Aku mempercepat langkah jalanku. Semalaman tidurku sama sekali tidak nyenyak. Kepalaku begitu berisik. Aku terus menelpon Maya ingin menanyakan tentang keberadaan Mas Arka siang itu namun Maya sama sekali tidak mengangkat panggilan teleponku, bahkan dia tidak menelponku balik sampai pagi ini.
“Jalannya kenapa terburu-buru sekali, Sayang? Apa ada sesuatu hal yang terjadi?” tanya Mas Arka yang berjalan mengimbangi langkahku.
Aku spontan melambatkan langkahku begitu menyadari bahwa Mas Arka sejak tadi berada di dekatku. Pikiranku yang kacau membuat konsentrasiku tidak fokus.
“Maaf ya kemarin Mas pulang subuh tanpa memberitahu. Pasien cito banyak sekali kemarin jadi Mas tidak sempat memegang ponsel,” jelas Mas Arka tanpa aku tanya, padahal tadi pagi Mas Arka sama sekali tidak bicara apa-apa padaku mengenai hal itu.
“Gak apa-apa, Mas,” jawabku singkat.
“Sepatu yang kemarin mana?” tanya Mas Arka lagi sambil melihat ke arah kakiku.
Akhirnya dia menanyakan hal itu. Aku kira dia tidak menyadarinya sampai nanti aku mengganti sepatuku di stasi.
“Sedang ingin pakai sepatu yang ini, Mas. Gak apa-apa kan?”
Mas Arka hanya terdiam mendengar jawabanku. Tak lama kemudian kami tiba di depan ruangan poli Mas Arka. Aku berhenti tepat di depan stasi dimana Maya baru saja berdiri dan menyapa Mas Arka.
“Mas masuk dulu ya,” ucap Mas Arka padaku.
“Iya, Mas.” Aku menganggukkan kepalaku.
Aku menunggu Mas Arka sampai masuk ke dalam ruangan prakteknya.
“Aku teleponin dari kemarin kenapa gak diangkat-angkat sih, May? Mana gak ada nelpon balik sampe tadi pagi,” cecarku pada Maya begitu punggung Mas Arka menghilang di balik pintu.
Wajah Maya tampak melemas sambil menunduk. Aku tercekat melihat responnya.
“Ada apa, May?”
Maya kembali duduk di kursi kerjanya. Aku menyeret satu bangku yang berada tidak jauh dari sana dan duduk tepat di depannya.
“Ponselku rusak, Kinan.”
“Kok bisa?”
“Terhempas waktu aku buru-buru menemani Dokter Arka operasi cito.”
Aku terdiam mendengar jawaban dari Maya. Berarti apa yang dikatakan oleh Mas Arka tadi benar, bahwa dia kemarin sibuk dengan operasi citonya.
“Kok kamu ikut operasi juga May? Dari jam berapa ke jam berapa operasinya? Banyak pasiennya?” cecarku bertubi-tubi, menumpahkan semua tanya dalam pikiranku.
Maya mengernyitkan keningnya sambil menatapku.
“Kamu udah kayak wartawan aja, Kin.”
“Jawab aja dulu, May. Buruan, pasien kita udah mulai datang itu,” paksaku yang sudah tidak sabar diburu waktu dan rasa penasaran.
“Kemarin asisten Dokter Arka yang biasa menemani Dokter Arka operasi tiba-tiba tidak bisa datang karena kecelakaan. Jadi Dokter Arka memintaku untuk menggantikan asistennya itu. pasien Dokter Arka kemarin itu memang banyak banget yang sudah terjadwal aja ada lima, yang cito gak ingat ada berapa. Dokter spesialis kandungan yang lain juga ada yang berhalangan datang, jadi Dokter Arka yang mengambil alih hampir semua pasien perasi kemarin.”
Aku meremang. Aku merasa keterlaluan sudah mencurigai Mas Arka. Tapi kenapa aku tetap merasa ada keganjilan antara Mas Arka dan Dokter Wina ya?
“Kinan!” panggil seseorang dari stasiku.
Aku dan Maya serentak menoleh ke sumber suara yang memanggil namaku tadi.
“Aku pergi dulu, May,” ucapku cepat begitu melihat Adrian sudah berdiri melihat ek arahku.
Aku setengah berlari mendekati Adrian.
“Kenapa pake lari-larian, Kinan?” tanya Adrian.
“Maaf-maaf, tadi ada hal penting mau aku tanyakan dengan Maya. Rupanya malah kelamaan.”
“Pagi-pagi udah ghibah aja. Dosa!”
“Mau marah ya? Nanti aja, aku lagi kehabisan tenaga ini. Abis praktek aja ya marahnya.” Aku memasang wajah memelas di depan Adrian.
“Siapa yang mau marah, Kinan? Nih untuk kamu. Tadi aku beli dua di depan.” Adrian memberikan satu botol yogurt stroberi kesukaanku.
Aku menatap yogurt stroberi yang ada di tangan Adrian kemudian mengambilnya sambil tersenyum.
“Makasih, Adrianku yang baik.”
“Minumlah sebelum kita memulai prakteknya.”
Aku menganggukkan kepalaku sambil membuka tutup yogurt yang ada di tanganku. Belum sempat botol itu sampai di bibirku, tiba-tiba Adrian menangkap tanganku dan membawaku ke tempat duduk yang ada di stasiku.
“Kalau minum itu sambil duduk, Kinan,” ucapnya.
Aku merekahkan senyum tak bersalahku.
“Kamu gak apa-apa kan kemarin?” tanya Adrian selagi aku yogurt stroberi yang diberikannya tadi.
Aku menggelengkan kepalaku kemudian kembali menutup botol yang sudah aku minum
“Kan udah aku jelasin kemarin,” jawabku.
“Kalian bertengkar?”
“Nggak.” Aku menggelengkan kepalaku.
“Apa Dokter Arka pernah kasar dengamu, Kinan? Tanya Adrian lagi.
Aku menatap Adrian datar, “Nggak pernah, Adrian Harun. Dari tadi nanya-nanya udah kayak bapak-bapak aja.”
“Syukurlah. Kamu harus beritahu aku kalau dia bersikap kasar atau jahat padamu. Oke?”
Aku terkekeh kemudian menganggukkan kepalaku. Aku memang sudah menjadi anak yatim, tapi memiliki Adrian dalam hidupku membuatku tetap merasa dilindungi. Bahkan dia yang memaksaku menjadi asitennya begitu aku menamatkan pendidikan keperawatanku agar dia bisa terus mengawasiku.
“Kalau minumannya sudah kamu habiskan, kita bisa mulai prakteknya,” ucap Adrian sambil tersenyum tipis kemudian berjalan masuk ke dalam ruangannya.
Sekitar hampir pukul dua belas siang kegiatan praktek sudah hampir selesai. Pasien terakhir baru saja pergi beberapa menit yang lalu. Aku mulai membereskan semua alat medis habis pakai dan semua rekam medis.
“Sudah selesai, Sayang?”
Aku yang sedang menulis laporanku spontan mendongakkan kepalaku begitu mendengar suara yang selalu bisa membuat jantungku berdebar.
“Sebentar, Mas. Sedikit lagi,” ucapku mempercepat tanganku menulis.
“Gak apa-apa, Sayang. Jangan buru-buru. Nanti salah nulisnya. Mas tungguin kok.”
“Mas gak ada operasi siang ini?”
Mas Arka menggelengkan kepalanya, “Masih ada waktu lengang. Tidak perlu khawatir,”jawab Mas Arka sambil melihat jam yang ada di pergelangan tangannya.
Aku tersenyum sekilas ke arah Mas Arka kemudian meneruskan tugasku. Beberapa saat kemudian, Adrian keluar dari dalam ruangannya.
“Selamat siang, Dokter Adrian,” sapa Mas Arka ramah.
“Selamat siang, Dokter Arka. Sedang menunggu Kinan?”
“Iya, Dokter.”
“Oke, selesai,” ucapku semangat sambil menutup buku laporanku dan membereskan meja kerjaku.
“Pas sekali. Ayo kita pulang.” Mas Arka tersenyum ke arahku dan Adrian bergantian.
Kami bertiga berjalan bersamaan menuju ke parkiran mobil. Baru saja kami menginjakkan kaki di halaman parkiran, sebuah mobil melaju pelan kearah kami. Tak lama kemudian seseorang keluar dari dalam mobil itu.
“Dokter Wina?” gumamku.
Dokter Wina tampak berjalan ke arah kami.
“Maaf, apa ada yang bisa membantu saya memarkirkan mobil? Saya masih belum terbiasa mengendarai mobil di Indonesia,” ucap Dokter Wina sambil tersenyum. Netranya meliat ke arah kami bertiga secara bergantian.
“Dengan senang hati, Dokter,” jawab Adrian, “Bisa saya minta kunci mobilnya?” Adrian mengulurkan tangannya ke arah DokterWina.
Dokter Wina melihat ke arah Mas Arka beberapa saat sebelum memberikan kunci mobil yang ada di tangannya.
“Maaf saya merepotkan ya, Dokter,” ucap Dkter Wina pada Adrian.
“Tidak masalah Dokter.” Adrian tersenyum kemudian berjalan menuju mobil Dokter Wina dan mulai memarkirkannya dengan baik.
“Dokter sudah akan pulang?” Dokter Wina menatap Mas Arka.
“Sayang sekali, sepertinya aku terlambat.”
Aku dan Mas Arka serentak melihat ke arahnya.
“Ada apa?” tanya Mas Arka.
Aku hanya bisa terdiam. Aku merasa Dokter Wina selalu mengabaikanku setiap kali kami bertemu. Entah memang dia orang yang tidak terlalu ramah atau ada hal lain.
“Ibu dari pasienku yang baru lahir seminggu yang lalu mengalami keluhan di perutnya. Aku kemarin berjanji padanya akan menemaninya menemui Dokter karena dia sedikit mengalami postpartum blues. Rumahnya sangat jauh, rasanya tidak tega jika kau menyuruhnya kembali lagi besok dengan keadaanya seperti itu.”
Mas Arka melihat ke arahku beberapa saat. Aku mengerti arti dari tatapan itu. Adrian datang dan memberikan kunci mobil kepada Dokter Wina.
“Ini kunci mobilnya, Dokter.”
“Terima kasih banyak, Dokter.”
Dokter Wina mengambil kunci mobilnya sambil tersenyum.
“Bagaimana dengan permintaan saya tadi, Dokter?” tanya Dokter Wina lain pada Mas Arka.
“Jika Dokter masih ada urusan di rumah sakit, saya bisa mengantarkan Kinan pulang,” tawar Adrian pada Mas Arka.
Mas Arka melihat ke arah Adrian beberapa saat.
“Kalau begitu saya minta tolong antarkan Kinan pulang ya, Dokter,”
Adrian menganggukkan kepalanya dengan cepat.
“Mas urus pasien dulu ya. Nanti mas susul pulang.” Mas Arka menatapku.
“Selesaikan aja semua pekerjaan Mas dulu. Gak apa-apa, Mas.”
Mas Arka menganggukkan kepalanya. Aku mengambil tangan Mas Arka dan mencuim punggung tangannya sebelum pergi bersama Adrian menuju ke mobilnya.
“Kamu merasa Dokter Wina agak aneh gak sih, Ian?” tanyaku pada Adrian begitu kami masuk ke dalam mobilnya.
Aku terus melihat ke arah Mas Arka dan Dokter Wina yang berjalan pergi, kembali masuk ke dalam rumah sakit sambil memasang seatbeltku.
“Aneh gimana?” Adrian mulai melajukan mobilnya meninggalkan halaman parkiran rumah sakit itu.
“Dia dingin. Sangat tidak ramah.”
“Masa sih? Kayaknya Dokter Wina lumayan rame orangnya kalau sedang bicara.”
“Benarkah?”Aku menatap Adrian yang kemudian menganggukkan kepalanya.