Suasana sarapan di rumah utama, seperti dunia kematian. Tidak ada yang bersuara. Bahkan Kela dan X yang kerap berceloteh tampak diam dan tidak rewel, terbawa oleh suasana kaku. Aku merasa bahkan orang-orang yang mengelilingi meja berusaha agar nafas mereka tidak terdengar. Beginikah konsep keluarga? Bahkan orang yang bermusuhan tampak lebih akrab ketimbang Keluarga Besar Hadikusumo. Saat sisa sarapan dibersihkan, Nyonya besar barulah membuka pembicaraan. "Sayang, lusa aku akan mengadakan pesta karena kamu telah sadar. Menurutmu, siapa yang akan kita undang kali ini?" Aku ingin tersedak tawa, nyonya besar sudah ingin menggelar pesta bahkan saat tuan besar masih tidak sadarkan diri. Dan sekarang menjilat kalau dia mengadakan untuk kesehatan tuan besar. Terkadang aku tidak habis pikir,

