Lelaki itu berdiri disana, terdiam, dan hanya menatap Mira.
“Tolong tinggalkan kami,” pinta Danu kemudian.
Oka yang mematung di tempatnya karena terkejut sejak Danu datang pun hanya mengikuti instruksi. Memberikan waktu kepada dua orang itu untuk bicara. Karena yang ada di ruangan ini tahu seperti apa hubungan keduanya.
Segera setelah hanya tersisa mereka berdua di ruangan itu, Danu melangkah mendekat.
“Lama tidak bertemu, Mira. Aku merindukanmu.”
Lelaki itu terus melangkah sementara Mira masih terdiam di tempatnya.
“Berhenti,” ucap Mira.
Danu pun menghentikan langkahnya. Jarak mereka belum sedekat itu.
“Maaf tapi anggap saja hari ini tidak terjadi, juga tawaran investasi itu. Aku anggap tidak ada.”
Mira membereskan barangnya. Oka pasti juga tidak tahu kalau Danu yang akan datang. Siapa sangka lelaki itu dibalik semua ini.
“Aku ingin membantumu, Mira.”
Ketegangan di ruangan itu terasa nyata. Mereka sudah tidak bertemu selama dua tahun. Akan tetapi rasa sakit hati itu masih ada di benak Mira. Lukanya seolah baru kemarin.
Mira mengangkat tas kerjanya dan menatap lelaki itu dengan tajam. Matanya berkaca-kaca. Bahkan kerongkongannya sekarang terasa sakit karena ia sedang menahan agar air matanya tidak jatuh. Tidak akan lagi ia biarkan satu tetes pun terjatuh untuk lelaki itu.
“Seharusnya itu kau lakukan dua tahun lalu. Sekarang sudah terlambat, tidak ada gunanya.”
Mira pun melangkah melewati Danu, hendak meninggalkan ruangan ini. Akan tetapi lelaki itu menarik tangannya. Membuat langkah Mira terhenti dan saat itu juga Mira langsung berusaha agar lepas dari cengkraman lelaki itu.
“Aku masih mencintaimu. Sangat mencintaimu,” ucap lelaki itu dengan sorot mata penuh kesedihan.
***
Ananta duduk di kursinya dan kemudian membuka laci. Mengeluarkan ponsel dari sana. Ia kemudian mengernyitkan keningnya saat melihat sebuah pesan dari anak buahnya. Sorot matanya berubah tajam begitu membaca isi pesan itu. Mira bertemu dengan mantan tunangannya.
Tanpa menunggu, Ananta langsung menelpon ke anak buahnya itu. Menanyakan lebih detail.
“Danu sudah kembali ke Indonesia?” tanya Ananta to the point.
“Berdasarkan informasi yang saya peroleh, iya Pak. Beliau tiba pagi ini dan langsung menemui Bu Mira.’
Ananta kemudian terkekeh.
“Baik terima kasih.”
Ananta langsung mematikan sambungan telepon. Dirinya lantas langsung menelpon kontak Mira. Ponselnya tidak aktif. Ananta kemudian terkekeh. Menertawakan dirinya sendiri. Perempuan itu, apa Ananta selama sudah terlampau baik padanya?
***
Mira kembali saat jam makan malam. Ananta ternyata sudah di rumah. Lelaki itu sedang menyantap makan malamnya.
“Kenapa baru pulang?” tanya Ananta.
Itu pertanyaan yang aneh. Lelaki itu selama ini tidak pernah mempertanyakan hal seperti itu.
“Karena urusanku baru selesai,” sahut Mira.
Ia tidak nafsu makan. Juga tidak berminat untuk menghabiskan waktu bersama Ananta sekarang. Jadi dirinya melenggang begitu saja melintasi ruang makan. Hendak menuju kamarnya.
“Urusan dengan mantan tunangannmu?”
Ucapan Ananta itu berhasil membuat langkah kaki Mira terhenti. Ananta tahu. Lelaki itu memang selalu bisa mendapatkan informasi. Tidak heran. Meski sebenarnya Mira terganggu dengan fakta itu. Bahwa Ananta bisa dengan mudah mendapatkan informasi apapun yang diinginkannya.
Ananta bangkit dari duduknya dan kemudian menghampiri Mira.
“Tidak membantah?” tanya Ananta.
“Kau sudah tahu. Tidak ada yang perlu dibantah.”
Tangan Mira tiba-tiba dicekal. Ananta kemudian menatapnya tajam.
“Kau. Benar-benar tidak punya harga diri ya?” tanya Ananta.
Emosi Mira jadi ikut tersulut. Dirinya sudah cukup lelah menjalani hari ini. Pertemuan dengan Danu benar-benar membuat perasaannya kembali berantakan. Lalu sekarang ia juga harus berdebat lagi dengan Ananta. Bahkan meski terbiasa mendengar semua ucapan menyakitkan lelaki itu, untuk kali ini hatinya seolah sedang rapuh jadi tetap merasa terluka.
“Terserah apapun yang ingin kau katakan,” ucap Mira pasrah. Tatapan Ananta itu sudah jelas mencemoohnya.
Mira berusaha melepaskan cengkraman tangan Ananta tersebut. Cengkraman di tangan kirinya terasa begitu kuat.
“Beraninya kau menemui dia, Mira. Apa kau lupa kalau kau sudah jadi istriku?”
Mira masih berusaha untuk melepaskan tangannya dari cengkraman Ananta.
“Kau tidak ingat apa yang pengecut itu lakukan padamu?” tanya Ananta.
Ucapan itu berhasil membuat Mira langsung diam. Ia pun menatap Ananta.
“Si bodoh itu bahkan tidak bisa memperjuangkanmu di depan keluarganya. Dan sekarang kau bisa-bisanya masih menemui dia?”
Mata Mira berkaca-kaca. Beraninya Ananta mengungkit masalah itu. Hati Mira terasa semakin saat karena mendengar langsung pembahasan mengenai masa lalunya.
Ia dan Danu saling cinta dulu. Bahkan mereka sudah sepakat akan menikah. Mereka sudah bertunangan. Lalu saat bencana besar itu datang, Danu yang Mira harap menjadi penyelamatnya, justru menelantarkan ia begitu saja. Hubungan mereka berakhir karena keluarga Danu berubah pikiran. Tidak setuju menjadikan Mira sebagai menantu karena dianggap sudah tidak setara. Menyebut Mira tidak pantas untuk Danu. Hanya karena saat itu perusahaannya nyaris bangkrut.
“Ah iya. Kudengar dia ingin jadi investormu, Mira. Mungkin ini bukan reuni pasangan yang saling mencintai dan terpisah karena keadaan. Mungkin dia menawarkan uang yang banyak padamu. Aku tahu akan mudah berpaling jika soal uang, Mira. Berapa yang dia tawarkan?”
Sorot mata Mira itu menajam.
“Katakan. Berapa yang dia tawarkan untuk membelimu?”
Tamparan itu akhirnya mengenai pipi Ananta. Lelaki itu lantas menyentuh pipinya yang kini memerah karena ditampar. Ia terkekeh kemudian menatap Mira. Tawa yang dingin dengan sorot mata yang tajam.
“Apa dia alasanmu menjadi begitu arogan dan menuntut perceraian dariku?” tanya Ananta kemudian.
Semua terasa masuk akal sekarang. Mira terlalu berani untuk ukuran yang tidak memiliki apapun. Meminta bercerai dari Ananta tentu sebuah kebodohan.
Ananta pun mendekatkan tubuhnya begitu ia menyadari sesuatu.
“Kau … apa selama ini kau bermain dengannya di belakangku, Mira?”
Asumsinya itu, terasa sangat masuk akal. Karena pada dasarnya Ananta tidak mengawasi Mira selama ini. Hanya baru-baru ini saja. Karena ia tahu bahwa Mira tidak memiliki pilihan lain. Bahkan saat perempuan itu meminta bercerai. Ananta cukup percaya diri karena hanya padalahnya Mira dapat bergantung.
“Jawab,” pinta Ananta dengan suara dingin.
“Kau benar-benar bodoh, Ananta.”
Hanya itu yang Mira katakan. Ia menarik sekuat tenaga tangannya dan kemudian melangkah memasuki kamar. Sementara Ananta hanya diam dan menatap punggung perempuan itu menjauh. Saat Mira membanting pintu kala menutup pintu kamarnya itu, Ananta pun mengepalkan tangannya.
Ia langsung menuju meja makan untuk mengambil ponselnya. Ananta menelpon.
“Cari tahu apa saja yang Mira dan Danu lakukan selama ini. Apakah mereka berhubungan diam-diam atau apapun. Informasinya harus sudah kuterima besok pagi saat aku terbangun,” ucap Ananta menggebu-gebu kepada anak buahnya.