16

1018 Words
Melihat manusia lain di tempat itu memberikan kebahagiaan tersendiri bagi Mahesa, bahkan, perih di telapak kakinya seketika hilang. Orang orang yang Mahesa lihat sepucat Hanum dan Dito. Tetapi mereka mempersilakan Mahesa untuk menempati salah satu rumah yang ada di sana. Margareta dan Valen berebut air putih. Rasa hausnya sudah tidak terbendung lagi, manakala cairan segar itu melewati tenggorokannya, semua penat yang dirasakan selama ini luruh begitu saja. Alirannya seperti sungai yang menampung sumber mata air dari pegunungan sana. Sejuk, itulah yang Margareta rasakan. Dia bahkan membasuh wajahnya dengan sisa air minum yang ditampung dalam labu botol kering. Seumur hidupnya, baru kali ini Margareta mengkonsumsi minuman sesejuk dan seenak ini, padahal isinya hanyalah air putih biasa. Dean membantu Mahesa membersihkan luka. Bukan tanpa alasan kedua lelaki itu lebih memilih untuk bersama. Ada banyak hal yang ingin dibicarakan, terutama segara biru yang membuat penglihatan keduanya berbeda. "Valen tidak protes saat liontin ini sudah tersentuh. Dia cerewet harusnya protes saat lautan berubah, saat melihat Hanum dan Dito." Dengan bisikan Dean terus berbicara. "Lo sebenernya dapet kalung itu dari mana?" tanya Mahesa. "Gue tabrakan sama salah satu awak kapal, ini makanya gue marah banget saat liat kalung yang sama dan Lo pake. Ini amanah yang mau gue kembalikan kepada pemiliknya. Lo sendiri?" Mahesa mengingat Kakek Zumi, kakek tua yang memberikan kalung itu untuk keselamatan dan keberuntungan. Siapa sangka bukan hanya keselamatan yang Mahesa dapatkan melainkan penglihatan penglihatan di luar nalar manusia. "Tetangga gue waktu di indekos. Macam sesepuh gitu, gue pamit pulang kampung dan dibekelin kalung ini, katanya buat keselamatan dan keberuntungan. Jujur gue gak percaya sama yang namanya mitos. Gue pake buat ngehargain beliau aja. Gak tahunya malah begini." Mahesa tiba tiba terkenang dengan kebaikan Kakek Zumi, dengan segala hal yang selalu dia berikan. Selalu mendoakan dan mendukung Mahesa meski dirinya hanyalah seorang perantau. "Lo nyangka gak sih bisa ketemu sama penduduk di sini?" tanya Dean. Mahesa yang sedang menyandarkan tubuhnya ke dinding papan hanya melirik Dean sekilas. "Gue dengar suara suara bising tiap malam itu, dan gue yakin dengan tempat ini. Jadi bukan kejutan kalau ada orang di sini." "Meski orangnya aneh?" bisik Dean. Mahesa mengangguk. "Siapa yang aneh?" tanya Margareta, rupanya bisikan Dean masih bisa terdengar. "Dia," kilah Mahesa, nunjuk Dean tepat di depan wajahnya. "Aneh kenapa emang?" tanya Margareta dengan nada bicara yang menyiratkan bahwa dia penasaran. "Lupain aja, ini urusan laki-laki." Dean terus berusaha menutupi apa yang dia bicarakan dengan Mahesa. Kalaupun dua orang itu harus tahu, mungkin nanti saat semua sudah terbukti. Seorang perempuan kisaran usia awal dua puluhan membawa kain tradisional dan juga pakaian untuk dikenakan Mahesa dan kawan kawannya. "Kamar mandi di pondok sebelah sana. Jangan mandi petang. Leluhur bisa marah. Jangan pula berbuat hal hal melanggar norma. Itu pesan ketua adat kami." Perempuan itu melirik Margareta. Margareta terlihat tidak sabar, entah pakaian apa yang digunakan oleh orang orang di perkampungan ini, dan entah ada di wilayah mana pula perkampungan ini berada. Yang pasti, semua penduduknya tidak ada yang memakai ponsel dan perangkat elektronik lainnya. Bagaimana caranya mereka bisa pulang kalau begitu keadaannya. Tidak sampai satu jam, semua sudah selesai mandi. Meski pakaian yang digunakan tampak begitu kuno, itu lebih baik daripada memakai pakaian yang sudah melekat di tubuhnya berhari-hari. Matahari perlahan menghilang dari pandangan, cahaya kemerahan masih mengambang di langit dan perlahan memudar. Berganti cahaya kemerahan yang sama megahnya berasal dari rumah rumah tradisional. Aktivitas yang sejak siang tidak terlihat sama sekali mulai menggeliat. Anak anak kecil tanpa tanpa atasan berlarian penuh dengan keceriaan. Gadis gadis dengan rambut berkepang berkumpul di beberapa titik. Semua tampak begitu normal. Api unggun raksasa di tengah lapangan kosong menerbangkan percik bara ke udara. Dean merasa penuh, jemarinya gatal ingin menari diatas keyboard. Mengawinkan huruf demi huruf menjadi serangkaian kata yang menceritakan perjalanan serta peristiwa tidak terduga ini. Entah mereka di mana, di suku mana, dan bangsa apa. Dean tidak peduli itu, yang pasti malam ini, dia menikmati semalam menjadi tamu kehormatan yang disambut sebegitu meriahnya. Selain api unggun raksasa, tempat itu dibanjiri banyak makanan lezat. Minuman minuman dalam labu botol kering berjejer siap dihidangkan. Para penduduk mengistimewakan kedatangan Mahesa dan yang lain di sini. Itu bisa dilihat dari labu botol mereka yang bentuk dan rupanya sama persis dengan labu botol milik kepala desa. Di puncak acara penyambutan, api unggun sengaja diredupkan, orang yang dituakan di sana membaca mantra mantra dengan suara lantang yang mengerikan. Melengking bersahutan dengan angin yang tiba-tiba datang ikut berpesta. Dean tidak tahan dengan suaranya, dia rasa penasarannya sudah berada di puncak ubun ubun. Disentuhnya Segara Biru yang segaja dikaitkan di balik kain yang menutupi setengah tubuhnya. Ekspresi lelaki itu berubah pias, bola matanya bergerak ke kiri dan ke kanan. Keringat sebesar biji jagung membasahi pelipisnya. Yang aneh, Dean tidak melihat ekspresi ketakutan dari wajah Mahesa. Lelaki itu sama seperti Margareta dan Valen yang menikmati pesta. "Mahesa," panggil Dean. "Mahesa!" Leher Dean tercekat, riuhnya pesta mengerikan ini membuat suaranya samar terbawa angin, sampai sampai Mahesa tidak mendengarkan panggilannya. Mahesa melepas kalungnya, Dean tidak melihat dia memakai itu. Lehernya polos tidak tertutup pakaian dan tidak ada kalung Segara Biru di sana. Bayang bayang tumbal dan Ilmu hitam muncul di benak Dean. Potongan potongan khayalan dalam dirinya mencuat dari alam bawah sadarnya. Sebentar lagi mereka akan ditumbalkan, sebentar lagi mereka akan dijadikan syarat mutlak untuk memperdalam ilmu hitam dari orang orang yang mengelilingi mereka. Dean bersimpuh, terlalu lemas untuk melihat semuanya sendirian. Rasa takutnya sudah lebih besar dadi tubuhnya sendiri, bahkan lebih besar dari kapal Feri yang dia tumpangi kemarin lalu. Detik demi detik yang tersisa, laksana neraka dunia yang penuh dengan siksa. Sekuat apa pun laki-laki itu berpura-pura tidak melihat, kekuatan lain dan energi magis di sekitarnya malah semakin kuat. Malam ini, Dean menyakini satu hal, bahwa tidak akan ada lagi perjalanan perjalanan setelah hari ini. Dia akan tutup bukunya, dia berjanji akan menjadi anak yang baik dan penurut. Mewujudkan keinginan kedua orangtuanya untuk melanjutkan pendidikannya yang sempat terputus karena drop out dari universitas. Mahesa melirik Dean sekilas, dia tertawa dan melambaikan tangan memberi kode agar lelaki itu mendekat. Dean terpaku tidak bisa melangkah dan bergerak maju, dia hanya mampu merasakan hangatnya pasir yang dipijak.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD