Aku merapikan jas suamiku, mengusap-ngusap dadanya yang bidang. Dia masih tetap tampan dan keren, di mataku akan selalu begitu. Aku merasa daguku disentuh. "Jangan terlalu dipikirkan." Dia berujar, tapi aku tahu kalau sebenarnya tuan muda jauh lebih banyak pemikiran dan kekhawatiran ketimbang aku. Sebagai seorang suami, tuan muda selalu sangat hebat, dia menyayangi istri dan kedua anaknya. Di tengah kesibukan, selalu berusaha menyempatkan waktu untuk memperhatikan Kela dan X. Bisa dikatakan keluarga kecil kami bahagia dan hangat, terlepas dari banyaknya permasalahan eksternal. "Selma." Tuan muda berbisik, kemudian menggenggam kedua tanganku. "Ya, sayang?" "Seandainya terjadi sesuatu yang tidak diinginkan ...." Tuan muda menghela nafas. "Zola. Kenapa kamu bicara begitu?" "Aku perna

