Hongli tetap tenang, meski Zhuting tampak akan menyerangnya, sementara istri dan adik iparnya berubah panik.
Kedua tangan Zhuting terangkat, beberapa pecahan logam terlihat melayang di sekitarnya. Zhuting memiliki kekuatan sihir elemen logam level lima, ia bisa membentuk logam itu sendiri. Zhuting mengarahkan pemecahan logam tersebut kepada Hongli untuk menyerangnya. Dengan gerakan cepat Hongli mengibaskan tangannya dan membentuk perisai air yang seketika menjadi es.
Junhao terkejut dengan gerakan cepat Hongli, sejak kapan pria itu bisa membangun perisai secepat itu. Setahunya, Hongli tak bisa menggunakan kekuatannya dengan benar.
Ini bukan seperti Hongli yang biasa. Ditambah pria itu tak menunjukkan ekspresi apapun. Jika Hongli yang dulu pasti akan menyerang dengan bola es dan akhirnya kalah melawan sang adik, tapi sekarang dia memilih mode bertahan.
Yueer, Haoran, Niyi menonton dari samping. Yueer dan Niyi merasa lega karena Hongli bisa bertahan. Sementara Haoran sudah menguap karena bosan, tidak ada saling serang karena sang kakak dengan tenang memilih hanya bertahan menggunakan perisai. Benar juga kalau saling serang mungkin sang kakak akan kalah. Kakaknya—sang bos mafia pasti memiliki perhitungan yang matang.
Zhuting yang cukup lelah karena logam-logamnya tak berhasil menembus perisai es dari Hongli memilih untuk berhenti.
"Mengapa tidak menyerang, takut?!" Zhuting heran dengan sikap pangeran ketiga yang biasanya selalu meledak-ledak sekarang berubah tanpa ekspresi, namun aura pria itu dingin dan menusuk.
Dulu Zhuting sangat menyukai ekspresi Hongli saat mengalami kekalahan, tapi sekarang ia merasa terintimidasi dengan Hongli yang telah bangkit dari kematian.
"Buang-buang waktu dan tenaga karena sudah dipastikan saya akan kalah. Jika kamu ingin pamer kekuatan bisa cari lawan yang sepadan." Hongli menatap tajam ke arah Zhuting. Lelaki itu hanya terdiam, merasa benar-benar direndahkan. Jelas Hongli lebih lemah darinya, tapi kenapa ia merasa sedang berhadapan dengan orang yang lebih kuat.
Hongli menggerakkan tangannya mengisyaratkan pada ketiga penonton yaitu istri, adik, dan adik iparnya untuk segera pergi dari sana.
"Permisi," pamit Hongli dengan nada dingin.
Setelah cukup jauh dari mereka pun kedua pasangan itu masih mendengar suara Zhuting yang sepertinya mengeluh kepada sang kakak karena tak membantunya. Bagaimana bisa membantu jika Junhao masih dalam mode terkejut.
***
Keramaian kota sangat terlihat, di samping kiri dan kanan berjajar para pedagang menjual jajanan, mainan, aksesoris, dan lainnya. Lalu, berbagai toko serta tempat makan juga tampak dipenuhi pengunjung. Kereta kuda Hongli dan Haoran berhenti di depan salah satu toko yang menjual pakaian dengan kualitas bahan terbaik di negeri ini.
Saat Hongli dan Haoran turun dari kereta kuda, semua mata tertuju pada mereka, tentu bukan karena wajah mereka yang rupawan, tapi karena bukankah keduanya dikabarkan sudah meninggal. Dua pangeran yang selalu berbuat onar dan sering mengunjungi rumah bordil, sampai-sampai mabuk dan mati bunuh diri di sana, hal inilah yang penduduk ketahui. Namun, tiba-tiba dua pangeran itu muncul kembali. Apa rumor tentang keduanya telah tiada adalah palsu?
"Se—selamat siang Yang Mulia Pangeran Ketiga dan Yang Mulia Pangeran Keempat," sapa sang pemilik toko gugup.
"Siang," jawab Haoran sedangkan Hongli hanya diam, namun Haoran kembali bersuara. "Kenapa Pak Kumis tidak menyapa istri kami?" tanya Haoran yang memanggil pria buncit berkumis panjang di hadapannya dengan sebutan Pak Kumis. Niyi mengeratkan pegangannya pada sang suami, berusaha menahan tawa. Mengapa suaminya itu selalu menggunakan kata-kata aneh? Pak kumis?
"Selamat siang Putri Hu dan Putri Liu," sapa kembali pemilik toko tersebut. Untung ia sempat mengetahui nama istri Hongli dan Haoran yang tidak pernah dianggap sama sekali oleh kedua pangeran itu. Namun, kenapa mereka datang bersama? Bertahun-tahun menikah tidak pernah melihat keduanya membawa istri ke sini, selalu saja mereka membawa wanita lain dan membelikan pakaian seksi untuk wanita tersebut.
Sementara Hongli yang tidak merasa penting bertegur sapa mulai melihat pakaian-pakaian yang tergantung di sana sambil memegang bahan pakaian itu.
"Ini warna kesukaan Yang Mulia Pangeran Ketiga." Pemilik toko mengambil satu hanfu berwarna kuning cerah dan memperlihatkan pada Hongli.
Haoran yang melihatnya terkikik geli. Kalau di dunianya dulu orang seperti Pak Kumis mungkin langsung dipotong kumisnya oleh sang kakak karena menawarkan pakaian berwarna seperti itu.
"Sekarang saya tidak suka warna itu!" jawab Hongli dingin, membuat pemilik toko gemetar.
Hongli memilih pakaian berwarna gelap untuk dicoba. Ketika beberapa pelayan wanita akan mendekat untuk membantunya, Hongli dengan cepat mencegah.
"Tidak usah, biar istri saya." Tentu Hongli tak nyaman jika dibantu oleh pelayan, dia bukan tipikal orang yang suka disentuh orang lain. "Yueer."
"Iya, Ge." Yueer dengan sigap membantunya. Terdengar para pelayan mendesah kecewa. Yueer tersenyum ada rasa senang di hatinya karena yang dipilih oleh Hongli adalah dia. Padahal hanya diminta membantu mencoba pakaian.
"Ada yang lucu?" Meski mengenakan cadar, Hongli bisa melihat bahwa istrinya sedang senang. Yueer menggeleng dan melanjutkan pekerjaannya. Kenapa suaminya seperti tahu segala hal?
Sementara di sudut lain, Niyi memperhatikan Haoran yang sedang berbincang dengan pelayan-pelayan wanita sambil tertawa riang. Rasa sedih dan kecewa pun muncul dalam hatinya. Ada apa dengannya? Apa dia cemburu? Bukankah ia selama ini sudah tahu bahwa sang suami senang bermain perempuan? Bahkan kadang memasukkan perempuan lain ke kediaman mereka. Dia juga pernah melihat Haoran berciuman mesra dengan wanita lain. Namun, dulu rasanya tak seperti ini. Tadi suaminya begitu manis menyediakan tempat duduk untuknya, sekarang pria itu malah mengobrol dengan beberapa pelayan wanita.
Hongli keluar dari ruang ganti bersama Yueer, dia juga meminta istrinya itu untuk memilih beberapa potong pakaian untuk dirinya sendiri. Lihatlah pakaian sang istri sangat lusuh, berbeda dengan istri Junhao dan Zhuting yang tadi ia perhatikan berpakaian mewah.
Hongli menoleh pada adik iparnya yang memandang Haoran dengan tatapan kecewa. Ck. Merepotkan saja.
"Kalau kamu tidak suka dia seperti itu, pergi ke sana, tarik dia. Katakan kamu cemburu. Dia pasti berhenti," saran Hongli tiba-tiba tanpa melihat ke arah Niyi. Namun, wanita itu tahu yang dimaksud sang kakak ipar adalah tentangnya.
"Tapi, Ge—"
"Kalau kamu tidak berani, kamu yang akan kalah. Hal-hal kecil seperti ini tidak perlu repot menyelesaikannya." Hongli memotong ucapan Niyi. Haoran punya sikap supel dan kurang peka. Dia tidak akan paham, jika Niyi memilih diam.
"Yueer ... hal-hal kecil seperti memilih pakaian, kalau kamu suka ketiganya ambil ketiganya!" seru Hongli melihat istrinya yang dari tadi kebingungan antara tiga potong hanfu. Mengapa istri dan adik iparnya sungguh merepotkan?
Yueer segera mengambil ketiga baju itu untuk dicoba, benar bukan suaminya pria yang serba tahu.
Niyi mendekat pada Haoran, sebenarnya dia malu, tapi apa yang dikatakan kakak iparnya memang benar. Kalau tidak berani maka dirinya akan kalah.
"Hubby …." Niyi menarik tangan suaminya menjauh dari kerumunan para pelayan wanita.
"Ada apa, Wifey?" tanya Haoran bingung.
"Hubby aku tidak suka."
"Tidak suka tokonya dan mau mencari toko lain?" tanya Haoran masih tak mengerti. Niyi segera menggeleng. "Aku tidak suka Hubby dekat dengan pelayan wanita."
Haoran sedikit terperangah. Dia kemudian memegang keningnya. Astaga ia lupa jika sekarang telah memiliki istri dan tentu harus menjaga perasaan istri, tidak boleh lirik sana-sini, tapi Niyi lucu sekali sampai cemburu.
Haoran segera menarik pinggang Niyi, lalu tersenyum manis. "Maaf, aku tidak akan mengulanginya. Dimaafkan, tidak?"
Niyi pun mengangguk mereka saling berpelukan. Membuat pelayan-pelayan di sana pun mendesah iri pada wanita yang jalan saja susah seperti Niyi.
"Berhenti mesra-mesraan dan cepat pilih pakaian!" Suara tegas itu mengagetkan Haoran dan Niyi yang sedang berpelukan.
"Baik, Dage." Mereka menjawab serempak. Niyi pun ikut memanggil Hongli, Dage seperti sang suami. Meski bagi Niyi, Hongli yang sekarang terlihat dingin dan galak, tapi ia terharu karena kakak iparnya itu amat peduli padanya.
Setelah membeli cukup banyak, mereka berniat mencari tempat makan dengan berjalan kaki, barang-barangnya masih dititip di toko dan kereta kuda pun masih terparkir menunggui mereka.
Keempatnya menuju tempat makan yang tidak terlalu jauh dari sana, mereka memilih makan siang di lantai dua karena di lantai bawah sudah penuh. Awalnya pemilik tempat makan sangat takut Hongli dan Haoran akan mengusir pengunjung, ternyata tidak mereka malah menaiki tangga lantai dua.
"Ada apa itu?" Haoran yang tadi fokus menyantap makanannya melihat ke arah kerumunan di jalan.
"Mungkin Pangeran Kelima sedang mengadakan kegiatan sosial," jawab Niyi.
"Pangeran Kelima?" Haoran sedikit mengingat siapa nama pangeran kelima.
"Zhang Xiaowen," ucap Hongli. Ternyata sang kakak yang daya ingatnya luar biasa, tentu saja mengingat itu.
"Benar, beliau sering menyumbang untuk anak yatim piatu dan fakir miskin," balas Niyi.
"Dermawan sekali," ujar Haoran. Dulu dia dan sang kakak juga termasuk dermawan, tapi juga manusia keji.
"Kenapa dia tidak mau mencalonkan diri menjadi Kaisar, bahkan dia tidak mendukung salah satu kandidat?" Hongli melirik istrinya. Merasa pertanyaan itu untuk dirinya, seketika Yueer duduk tegap.
"Mungkin—"
"Saya tidak suka mendengar kata mungkin."
Salah lagi, baru juga bersuara sudah salah di mata suaminya.
"Pangeran Kelima lebih suka hidup tenang daripada berselisih dengan saudara-saudaranya. Dia juga tidak berambisi ingin menjadi pemimpin," jawab Yueer menghilangkan kata mungkin.
"Apa benar begitu?" tanya Hongli yang memandang kerumunan orang di jalan.
"Pangeran Kelima tidak suka berbuat keributan. Jadi, tidak ingin mendukung siapa-siapa." Niyi pun menambahkan yang ia ketahui.
"Dia memiliki elemen cahaya level lima?" Hongli masih penasaran.
"Benar, Ge," jawab Yueer cepat.
"Sayang sekali ya, Ge, dulu Dage yang level dua saja mencalonkan diri," sindir Haoran sambil tertawa geli, meski mendapat tatapan tajam dari sang kakak. Haoran sungguh merasa bahwa mereka di dunia ini sangatlah bodoh. Sudah bodoh ditambah berprilaku buruk. Dari mana semua itu berasal, padahal sang ibu sangat baik? Apa karena diskriminasi?