Setahun telah berlalu sejak kepergian putriku yang cantik, tak pernah sedetikpun aku melupakan wajah dan tawanya. Tak pernah sedetikpun aku mengira kalau dia telah tiada. "Mama." Bocah kecil bermata hitam bulat memeluk kakiku, dia mengisap betisku kemudian tertawa. Dialah penghiburku, pengobat lara hati yang perih. Aku tersenyum mengangkatnya dan mendudukkan di pangkuanku, dia kemudian meraih tanganku dan menghisapnya kuat. Aku merasa geli. Kubelai rambutnya yang hitam legam, betapa dia merupakan replika dari pria yang aku cintai. "Mama." "Ya, sayang?" "Aku mau pergi ke taman bermain sama mama dan papa." Aku menghela nafas, permintaan putraku itu terdengar menyedihkan. Karena sejak kepergian Kela, kami sekeluarga nyaris tidak pernah pergi ke luar. Nyaris tak ada tawa canda gembir

