CHAPTER 8 : SIAPA FANGYIN?

1544 Words
Xiaowen benar-benar bingung dihadapkan dengan lima daftar nama gadis kandidat calon istrinya. Dia tidak tahu harus memilih yang mana. "Tunggu—" Haoran menatap satu nama yang sangat familiar dalam ingatannya. "Ini pilih dia," tunjuk Haoran pada nama itu. Li Fangyin. Xiaowen mengernyit, sepertinya banyak kualifikasi yang lebih baik daripada Fangyin, apalagi gadis ini tinggal di kota seberang, harus menyeberangi sungai dahulu agar tiba ke istana. Butuh waktu lama untuk sampai dan kasihan jika nyatanya gadis itu tak menyukainya ataupun punya kekasih sepertinya yang sudah-sudah. Xiaowen menoleh ke arah Hongli meminta pendapat. "Kenapa menatap saya? Terserah kamu, tapi saya setuju dengan usulan Haoran." Hongli hanya penasaran apakah Fangyin yang ini wajahnya sama dengan muridnya dulu. Xiaowen mengangguk tak terlalu berminat, tapi dengan yang lainnya pun sama. Mereka segera mengirim surat kepada keluarga Li di kota seberang. Li Weishan, ayah dari Fangyin merupakan seorang pejabat sipil. Sesampainya di kediaman anggrek—kediaman dua mafia bersaudara, Hongli dan Haoran merasa ada yang berbeda dari istri mereka. Dua bersaudara itu berpisah pergi ke kamar masing-masing. Haoran mengikuti sang istri dari belakang. Apa ia ada salah? Biasanya ketika berjalan Niyi akan menggandengnya, tapi tadi tidak? Dia memilih menggandeng Yueer. "Wifey," peluk Haoran dari belakang. "Apa?" Niyi mencoba melepas pelukan Haoran. Pria itu membalikkan tubuh istrinya penasaran, apalagi setelah melihat bibir Niyi yang cemberut. "Kenapa, Sayang?" tanya Haoran selembut mungkin. "Fangyin itu siapa? Apa termasuk wanitanya Hubby dulu?" tanya Niyi kesal. Ternyata cemburu lagi dia. Lucu sekali, batin Haoran, lalu tersenyum. "Mana aku tahu. Kamu tahu sendiri aku hilang ingatan. Tadi aku mencalonkannya karena dia paling beda, apalagi tinggal di kota seberang. Menurutku yang beda itu lebih menarik," jawab Haoran sambil memeluk pinggang sang istri. "Benarkah?" Tatapan Niyi penuh selidik. Namun, setelahnya Niyi terbelalak karena Haoran segera mencium bibirnya, sebenarnya Haoran pernah mencuri kecupan di bibirnya, tapi hanya kecupan bukan ciuman penuh lumatan seperti yang pria itu lakukan saat ini. Haoran yang menyadari istrinya masih dalam mode terkejut melepaskan pagutan mereka. "Di dunia ini wanita yang menarik hati aku cuma Wifey tidak ada yang lain." Pria itu mulai menggoda sang istri. Niyi dengan cepat menuju ranjang karena malu dan menutup wajahnya dengan selimut. Haoran yang masih ingin menggoda, menaiki ranjang dan mengungkung tubuh sang istri. "Hubby!" protes Niyi. Haoran menurunkan selimut di wajah Niyi dan kembali mencium, menyesap dalam bibir merah muda nan menggoda itu. "Boleh tidak aku—" Niyi yang sadar maksud suaminya dan tatapan yang menginginkannya, segera menggeleng. "Kenapa?" tanya Haoran penasaran, tidak mungkin istrinya tak mau melakukan hubungan suami-istri dengannya. Bukankah mereka saling menyukai? "Aku inginnya Hubby janji dulu, tidak akan lagi menyakitiku. Aku juga mau lihat keseriusan Hubby." Haoran berbaring di samping istrinya dan membawa Niyi ke dalam pelukannya. Tentu tidak mudah percaya pada orang yang tiga tahun ini menyakitimu—menyakiti secara fisik dan psikis. Kalau dunianya mungkin hal seperti yang dilakukan Haoran selama tiga tahun termasuk KDRT dan harus ditindak tegas. Meskipun jiwa Haoran memang berbeda. Namun, wanita di dekapan ini tidaklah tahu. "Aku berjanji tidak akan menyakitimu seperti dulu, walau aku tidak ingat. Kalau aku salah kamu bisa menegur atau memarahiku," balas Haoran, mengingat dia kadang tidak peka. Niyi tersenyum dan mengecup pipi Haoran. Sungguh dia sangat menyukai suaminya yang sekarang dan terkadang ketika bersama pun ia lupa bahwa Haoran pernah selama tiga tahun menyakitinya—penderitaannya berawal ketika usianya tujuh belas tahun. Dulu Niyi seorang gadis yang lincah dan ceria. Ketika dijodohkan dengan pangeran keempat negeri ini, ia sempat waswas karena mendengar rumor bahwa pangeran itu sering membuat onar dan bermain perempuan. Saat bertemu dengan Haoran untuk pertama kalinya Niyi cukup lega, karena pria itu memperlakukannya dengan baik. Mungkin semua hanya sekedar rumor, pikirnya kala itu. Namun, seminggu sebelum menikah, ketika ia ingin memberi hadiah hasil sulaman kepada Haoran, ia melihat Haoran bercùmbu mesra dengan wanita lain di tempat pertemuan mereka. Bahkan bukan hanya satu wanita, tapi dua sekaligus. "Asal kamu tahu saja, aku tidak puas hanya dengan satu wanita. Setelah kita menikah pun akan tetap sama." "Sebaiknya kita tidak jadi menikah." "Jangan berbicara sembarangan! Kamu mau kedua orang tuamu celaka karena menolak titah Kaisar!" Begitulah percakapan yang Niyi ingat sebelum ia berlari dan kecelakaan, tertabrak kereta kuda, kakinya terinjak oleh kuda dan tergilas oleh roda kereta, sampai sekarang kondisinya masih sama tak bisa berjalan dengan benar. Pernikahan tetap dilaksanakan dengan Haoran yang selalu jijik menatapnya. Mungkin dia tidak akan kuat kalau tak ada Yueer di kediaman ini. Wanita itu bagi kakak yang memberi semangat padanya. Dia selalu melihat Yueer yang begitu tabah meski hampir setiap hari disiksa. Kalau dipikir sampai detik ini usia pernikahan Yueer dan Hongli sudah lima tahun. Bahkan bekas luka di pipi Yueer pun adalah karena Hongli, namun wanita itu sendiri tak mau memberitahu. Biarlah semua menjadi kenangan pahit yang terkubur. Haoran pun geram ketika mendengar cerita ini dari Niyi beberapa waktu lalu. Niyi memang lebih sering bercerita, berbeda dengan Yueer yang memilih diam. Kalau ia tahu dari awal betapa bejatnya ia di negeri ini, mungkin saat bertemu dengan Dewa waktu itu, Haoran akan menghajar pangeran keempat. Meskipun pasti tak berpengaruh. "Hubby tetap hangat seperti ini, ya? Aku akan berusaha melupakan kejadian itu dan menjadi istri seutuhnya bagi Hubby," ungkap Niyi, begitu nyaman dalam dekapan suaminya. Inilah yang membuat dia selalu lupa, jika sang suami pernah menyakitinya. Rasanya seperti didekap oleh orang yang berbeda. "Aku berjanji." Aku, Zhang Haoran, seorang wakil ketua kelompok mafia Naga Hitam yang sekarang bertransformasi menjadi pangeran keempat negeri tujuh menara berjanji tidak akan menyakiti Liu Niyi, yang sekarang adalah istriku dan akan melakukan apapun untuknya, batin Haoran. "Jadi, kapan kamu mau?" Haoran menatap dengan tatapan menggoda kembali mengedipkan matanya, membuat Niyi terkikik geli. "Nanti kalau Hubby menang duel di penutupan pendaftaran kandidat Kaisar." Haoran segera bangkit, matanya membara penuh semangat. "Tenang Wifey kamu akan lihat kehebatan suamimu." Haoran mengecup kembali bibir sang istri. "Aku harus latihan." Ia bergegas keluar melakukan latihan sore. Kini semangatnya untuk menang semakin menggebu karena setelah menang akan melewati malam panas bersama istri. Niyi yang melihat semakin terkikik geli. Ada-ada saja suaminya itu. Sementara Haoran sibuk latihan, Hongli sang kakak sibuk berendam air hangat. Dibelakangnya ada Yueer yang setia memijat bahunya, tapi pijatan itu tak seperti biasa. "Ada masalah? Apa kamu kenal siapa Fangyin? Apa gadis itu musuhmu?" tanya Hongli karena tahu istrinya mulai berubah saat dia menerima saran dari Haoran untuk mengundang Fangyin. Hening. Yueer tidak menjawab dan membuat Hongli mendengus. "Kenapa diam? Kamu tahu kalau saya tidak suka orang yang ketika saya tanya tidak menjawab." Sendirinya jarang menjawab pertanyaan orang lain, gerutu Yueer tentu dalam hati kalau ketahuan sang suami bisa jadi beku dia. "Bukannya Hongli Ge yang kenal gadis itu? Terlihat dari ekspresi wajahnya tadi," balas Yueer sambil memasang ekspresi tak suka, untung sang suami membelakanginya sekarang. "Apa kamu bodoh?! Saya ini hilang ingatan," jawab Hongli yang membuat Yueer tambah kesal karena dikatakan bodoh. "Orang hilang ingatan bisa saja ingat wanita-wanita penting." Tiba-tiba Hongli berbalik, Yueer memejamkan mata antara takut dipukul atau malu melihat dàda bidang sang suami. Tidak lama, ia merasa cubitan di kedua pipinya. Yueer membuka mata dan terlihat wajah Hongli amat dekat dengannya. "Jadi, kamu cemburu, lucu sekali." Hongli tersenyum cukup lebar, baru pertama kali Yueer melihatnya dan membuat wanita itu berdebar kencang. Ternyata senyuman Hongli tidak baik untuk jantungnya. "Ge, aku baru ingat ada perlu. Permisi." Dengan langkah cepat Yueer keluar dari kamar mandi. Akhirnya dia bisa selamat dari pria berbahaya yang membuat jantungnya akan meledak. Sementara Hongli dalam kamar mandi hanya bisa menggeleng. Selalu saja Yueer bekerja setengah-setengah. Padahal dari tadi wanita itu hanya memijat bahu sebelah kanan dan bahu kiri tidak. *** "Fangyin!" Suara pria paruh baya memanggil putrinya terdengar. Tidak ada sahutan dan ia bergegas ke kamar sang putri. Ketika ia membuka pintu kamar, ia kembali melihat putrinya dalam posisi aneh. "Nak, kenapa kamu senang sekali melakukan gerakan aneh?" tegur Weishan kepada putri satu-satunya yang ia miliki. Di usia dua puluh dua tahun putrinya belum juga menikah. Biasanya gadis di sekitar sana sudah menikah rata-rata di usia tujuh belas tahun. "Ini bukan gerakan aneh, aku sedang yoga, ini itu namanya gerakan split, Ayah." "Ayah tidak kenal siapa yoga dan gerakan-gerakannya. Yang jelas Ayah bawa kabar gembira untukmu." Fangyin menghentikan aktivitas yoga yang ia lakukan dan duduk di samping sang ayah. "Kabar gembira?" tanya Fangyin heran. "Iya, pangeran kelima negeri ini Zhang Xiaowen sedang mencari calon istri dan kamu menjadi kandidat utama. Kita harus berangkat ke istana, Nak," ucap Weishan tersenyum senang. Berbesanan dengan keluarga kerajaan tentu adalah impian setiap pejabat. Fangyin, wanita cantik berwajah oval dengan lesung pipi itu mengernyit. "Ayah yakin?" Aneh sekali bukan, dia menjadi kandidat utama calon istri pangeran kelima—tunggu bukankah pangeran itu sudah dua kali gagal menikah karena merelakan calon istrinya. Sedih memang kisahnya, tapi kenapa harus dirinya yang jadi calon. Lagi pula dia tidak suka dengan pangeran ketiga dan keempat. Ck. Dulu ia kira mereka sama seperti Hongli dan Haoran di dunianya yang lalu, tapi ternyata saat pernah bertemu dua tahun lalu, sungguh sangat berbeda. Ketika bertemu lagi ingin sekali Fangyin menghajarnya. "Kenapa malah melamun? Ayah yakin ini suratnya tidak main-main, Nak. Sekarang kamu mandi dan siapkan barangmu kita langsung berangkat ke sana supaya sebelum malam kita sudah sampai." "Ayah ...," rengek Fangyin tidak mau menikah. Ia hanya ingin hidup tanpa beban kalau jadi istri pangeran bukannya pasti banyak beban.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD