Pagi itu, cahaya matahari masuk lembut melalui tirai putih kamar tidur yang kini ditempati Rose. Ia terbangun dengan rasa asing—tidur di ranjang empuk, di ruangan wangi, dan tanpa suara teriakan paman atau bibi yang menyuruhnya bekerja.
Namun ketenangan itu tak berlangsung lama. Seorang pelayan mengetuk pintu, lalu berkata,
“Nona, ada dua orang yang mengaku keluarga Anda… menunggu di gerbang.”
Rose langsung merasa darahnya dingin. Ia tahu siapa mereka. Paman dan bibinya.
Di Gerbang Rumah Eric
Paman Rose, Sarman, berdiri dengan senyum licik. Di sampingnya, bibinya, Retno menatap rumah mewah itu dengan mata berbinar penuh hitung-hitungan.
“Ah, keponakanku sayang…” Sarman menyeringai saat Rose muncul di depan mereka. “Ternyata kamu sekarang tinggal di rumah orang kaya, ya?”
Rose menggigit bibir. “Apa yang kalian mau?”
“Uang, tentu saja,” Retno menjawab cepat. “Kita yang membesarkan kamu, jadi kamu punya utang budi. Sekarang saatnya kamu balas.”
Rose menggeleng tegas. “Aku tidak akan memberikan apa pun.”
Sarman mendekat, suaranya rendah tapi mengancam.
“Kalau begitu, kita akan cerita pada orang ini—” ia melirik ke arah Eric yang kini berjalan mendekat— “tentang masa lalu kotormu.”
Rose menatap mereka tajam. “Aku tidak pernah melakukan apa pun yang memalukan.”
Sarman terkekeh. “Kau pikir mereka mau tahu kalau hampir saja kau dijual ke mucikari? Mau mereka percaya kau perempuan baik-baik?”
Eric kini berdiri di samping Rose. Matanya menajam menatap kedua orang itu.
“Siapa kalian?” tanyanya dingin.
“Kami keluarga nya, Pak. Dia anak kami,” jawab sarman cepat.
Eric mengernyit. “Anak? Bukan, dia bilang kalian pamannya. Dan aku rasa… ada banyak hal yang belum dia ceritakan.”
Rose menunduk, merasa terpojok. Eric bisa saja mengusirnya sekarang.
“Dengar, Pak,” Sarman mendesah, “kami ini susah. Kalau Anda mau, kami rela melepaskan Rose… asal Anda memberi kami kompensasi.”
Ucapan itu membuat mata Eric berubah dingin.
“Kompensasi? Jadi dia barang buat kalian? Pergi dari sini sebelum aku panggil keamanan.”
Sarman dan Retno saling pandang, lalu pergi sambil mengumpat pelan. Tapi tatapan mereka pada Rose jelas berkata: ini belum selesai.
Di Dalam Rumah
Eric menatap Rose lama. “Kau harus jelaskan semuanya. Siapa sebenarnya kau, dan kenapa keluargamu seperti itu?”
Rose menahan napas. “Aku… aku tidak tahu. Mereka bilang aku yatim piatu. Aku hanya tahu… aku tidak pernah merasa benar-benar punya rumah.”
Eric mendengarkan, tapi di kepalanya, satu pertanyaan semakin menguat: Kalau Rosella dan Mary bukan orang yang sama, kenapa wajah mereka bisa identik seperti cermin?
****
Malam itu, rumah terasa sunyi. Rio sudah tidur, dan Rose memilih duduk di ruang tamu, menatap hujan yang turun tipis di luar. Hatinya gelisah memikirkan ancaman paman dan bibinya.
Sementara itu, di lantai atas, Eric sedang membereskan lemari kerja yang sudah lama tak disentuh. Ia mencari dokumen lama, tapi tangannya justru menemukan sebuah kotak kayu berukir yang tertutup rapat. Kotak itu milik Mary—istrinya—yang ia simpan sejak Mary menghilang.
Eric membuka kotak itu. Di dalamnya ada parfum, beberapa perhiasan, dan sebuah album foto kecil. Ia membukanya, membiarkan jemarinya menyusuri lembar demi lembar foto masa lalu.
Sampai… matanya terhenti pada satu foto yang aneh.
Di foto itu, wanita yang masih muda duduk tersenyum di bangku taman, menggendong seorang bayi. Tapi yang membuat Eric terkejut adalah—di sebelahnya, ada seorang perempuan dewasa yang wajahnya samar, memegang bayi lain… bayi yang wajahnya mirip sekali dengan Mary.
Eric mengerutkan kening. Ia tidak ingat pernah melihat foto ini sebelumnya. Di bagian belakang foto, tertulis dengan spidol buram:
“Untuk kenangan… kalian akan selalu bersama, meski tak dalam satu rumah.”
Eric Mencurigai Rose
Eric turun ke ruang tamu membawa foto itu. Rose yang masih duduk di sofa menoleh ketika ia melihat Raka datang.
“rose,” suara Eric pelan tapi penuh tekanan, “lihat ini.”
Rose menerima foto itu. Matanya membesar, tangannya sedikit bergetar.
“Ini… ini aku,” gumamnya lirih, menunjuk bayi di pelukan perempuan misterius itu.
Eric menatapnya tajam. “Dan ini—” ia menunjuk bayi yang digendong wanita muda“—ini istriku. Kau tahu artinya apa?”
Rose menggeleng pelan, meski hatinya sudah dipenuhi rasa aneh yang tak bisa ia jelaskan.
“Aku tidak ingat apa pun… tapi aku yakin, itu aku.”
Eric duduk di hadapannya, mencondongkan tubuh.
“rosella… kalau aku benar… kau dan Mary adalah saudara kembar.”
Ketegangan di Mata Rose
Perkataan itu membuat Rose tercekat. Ingatan-ingatan samar masa kecilnya mulai bermunculan—suara tawa anak kecil lain yang mirip dirinya, tangan hangat yang sering menggenggamnya, lalu… gelap.
Tapi sebelum ia bisa menjawab, suara Rio memanggil dari lantai atas.
“Mama… tolong bacakan dongeng…”
Rose menoleh ke arah tangga. Eric menatapnya dalam-dalam.
“Kalau kau memang bukan Mary… kenapa anakku merasa kau adalah ibunya?”
Pertanyaan itu menggantung di udara, menekan d**a Rose lebih kuat daripada hujan di luar
.