-Prolog-

1087 Words
Di tengah sesi rapat Sheira bersama beberapa kepala tim perusahaan, ponsel wanita itu berdering. Sebuah panggilan masuk dari Livia. Wanita itu pun meminta jeda sebentar untuk menerima sambungan telfon itu. "Kenapa, Kak?" "Pak Dimas suruh kamu ke ruangannya sekarang." "Tapi, aku lagi meeting, Kak." "Tadi aku juga sudah kasih tahu, Shei. Tapi, Pak Dimas bilang kalau kamu harus segera menghadap beliau." "Nggak bisa, Kak. meeting-nya sudah setengah jalan. Aku akan hampiri Pak Dimas setelah meeting selesai." “Kamu nggak bosan kah dimarahin Pak Dimas terus?” “Lagipula, Pak Dimas baru pulang dari luar kota, kenapa malah ke kantor?” “Lebih baik kalau kamu ke sini sekarang juga. Daripada kamu tanyakan hal yang aku sendiri pun enggak tahu apa jawabannya. Sebelum Pak Dimas mengacak ruang rapat, Shei.” Livia memutuskan sambungan telfon itu secara sepihak. Membuat Sheira menghela napasnya dengan berat. Sheira pun berdiri, kemudian berkata, “Mohon maaf, semuanya. Rapat untuk hari ini kita cukupkan sampai di sini dahulu dan akan dilanjutkan besok. Karena, Pak Dimas menyuruh saya untuk menghadap beliau sekarang juga.” Setelah mengatakan itu, Sheira pun langsung keluar dari ruang rapat itu dan pergi menuju ruang kerja Dimas. Sebelum masuk ke dalam ruang kerja boss besarnya itu, Sheira terlebih dahulu singgah di meja kerja Livia yang terletak di depan ruang kerja Dimas. Belum sempat Sheira bicara, Livia terlebih dahulu menyela. “Masuk gih. Sebelum beliau benar-benar mengamuk karena terlalu lama menunggu.” Sheira hanya bisa pasrah, ia pun masuk ke dalam ruangan itu tanpa mengetuk pintunya terlebih dahulu. “Pastikan kamu menutupnya dengan rapat, Shei,” ucap lelaki yang sedang duduk santai di kursi putarnya. Yang tidak lain adalah Dimas Alvareyza. CEO sekaligus orang yang dibicarakan oleh Livia dan Sheira tadi. “Bukannya langsung pulang, malah ke sini dulu,” ucap Sheira dengan santai. “Kenapa tidak kamu suruh Livia saja yang hadiri rapat? Kalian berdua sama-sama sekretaris saya, ‘kan? Kenapa semuanya harus kamu yang hadiri?” tanya Dimas bertubi-tubi. Belum sempat menjawab semua pertanyaan itu, dan baru saja hendak duduk di kursi yang ada di seberang Dimas, Sheira mendapatkan tatapan tajam dari lelaki itu dan mengisyaratkan supaya Sheira menghampirinya. Sheira yang paham, ia pun menghampiri Dimas, bahkan wanita itu tidak segan lagi untuk duduk di pangkuan boss besarnya itu. “Sekarang kamu semakin pintar, ya. Hanya dengan tatapan, dan kamu langsung paham apa yang saya mau,” ucap Dimas senang. “Kerja 1 tahun sama kamu, nggak membuat aku bodoh dalam melayani kamu,” sahut Sheira dengan suaranya yang terdengar begitu lembut. “Tapi, saya masih ingin jawaban atas pertanyaan saya tadi,” ucap Dimas lagi. Dengan posisi tangannya yang sudah melingkar sempurna di pinggang ramping milih Sheira. “Tadi, Kak Livia juga ada hal lain yang diurus. Iya, aku dan Kak Livia sama-sama sekretarisnya kamu. Enggak semuanya, kok. Kemarin saja pas kamu tinggal, Kak Shabira suruh aku untuk tinggal di sini aja, sedangkan dia pergi untuk cek pembangunan hotel kamu itu,” tutur Sheira panjang lebar. Setelah merasa puas dengan jawaban yang diberikan oleh Sheira, Dimas nampak melepas jaketnya, kemudian ia menarik pinggang Sheira agar lebih dekat dengan dirinya. “Saya butuh energi, Shei,” ucap Dimas lirih. Sheira yang paham, dirinya langsung merangkul leher Dimas. *** Setelah kurang lebih 2 jam berada di perusahaan, Dimas pun kembali ke rumah. Dirinya disambut oleh seorang gadis yang nampak mengkhawatirkan dirinya. Namun, Dimas malah bersikap acuh dengan gadis itu. “Bukankah seharusnya kamu pulang sedari 2 jam yang lalu, Dim?” tanya gadis itu yang langsung berjalan mengikuti Dimas. “Ada hal yang harus aku urus di kantor,” jawab Dimas ketus. “Kenapa nggak kabari aku? Kamu tahu nggak kalau aku khawatir?” tanya gadis itu lagi. “Seenggaknya kamu berkabar, walaupun hanya lewat pesan, Dim,” sambungnya. Dimas berdecak kesal. Ia menghentikan langkahnya dan membalikkan tubuhnya agar berhadapan dengan gadis itu. “Aku sudah pusing dengan segala pekerjaan yang enggak ada habisnya itu, Gi. Jangan kamu tambahin!” kesal Dimas. “Lagipula, ada nggak aku suruh kamu nunggu?” tanyanya. “Bukankah hal yang wajar jika seorang istri menunggu kepulangan suaminya?” tanya gadis itu seraya menatap wajah Dimas dengan nanar. “Sadar sedikit kalau hubungan pernikahan ini bukanlah kehendakku!” sahut Dimas. Kemudian, ia masuk ke dalam kamarnya, dan ia menutup pintu kamarnya itu dengan kasar. “Dim...apa waktu setahun ini nggak cukup membuat hubungan kita menjadi hubungan yang baik?” lirih gadis itu. Di kamar, Dimas langsung menelfon Sheira. Untungnya, Sheira langsung menerima sambungan telfon itu. “Hallo...ada yang bisa saya bantu?” “Shei...kamu tahu tidak? Berjumpa dengan kamu membuat energi saya ter-charger penuh. Tapi, hanya sebentar saya berjumpa dengan Gisel, dia sudah membuat energi saya seperti terkuras habis.” “Coba deh, jangan menanamkan rasa benci terhadap Ibu Gisel. Beliau itu istrinya Bapak loh.” “Saya tidak akan pernah bisa menerima dia,Shei. Saya rasa, kehidupan saya menjadi semakin sulit semenjak kehadiran dia.” “Jangan begitu, ya? Lebih baik Bapak mandi lalu istirahat. Perjalanan luar kota pasti melelahkan, ‘kan?” *** Tok...Tok...Tok... Suara ketukan pintu kamar Dimas terdengar. Membuat Dimas hanya bisa menghela napasnya dengan berat. Bukannya membukakan pintu kamarnya itu, Dimas malah masuk ke kamar mandi pribadinya dan melakukan ritual mandinya. “Lihat saja, Gi. Akan gua buat hidup lo lebih nggak tenang kalau lo terus mengusik ketenangan gua,” ucap Dimas disela-sela mandinya. Setelah selesai dengan mandinya, Dimas dengan santainya berjalan menuju dapur. Ia membuka kulkas untuk mengambil 1 kaleng soda. Ketika Dimas baru saja duduk di kursi bar yang ada di dapur itu, Gisel datang menghampirinya. “Tadi aku ketuk pintu kamar kamu. Kenapa kamu nggak bukakan?” tanya Gisel. “Kamu nggak dengar kalau aku sedang mandi?” tanya Dimas kembali. “Ngusik orang aja kerjaannya,” gerutu Dimas sebelum beranjak pergi dari dapur. “Kamu mau makan malam apa?” tanya Gisel. “Biar aku masakin,” ujarnya. “Aku sudah kenyang dengar ocehanmu yang nggak ada habisnya itu!” sahut Dimas. “Ayolah, Dim,” mohon Gisel. “Bikin steak!” jawab Dimas. Gisel tersenyum tipis. Sebab pada akhirnya, Dimas memberikan jawaban. Meskipun, yang diinginkan Dimas adalah menu yang menurut Gisel susah untuk dibuat. Meskipun begitu, Gisel tetap berusaha supaya Dimas tidak kecewa padanya. “Awas aja kalau nggak medium rare,” acam Dimas sebelum ia kembali ke kamarnya. “Sekejam apapun kamu, kamu tetap suami aku, Dim,” lirih Gisel. “GISEEELLL!” teriak Dimas dari lantai 2 rumah mereka. Gisel yang baru saja mengeluarkan daging dari dalam kulkas, ia langsung bergegas menghampiri Dimas.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD