Fangyin tampak terharu bisa bertemu lagi dengan Hongli, sosok panutannya. Bagaimana dia tidak menyadari ini tadi? Fangyin menunduk hormat. "Maaf Dage, aku kira—"
Hongli menggeleng, tanda tak usah dibahas. Fangyin mengatupkan bibirnya, tentu mereka harus merahasiakan hal ini.
"Hao Ge." Fangyin tersenyum ke arah Haoran. Sudah lama tidak bertemu dengan Haoran yang bisa sebagai kakak dan teman untuknya.
"Halo Sister," sapa Haoran. Awalnya ingin berpelukan, tapi ingat sekarang sudah punya istri.
Yueer dan Niyi terlihat kesal, katanya suami mereka tidak ingat apapun, tapi sepertinya kenal dengan Fangyin.
Weishan dan Xiaowen yang tadi khawatir tampak lega karena tidak terjadi pertumpahan darah. Meskipun mereka yang di sana heran bagaimana Fangyin bisa mengenal dua pangeran bersaudara itu.
Mereka berlanjut sarapan bersama. Setelahnya, Hongli, Haoran, dan Fangyin memutuskan mengobrol bertiga, tentu tidak ada yang bisa melarang, mungkin nanti Hongli dan Haoran akan kena ambekan istri. Ketiganya menuju kolam di kediaman itu. Hongli berjalan di depan dengan Haoran dan Fangyin berjalan di samping belakangnya, mereka seperti sedang bernostalgia.
"Jadi, kenapa setelah kamu diusir oleh keluarga suamimu, tidak pergi ke tempat kami?" tanya Haoran yang mendengar cerita panjang Fangyin setelah keluar dari kelompok Mafia mereka. Di usia delapan belas tahun Fangyin dijual ayah tirinya menjadi wanita penghibur dan pada usia dua puluh tahun, ia bertemu Hongli, lalu ia dibeli oleh pria itu, diajarkan banyak hal. Fangyin punya gerakan yang lincah dan cukup cepat dalam mempelajari tehnik bela diri, maupun menggunakan senjata. Hongli mengubahnya menjadi mafia wanita. Namun, setelah empat tahun, ia memutuskan berhenti ingin hidup normal bersama lelaki yang ia cintai. Hongli tidak melarang, dia melepaskan Fangyin, tentu tidak salah jika ingin mencari kebahagiaan lain.
"Karena dulu aku pernah berkata pada Dage dan Hao Ge, aku akan hidup bahagia setelah keluar dari kelompok. Aku saat itu juga bilang telah menemukan cinta sejatiku, bahkan mendoakan Dage dan Hao Ge mendapatkan cinta sejati sepertiku. Nyatanya aku salah besar. Aku malu kalau harus mencari kalian lagi." Mata Fangyin berkaca-kaca. Haoran menepuk bahu Fangyin menenangkan, mereka memang seperti sahabat. Di dunianya Fangyin hanya berbeda lebih muda dua tahun dengannya, mungkin di sini juga.
"Terus apa yang dikatakan Dewa saat memberikanmu kesempatan?" tanya Hongli.
"Hiduplah dengan baik."
"Hanya itu?" Haoran tak percaya. Mengapa mereka harus selalu berbuat kebajikan sedangkan Fangyin hanya disuruh hidup dengan baik?
"Memang hanya itu dan syukurlah aku dipertemukan dengan ayah yang baik. Saat aku ke dunia ini lima tahun lalu bahkan aku masih sangat muda usia tujuh belas," cerita Fangyin. Aslinya dulu saat meninggal usianya sudah dua puluh lima tahun dan kalau dihitung sekarang ia sudah berusia tiga puluh tahun bukan dua puluh dua tahun.
"Di dunia ini memang jauh delapan tahun lebih muda," terang Hongli.
"Harusnya Dage usia empat puluh, tapi terlihat muda sekarang." Fangyin terkikik diikuti oleh Haoran. Hongli menatap tajam keduanya. Enak saja empat puluh, dia baru tiga puluh lima tahun.
Fangyin menceritakan pernah bertemu dengan Hongli dan Haoran dua tahun yang lalu. Awalnya ia menyapa mereka, tapi keduanya malah berniat melecehkannya. Maka dari itu, Fangyin tak menyukai kedua pangeran itu.
Ternyata pembicaraan mereka diintip oleh Yueer dan Niyi. Wajah keduanya ditekuk melihat ketiganya sangat akrab, meski tak dapat mendengar apa yang mereka bertiga bicarakan.
***
Kaisar mengadakan pertemuan karena putranya Zhang Xiaowen mengabarkan akan segera menikah.
"Ini adalah rencana ketiga kalinya kamu menikah, Ayah harap tidak akan gagal!" ucap Weiheng tampak malas dengan putranya yang sering kali gagal menikah.
"Baik, Ayah," jawab hormat Xiaowen.
"Tapi, di sini kamu ingin menikah dua hari lagi dengan upacara sederhana. Kenapa mendadak sekali, tidak menunggu sesudah duel berlangsung?" Weiheng terkejut melihat detail pengajuan upacara Xiaowen, mengapa putranya yang kadang terlupakan ini memilih untuk menikah cepat, padahal menurut kabar, baru dua hari yang lalu dia bertemu dengan calonnya.
"Tidak Ayah, saya akan menikah sebelum duel berlangsung karena saya berencana mendaftarkan diri menjadi kandidat Kaisar," jujur Xiaowen dan hampir semua yang ada di sana tertegun dengan jawaban itu. Renyu ibunda Xiaowen bahkan tidak tahu anaknya punya keinginan menjadi Kaisar.
Renyu menatap Hongli dan Haoran. Apa mereka yang membujuk Xiaowen?
Dia tahu putranya sekarang dekat dengan dua bersaudara itu yang menurut kabar sudah sangat berubah bahkan sering mengunjungi Feixing, ibunda yang biasanya tidak mereka anggap. Semoga saja Xiaowenku tidak dimanfaatkan. Sebagai seorang ibu dia hanya bisa berdoa, Hongli dan Haoran tidak berniat jahat kepada sang putra.
"Apa!?" Kaisar sempat terkejut, kemudian terkekeh. "Memang siapa yang mendukungmu, tidak mungkin bukan kamu melawan saudara-saudaramu sendirian?"
"Yang menjadi pendukung saya adalah Pangeran Ketiga dan Pangeran Keempat," jawab Xiaowen. Kemudian semua mata tertuju pada Hongli dan Haoran.
Haoran yang merasa dirinya diperhatikan tersenyum ramah. Sementara Hongli tetap dengan ekspresi datar. Weiheng menggelengkan kepalanya. Apa Xiaowen begitu bodoh mempercayai Hongli dan Haoran? Weiheng pikir dua bersaudara itu hanya memanfaatkan Xiaowen. Namun, dengan kekuatan mereka tentu tidak akan menang melawan tim yang lain.
"Baiklah selamat berjuang." Weiheng hanya bisa mengatakan itu. Namun, dia cukup penasaran kemampuan Xiaowen, karena jujur dia tidak terlalu ingat.
Pangeran yang lain menatap Xiaowen, Hongli, dan Haoran dengan tatapan berbeda. Putra mahkota Chenyu tidak habis pikir Xiaowen bisa masuk perangkap Hongli dan Haoran. Sedangkan Junhao berpikir tidak mudah melawan Hongli sekarang. Dia merasakan aura intimidasi sangat kuat dari pria itu. Apalagi kekuatan mereka bertolak belakang. Junhao memiliki kekuatan api. Meski seharusnya tak perlu risau karena dia berada di level enam. Saudaranya yaitu Zhuting sudah tidak sabar menghadapi tim Xiaowen tersebut. Ia bertekad melihat lagi ekspresi kekalahan Hongli.
Zhang Yelu, pangeran keenam negeri ini berpikir jika tim dari Xiaowen sangat lemah. Pasti cukup mudah mengalahkan. Dia sendiri masuk ke dalam tim Junhao.
***
"Feixing, apa putra-putramu tidak ada maksud jahat pada putraku?" jujur Renyu akan kegelisahannya. Dia mengenal Feixing cukup lama dan tahu wanita itu seperti apa, pasti akan mengerti apa yang ia takutkan.
Feixing memegang telapak tangan Renyu. "Percayalah putra-putraku sudah berubah jauh lebih baik, mereka hanya ingin Xiaowen lebih bisa terlihat sebagai pangeran negeri ini." Wanita paruh baya itu tersenyum hangat dan dibalas senyuman pula. Renyu akan mencoba percaya, apalagi Hongli dan Haoran sudah susah payah mencarikan istri untuk putranya. Namanya Fangyin, sepenglihatannya kemarin gadis itu baik dari keluarga yang baik pula.
Dua hari kemudian upacara pernikahan Xiaowen dan Fangyin dilangsungkan. Setelah menjalankan beberapa ritual pernikahan, mereka akhirnya resmi menjadi suami istri.
Fangyin yang awalnya tak mau menikah memilih mengiyakan pernikahan ini, tentu salah satu alasannya adalah Hongli dan Haoran yang meminta. Namun, disisi lain gadis itu turut senang karena melihat sang ayah sangat bahagia sampai menangis haru.
"Nak, jadi istri yang baik untuk suamimu. Kurangi gerakan aneh yang biasa kamu lakukan." Weishan mengusap pipi putrinya yang saat ini terlihat sangat cantik menggunakan gaun qipao merah pernikahan.
"Baik, Ayah. Nanti aku akan menginap di rumah kalau duel antara pemilik kekuatan elemen telah selesai." Fangyin tersenyum memeluk ayahnya tentu dibalas dengan pelukan hangat seorang ayah. Bagi Weishan melihat putrinya bisa sampai menikah itu adalah kebahagiaan yang luar biasa. Mengingat dari kecil Fangyin sering sakit karena bermasalah dengan jantungnya seperti sang istri yang juga meninggal karena penyakit jantung saat Fangyin berusia dua tahun. Hingga di usia tujuh belas tahun, Fangyin dinyatakan meninggal oleh tabib. Namun, akhirnya kembali hidup dan tampak sehat. Itu adalah keajaiban yang tak terlukiskan bagi Weishan.
Di kamar yang sudah dihias sedemikian rumah untuk pasangan pengantin baru, Xiaowen dan Fangyin sedang duduk berbincang di atas tempat tidur.
Xiaowen memegang telapak tangan Fangyin. "Fangyin, meski saya terburu-buru menikah karena akan mendaftar menjadi kandidat Kaisar, tapi saya berjanji tidak akan mempermainkan pernikahan kita. Saya akan menjadi suami yang baik, bertanggung jawab, menyayangi—"
Fangyin segera mengecup bibir Xiaowen, membuat mata pria itu terbelalak. "Kelamaan, Sayang. Ayo langsung ke acara inti."
Xiaowen tampak keheranan tidak mengerti, Fangyin menghela nafas karena kali ini dia punya suami begitu polos. Wanita itu kembali menempelkan bibirnya ke bibir suaminya. Lalu, ia tersenyum dan Xiaowen ikut tersenyum. Mereka kembali berciuman mesra.
Fangyin dengan tidak sabar melepas pakaiannya. Sudah lima tahun tidak merasakan belaian seorang lelaki, dia menjadi begitu bersemangat. Sementara Xiaowen tidak menyangka jika Fangyin yang awalnya cuek punya sikap sedikit liar seperti ini.
Xiaowen begitu terpesona melihat keindahan di bawah kungkungannya. Dia memang masih sangat suci dari hal-hal seperti ini. Namun, ia tak mau mengecewakan Fangyin. Ia mencium setiap inci tubuh istrinya itu memberi rangsangan yang membuat Fangyin merasa dimanjakan.
"Sayang ...," panggil Fangyin seperti desahan. Ternyata ia kembali merasakan perihnya melakukan hubungan intim untuk pertama kali, namun ia merasa bahagia karena di dunia ini ia memberikan kesuciannya untuk sang suami. Bukan seperti masa lalunya yang harus melayani p****************g.
***
Sehari sebelum pendaftaran ditutup dan acara duel berlangsung Xiaowen sudah mendaftar menjadi kandidat dengan tim sukses Hongli dan Haoran.
Sekarang mereka sedang di kediaman Xiaowen untuk berlatih. Pertandingan dua lawan satu antara dua bersaudara Hongli dan Haoran melawan Xiaowen.
"Sayang, semangat ya!!!" sorak Fangyin menyemangati suaminya. Xiaowen hanya tersenyum malu-malu.
Yueer dan Niyi yang duduk mengapit Fangyin berpikir. Apakah harus menyemangati seperti itu?
"Hubby semangat!!!" sorak Niyi tak mau kalah.
"Siap, Wifey-ku," jawab Haoran sambil tersenyum menggoda, membuat Niyi malu.
"Romantis sekali kalian." Fangyin bertepuk tangan dan Niyi semakin malu dibuatnya.
Sementara Yueer masih bimbang, takut kalau dia menyemangati seperti itu, Hongli akan merasa terganggu. Yueer melirik suaminya dan kebetulan Hongli meliriknya juga. Yueer mengatakan semangat tanpa suara, Hongli yang mengerti itu mengangguk pelan, membuat Yueer tersenyum.
Tidak disangka semua itu diperhatikan oleh Fangyin. "Astaga kalian berdua manis sekali." Wanita itu menepuk pundak Yueer. "Aku yakin Dage sangat menyukaimu." Pernyataan itu membuat Yueer merona. Apa benar?
Hongli membekukan kaki Xiaowen, namun secepatnya hancur dengan cahaya panas dari tubuh pria itu. Level lima memang tidak main-main. Xiaowen bergerak cepat bagai cahaya menghindar dari serangan tumbuhan merambat Haoran.
Terlalu cepat. Haoran kewalahan padahal berbagai tanaman telah ia kerahkan untuk menyerang Xiaowen.
Pria itu mulai menyerang dengan bola matahari kecil yang panas dan menyakiti di sisi dua bersaudara itu. Ge, kulitku hampir terbakar. Haoran mencoba ilmu telepati kepada sang kakak dan itu berhasil. Hongli menyelimuti Haoran dengan hawa dingin yang ia bentuk agar adiknya itu tak terbakar.
Bukan lawan yang mudah, Hongli mencoba menyerang dengan mengandalkan pengalamannya sebagai mafia karena Xiaowen sangat cepat berpindah tempat.
Air mengelilingi tubuh Hongli mencoba menyerang ke segala arah dengan air dan Xiaowen pun terkena serangannya.
Ternyata Hongli Ge memiliki ketepatan luar biasa, batin Xiaowen.
Haoran yang melihat Xiaowen terkena serangan segera melilit tubuh pria itu dengan tanaman merambat agar kesulitan bergerak, Hongli kembali menyerang dengan serangan air bertubi-tubi.
Xiaowen tidak pantang menyerah dia kembali membuat bola matahari kecil dengan panas membara. Hongli segera menyelimuti dirinya dan sang adik dengan hawa dingin.
Xiaowen mengeluarkan cahaya yang menyilaukan membuat kedua bersaudara tidak bisa melihat apa-apa. Tiba-tiba mereka diserang dengan berbagai sinar. Hongli membuat perisai es untuk mereka.
Pertandingan kali ini diakhiri dengan seri karena batas waktu pasir telah habis.
"Kamu hebat sekali!" Haoran menepuk pundak Xiaowen. Pria itu menggeleng. "Hongli Ge dan Haoran Ge lebih hebat. Punya fisik yang kuat dan maaf walau dilevel dua kalian punya banyak jurus dan sangat kompak."
Xiaowen menghilangkan pelindung di arena pertandingan. Sengaja membuat pelindung itu agar istri-istri mereka tidak terkena serangan.
Ketiganya langsung menghampiri suami masing-masing.
"Pertandingan yang hebat, Hubby," puji Niyi sambil merangkul suaminya. Haoran tersenyum bangga.
Sementara Yueer segera mengusap keringat di kening Hongli sambil menanyakan apa ada yang terluka. Fangyin sendiri sudah memeluk manja Xiaowen, kalau melihat kehebatan suaminya dia jadi ingin mengajak ke kamar. Pikirannya memang selalu liar. Semoga besok mereka bisa beruntung menang dalam duel setidaknya seri.