka yang kekar. “Ya nggak apa-apa dong. Namanya juga pengantin baru,” jawab Mas Arka Asal sambil mencium pucuk hidungku. “Ngawur aja, Mas. Malu dong. Kemarin aja aku terus-terusan di sindir karena terlambat datang di hari pertama.” “Mereka iri, Sayang.” Wajah Mas Arka semakin mendekat kemudian mengecup lembut bibirku. “Dasar! Tadi malam diajak, bilangnya lagi capek. Eh malah begadang sendirian sampai pagi,” sindirku sambil memamerkan wajah merajuk. Mas Arka tersenyum, menatapku begitu lekat. Tatapan kami bertemu beberapa saat. “Buruan mandi dulu sana, Mas. Nanti kita terlambat,” ucapku begitu tersadar. “Ya udah deh kalau kamu gak mau kita mandi bareng. Mas mandi duluan ya.” Aku menganggukkan kepalaku. Mas Arka bergegas berjalan masuk ke dalam kamar mandi. Aku mempersiapkan pakaian yang akan Mas Arka pakai dan juga baju dinasku selagi menunggu Mas Arka selesai mandi. “Ini baju Mas ya. Aku mandi dulu.” Aku buru-buru masuk ke dalam kamar mandi begitu melihat jam di dinding kamar kami yang sudah menunjukkan jam setengah tujuh. “Bisa kena sindir lagi aku kalau datang terlambat lagi. Mana datangnya barengan dengan Mas Arka lagi hari ini,” gumamku sambil mengguyur air ke tubuhku. Aku dan Mas Arka segera bersiap. Kami berjalan menuruni anak taangga menuju ke teras rumah. Aku langsung mengambil sepatu yang kemarin di berikan oleh Mas Arka kepadaku. “Sudah siap, Dek?” Aku menganggukkan kepalaku. Kami berjalan menuju ke mobil Mas Arka. Setelah masuk ke dalam mobil, Mas Arka segera melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit. Mas Arka menghentikan mobilnya begitu tiba di parkiran mobil khusus dokter yang ada di rumah sakit. Di depan kami ada sebuah mobil yang juga terlihat baru saja memasuki area parkiran. “Siapa dokter yang parkir itu? Sepertinya Mas baru melihat mobilnya di sini. Apa dia baru saja belajar mengemudikan mobil?” ucap Mas Arka kesal karena mobil yang ada di depannya bergerak begitu lambat memasukkan mobilnya dalam jejeran mobil yang lainnya. “Sabar, Mas. Mungkin dia memang baru bisa mengemudikan mobil. Kita tunggu saja sebentar.” Mas Arka menghelakan napas lega begitu melihat mobil itu akhirnya terparkir dengan benar dan tidak menghalangi jalan kami lagi. Mas Arka segera memarkirkan mobilnya di seberang mobil tadi yang kebetulan memang sedang kosong. Aku dan Mas Arka keluar dari dalam mobil, hendak berjalan ke dalam rumah sakit sebelum sebuah suara menghentikan langkah kami. “Mas Arka?” Aku dan Mas Arka menoleh ke arah sumber suara. Aku tersenyum begitu melihat siapa yang menegur Mas Arka tadi. “Dokter Wina? Selamat pagi, Dokter,” sapaku dengan sopan. Aku merasa kikuk begitu melihat orang yang aku sapa sama sekali tidak melihat ke arahku. Dokter Wina terus menatap Mas Arka, begitu pula dengan Mas Arka. “Mas, ini Dokter Wina. Dokter spesialis anak yang baru di rumah sakit ini,” ucapku berusaha mencairkan suasana yang terasa tegang dan kaku. “Lama tidak bertemu, Mas,” ucap Dokter Wina tersenyum sambil terus menatap Mas Arka, seakan keberadaanku sama sekali tidak berarti di sana.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD