“Pak...sepertinya aku nggak bisa ikut ke rumah orangtua Pak Dimas nanti malam,” ucap Sheira sesaat setelah ia meletakkan sebuah dokumen di atas meja kerja Dimas.
Dimas yang semula fokus dengan layar komputernya. Kini, tatapan lelaki itu beralih pada Sheira yang berdiri di depan mejanya. “Kenapa lagi?” tanyanya.
“Pak marko baru saja kirimi saya pesan. Suruh saya segera membuat laporan tentang resort Bapak yang ada di Bali. Sedangkan, proyek itu ada sedikit problem,” ungkap Sheira.
“Kenapa Papa nggak bilang langsung ke saya?” heran Dimas.
Takut jika Dimas tak percaya padanya, Sheira pun menunjukkan isi pesan dari Papanya Dimas kepada dirinya itu.
“Besok, Pak Marko akan ke sini untuk membicarakan proyek ini,” ungkap Sheira lagi.
“Benar!” seru Dimas. Yang membuat Sheira terperanjat kaget mendengarnya.
“Ada apa, Pak?” tanya Sheira penasaran.
“Sekalian saja, besok saya akan mengadukan tentang Gisel kepada Papa saya,” ucap Dimas dengan seringai tajamnya.
“Pak...saran saya, jangan dulu campurkan urusan pekerjaan dengan rumah tangga Bapak,” sahut Sheira. “Karena saya sudah cukup pusing dengan semua ini wahai Bapak Dimas yang terhormat,” batinnya.
***
Pukul 9 malam. Dimas menelfon ke nomor Gisel.
“Kamu nggak pulang lagi, Dim?”
“Kan sudah kubilang, kalau aku lembur. Makanya ke rumah Mama pun aku tunda.”
“Terus, kenapa kamu nelfon?”
“Iya. Aku nggak pulang malam ini. Tidur di kantor!”
Setelah mengatakan itu. Dimas langsung mematikan sambungan telfonnya. Kemudian, Dimas juga mematikan ponselnya agar Gisel tak lagi bisa menelfonnya.
Di hadapan lelaki itu, ada Sheira yang tengah menggeleng-gelengkan kepalanya – tanda bahwa ia sampai tak habis pikir dengan sepasang suami-istri yang tak pernah akur itu.
“Ayok pulang, Baby,” ajak Dimas seraya tersenyum genit kepada wanita itu.
***
Sheira tiba di kantor lebih lambat dibandingkan dengan Dimas. Karena, Dimas ada rapat pagi ketika Sheira masih belum mandi tadi pagi.
Sialnya...pagi ini Sheira malah berjumpa dengan Bayu, mantan kekasihnya dulu.
“Akhirnya kamu datang juga, Shei,” ucap Bayu senang.
“Kenapa?” tanya Sheira ketus.
“Aku mau ngomongin sesuatu sama kamu,” ucap Bayu.
“Kalau lo mau omongin soal hubungan kita. Gue nggak ada waktu!” sahut Sheira.
“Aku mohon, Shei. Beri aku kesempatan untuk memperbaiki hubungan kita lagi,” pinta Bayu.
Sheira tertawa geli mendengar permintaan itu yang keluar dari mulut Bayu. Kemudian, ia bertanya, “Bay! Lo ingat nggak kalau dulu lo yang mutusin gue? Lo yang bikin gue merasa dibuang tanpa alasan? Dan lo juga yang ternyata selingkuhin gue, ‘kan? Lalu, kenapa sekarang malah lo yang ngemis-ngemis ke gue?”
Bayu berusaha meraih tangan Sheira. Namun, berhasil ditepis oleh wanita itu.
“Shei...aku mohon banget sama kamu. Kasih aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya,” pinta Bayu lagi.
Sheira benar-benar sudah muak mendengar hal itu pagi ini. Ia pun memilih untuk pergi dari hadapan Bayu.
“Pak, tolong usir orang itu ya. Sangat mengganggu kenyamanan saya,” ucap Sheira pada seorang satpam yang berjaga di pintu masuk kantor.
“Baik, Bu. Akan saya laksanakan,” jawab satpam itu.
“Terima kasih banyak, Pak,” ucap Sheira.
Kemudian, Sheira pun melenggang masuk ke dalam kantor.
“Mood gue dihancurin habis-habisan sama Bayu pagi ini, sial!” umpat Sheira di batinnya.
Baru saja Sheira meletakkan secangkir kopi panas di atas mejanya sebelum dirinya duduk. Dimas sudah lebih dahulu mengambil cangkir itu dan menyeruputnya
“Pak...” lirih Sheira.
“Perut kamu sedang bermasalah. Jangan kamu tambahin,” ucap Dimas. Kemudian, ia membawa kopi itu ke dalam ruang kerjanya.
“Entah dari mana munculnya orang satu itu,” gerutu Sheira.
“Perut kamu kenapa, Shei?” tanya Livia yang juga baru saja duduk di samping Sheira.
Sebab, baru saja Livia selesai menemani Dimas untuk menghadiri rapat pertamanya hari ini.
“Kayaknya mau haid,” jawab Sheira apa adanya.
“Kenapa Pak Dimas sampai tahu?” tanya Livia lagi.
“Sakitnya dari semalam. Kakak tahu sendiri kalau semalam aku lembur,” jawab Sheira lagi.
“Tadi, aku juga baru dikasih tahu sama Pak Dimas, kalau Pak Marko desak kamu untuk pantau pembangunan resort yang di Bali. Katanya...biar pengerjaannya nggak molor terus,” ucap Livia.
“Itulah yang bikin aku stress beberapa hari ini. Udah anaknya bikin aku stress, menantunya, sekarang Papanya juga,” sahut Sheira.
“Kalau kamu benar-benar akan memantau pembangunan di sana, berarti kamu akan ke sana, Shei?” tanya Livia lagi.
“Itulah, Kak. Kalau aku ke sana, otomatis Kakak akan sendirian di sini. Sedangkan berdua aja, sudah kayak dikejar kuyang kita kerjanya,” sahut Sheira.
Livia tertawa geli ketika mendengar hal itu, kemudian ia berkata, “Kamu tenang saja. Aku sudah punya orang yang kemarin sempat kita bahas sama Pak Dimas. Senin dia mulai kerja.”
“Syukurlah kalau begitu.”
***
Di tengah rumitnya pekerjaan Sheira dan Livia siang ini, mereka dikejutkan dengan kedatangan orangtua serta adiknya Dimas.
Yang mana, sebelumnya mereka kira hanya Pak Marko – selaku Papanya Dimas saja yang akan datang ke kantor siang ini.
“Apa kabar, Shei?” tanya Netta, Mamanya Dimas. Yang langsung menyapa Sheira dengan ramah.
“Kabar baik, Bu,” jawab Sheira sembari tersenyum ramah kepada Netta. “Bu Netta sekeluarga apa kabar?” tanyanya kembali.
“Kami semua sehat, Shei,” jawab Netta. Tanpa menyudahi senyumannya.
“Kenapa Kakak jarang sekali sekarang ke rumah?” tanya Della. Adik perempuan Dimas yang terpaut usia 10 tahun dengannya.
“Pekerjaan aku lagi banyak akhir-akhir ini, Del,” jawab Sheira.
“Mari, Pak, Bu. Masuk ke ruangan Pak Dimas sekarang,” ajak Livia.
“Aku mau jajan dulu sama Kak Sheira,” rengek Della.
“Yasudah. Kami tunggu di ruangan Abangmu ya,” ucap Marko kepada anak gadisnya itu.
“Siap, Papa!” jawab Della.
Della pun langsung menggandeng tangan Sheira, lalu menariknya untuk pergi dari sana.
“Semalam Abang chat aku loh,” ungkap Della.
“Pasti curhat tentang Bu Gisel,” tebak Sheira.
“Gisel emang nyebelin. Abang kerja aja, dicurigai,” kesal Della.
“Heh bocah SMA! Manggil Kakak iparnya sopan sekali, ya,” tegur Sheira.
“Lagian, kenapa Papa mau-maunya jodohin Abang sama Gisel. Bukannya sama Kak Sheira aja,” gerutu Della.