part 4

732 Words
Pagi itu, Eric duduk di ruang kerja dengan laptop terbuka, matanya fokus pada layar. Ia membuka arsip lama acara-acara amal yang pernah dihadiri Mary, menelusuri foto demi foto di media. Hingga akhirnya ia menemukan potret seorang wanita paruh baya bergaun biru, tersenyum di samping Mary. Dan di lehernya tergantung kalung emas dengan liontin berbentuk bunga matahari. Eric menekan tombol zoom, memastikan bentuknya. Tidak salah lagi, ini orangnya. Nama di bawah foto itu: Rita Wulansari, pengusaha dan donatur besar sebuah yayasan anak. Eric mencatat alamat yayasan tersebut di notanya. “Jika dia mengenal Mary, dia mungkin tahu kenapa Mary menghilang… dan siapa sebenarnya Rose” pikirnya Sementara itu, Rose keluar ke pasar untuk membeli beberapa bahan makanan. Udara pagi terasa segar, tapi rasa was-was mengikutinya sejak ia meninggalkan rumah. Saat memilih sayuran, suara berat yang sangat ia kenal terdengar di belakangnya. “Keponakanku yang cantik… sendirian, ya?” Rose menoleh. Sarman, pamannya, berdiri dengan senyum menyeringai, sementara dua lelaki asing berdiri di belakangnya. “Pergi dari sini, Paman. Aku nggak mau ikut urusan kalian lagi.” Sarman mendekat, menepuk bahu Rose dengan tekanan keras. “Oh, kau pikir tinggal di rumah orang kaya bisa membuatmu aman? Jangan lupa… aku tahu semua aib masa lalumu.” Rose menggeleng, berusaha melangkah pergi. Tapi Sarman menahan lengannya. “Dengar baik-baik. Kalau kau nggak bawa uang 50 juta minggu depan, aku akan datang ke rumah itu. Dan aku akan bilang pada mereka semua hal yang membuatmu terlihat… kotor.” Pulang dalam Gelisah Sepanjang perjalanan pulang, tangan Rose bergetar. Ia takut Eric salah paham jika mendengar cerita dari pamannya. Ia juga takut kehilangan tempat aman satu-satunya yang ia punya saat ini. Namun sesampainya di rumah, ia mendapati Eric sudah bersiap pergi, mengenakan setelan rapi. “Aku ada urusan penting,” katanya singkat. “Kalau ada yang datang mencariku, jangan bicara apa-apa.” Rose hanya mengangguk. Ia tidak tahu, urusan penting itu adalah langkah pertama Eric menuju kebenaran… dan juga menuju masa lalu Rose yang kelam. Mobil hitam Eric berhenti di depan sebuah yayasan anak yatim yang megah namun hangat. Dari gerbang, terlihat taman kecil dengan ayunan dan tawa anak-anak. Ia masuk, mencari seseorang yang sudah ada di pikirannya sejak semalam. Di ruang tamu yayasan, seorang wanita anggun bergaun hijau toska menyambutnya. Usianya sekitar lima puluh tahun, dengan senyum lembut namun mata yang cerdas --Rita Wulansari. Dan di lehernya, kalung bunga matahari itu berkilau. “Pak Eric Mahendra?” suaranya tenang. “Saya dengar Anda ingin bicara soal Mary?” Raka duduk, menatapnya lekat. “Ya. Istri saya menghilang tiga bulan lalu. Tapi sebelum itu, dia pernah bertemu Anda di sebuah acara amal. Saya ingin tahu… apa hubungan Anda dengannya?” Rita menghela napas, lalu menatap keluar jendela sejenak. “mary… dia gadis yang pintar. Tapi saya mengenalnya bukan di acara amal itu saja. Saya mengenalnya sejak dia masih remaja.” Raka terdiam, memberi ruang pada Rita untuk melanjutkan. “Dia pernah cerita pada saya… bahwa sebenarnya dia tidak sendirian saat lahir. Dia punya saudara kembar. Tapi karena alasan tertentu, keduanya dipisahkan—satu diambil keluarga kaya, satunya lagi… dibawa orang yang bukan keluarganya.” Eric merasakan darahnya berdesir. Itu pasti Rose “Sayangnya,” Rita melanjutkan, “mary tidak pernah memberi tahu saya siapa saudara kembarnya. Tapi dia selalu bilang… jika suatu hari menghilang, kembarnya itu mungkin akan muncul dalam hidup orang-orang terdekatnya.” Di Rumah Eric , Rose duduk di kamar tamu, memeluk lutut. Perkataan pamannya di pasar terus terngiang. Uang 50 juta… atau aku akan buka semua aibmu. Ia memandang pintu kamar Rio yang sedikit terbuka. Bocah itu sedang bermain robot sendirian. Rose merasakan rasa sayang yang dalam pada anak itu, tapi juga takut jika kehadirannya justru membawa bahaya. Kalau aku pergi diam-diam… mungkin Rio akan aman. Eric juga tidak akan terlibat masalahku. Tangannya meraih tas kecil di sudut kamar, mulai memasukkan beberapa pakaian. Tapi sebelum ia selesai, suara Rio terdengar: “Mama… mau ke mana?” Rose mematung, hatinya terasa berat. Tatapan polos anak itu membuatnya tak sanggup menjawab. Arah yang Berlawanan Di yayasan, Eric mendapat kartu nama Rita dan janji untuk bertemu lagi minggu depan. Rita menambahkan satu kalimat sebelum Eric pergi: “Kalau Anda menemukan gadis yang mirip Mary… jangan lepaskan dia. Itu mungkin kembar yang ia maksud.” Sementara itu, di rumah, Rose masih berdiri kaku di depan Rio, dihadapkan pada pilihan—pergi demi melindungi, atau tetap tinggal meski berisiko besar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD