Kedatangan Mama Mertua

1247 Words
“Mas langsung kembali ke rumah sakit ya,” ucap Mas Arka begitu mobilnya tiba di depan rumah kami. Aku menganggukkan kepalaku kemudian membuka pintu mobil dan keluar. Aku berdiri di depan rumah dan menunggu mobil Mas Arka pergi sambil melambaikan tanganku yang di balas oleh sebuah klakson mobil oleh Mas Arka. Aku menghelakan napasku begitu mobil Mas Arka menghilang d persimpangan. Aku langkahkan kakiku menuju ke pintu. Baru saja kakiku mencapai teras, Bik Ida sudah membukakan pintu untukku. “Sudah pulang, Non?” sapa Bik Ida di bibir pintu. Aku hanya menganggukkan kepalaku sambil tersenyum. Kepalaku rasanya mau pecah akibat terlalu penuh. Syarafnya terasa begitu menegang karena terus berpikir dengan keras sedari tadi. Entahlah, seharian ini begitu banyak teka teki yang muncul dan membuat berMama pertanyaan di kepalaku. Aku duduk di sebuah kursi yang ada di teras, hendak membuka sepatu namun netraku membulat begitu menyadari bahwa sepatu yang aku pakai masih flatshoes cadangan yang selalu aku simpan di dalam lokerku, bukan higheels yang di berikan Mas Arka padaku. “Astaga, aku pasti lupa menggantinya tadi karena Mas Arka tiba-tiba menarikku pulang,” gumamku menatap sepatu yang masih melekat di kakiku itu. “Semoga besok Mas Arka tidak marah ketika melihatku memakai sepatu ini di depannya.” Aku menghelakan napasku sembari membuka sepatu yang sedang aku pakai. “Non, di dalam ada Nyonya Renata,” ucap Bik Ida, menyadarkan aku dari lamunanku. “Mama? Sejak kapan mama datang?” tanyaku terkejut. “Mungkin sekitar sejam yang lalu, Non.” Aku mempercepat gerakanku. Berusaha merapikan penampilanku kemudian berjalan masuk ke dalam rumah menemui Mama mertuaku itu. “Ma,” panggilku begitu melihat Mama Mertuaku di ruang tengah. Netra kami bertemu begitu Mama Mertuaku melihat ke arahku. Tangannya yang sedang memegang cangkir teh langsung bergerak meletakkan cangkir teh itu ke atas meja yang ada di depannya. “Baru pulang, Kinan?” ucap Mama Mertuaku santai dan tanpa ekspresi. Aku segera berjalan mendekatinya dan mengulurkan tanganku untuk menyalaminya. Mama mertuaku memberikan tangannya ke arahku. Dengan segera aku cium punggung tangan yang begitu mulus dan putih itu. bahkan tangan Mama mertuaku jauh lebih indah dibandingkan tanganku padahal kami terpaut umur yang sangat jauh. Kekuatan uang memang luar biasa. “Mama sudah lama?” tanyaku sambil duduk di sofa yang ada di dekat Mama mertuaku. “Belum lama. Arka masih di rumah sakit?” “Tadi Mas Arka yang mengantarkan aku pulang, Ma, tapi langsung putar kepala kembali ke rumah sakit. Kalau tahu mama datang pasti Mas Arka turun dulu tadi,” jawabku. “Tidak apa. tidak perlu mengganggu jam kerjanya. Dia pasti sangat sibuk sebagai dokter spesialis.” “Papa tidak ikut, Ma?” tanyaku lagi. “Tidak. Papa sedang bermain golf dengan temannya. Mama datang cuma mau mengantarkan kado-kado kalian. Masih banyak yang mengirimkan kadi pernikahan kalian ke rumah. Mungkin mereka tidak tahu harus mengirimkannya kemana.” Mama Mertuaku melihat ke arah tumpukan kado yang ada di sudut ruangan. Netraku secaraa otomoatis mengikutinya. “Terima kasih, Ma sudah mau jauh-jauh mengantarkannya ke sini.” “Tadinya mama mau mengirimkannya dengan jasa ekspedisi tapi mama urungkan karena mama ingin bertemu dengan kalian.” Mama Melihat ke arahku. Mataku berpaling ke arah kado yang bertumpuk. Sebenarnya aku bukannya ingin melihat kado-kado itu. Hanya saja netraku kebetulan mengarah ke sana, sementara pikiranku melayang ke Mas Arka. “Buka saja jika kamu penasaran,” ucap Mama membuatku sadar. Aku tersenyum malu. Mama pasti mengira aku begitu senang dan penasaran dengan kado-kado itu, padahal aku sama sekali tidak berpikir ke arah sana. “Tidak usah, Ma. Nanti aja barengan dengan Mas Arka.” “Kinan,” panggil Mama. “Ya, Ma?” aku menoleh ke arah Mama. “Kamu tidak menggunakan make up di wajahmu?” tanya Mama sambil terus melihat ke arah wajahku. Aku spontan memegangi wajahku, “Make up tipis, Ma.” “Pakailah make up yang lebih tebal. Arka akan sangat menyukai itu. Jika pergi bersamanya, pakailah sepatu dengan heels yang tinggi dan pakaian yang sedikit seksi. Kamu memiliki tubuh dan wajah yang bagus.” Aku terdiam sekaligus terperanjat. Aku baru menyadari setelah mama mertuaku mengatakannya barusan. Mas Arka memang menyukai penampilan seperti yang mama mertuaku katakan tadi. Beliau memang orangtua yang sangat mengerti dengan anaknya, tapi kenapa mereka tidak bertanya apakah aku nyaman dengan semua hal itu? Sepatu hak tinggi, pakaian seksi dan make up yang tebal benar-benar bukan styleku. Aku baru mengenal semua hal itu sejak menikah dengan Mas Arka. “Mama mengatakan hal itu karena kalian berdua menikah secara mendadak tanpa proses pengenalan atau pacaran terlebih dahulu. Tentunya kamu tahu kan kalau menyenangkan hati suami itu juga sumber pahala bagi istri?” Aku menganggukkan kepalaku pelan. Tidak ada gunanya membantah beliau. Jika ada yang tidak aku sukai, aku bisa mengatakannya langsung dengan Mas Arka nanti. “Baiklah kalau begitu mama pulang dulu. Kamu beristirahat saja.” Mama mertuaku mengambil tas mahal yang ada di sampingnya kemudian bangkit dari tempat duduknya. “Mama gak makan siang dulu? Barengan sama Kinan, Ma.” Aku ikut bangkit dari tempat dudukku. “Lain kali saja ya. Sore nanti mama ada arisan dengan teman komunitas mama.” Aku menganggukkan kepalaku, “Baiklah, Ma.” Aku berjalan mengikuti Mama Mertuaku menuju ke teras rumah.aku melihat sebuah mobil sedan mewah terparkir di depan garasi. Entah apa yang aku dan Mas Arka pikirkan tadi sampai tidak melihat mobil sebesar itu begitu tiba di depan rumah tadi. “Mama pulang dulu, Kinan.” “Hati-hati di jalan, Ma.” Mama mertuaku tersenyum sekilas ke arahku kemudian berjalan menuju ke mobilnya. Seorang supir pribadi terlihat membukakan pintu untuk ibu mertuaku itu. Mama membuka kaca mobilnya dan melambaikan tangannya ke arahku begitu mobil yang dinaikinya perlahan bergerak pergi meninggalkan halaman rumah kami. Aku segera membalas lambaian tangan itu sambil tersenyum. Aku menghelakan napas begitu mobil itu menjauh pergi dari halaman rumah kami. “Non, ini ada yang bunyi terus dari tadi, Non,” ucap Bik Idah yang datang tergopoh-gopoh memberikan tasku. Aku mengambil tas itu dan mendengar nada dering ponselku berbunyi. “Terima kasih, Bik,” ucapku. “Sama-sama, Non.” Bik Ida langsung bergegas kembali masuk ke dalam rumah, sementara aku dengan cepat membuka tasku dan mengambil ponselku dari dalam sembari mendudukkan tubuhku di kursi yang ada di teras. Deringan ponselku berhenti tepat ketika aku sudah mendapatkan ponselku. Aku memeriksa layar ponselku, ada tiga panggilan tidak terjawab dan semuanya dari Adrian. Aku segera menelponnya balik. Deringan pertama belum selesai, Adrian sudah mengangkat panggilan teleponku. “Halo, Adrian,” ucapku begitu ponselku diangkat. “Kamu dimana, Kinan? Aku mencarimu sejak tadi. Begitu aku keluar dari ruangan, kamu sudah tidak ada.” “Maafkan aku, Adrian. Tadi aku buru-buru pulang dengan Mas Arka sampai tidak berpamitan lagi denganmu.” “Apa ada hal buruk yang terjadi?” tanya Adrian. Dari nada bicaranya sangat jelas terdengar kekhawatirannya. “Tidak. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Hanya saja mama mertuaku tadi datang. Jadi tadi mungkin Mas Arka bingung.” Aku terpaksa berbohong agar Adrian tidak sakit hati karena telah Aku pergi tanpa pamit padanya. “Syukurlah jika tidak terjadi hal yang buruk. Aku sangat khawatir tadi.” “Maafkan aku, Adrian,” ucapku lagi. “Sudahlah. Tidak perlu dipikirkan. Aku hanya khawatir saja. Tidak apa-apa.” “Kamu belum pulang?” tanyaku. “Belum. Dokter Wina mendadak tidak bisa datang. Katanya dia ada urusan penting. Aku harus menggantikannya siang ini. Kamu tidak perlu datang, ada asisten Dokter Wina di sini.” Aku mengernyitkan keningku, “Bukankah tadi Dokter Wina sudah datang?” batinku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD