CHAPTER 6 : DAFTAR ULANG

1414 Words
Kedua pasangan itu keluar dari tempat makan menuju keramaian. "Benar, itu pangeran kelima, Ge." Yueer berbisik pada suaminya. Hongli hanya mengangguk. Dari membaca gerak-gerik Xiaowen, Hongli merasa kalau pria itu tak cocok jadi pemimpin. Sepertinya terlalu lembut, wajahnya pun tipikal orang yang mudah dimanfaatkan, tapi don't judge book by its cover, jangan menilai seseorang dari penampilan luarnya. Bisa saja dalam wajah yang lembut terdapat hati yang kuat. Apalagi mengingat Xiaowen memiliki kekuatan elemen di level lima. Pastilah cukup kuat. Xiaowen terkejut melihat Hongli dan Haoran berada di sana. Dia sungguh takut bahwa kegiatannya akan dihancurkan, tapi dia tidak mungkin pura-pura tak melihat. "Xiaowen memberi hormat kepada Pangeran Ketiga dan Pangeran Keempat, serta Putri Hu dan Putri Liu." Pria itu menunduk memberi hormat kepada kedua kakaknya dan para istri. Hongli dan Haoran saling lirik. Terlalu sopan, pikir mereka. Hari ini keduanya bertemu dua adik dengan kepribadian berbeda. Yang satu bisa dikatakan kurang ajar—yang satu lagi punya kesopanan tingkat dewa. Lihatlah dia segera meminta pengawalnya yang sedang membagikan bahan pokok menyediakan tempat duduk untuk mereka. "Bagaimana kondisi Hongli Ge dan Haoran Ge sekarang?" tanya Xiaowen tampak ramah, meski nyatanya ia sangat canggung. Tentu dia harus menanyakan, mengingat kedua kakaknya itu bangkit dari kematian, memang mustahil, tapi jika Sang Pencipta yang berkehendak pasti terjadi. "Kami baik," jawab Hongli singkat. "Ke mana istrimu?" Pertanyaan Haoran cukup mengejutkan semua yang berada di sana. Niyi yang mendengar itu, segera menepuk pundak suaminya. Xiaowen belum menikah sampai sekarang, tapi pernah hampir menikah sebanyak dua kali. Dua kali Xiaowen mengikhlaskan calon istrinya pada lelaki lain yang dicintai sang calon istri sehingga sampai sekarang di tidak terlalu berkeinginan untuk menikah, dirinya juga tidak mencalonkan diri dalam perebutan kursi kaisar. Sebenarnya kemarin Yueer dan Niyi sempat mengatakan jika hanya Xiaowen yang belum menikah di antara tujuh pangeran. Hanya saja Haoran yang daya ingatnya kurang melupakan hal itu. "Maaf brother Xiao, ingatanku sedikit berkurang karena kejadian kemarin." Haoran menepuk pundak Xiaowen. Jangan sampai ada orang lain yang tahu kalau dia memang tidak tahu apa-apa. Xiaowen tersenyum tipis memaklumi. Namun, ada kata-kata aneh dari Haoran yang ia tak mengerti, tapi sudahlah. "Ada perlu apa Hongli Ge dan Haoran Ge mampir ke kota?" tanya Xiaowen sudah mulai tidak canggung, meski merasa aura kedua kakaknya ini jauh berbeda dari biasa, tapi dia merasa lebih nyaman. "Kami membeli beberapa pakaian. Rencana saya juga ingin menyumbang pakaian-pakaian lama. Mungkin kamu bisa bantu," ungkap Hongli. "Aku juga," sahut Haoran. Tentu Xiaowen yang memang hobi berkegiatan sosial menyambut baik niat Hongli dan Haoran. Xiaowen berpikir jika keduanya sedang berusaha berubah menjadi lebih baik karena pernah mengalami yang namanya kematian. Setelah berbincang sebentar berhubungan dengan kegiatan sosial, kelompok Hongli, Haoran, dan para istri pun berpamitan. Saat di kereta kuda, para istri yang mungkin kelelahan tanpa sadar tertidur, bersandar pada suami masing-masing. "Ge, aku mulai bosan di sini." ungkap Haoran memandang sang istri yang terlelap. Sebenarnya Niyi juga bisa menjadi hiburan tersendiri untuknya, tapi sayangnya di negeri ini tidak canggih tak ada ponsel pintar, ataupun televisi. Apalagi semua kesukaannya yaitu berkelahi dan membunuh dilarang oleh Dewa. "Mungkin seminggu lagi kamu tidak akan bosan," balas Hongli memposisikan kepala Yueer di pahanya agar lebih nyaman, Haoran pun mengikuti sang kakak melakukan hal yang sama pada Niyi. "Memangnya minggu depan ada apa?" tanya Haoran. Kenapa dia selalu tak ingat ada hal penting. "Gunakan otakmu dengan benar, minggu depan ada pendaftaran ulang kandidat yang akan memperebutkan kursi Kaisar, pendaftaran dibuka selama dua minggu dan saat penutupan akan ada duel antar pemilik kekuatan elemen. Lalu, sebulan lagi pertandingan antar kandidat bersama tim suksesnya akan dimulai," terang Hongli. "Pendaftaran ulang kayak sekolah saja." Haoran terkekeh, kemarin dia benar-benar tak menyimak hal ini dari sang istri. Sebenarnya dia menyimak, tapi waktunya tidak ingat. "Berarti kita akan masuk tim sukses putra mahkota?" tanya Haoran mengingat mereka tak mungkin mencalonkan diri. Namun, mereka juga harus mendukung pemimpin yang cocok dan bisa mensejahterakan negeri ini. "Belum tahu, karena kita sendiri belum bertemu dengan Chenyu. Kalau dia tidak mau menerima kita, pastinya kita akan menjadi penonton," jawab Hongli, meski Chenyu cocok menjadi pemimpin, tapi jika dia tidak mau didukung oleh mereka yang hanya level dua, Hongli dan Haoran terpaksa masuk golongan seperti Xiaowen yang tak terlibat dalam apapun. "Kalau begitu tidak bisa ikut pertandingan? Bagaimana kalau kita meminta Xiaowen mencalonkan diri, jika Putra Mahkota tidak menerima kita sebagai tim sukses?" Meski tak terlihat meyakinkan, tapi menurut Haoran, Xiaowen cukup cocok menjadi pemimpin. Mungkin dia bisa belajar dari Hongli agar bisa bersikap tegas. Yang paling penting Haoran merasa nyaman mengobrol dengan Xiaowen. "Bisa saja kita membujuknya, tapi ada satu permasalahan di sini. Xiaowen belum menikah, dan jika mendaftar dia harus mempunyai istri." Haoran memegang keningnya. Ribet sekali, harus punya istri dulu sebelum mendaftarkan diri menjadi kandidat kaisar. Dulu kakaknya saja belum menikah, tapi hampir sepuluh tahun menjadi bos mafia. "Hanya ada dua cara jika tetap ingin ikut pertandingan. Satu, menjadi tim sukses Chenyu. Dua, bujuk Xiaowen mencalonkan diri dan tentunya mencarikan istri untuk pria itu." Pastinya kemungkinan kecil tim Xiaowen akan menang jika melihat dari level, tapi tidak ada salahnya mencoba. "Aku dukung Hongli Ge saja bagaimana bagusnya." Haoran pasrah sambil mengusap-usap pipi istrinya. Niyi perawatan di mana kenapa pipinya lembut sekali, jadi ingin gigit, tapi takut Niyi bangun, begitulah pemikiran Haoran sekarang. *** Seminggu kemudian adalah hari dimulainya pendaftaran mengikuti pertandingan menjadi Kaisar. Seperti yang diketahui pendaftaran dibuka selama dua minggu dan saat penutupan pendaftaran, diselenggarakan duel antara pemilik kekuatan sihir elemen. Saat ini Haoran asyik merebahkan kepalanya di paha sang istri. Keduanya berada di gazebo samping kediaman mereka. Pasangan itu memilih berjemur di pagi hari. "Apa Hubby masih kesal?" tanya Niyi. Suaminya kesal karena tidak bisa ikut pertandingan, tidak bisa menjadi tim sukses siapapun. Putra mahkota Zhang Chenyu menolak mereka. Chenyu tetap memilih menjadikan kedua sepupunya yaitu Zhufan dan Zhanyi—anak dari kakak laki-laki Kaisar—menjadi tim suksesnya. Zhang Chenyu takut Hongli dan Haoran bukan membantu, tapi malah melemahkan pondasinya. Apalagi kekuatan keduanya masih berada di level dua. "Siapa yang tidak kesal, padahal aku ingin ikut pertandingan itu," jawab Haoran. "Kenapa tidak Hongli Ge saja yang mencalonkan diri?" Menurut Niyi, kakak iparnya itu tak kalah hebat. Meski kekuatannya level dua, tapi Hongli sangat pintar bermain strategi. Memang kemungkinan kecil mereka akan menang. Namun, tidak ada salahnya untuk mencoba. Itu dia masalahnya Wifey-ku kita sudah ada perjanjian dengan Dewa tidak boleh berkeinginan untuk jadi penguasa. "Hongli Ge tidak mau mencalonkan, kami inginnya menjadi tim sukses," balas Haoran. Niyi berpikir kenapa kakak iparnya tidak mau. Padahal dulu sebelum bangkit dari kematian, pria itu sangat berambisi. Ini aneh? "Haoran, ayo latihan!" Suara Hongli terdengar dan Haoran segera bangkit dari tidurnya. Mereka harus latihan, setidaknya akan diadakan duel di penutupan pendaftaran ulang kandidat Kaisar. Mereka tidak boleh kalah, meski hanya mempunyai kekuatan level dua. "Wifey ayo." Haoran berjalan sambil bergandengan tangan dengan Niyi. Tentu setiap latihan dia selalu mengajak istrinya agar ada tempat berkeluh kesah setiap kali ia kalah melawan sang kakak. *** Kali ini Haoran tidak mengeluarkan akar dari tangannya. Haoran berusaha berkonsentrasi bersatu dengan alam sehingga ia bisa menggerakkan tumbuhan yang berada di sana untuk menyerang sang kakak. Ini adalah kekuatan yang bisa dilakukan di level tiga, tapi siapa tahu dengan tekad kuat dia berhasil. Benar saja, tumbuhan merambat mengikat kaki sang kakak dan terus berusaha naik ke atas. Hebat juga dia, batin Hongli. Adiknya sudah menguasai sedikit kekuatan level tiga. Niyi sendiri terkagum baru kali ini melihat sang suami bisa melumpuhkan kakak iparnya. Sementara Yueer masih menebak-nebak apakah suaminya akan menang atau tidak kali ini. Haoran kembali berkonsentrasi agar Hongli benar-benar terlilit keseluruhan tubuh. Namun, dia tiba-tiba mendapat firasat buruk karena sang kakak tersenyum miring. Benar saja sekarang kaki Haoran membeku, bukankah membekukan objek kekuatan level tiga. Keduanya sekarang tak bisa bergerak. Yang satu terhalang oleh es dan yang satu terhalang tumbuhan merambat. Hongli memang belum sepenuhnya menguasai ini. Dia belum bisa membekukan seseorang lebih tinggi dari batas kaki. Namun, pencapaiannya sudah lumayan bagus. Sepertinya mereka saling tidak mau mengalah, meski Hongli kakinya terasa nyeri karena dililit semakin kuat dan Haoran kakinya kebas karena dibekukan. Tidak lama mereka memutuskan pertandingan ini seri. Istri masing-masing dengan sigap membantu suaminya. "Bagaimana Wifey suamimu ini hebat, bukan?" "Hubby hebat, aku sampai kagum." Haoran terkekeh bangga. Sementara pasangan Hongli dan Yueer memilih diam. Namun, tiba-tiba Yueer yang sedang mengolesi obat di kaki sang suami bersuara. "Hongli Ge juga hebat, aku selalu kagum," ungkap Yueer tanpa melihat sang suami karena malu berkata demikian. "Terima kasih," jawab Hongli singkat. Tentu Yueer tersenyum senang dibalik cadarnya mendengar itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD