Alan memacu mobilnya membelah jalanan beraspal yang terlihat lengang itu. Setiap hari dia akan berangkat ke kantor sendirian tanpa ditemani sopir.
Satu satunya sopir yang dia punya hanya John tapi semenjak Kimi sekolah John hanya bertugas mengantar jemput Kimi.
Alan lebih memilih menyopiri sendiri mobilnya demi agar Kimi ada yang menjaga.
Alan mengusap kasar wajahnya, masih terngiang wajah Mayang dalam ingatannya.
*****
Saat itu Alan baru aja pulang dari sebuah acara di luar kota. Malam itu sudah hampir lewat tengah malam. Alan saat itu sendirian memacu mobilnya menuju hotel tempat dia menginap ketika tiba tiba dilihatnya seorang perempuan sedang di seret oleh dua orang laki laki menuju sebuah gang sempit diantara ruko yang berjejer rapi.
Perempuan itu nampak berteriak dan meronta memohon untuk di lepaskan. Alan memperlambat mobilnya. Dia tahu wanita itu sedang membutuhkan bantuannya,tapi dia sudah merasa sangat lelah dan sedang tidak ingin terlibat masalah.
Alan memutuskan untuk mengabaikannya dan sudah mulai menginjak gas untuk menambah kecepatannya,ketika terdengar suara teriakan wanita itu ketakutan minta tolong.
Sejurus kemudian Alan menghentikan mobilnya dan turun dari mobilnya. Diambilnya sebuah tongkat baseball dari dalam bagasi kemudian melangkah menuju arah suara.
"Hey, lepaskan wanita itu", katanya lantang setelah berada dekat dengan mereka.
"Siapa kamu?, jangan ikut campur urusan kami kalau kamu tidak ingin mati", jawab salah satu dari mereka.
Seringai jahat nampak jelas dari wajah mereka. Kemudian salah satu dari mereka mengambil sebuah belati yang terselip di pinggangnya dan berjalan menghunusnya kearah Alan.
Alan berkelit menghindar,kemudian di ayunkannya tongkat baseball itu kearah tengkuk laki laki itu. Seketika laki laki itu jatuh tersungkur.
Huh !, Hanya seorang pria mabuk jahanam.! . Gumamnya.
Alan melangkah maju mendekati satu pria yang masih memegangi wanita itu. Ditangan laki laki itu terdapat sebuah belati yang di gunakan untuk mengancam wanita itu.
Alan tidak boleh gegabah,bisa bisa niat untuk menolong wanita itu malah mencelakannya.
"Lepaskan Wanita itu,atau aku akan menelepon polisi", kata Alan mengancam.
"Sebelum polisi sampai disini kamu dan wanita ini sudah mati ditangan ku,hahahaha....!".
Suara tawanya terdengar menyeringai. Aroma alkohol tercium dari seluruh tubuh laki laki itu.
Alan sadar dia berhadapan dengan laki laki yang sedang mabuk. Ketika laki laki itu lengah,Alan segera mengayunkan tongkat baseball itu ke arah pundak dan kepala laki laki itu bergantian hingga laki laki itu terhuyung ke tanah.
Alan segera menolong wanita itu dan mengajaknya lari dari tempat itu sebelum laki laki itu bisa bangkit lagi.
Alan membawa wanita itu ke mobilnya. Dia nampak sangat kacau.
Rambut dan baju yang dia kenakan nampak acak acakan. Sudut bibir dan pelipisnya berdarah. Mungkin tadi dia sempat melawan dan membuat dua orang laki laki itu melukainya.
"Maaf nona,dimanakah rumahmu ?, biar aku mengantarmu sampai pulang", tanya Alan setelah keduanya masuk ke mobil.
Wanita itu tidak menjawab,hanya isak tangis yang keluar dari mulutnya. Alan diam. Dia tidak bertanya lagi.
Mungkin wanita ini masih shock, lebih baik aku biarkan dia tenang dulu. Tapi harus ku antar kemana wanita ini,tidak mungkin aku membawanya ke hotel dengan keadaanya yang seperti itu. Bisa bisa malah aku yang di tuduh memperkosanya.
Alan mendengus kesal. Dia tidak tahu harus berbuat apa.
Seharusnya aku tadi tidak menolongnya. Menyusahkan ku saja.
Gumamnya lirih.
Diliriknya wanita itu dari balik spion. Masih menangis tergugu dan meringkuk di jog belakang mobilnya.
"Nona, Maaf aku harus pulang,jadi dimanakah rumahmu biar aku bisa mengantarmu pulang".
Tidak ada jawaban. Wanita itu masih menangis tergugu di tempat duduknya.
Alan menghentikan mobilnya dan berbalik memandangi wanita yang terisak di depannya.
"Apa kamu tidak punya rumah nona ?",katanya dengan nada suara yang sedikit tinggi.
Wanita itu mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Alan.
"Dimana rumahmu ?",tanya Alan lagi.
Setengah terisak wanita itu menjawab.
"Tuan,tolong saya, jangan biarkan saya sendirian",
kemudian suara tangisnya terdengar semakin tergugu.
Alan hanya memandang wanita itu bingung. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan. satu satunya hal yang di tahu dia hanya ingin segera sampai di hotel dan beristirahat. Maka itulah yang kemudian dia lakukan.
Alan memberikan jas yang dia pakai untuk wanita itu supaya orang orang tidak curiga melihat keadaan wanita itu dan kembali memacu mobilnya menuju hotel.
sesampainya di hotel,Alan membawa wanita itu ke kamarnya. Setelah menyuruhnya duduk,Alam mengambilkan air mineral dan memberikannya kepada wanita itu.
"Siapa namamu nona ?", tanya Alan kemudian ketika wanita itu sudah tenang.
"Mayang", jawab wanita itu singkat.
"Dimana rumahmu nona, biarkan aku mengantarmu",
"Rumahku masih dua jam perjalanan dari sini tuan. Aku tadi baru pulang kerja dan hendak pulang ke rumah orang tuaku. Tapi aku kemalaman dan aku ketinggalan bis terakhir menuju tempat tinggal ku",terangnya sambil sesekali terisak.
"Tiba tiba tadi ada dua orang laki laki yang sedang mabuk menghampiriku, mereka berbuat tidak sopan padaku dan aku menampar salah satu dari mereka dan mereka marah.
Mereka menyeret ku menuju gang di samping ruko,dan berbuat tidak senonoh padaku hingga akhirnya Tuan menolongku".
Alan mendengarkan cerita Wanita bernama Mayang itu. Dipandanginya wanita yang dusuk di depannya itu lekat lekat.
Tidak ada kebohongan di sana. Wajahnya terlihat ayu dengan bibirnya yang yang penuh. Hidungnya mancung dengan mata yang bulat penuh lengkap dengan bulu mata yang lentik.
Pantas saja laki laki tadi tergoda untuk berbuat yang tidak tidak, selain cantik wanita ini juga mempunyai tubuh yang lumayan sintal dan berisi.
Kalau saja tubuhnya tidak ditutupi jas yang ku berikan tadi,pasti saat ini aku akan mati matian menahan jakun yang naik turun menahan hasrat karena melihat tubuhnya yang setengah terbuka karena pakaiannya yang sudah koyak karena perlakuan bejat dua orang laki laki tadi.
"Baiklah nona,kalau begitu besuk pagi pagi sekali aku akan mengantarmu. Sekarang bersihkan badanmu dan gantilah bajumu. Kamu bisa memakai bajuku untuk sementara karena aku tidak mempunyai baju wanita untukmu".
Malam itu akhirnya Mayang,wanita yang ditolongnya itu tidur sekamar dengannya di hotel itu.
Alan memilih tidur di sofa dan membiarkan Mayang tidur di ranjang.
Tak butuh waktu lama Mayang sudah terlelap dalam tidurnya. Alan yang masih sibuk dengan lap topnya beranjak dari duduknya untuk mengambil minum. Sekilas dilihatnya wanita yang saat ini sedang tidur si ranjangnya.
Wajahnya nampak sayu dan menyimpan kesedihan. Sepertinya dia sedang menghadapi beban yang begitu berat.
Wajah itu mengingatkannya pada Mella,istrinya yang sudah meninggal karena kecelakaan.
Tubuh wanita itu meringkuk kedinginan di bawah selimut. Tanpa dia sadari Alan melangkah maju membetulkan selimut Mayang yang tersingkap.
Saat menyadari tindakannya,Alan langsung melangkah menjauh dari ranjang menuju sofa,dan melanjutkan pekerjaannya hingga menjelang dini hari baru kemudian dia tidur.
*****
Pagi hari ketika Alan dan Mayang sudah bangun dan mandi,mereka bergegas sarapan setelah sebelumya memesan lewat layanan hotel.
"Nona,sebelum ini kamu bekerja dimana?", tanya Alan membuka percakapan.
"Saya bekerja di sebuah klub Tuan, semalam saat tuan menolong saya,saya baru pulang lembur menggantikan teman saya",jelas Mayang.
"Kenapa kamu mau bekerja di klub,bukankah di sana banyak lelaki hidung belang yang bisa saja berbuat tidak senonoh padamu",cecar Alan.
"Saya terpaksa Tuan", jawab Mayang lirih.
"Orang tua saya sudah meninggal,dan saya harus menghidupi adik saya satu satunya. Saya sudah berusaha mencari pekerjaan lain,tapi hanya itu yang bisa saya dapatkan".
"Kamu mau keluar dari tempat itu kalau kamu bisa mendapatkan pekerjaan lainnya?", sahut Alan kemudian.
Mayang hanya menganggukkan kepalanya.
"Baiklah, kamu bisa bekerja di rumahku sebagai pengasuh anak ku kalau kamu bersedia. Kebetulan pengasuh lamanya sudah lama keluar".
Alan mengambil secarik kertas,kemudian menuliskan sebuah alamat diatasnya.
"Ini alamat rumahku, kapan pun kamu siap,datanglah ke alamat itu. Aku sangat berharap kamu mau menerimanya".
kata Alan sambil menyerahkan secarik kertas itu pada Mayang.
Tin,tin,tin...
Suara klakson mobil mengagetkan Alan. Tidak terasa dia sudah hampir sampai di tempat kerjanya. Sepanjang perjalanan tadi dia hanya melamunkan wajah Mayang. Bayangan wajah Mayang membuat dia tidak bisa berkonsentrasi hari ini.
Mengapa wajah Mayang selalu menghantuiku, kenapa aku tidak bisa melupakannya.
Apa yang sedang terjadi padaku. Mayang itu hanya seorang pengasuh,seorang gadis yang masih sangat muda. Mana mungkin aku jatuh cinta padanya. Dan bahkan usianya pun lebih muda dari adiknya.
Alan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Setelah kepergian istrinya dua tahun yang lalu dia tidak pernah dekat dengan wanita manapun. Hidupnya kosong dan seakan mati rasa.
Tapi setelah pertemuannya yang tidak di sengaja dengan Mayang hatinya mulai terisi lagi. Entah apa yang membuatnya jatuh cinta pada wanita itu.
Mungkin bukan cinta, mungkin hanya rasa iba dan kasihan saja yang aku rasakan padanya.
Manusia memang terkadang angkuh untuk mengakui perasaanya. Bahkan ketika campur tangan Tuhan bekerja pun mereka masih sering mengelak. Dan Tuhan punya rahasia dibalik pertemuan Alan dengan Mayang.