Sore hari pasangan ayah dan anak yaitu Weishan dan Fangyin sudah berhasil menyeberangi sungai dan sekarang berada dalam kereta kuda untuk segera ke istana. Mereka turun dari kereta kuda di toko dekat gerbang istana.
"Nak, numpang tukar pakaian dulu di toko itu," titah Weishan. "Kenapa juga kamu kenakan pakaian laki-laki dari rumah."
Jelas jika mengenakan pakaian wanita terlalu ribet menurut Fangyin. Meski wajah gadis itu tampak kesal, namun ia tetap menuruti ayahnya. Selama lima tahun di dunia ini sosok Weishan, ayah yang penyayang adalah cahaya yang menyinari kehidupannya. Maka dari itu, ia berencana akan mengurusi ayahnya saja tidak mau menikah, ternyata malah ia beberapa kali dijodohkan. Sudah sering Fangyin membuat pria yang dijodohkan dengannya menolak. Namun, sekarang ia harus berhati-hati karena jika salah bertindak calonnya kali ini adalah seorang pangeran. Tidak mungkin dia harus dieksekusi mati nantinya seperti di drama-drama kolosal yang menyinggung keluarga kekaisaran.
"Begitu 'kan cantik putri ayah," puji Weishan sambil tersenyum melihat sang putri sudah berganti pakaian. Tidak lupa ia membeli barang di toko tersebut sebagai ucapan terima kasih.
Sesampainya di gerbang istana, identitas mereka diperiksa. Keduanya diantarkan ke kediaman Anyelir—kediaman pangeran kelima.
Xiaowen yang mendengar bahwa keluarga Li telah tiba, entah mengapa jadi berdebar. Xiaowen kira keluarga itu akan tiba besok pagi, tapi ternyata sore hari sudah sampai. Dia meminta pelayannya menyediakan dua kamar untuk ayah dan anak tersebut.
Xiaowen pun menyalakan lampu warna-warni yang sangat menarik di kediamannya karena hari sudah mulai gelap. Tentu dengan kekuatannya.
Sementara itu Fangyin dan Weishan tampak terkagum dengan kediaman pangeran kelima negeri ini.
"Cantik sekali Yah, kediamannya. Apa semua pangeran punya kediaman seperti ini?" tanya Fangyin.
"Ayah tidak tahu, Nak, Ayah belum pernah ke kediaman pangeran." Mengingat dia hanya pergi ke istana saat pengangkatannya sebagai pejabat sipil dan acara penting lain. Dia bahkan tak ingat wajah pangeran kelima seperti apa. Kalau pangeran yang lain malah dia lebih ingat.
Xiaowen yang melihat mereka, segera menghampiri keduanya, diikuti beberapa pelayan.
"Selamat datang pejabat Li dan Nona Li," sambut Xiaowen.
"Maaf mengganggu, Yang Mulia Pangeran Kelima dan maaf sekali datang disaat hampir gelap seperti ini." Weishan menjadi canggung karena pangeran kelima begitu sopan.
"Tidak apa-apa, Pejabat Li," balas Xiaowen. Pria itu dan Fangyin saling tatap, tapi segera mengalihkan pandangan.
Kesan pertama Fangyin tentang pangeran kelima, beliau sangat sopan, cukup tampan, dan baik hati. Suaminya di masa lalu juga tipikal demikian, namun nyatanya karena sikap itulah ia ditinggalkan. Sudahlah tidak perlu bahas masa lalu.
Fangyin pikir, tipikal pria yang seperti ini bukankah semakin sulit untuk menolak. Meski Fangyin yakin jika ia menolak, pasti Xiaowen akan menerima keputusannya. Namun, ini akan sama saat kejadian dua kali pria itu gagal menikah? Tampak sangat menyedihkan.
Fangyin dan ayahnya dipersilakan istirahat terlebih dahulu. Nanti mereka akan mengobrol saat makan malam.
Bukannya bersih-bersih, Fangyin malah tertidur di kamarnya dan saat sang ayah memanggil untuk makan malam, dia masih mengarungi alam mimpi.
"Jangan-jangan dia tidur." Weishan menghela nafas. Apalagi pintu kamar putrinya juga dikunci.
"Kenapa Pejabat Li?" tanya Xiaowen yang dari tadi memperhatikan Weishan berdiri di depan pintu kamar Fangyin.
"Fangyin sepertinya kelelahan dan tertidur. Maaf, Yang Mulia." Weishan tampak menyesal.
"Tidak apa-apa. Mari kita makan lebih dulu. Nanti jika Nona Li sudah bangun ada pelayan yang akan mengantarkan makanan." Tentu Xiaowen mengerti bagaimana melelahkannya perjalanan mereka.
Kesan pertama Xiaowen terhadap Fangyin, gadis itu cantik, terlihat tidak terlalu ramah, tapi baik. Tampak Fangyin sangat dekat dengan ayahnya. Xiaowen sedikit iri dengan kedekatan itu. Apa Kaisar pernah mengingat mempunyai seorang putra sepertinya? Mungkin tidak.
***
Fangyin terbangun dari tidur lelapnya. "Astaga ketiduran. Jam berapa sekarang?" Ia mendengus sudah bertahun-tahun, tetap ia sering lupa di sini tidak ada jam.
"Sepertinya sudah tengah malam. Pasti besok dimarahi Ayah." Fangyin membawa beberapa perlengkapan mandinya mencari kamar mandi di sana.
"Wih, ada sumber air panas. Enak sekali." Fangyin pikir enak juga bisa tinggal di sini. Sayangnya dia tidak mau menikah.
"Aaaaaa!!!" Fangyin berteriak karena tiba-tiba melihat salah satu serangga yang paling ia takuti yaitu kelabang bahkan ukurannya jumbo. Bukan hanya satu, tapi cukup banyak.
Xiaowen yang mendengar teriakan itu dengan kecepatan cahaya segera pergi ke sumber suara. Tampak ada pengawal yang berada di depan ruangan, tapi tak berani masuk karena tempat itu adalah kamar mandi.
"Sebaiknya Yang Mulia yang masuk karena yang berada di dalam calon istri Yang Mulia," ucap salah satu pengawal sambil menunduk.
Xiaowen bergegas masuk, terlihat Fangyin meringkuk hanya memakai jubah tipis dan di sana ada beberapa kelabang. Xiaowen dengan serangan sinar panas menghancurkan kelabang tersebut. Kamar mandi ini memang tak pernah lagi digunakan, sepertinya juga ada lubang di sana tempat masuknya kelabang.
"Sudah, tidak apa-apa." Xiaowen segera menyelimuti Fangyin dengan pakaian luarnya.
Gadis itu menatap Xiaowen dan melihat sekeliling bagaimana bisa pasukan kelabang hilang tak tersisa. Sebenarnya bukan pasukan, tapi bagi Fangyin kelabang itu sangat mengerikan. Ketakutan ini masih berhubungan dengan kehidupannya yang pelik di masa lalu.
Fangyin memeluk Xiaowen dan pangeran itu pun membalasnya.
"Terima kasih."
"Sama-sama."
Mereka saling tatap. "Apa kamu digigit?" tanya Xiaowen. Fangyin menggeleng.
"Aku mau mandi, Yang Mulia temani aku ya?"
"Itu—" Xiaowen tampak ragu.
"Yang Mulia tidak mau?" Entah kenapa di saat seperti ini Fangyin ingin dimanja, dia memasang wajah se-memelas mungkin.
"Baiklah, tapi jangan di sini, di kamar mandi sebelah kamar saya. Sekarang kenakan pakaianmu kembali." Xiaowen dengan cepat berbalik. Fangyin tersenyum, ternyata pria itu sangat menghargai wanita.
"Aku mau digendong kakiku masih gemetar." Sebenarnya ini alasan Fangyin agar bisa dimanja. Meski tidak mau menikah bolehlah jika dimanja pria, sudah lama sekali tidak merasakan hal itu.
Xiaowen pun segera menggendongnya dan melangkah keluar. Para pengawal menunduk melihat Xiaowen dan Fangyin keluar, tapi setelah keduanya menjauh mereka saling berbisik.
"Syukurlah sepertinya Yang mulia Pangeran jadi menikah, mungkin kita harus lapor ke Yang Mulia Selir Liu," kata salah satu pengawal. Memang dari kemarin Liu Renyu, ibunda Xiaowen menanyakan apa benar putranya itu berniat menikah. Namun, para pengawal tidak memberitahu karena hal itu belum pasti.
Xiaowen menemani Fangyin mandi. Tentu ada sekat, sehingga pria itu tak dapat melihat. Setelah mandi pun Fangyin yang masih dalam mode manja ingin tidur di kamar bersama Xiaowen. Pria itu yang memang begitu baik menuruti, tidak lupa Xiaowen mengingatkan Fangyin untuk makan. Meminta pelayan membawakan makanan.
Setelah menemani Fangyin makan, Xiaowen menyiapkan perlengkapan tidur, dia memilih tidur di bawah, sementara Fangyin diminta tidur di ranjang.
Kamu sepertinya lebih baik daripada suamiku dulu. Fangyin yang belum bisa tertidur, menatap Xiaowen yang tampak lelap di bawah.
Kamu tahu dulu suamiku juga begitu baik, perhatian, sabar, orang yang menjadi cahaya untukku, tapi akhirnya dia yang menyakitiku amat dalam.
Saat aku hamil dia lebih memperhatikan perempuan lain, istri dari mendiang kakaknya yang sangat membutuhkannya kapan saja.
Dan aku istrinya pun dibiarkan seorang diri. Apalagi saat orang tua suamiku tahu bahwa aku adalah mantan wanita penghibur dan pernah menjadi anggota mafia. Mereka segera mengusirku. Suamiku? Dia tidak berani kepada orang tuanya. Dia takut menjadi anak durhaka, akhirnya membiarkanku pergi.
Kamu tahu aku meninggal saat usia kandunganku delapan bulan. Dewa memberiku kesempatan hidup di sini. Walau tak bisa berjumpa dengan calon putriku, tapi di sini aku bertemu dengan ayah yang sangat baik. Seorang ayah yang selalu aku idamkan di masa laluku. Bukan ayah tiri yang selalu mengurungku dengan serangga-serangga menakutkan seperti kelabang.
Kalau aku jadi menikah dan tinggal di sini. Ayah akan sendiri di sana. Apa kamu mau setiap dua minggu sekali berkunjung ke tempat Ayah?
Fangyin menceritakan keluh kesahnya tanpa suara pada Xiaowen. Lama-kelamaan dia pun mengantuk dan ikut terlelap.
***
Pagi harinya Weishan pergi ke kamar sang putri. "Loh, kenapa tidak ada?" Ia heran pintu kamarnya terbuka, namun putrinya itu malah tidak ada.
"Ayah!" panggil Fangyin yang segera berlari menghampirinya dan di belakang putrinya itu ada Xiaowen.
Weishan mengernyit. "Dari mana?" bisiknya pada sang putri yang merangkul lengannya.
"Jalan pagi biar sehat, tadinya mau ajak Yang Mulia Pangeran yoga, tapi takut dimarahi Ayah," jawab Fangyin. Padahal ia berbohong karena baru selesai mandi disebelah kamar Xiaowen.
"Kamu jangan mengajarkan gerakan-gerakan si yoga itu pada Pangeran. Jangan buat malu Ayah, nanti kamu dikira aneh."
"Beres, Yah, aku putri yang berbakti kok."
"Katanya kamu tidak mau menikah, tapi kenapa bisa jalan pagi romantis dengan Yang Mulia Pangeran?" Jangan heran jika Weishan bahasanya menjadi seperti itu, ketularan putrinya tentu saja.
"Ada deh rahasia, orang tua tidak perlu tahu."
Xiaowen yang berdiri di sana hanya bisa menatap heran pasangan ayah dan anak tersebut.
"Hem … Pejabat Li dan Nona Li hari ini kita akan sarapan bersama saudara saya yaitu pangeran ketiga dan keempat serta istri mereka."
Mendengar pernyataan dari Xiaowen sepasang ayah dan anak itu menunjukkan ekspresi yang berbeda. Weishan tampak takut, pangeran-pangeran itu yang ia tahu sering kali berbuat onar, bisa saja menyulut emosi sang putri.
Sementara Fangyin meregangkan ototnya, dia akan menghajar dua bersaudara itu. Meski di dunianya ia sangat menghormati sosok Hongli dan Haoran, namun di sini ia sama sekali tak menyukainya.
Tiba-tiba Fangyin melakukan beberapa tendangan. Bahkan kakinya pun bisa sampai kepala. Gadis itu memang sangat lentur. Hal ini membuat Xiaowen tercengang, apalagi saat Fangyin melakukan salto, Xiaowen tak bisa berkata-kata.
Weishan hanya bisa memegang kepalanya melihat tingkah putrinya. Semoga saja pangeran kelima tidak berubah pikiran untuk menikahi putrinya itu.
Mereka sekarang berada di gazebo kediaman Anyelir, menunggu Hongli, Haoran, serta Yueer dan Niyi tiba.
Saat kedua pangeran itu datang Fangyin dengan mata berapi-api ingin menghampiri mereka. Meski tangannya sudah ditahan oleh sang ayah serta Xiaowen, tapi usaha mereka gagal.
"Ternyata kita bertemu lagi!" Fangyin menatap tajam keduanya.
Hongli dan Haoran terkejut melihat Fangyin. Tentu dengan raut yang berbeda. Hongli yang terkejut tetap datar dan Haoran yang penuh ekspresi.
Fangyin mengambil sikap kuda-kuda bersiap menyerang Hongli karena pria itu berada di depan, sedangkan Haoran di belakang sedang merangkul istrinya, tidak mungkin Fangyin menyerang Haoran.
"Yakkkk!!!
Tendangan dari depan dihindari dengan mudah oleh Hongli, bahkan tendangan bertubi-tubi yang ia layangkan ditangkis begitu cepat. Sementara penonton setia yaitu Yueer, Haoran, dan Niyi bergeser ke samping agar tidak terkena perkelahian.
"Semangat, Ge!" sorak Haoran yang lengannya segera dipukul oleh Niyi.
"Hubby, kenapa tidak dihentikan, malah disemangati. Kasihan perempuan itu kalau dia cedera bagaimana?" tegur Niyi bagaimana jika Hongli mengeluarkan kekuatannya perempuan itu bisa jadi beku. Meski Niyi akui perempuan yang ia yakini bernama Fangyin tersebut cukup kuat.
"Tenang saja Wifey-ku." Haoran mengecup kepala Niyi. Wanita itu kembali memukul lengan suaminya, memangnya dikira sedang di kamar main cium-cium?
Yueer memandang waswas perkelahian, tentu bukan takut suaminya kalah, tapi takut Fangyin terluka. Lihat saja sekarang perempuan itu tampak begitu lelah melakukan berbagai tendangan untuk melawan Hongli, mulai dari tendangan depan, samping, maupun berputar. Namun, suaminya itu bahkan tidak goyah. Yueer yakin sang suami sedang mengumpat dalam hati, jika perempuan yang dilawannya sangat lemah.
Ck, dasar lemah, batin Hongli.
Hongli segera menyudahi perkelahian yang tak sepadan ini, dia menangkap kaki Fangyin yang menendangnya dari depan, lalu mendorongnya hingga perempuan itu terjatuh.
Fangyin segera bangkit dan melakukan tendangan berputar, tapi kembali kakinya ditangkap, lalu didorong hingga tubuhnya berputar. Gadis itu pun harus merasakan tanah untuk kedua kali.
"Apa kamu bodoh?! Menyerang bertubi-tubi seseorang, tanpa tahu kelemahannya dan dengan emosi seperti itu, kamu tidak akan menang!" tegur Hongli. Fangyin segera bangkit mulutnya terbuka sulit untuk percaya, tapi memang ia merasa aneh saat berkelahi tadi. Aura pria di depannya seperti aura pemimpin kelompok mafia Naga Hitam Zhang Hongli.
"Dage!" pekik Fangyin. Dasar bodoh begitu lancang dia melawan gurunya.