Malam itu, udara terasa dingin menusuk. Rose yang sedang membereskan dapur mendengar suara langkah tergesa dari lantai atas. Tak lama, Eric muncul dengan wajah tegang.
“Rio demam,” ucapnya cepat. “Dia memanggil-manggil ibunya.”
Rose terdiam sejenak, lalu tanpa pikir panjang naik ke kamar Rio. Bocah itu terbaring pucat, keningnya panas ketika disentuh. Matanya setengah terbuka, bibirnya bergetar.
“Mama… jangan pergi…” bisiknya lemah.
Rose menahan air mata. Ia duduk di tepi ranjang, menggenggam tangan kecil Rio dan mengusap rambutnya pelan.
“Mama di sini, Nak… Mama nggak akan pergi,” ujarnya, meski kata “Mama” terasa asing di lidahnya.
Anehnya, setelah mendengar suara Rose , Rio mulai tenang. Nafasnya lebih teratur, dan ia kembali tertidur.
Dari ambang pintu, Eric memperhatikan pemandangan itu. Jantungnya berdegup keras. Cara Rose menatap, membelai, bahkan nada suaranya… benar-benar sama seperti Mary.
Saat Rose bangkit pelan dari tepi ranjang, Eric menahannya.
“Kau lihat sendiri? Dia cuma mau kamu. Bahkan aku… ayahnya, tidak bisa menenangkannya seperti itu.”
Rose menunduk, bingung harus berkata apa. “Aku… aku nggak tahu kenapa dia bisa begitu nyaman sama aku.”
Eric menghela napas panjang. “Ini bukan cuma soal mirip wajah. Ada ikatan… entah apa, tapi aku akan cari tahu.”
Kehadiran yang Mengganggu
Malam itu, ketika Rose keluar kamar Rio, ia melihat siluet seseorang berdiri di luar pagar rumah. Sosok itu terlihat seperti bibinya, Retno yang menatap rumah dengan tatapan licik.
Rose merasa bulu kuduknya meremang. Ia tahu masalah dengan pamannya belum selesai… dan jika mereka tahu ia dekat dengan keluarga kaya ini, mereka pasti akan memanfaatkannya.
Di dalam rumah, Eric kembali menatap foto misterius itu di meja kerjanya, yakin bahwa pertemuan mereka bukan kebetulan.
“Kalau kau benar kembaran Mary ...berarti kau bagian dari hidupku sekarang,” pikirnya.
***
Pagi hari, saat Rose sedang membantu pelayan menyiapkan sarapan, seorang satpam rumah datang tergesa-gesa.
“Pak Eric… ada tamu di luar yang ngotot mau bertemu. Katanya penting sekali.”
Eric keluar ke teras. Di sana, berdiri Retno dengan gaun murah warna ungu dan tatapan penuh kemenangan.
“Pagi, Pak eric,” sapanya dengan senyum licik. “Saya cuma mau bicara sebentar… soal keponakan kami, Rose”
Eric menyipitkan mata. “Kalau mau bicara, langsung saja. Saya tidak punya waktu untuk permainan kalian.”
Retno mendekat, menurunkan suaranya.
“Kalau saya kasih tahu rahasia masa kecil Rose, apa Bapak mau bayar saya? Oh, dan rahasia ini… juga menyangkut istri Bapak.”
Eric terdiam sejenak, tapi matanya tetap tajam. “Apa maksudmu?”
“Bapak tahu nggak, kalau Rose dulu punya saudara kembar? Anak itu diambil oleh keluarga kaya sejak bayi… dan saya tahu siapa keluarganya.”
Eric merasa detak jantungnya bertambah cepat. “Kau sedang bilang… Rose dan Mary—”
“Ya, mereka darah daging,” potong Retno, tersenyum puas. “Kalau Bapak mau bukti, saya punya. Tapi… semuanya ada harganya.”
Rose Mendengar Percakapan
Tanpa disadari, Rose berdiri di balik pintu, mendengar setiap kata yang diucapkan bibinya. Napasnya tercekat. Saudara kembar? Keluarga kaya? Semua itu terdengar mustahil… tapi juga masuk akal mengingat kemiripannya dengan Mary.
Eric akhirnya mengusir Retno dengan dingin, tapi sebelum pergi, wanita itu melempar satu kalimat yang membuat Rose membeku:
“Kalau Bapak nggak mau, saya akan kasih tahu media. Foto-foto itu laku mahal, lho.”
Petunjuk tentang Mary
Malamnya, Eric memandangi foto misterius itu lagi. Ia membesarkan bagian wajah perempuan dewasa di foto yang memegang Rose kecil. Ada kalung emas dengan liontin berbentuk bunga matahari—kalung yang sama pernah dipakai oleh seorang wanita yang ia temui di sebuah acara amal bertahun lalu.
Wanita itu… adalah orang yang terakhir kali menghubungi Mary sebelum ia menghilang.
Eric memejamkan mata.
“Kalau aku temukan wanita itu… mungkin aku bisa temukan Mary. Dan mungkin… semua rahasia akan terungkap.”