CHAPTER 7 : MEMBUJUK

1484 Words
Kedua pasang suami istri yang selalu bersama yaitu Hongli-Yueer dan Haoran-Niyi sekarang sedang bertandang ke kediaman pangeran kelima. Siapa lagi kalau bukan Xiaowen. Ini adalah kedua kalinya mereka ke sana, tujuannya tentu untuk membujuk Xiaowen mencalonkan diri menjadi kandidat Kaisar. "Tapi, Ge—" "Xiaowen, Please. Negeri Tujuh Menara ini butuh pemimpin dengan jiwa sosial tinggi. Yang bisa mengangkat derajat rakyatnya dan …." Haoran berusaha membujuk dengan kata-kata yang sama seperti kemarin. Xiaowen pun menghela nafas lelah, keinginan sang kakak sepertinya sangat kuat untuk menjadikannya kandidat. Kenapa bukan Hongli saja? Tahun-tahun kemarin bukankah dia adalah seorang kandidat? Sekarang keduanya bersikeras ingin menjadi tim sukses. Setelah gagal masuk dalam kubu Chenyu, mereka malah ingin dia mencalonkan diri. Saat Haoran sibuk membujuk Xiaowen, Hongli dengan tenang menyesap teh yang disuguhkan di kediaman itu. Kediaman Xiaowen lebih besar daripada kediaman mereka padahal dia hanya tinggal sendiri—tentu dengan para pelayan dan pengawal. Setelah Haoran menjelaskan kelebihan Xiaowen, dia pun kehausan dan segera meminum teh menambah beberapa gelas. Haoran mendesah kecewa karena Xiaowen belum mau diajak bekerja sama. "Xiaowen." Hongli mulai bersuara. Xiaowen tiba-tiba saja duduk tegap karena mendengar pangeran ketiga negeri ini memanggilnya. Aura pria itu sungguh seperti seorang pemimpin sejati. "Apa, Ge?" tanyanya. "Kami tidak ingin memaksa. Memang jika kamu ikut kemungkinan kecil untuk menang, tapi setidaknya orang-orang bisa melihat kalau kamu pangeran yang punya ambisi dan daya saing. Kamu juga pantas diperhitungkan bukan hanya sebagai seseorang dibalik layar. "Maaf jika ini menyinggung, tapi saat acara perjamuan dengan Kaisar dua hari yang lalu, kamu tampak seperti bayangan …." Pikiran mereka kembali ke dua hari yang lalu. Hari itu para pangeran dan istri akan mengunjungi Kaisar, Permaisuri, dan selir resmi. Hongli sudah bersiap mengenakan pakaian warna biru tua dengan ukiran naga hitam. Begitu cocok dengannya karena dulu dia adalah pemimpin kelompok Naga Hitam. Pria itu memperhatikan istrinya yang sedang memilih cadar. "Kenapa harus pakai cadar?" tanya Hongli. Jujur istrinya sangat cantik hanya saja ada bekas goresan di pipi kirinya. Yueer menunduk, ia memakai cadar saja dicemooh, apalagi tidak memakainya, tambah menjadi bulan-bulanan para istri pangeran. "Tunggu di sini." Hongli pergi ke kamar Haoran. Tidak lama kemudian, Haoran sudah sampai di sana. Rambutnya bahkan masih kusut belum disisir. "Ternyata di pipi kakak ipar hanya luka gores. Sebenarnya bisa ditutup dengan riasan." Haoran berpikir tapi sayang make up di negeri ini tidak terlalu mumpuni. Haoran pergi ke kamarnya kembali, mengambil krim wajah dan bedak—ia sempat membelinya bersama Niyi di kota. Menurut Haoran kualitas produk itu cukup bagus. Mengingat ia dulu pernah menyamar menjadi pekerja salon. "Coba krim ini, terus dilapisi bedak." Haoran menyerahkan itu pada Hongli. "Saya yang pakaikan." Hongli pun dengan telaten menutupi bekas luka sang istri. Sedangkan Yueer pipinya merona karena wajah sang suami yang begitu dekat. Jantungnya pun berdetak lebih kencang. Hongli sadar akan hal itu, tapi ia tetap tenang. Dia sebenarnya menyukai Yueer, namun tentu tak terlihat karena sikapnya yang dingin dan tegas. "Sudah, bagaimana?" tanya Hongli dan Yueer segera melihat pada cermin. Wanita itu takjub luka di pipinya tertutup hanya sedikit samar yang tak kentara. "Terima kasih, Ge," ucapnya malu kemudian berdiri. Setelah bertahun-tahun lamanya, ia akan keluar tanpa menggunakan cadar. Rasanya sungguh berdebar, lebih berdebar lagi ketika telapak tangan suaminya menggenggam erat telapak tangannya berjalan keluar. Disisi lain pasangan Haoran dan Niyi selalu tampak mesra setiap saat. Sekarang saja Haoran ingin menggendong Niyi, tapi wanita itu malu, apalagi jika dilihat oleh yang lain. "Kenapa tidak mau? Nanti kamu capek Wife-ku sayang," tanya Haoran. Sekarang Niyi berjalan sambil merangkul lengan Haoran. Baru kali ini ia pergi menemui Kaisar dengan hati berbunga-bunga. Niyi yakin Yueer juga merasakan hal yang sama karena bergandengan tangan dengan Hongli. Dulu mereka berdua hanya jalan di belakang saat akan pergi ke perjamuan Kaisar, bahkan dengan jarak harus jauh dari suami masing-masing. "Hai, kenapa malah melamun?" Istrinya ini ditanya malah tidak fokus. "Tidak Hubby, aku malu kalau digendong di sini." "Baiklah nanti kalau sampai tangga aku gendong." Haoran dengan setia berada di samping Niyi. Sekarang mereka sudah sampai di tangga tempat perjamuan. Ada 30 anak tangga yang harus mereka naiki. Haoran dengan sigap menggendong Niyi. Tentu wanita itu tak bisa menolak karena ia memang selalu kesusahan menaiki tangga. Tidak disangka sebelum melangkah naik mereka berpapasan kembali dengan pangeran kedua, Junhao, dan pangeran ketujuh, Zhuting, serta para istri. Tidak lama kemudian datanglah Xiaowen menegur mereka dengan ramah. Zhuting menatap sengit Hongli dan Haoran. Hongli tak peduli melangkah terlebih dulu menaiki tangga menggandeng Yueer, Haoran pun sama dia lebih memilih tersenyum kepada istrinya yang cantik dalam gendongannya. "Dasar pincang, naik tangga saja digendong!" sindir Lian Zhishu, istri dari Zhuting. Haoran yang mendengar itu menghentikan langkahnya, lalu bersuara. "Bilang saja iri, tidak pernah digendong suaminya," sindir balik Haoran, membuat Zhisu geram. Dulu Niyi adalah saingannya. Namun, semenjak Niyi kecelakaan dan kakinya bermasalah, Zhishu berada di atas awan, apalagi pangeran keempat sangat membenci Niyi. Tidak disangka sekarang Niyi benar-benar disayang dan dimanja. Berbeda dengan Zhuting, suaminya yang lebih muda setahun darinya dan selalu berambisi meningkatkan kekuatan, tidak pernah melakukan hal romantis terhadapnya. "Hubby tidak boleh begitu," bisik Niyi masih nyaman dalam gendongan sang suami. "Dia yang mulai. Aku hanya membalas," jawabnya santai. Sesampainya di tempat perjamuan, mereka pun memberi salam kepada Kaisar, permaisuri dan para selir resmi. Hongli dan Haoran tentu sudah diajarkan cara memberi salam oleh istri mereka. Senyum tipis terbit di bibir Hongli ketika melihat ibundanya. Begitu juga dengan Haoran yang menampilkan senyum tiga jari kepada Feixing. Namun, senyum mereka memudar ketika melihat Kaisar dan para selir lain. Perjamuan diawali dengan makan bersama. Dilanjut perbincangan mengenai kandidat Kaisar dan duel di penutupan pendaftaran. "Ayah dengar Hongli tidak akan mendaftar?" tanya Kaisar Weiheng. "Benar," jawab Hongli dingin. Dia melihat Weiheng menatapnya dengan tatapan sadar diri kamu. Hongli pun tak peduli. Perjamuan itu yang Hongli sadari hanya membanggakan kandidat dan para tim suksesnya masing-masing. Weiheng bahkan sama sekali tak memuji Xiaowen yang sangat berjasa bagi rakyat kecil. Bukan hanya tidak memuji, tapi juga tidak menyadari keberadaan Xiaowen di sana. Pangeran lain pun juga demikian. Kasihan sekali bukan? Masih beruntung Hongli dan Haoran yang bisa mengobrol dengan istri, bahkan Haoran sibuk menggombali istrinya. Hongli yakin adiknya sama sekali tak mendengar apa yang dibicarakan Kaisar. Xiaowen terlihat menyendiri, itulah yang membuat hati Hongli tergerak untuk membujuk Xiaowen mencalonkan diri menjadi kandidat Kaisar. Masalah istri? Mereka akan mencarikannya. "Yueer." Tiba-tiba Hongli memanggil istrinya yang duduk di sampingnya. "Ada apa, Ge?" tanya Yueer yang dari tadi duduk kaku, beberapa pasang mana menatapnya karena ia tak menggunakan cadar. Bekas lukanya juga hanya terlihat samar karena krim dan bedak. Entah tatapan itu bentuk seperti apa? Hongli mendekatkan bibirnya ke telinga Yueer membuat wanita itu tersentak. Namun, berusaha kembali fokus karena ia yakin suaminya ingin membisikkan sesuatu. "Minta pamanmu yang dulu mengintip kita untuk mencarikan seorang gadis muda tentu belum menikah dari kalangan menteri atau jajarannya." Yueer menjauhkan wajahnya, ia tampak cemberut menatap suaminya. "Buat apa, Ge?" Yueer berpikir suaminya ingin menikah lagi. Hongli menghela nafas, sudah tahu apa yang dipikirkan wanita itu. Tangannya terulur mencubit bagian pipi kanan sang istri yang tak ada bekas luka gores. "Bukan buat saya, tapi saya ingin mencarikan istri untuk Xiaowen." Ternyata salah kira, Yueer sekilas melirik ke arah Xiaowen. Memang terlihat kasihan. "Siap laksanakan," ucap Yueer sambil tersenyum. Pemandangan ini tidak luput dari sepasang mata yang menatap penuh kecemburuan. Ming Shuwan, istri dari Junhao tidak menyangka Hongli yang dari dulu memujanya malah sekarang tampak menganggapnya orang asing dan lihat pria itu begitu dekat dengan Yueer, si buruk rupa. Meski ditutup tetap saja aslinya buruk rupa, begitulah pemikiran Shuwan. Setelah perjamuan Hongli, Haoran, dan para istri juga saling berembuk bagaimana cara membujuk Xiaowen untuk mencalonkan diri. *** "Bagaimana dengan istri?" tanya Xiaowen mengingat persyaratan kandidat. Inilah pertanyaan yang Hongli tunggu-tunggu berarti kemungkinan Xiaowen sudah mulai berubah pikiran. "Itu sudah diurus 'kan, Yueer?" tanya Hongli menoleh pada sang istri. "Benar, aku sudah meminta Paman Zu untuk memberikan daftar namanya, besok harusnya sudah ada," balas Yueer semangat. Xiaowen menghela nafas untuk ke sekian kali, ternyata sudah dipersiapkan dengan matang oleh para kakak dan kakak ipar. Apa iya dia harus mencalonkan diri agar terlihat? Memang dia merasa seperti tak dianggap padahal ia punya kekuatan sihir elemen level lima, ibunya juga selir resmi tinggi. Hanya saja ia ingin hidup damai, dan tidak ingin bersaing dengan pangeran lainnya. Keesokan harinya Paman Zu memberikan daftar nama calon untuk Xiaowen kepada Yueer, awalnya Paman Zu juga sempat terkejut karena berpikir Hongli ingin menikah lagi, tapi dia merasa lega karena ternyata ini semua untuk pangeran kelima. Baik juga Hongli, ingin repot-repot mencarikan. "Menurut Pangeran Xiaowen bagaimana?" Yueer menunjukkan lima daftar wanita dan jika Xiaowen tertarik mungkin bisa langsung diundang kemari. Xiaowen sekarang merasa risi ditatap oleh empat pasang mata. "Apa harus—" "Kamu sudah mengambil keputusan, jangan goyah karena itu berarti kalah." Ucapan Hongli membuat Xiaowen mengatupkan bibirnya. Ternyata semakin dekat dengan kedua kakaknya ini, dia semakin banyak pikiran. Namun disisi lain, ia merasa seperti punya saudara yang peduli terhadapnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD