2 minggu kemudian, "Emmeric!" Aku berkata lirih, nyaris tak ada tenaga. "Ini ulah Emmeric." Sudah berhari-hari mencari Kela, tapi putriku itu bagai hilang ditelan bumi. Entah sudah berapa liter air mata yang tumpah setiap malam, berdoa agak anakku segera ditemukan. Reva membujukku walaupun wajahnya juga bengkak, dia merasa bersalah karena tadinya Kela berada dalam penjagaannya. "Kak, tapi menurut detektif yang dikirim untuk mengawasi Emmeric, dia bahkan nyaris gila mencari Kela." Tanganku mengepal, kemarahan dalam kelemahan. Masih teringat olehku akting Emmeric yang sangat hebat saat Kela tidak ditemukan. Dia mengamuk. "Dia akan berbuat apa saja untuk mendapatkan Kela." Air mataku mengalir dengan sangat deras. Reva memapahku ke kamar, aku mendengar suara X menangis, putraku juga su

