“Ada aliran dana masuk ke perusahaan, Bu. Sumbernya dari Syailendra.”
Oka berusaha bicara dengan hati-hati. Ekspresi Mira berubah drastis sejak kemarin. Dan jika tebakan Oka benar, maka penyebab mata sembab perempuan itu sudah jelas adalah karena Danu.
Oka menyerahkan berkas mengenai informasi dana tersebut.
“Dana ini sudah lebih dari cukup, dari target yang kita canangkan dari mencari investor, Bu.”
Bagi orang lain, itu mungkin terlihat seperti suntikan dana segar untuk perasaannya. Akan tetapi bagi Mira itu seperti tali pengekang dari Ananta. Tanda bahwa lelaki itu masih memiliki segala yang Mira butuhkan agar perusahaan ini bertahan. Tepatnya, bahwa Ananta masih berkuasa atas Mira.
Mira kemudian menyerahkan kembali berkas yang sudah dibacanya. Ia menatap Oka.
“Kalau begitu kita bisa berhenti mencari investor, kan?” tanya Mira.
Oka cukup terkejut. Ini bukan seperti Mira yang biasanya. Akan tetapi ia memilih mengangguk.
“Fokus saja pada apa yang bisa kita kelola, Oka. Kalau butuh dana lagi, aku akan bicara pada Ananta.”
Oka menganggukkan kepalanya. Lelaki itu kemudian permisi dari ruangan Mira. Begitu hanya tersisa Mira di ruangan itu, ia segera merogoh tasnya. Tangannya kemudian tidak sengaja menyentuh sesuatu dalam tas. Ia langsung mengeluarkannya dari sana. Kotak bekal. Mira pun mengangkat sudut bibirnya, tersenyum sinis. Ia yakin pasti Ananta yang diam-diam memasukkannya ke dalam tas Mira.
Laki-laki itu tadi sudah tidak ada di rumah saat Mira bangun. Jadi ia yakin Ananta menyiapkannya pagi-pagi sekali.
Mira lantas memilih membuka pesan Ananta yang sengaja tidak dibacanya sejak tadi. Benar saja. Lelaki itu sudah menyiapkannya agar Mira tidak melewatkan sarapan.
Mira tidak membalas pesan itu. Ia memeriksa jadwalnya untuk hari ini. Semua dokumen persetujuan sudah ditandatangani. Tidak ada jadwal. Itu artinya Mira bisa pergi kemana pun. Ia kemarin sudah mengunjungi ibunya. Maka sekarang, adalah saat yang paling tepat untuk berkunjung ke dunianya Ananta.
Ia mengambil kotak bekal itu dan membukanya. Hanya untuk melihatnya saja sekilas. Dan kemudian kotak bekal itu berakhir di tempat sampah. Kotak bekal plastik yang memang hanya satu kali pakai.
***
“Aku dengar kamu mengurangi jumlah bimbingan. Kenapa?” tanya Sarah.
Ananta banyak menerima dokter koas untuk dibimbing begitu ibunya meninggal. Alasannya sederhana saja. Itu bentuk pelarian. Rupanya itu menjadi kebiasaan selama setahun terakhir. Berkat ia terlalu sibuk, maka tidak ada yang bisa ia lakukan selain membiarkan Mira tinggal di tempat berbeda. Dirinya hanya memantau perempuan itu sesekali. Enam bulan kemarin adalah buah dari semua keputusan impulsif yang Ananta ambil saat beberapa waktu setelah ibunya meninggal. Puncak sibuk-sibuknya.
“Ingin menambah jam istirahat,” sahut Ananta.
Sarah pun hanya tersenyum.
“Benar juga. Dokter Ananta si paling sibuk akhir-akhir ini. Bagus kalau begitu. Kau juga harus memprioritaskan kesehatanmu.”
Ananta tidak merespon karena ia masih menikmati makanannya.
“Enak?” tanya Sarah.
Ananta mengangguk. Respon itu sudah cukup untuk membuat hati Sarah berbunga-bunga. Ia bangun lebih pagi untuk memasak ini. Cukup khawatir kalau rasanya akan berubah saat siang hari karena sudah berjam-jam semenjak dimasak. Akan tetapi ternyata masih aman dimakan. Buktinya Ananta hampir menghabiskannya.
“Kenapa tidak makan?” tanya Ananta saat menyadari Sarah tidak kunjung makan siang.
Sarah pun kemudian terkekeh.
“Aku terpaku menatapmu makan. Sepertinya kelaparan sekali,” ucap Sarah.
Ananta pun kembali menyuapkan makanannya ke mulut. Ia memang sedang lapar-laparnya saat Sarah datang membawakan makanan.
“Makanlah. Apa kata pasienmu nanti kalau dokter yang memeriksa mereka keroncongan dan lemas.”
Sarah pun tersenyum.
“Iya ini aku makan, Ananta.”
***
Mira baru saja selesai bicara dengan Oka via telepon. Ada informasi yang baru Oka dapatkan terkait meeting besok. Jadi langsung diberitahu kepada Mira via telepon. Berkat itu Mira terpaksa berhenti di koridor rumah sakit. Ia baru saja hendak melanjutkan langkahnya dan mengejar seorang perawat untuk menanyakan letak ruangan Ananta. Ia tidak sehafal itu apalagi ini baru kali keduanya kemarinya. Sama seperti saat Mira berkunjung beberapa waktu lalu kemari, ia tetap membutuhkan arahan dari suster.
“Dokter Sarah ada di ruangan Dokter Ananta. Mereka makan siang seperti biasa. Menurutmu hubungan mereka bagaimana?”
Mira langsung memilih masuk ke toilet perempuan saat mendengar suster yang melangkah ke koridor.
“Stt. Jaga ucapan. Emangnya kamu nggak dengar gosip dari acara ulang tahun Dokter Wita? Dokter Ananta ajak istrinya kesana. Itu artinya mereka tidak jadi cerai.”
Siapa sangka suster itu ternyata justru juga masuk ke toilet. Mira yang sudah berada di bilik pun memilih mendengarkan dengan seksama.
“Tapi gosipnya kan sudah menyebar luas. Kalau pernikahan mereka itu demi ibunya Dokter Ananta saja. Satu rumah sakit juga tahu sedekat apa Dokter Sarah dan Dokter Ananta dari dulu. Mungkin hanya tinggal menunggu waktu saja sampai mereka bercerai.”
“Siapa tahu gosipnya tidak benar.”
“Kamu tahu kalau gosip adalah fakta yang tertunda. Lagi pula kalau Dokter Ananta secinta itu dengan istrinya, tidak mungkin sering bersama Dokter Sarah. Semua juga tahu kalau Dokter Ananta tertarik dengan Dokter Sarah.”
Keduanya semakin memperkecil volume suara mereka. Membuat Mira kesulitan mendengarkan. Akan tetapi sepertinya seolah Mira memiliki skill itu, ia masih bisa menangkap sayup-sayup apa yang mereka bicarakan.
“Rumah sakit juga terbagi jadi dua kubu. Pendukung Dokter Sarah dan istri sah. Kebanyakan lebih suka dengan Dokter Sarah. Dokter baik hati dan ramah. Ada suster yang pernah melihat istrinya Dokter Ananta waktu datang kemari. Katanya dia ketus. Melenggang begitu saja dengan ekspresi wajah menyebalkan.”
“Tapi karena Dokter Ananta sudah menikah. Bukannya itu termasuk perselingkuhan ya? Orang waras mana yang mendukung perselingkuhan di rumah sakit?”
“Bukan selingkuh. Dokter Ananta sih katanya menganggap teman saja. Dokter Ananta itu baik ke banyak orang. Tapi sikap ke Dokter Sarah seperti spesial. Lagian aku heran, kenapa tidak segera menikahi Dokter Sarah saja ya?”
“Sudah. Ayo cepat. Kita jadi kebablasan ngobrol begini.”
Suara langkah kaki itu terdengar menjauh dan Mira bisa merasakan bahwa hanya dirinya yang kini berada di toilet. Ia keluar dari bilik itu, tempatnya bersembunyi. Mira kemudian memilih untuk mencuci tangannya di wastafel. Sambil memikirkan informasi yang ia dengar tadi.
“Tempat ini, menarik.”
Mira tidak tahu kalau seharusnya ia lebih sering datang kesini supaya bisa mendapatkan informasi mengenai Ananta. Siapa tadi nama perempuan itu, Dokter Sarah? Mira harus tahu banyak mengenai perempuan itu dan kenapa Ananta tidak menikahinya saja. Dan siapa tahu saja perempuan itu adalah kelemahan Ananta.
“Kau benar, Ananta. Aku mulai tertarik dengan duniamu ini,” gumam Mira sambil menatap pantulan wajahnya di cermin wastafel.