Malam hari terasa begitu hening, aku meletakkan Kela yang telah terlelap di keranjang bayi. Tersenyum aku melihat pipinya yang bulat dan menggemaskan, apa mungkin dia tau kalau kedua orang tua kandungnya bertikai karena dia? Aku merasa suara langkah memasuki kamar bayi, tubuhku di peluk dari belakang. Terasa juga dagunya di bahuku. "Sudah pulang?" Aku bertanya. Tuan muda hanya bergumam, "Cantik seperti mamanya." Aku mengangguk, "Dia mirip ayahku." Tuan muda diam, aku tau kalau dia pernah melihat ayahku sebelumnya. Mengingat bagaimana aku belum membalaskan kematiannya, menghukum orang yang bersalah, sedikit menyiksa hatiku. "Lelah sekali hari ini, apa kamu berminat memberi adik untuk Kela?" Tuan muda tertawa. "Katanya lelah." "Ayo kita ke kamar." Tuan muda menarik tangannya m

