“Semalam, aku dengar suara mobil Sheira pergi tengah malam,” ucap Gisel.
“Kerjaannya banyak, makanya sampai larut malam begitu baru dia pulang,” sahut Dimas. “Seandainya kemarin aku nggak pulang sore, mungkin dia nggak akan pulang tengah malam,” sambungnya.
“Segenting itu kah pekerjaannya?” tanya Gisel lagi.
Dimas yang tadinya sedang menyantap sarapannya, ia meletakkan sendok dan garpunya ke atas piring. Pertanyaan itu, jelas membuat dirinya kesal.
“Kamu yang masih kuliah saja, pasti ada masanya mengerjakan tugas sampai larut malam. Apalagi kami yang pekerja dengan segala tuntutan ini,” ucap Dimas dengan penuh penekanan. “Dan juga, kami sedang mengerjakan permasalahan Papa kamu yang nggak ada habisnya itu!”
Kemudian, Dimas langsung pergi dari rumah itu – meninggalkan Gisel yang kembali merasa bersalah. Namun, ada sedikit rasa cemburu juga. Karena, Gisel pikir, Dimas terlalu banyak menghabiskan waktu dengan Sheira dibandingkan dengan dirinya.
***
Sheira yang baru selesai rapat, ia bergegas pergi ke ruang kerja Dimas atas informasi Livia yang menyuruhnya untuk menghadap lelaki itu setelah rapat selesai.
Sheira mendapati Dimas sedang berdiri di dekat jendela kaca sembari melamun. Perlahan, ia pun mendekati lelaki itu dan memeluknya. “Kenapa kusut begini wajahnya?” tanyanya.
Dimas membalas pelukan Sheira, lantas menjawab, “Saya benar-benar sangat lelah menghadapi sikap Gisel yang semakin seperti anak-anak itu, Shei. Saya rasa, saya nggak sanggup lagi hadapinya.”
“Kalau Pak Dimas menceraikan Bu Gisel, maka Bapak akan kehilangan semuanya. Itu perjanjian yang sudah Bapak sepakati sebelumnya,” ucap Sheira menyadarkan.
“Sepertinya, akan lebih baik kalau saya kehilangan semua ini. Daripada saya harus kehilangan kewarasan saya, Shei,” sahut Dimas.
Sheira memikirkan cara, supaya Dimas memikirkan kembali tentang rencananya yang ingin berpisah dari Gisel. Sebab, Sheira pikir, jika Dimas benar-benar akan bercerai dengan Gisel – ia akan kehilangan pekerjaan dan kedudukannya saat ini.
“Bagaimana kalau aku bantuin Bapak cari cara. Tanpa harus melepaskan perusahaan ini dan permasalahan Bapak dengan Ibu Gisel teratasi,” ucap Sheira.
“Kalau sudah sifat, susah ditangani, Shei,” sahut Dimas.
Sheira menggeleng, lantas berkata, “Kalau nggak dicoba, kita nggak akan tahu hasilnya.”
***
Pukul 3 sore.
Sheira dikejutkan dengan pesan yang masuk dari Gisel – yang mengajaknya untuk berjumpa sebentar di kafe yang terletak di seberang gedung kantor Dimas.
Sheira tak berpikir panjang untuk mencari alasan supaya bisa menemui Gisel.
“Kak, kalau Pak Dimas cariin aku, bilang aja kalau aku beli kopi di kafe seberang, ya,” ucap Sheira kepada Livia sebelum pergi.
“Belum juga aku setujui, hey!” ucap Livia.
Meskipun mendengar ucapan Livia, Sheira tetap melenggang pergi.
Setibanya di kafe, Sheira sudah melihat adanya Gisel di sana. Ia pun langsung duduk di hadap istri Dimas itu.
“To the point ya, Bu. Soalnya aku masih ada kerjaan,” ucap Sheira.
“Saya mau minta tolong sama kamu, Shei. Kamu yang sebagai sekretarisnya, seharusnya bisa mengatur jadwal Dimas, supaya dia nggak terlalu banyak menghabiskan waktu di kantor,” pinta Gisel.
“Soal itu, aku dan Kak Livia sudah berusaha, Bu. Tapi, semenjak Pak Gian – orangtua Bu Gisel, meminta bantuan kepada perusahaan Pak Dimas, kami selalu berusaha maksimal supaya nggak kerja lembur,” ungkap Sheira.
“Kalau masalahnya ada di Papa saya, saya akan bicarakan dengan beliau. Tapi, kalau setelah ini Dimas masih pulang malam, apa yang akan kamu lakukan?” tanya Gisel.
“Sebelum menikah dengan Pak Dimas, apa Bu Gisel tahu tentang Pak Dimas?” tanya Sheira kembali.
Gisel terdiam atas pertanyaan itu, bahkan keningnya sampai berkernyit.
“Pak Dimas nggak akan mau meninggalkan pekerjaannya selagi beliau merasa masih bisa mengerjakan saat itu juga,” ungkap Sheira. “Kalau Ibu tidak percaya dengan saya, coba tanyakan sama orangtuanya. Apa dulu Pak Dimas sering pulang larut malam atau tidak,” sambungnya.
“Dulu beda dengan sekarang, Shei. Dulu, Dimas masih sendiri. Sekarang, dia punya saya yang harus dia tanggung jawabi,” sahut Gisel.
“Kalau Pak Dimas nggak bertanggung jawab dengan Ibu. Mungkin, Pak Dimas nggak akan pulang cepat kemarin – sampai suruh saya membawa pekerjaan ke rumah kalian hingga larut malam,” sahut Sheira. “Di dunia ini, Ibu nggak hidup sendirian, jadi jangan egois, Bu.”
Setelah mengatakan itu, Sheira beranjak. Namun, baru saja ia hendak mengambil langkah, seorang pria yang tiba-tiba berdiri di sampingnya – membuat dirinya menabrak pria itu.
“Maaf-maaf!” sesal Sheira tanpa melihat siapa yang telah ia tabrak.
“Dimas?!” kaget Gisel.
Mendengar nama yang disebut Gisel, Sheira langsung menaikkan pandangannya, melihat apakah itu benar Dimas sang Boss besarnya.
“Mana gue nggak laporan kalau mau jumpa sama Bu Gisel,” Sheira membatin.
“Aku dengar kok obrolan kalian,” ucap Dimas kepada Gisel. “Nanti malam, kita ke rumah Mama, ya,” sambungnya.
Kemudian, Dimas menarik Sheira pergi dari sana.
Gisel hanya bisa menatap kepergian 2 orang itu. 2 orang yang semalam ia lihat b******u di rumahnya. 2 orang yang akhir-akhir ini membuat dirinya gelisah hingga cemburu.
Dimas menarik tangan Sheira hingga mereka berdua tiba di lift.
“Kenapa nggak bilang kalau mau jumpa sama Gisel?” tanya Dimas.
“Bu Gisel mendadak ajak jumpa. Sekalian juga, aku mau kasih paham ke istrimu itu. Kalau dunia kamu, bukan hanya dia,” sahut Sheira.
“Setelah selesai kerja, kamu ikut dengan saya ke rumah Mama saya,” ucap Dimas.
Sheira terkejut, karena ia pikir, hanya Gisel yang akan dibawa ke sana.
“Pak...”
“Gisel sudah ganggu pekerjaan kamu, Shei. Dia juga sudah mengintrogasi kamu – seolah kamu harus bertanggung jawab penuh atas waktu kerja saya,” potong Dimas.
Sheira tak bisa berkutik lagi.
“Seandainya tadi gue tolak ajakan Bu Gisel untuk jumpa. Gue nggak akan ada di posisi rumit begini,” Sheira membatin.
Melihat Sheira yang melamun, Livia pun menyadarkannya.
“Kenapa, Shei?” tanya Livia.
“Aku heran, Kak. Kenapa Pak Dimas bisa tahu kalau tadi aku jumpa sama Bu Gisel,” ungkap Sheira.
“Jadi, tadi kamu jumpa sama Bu Gisel?” kaget Livia.
“Beliau yang tiba-tiba chat aku ajak ketemu, dan langsung bilang kalau beliau sudah ada di kafe seberang. Ya, aku samperin lah,” sahut Sheira.