-Pelarian-

1060 Words
“Kenapa, Dim?” tanya Gisel begitu ia sampai di kamar Dimas. “Kamu apain sih kamar aku ini? Sampai aku cari barang di tempatnya enggak ketemu!” Dimas menjawab dengan kesal. “Aku hanya bereskan sedikit,” sahut Gisel. “Kamu cari apa?” tanyanya. Meskipun Dimas memarahinya, Gisel tetap menjawabnya dengan tenang. “Dokumen yang aku letakkan di atas meja sini, ke mana?” tanya Dimas, masih dengan emosinya. “Aku pindahkan ke ruang kerja kamu, Dim. Aku pikir, supaya tertata,” jawab Gisel. “Oke! Tunjukkan letaknya sekarang,” pinta Dimas. Dengan langkah ragu, Gisel pun berjalan menuju ruang kerja Dimas yang terletak di ujung lantai 2 rumah itu. “Itu...aku lupa letak pastinya. Karena kemarin aku campur dengan dokumen kamu yang lain,” ucap Gisel dengan hati-hati. Ketika mereka telah tiba di ruang kerja Dimas. “Bukannya aku sudah bilang kalau barangku, jangan dipindahkan tanpa seizin dariku, ‘kan?!” ini adalah puncak amarah Dimas. “Aku carikan, ya?” ucap Gisel yang merasa bersalah. Namun, Dimas tidak menyahuti ucapan istrinya itu. Ia memilih untuk berlalu pergi. Atas perasaan bersalahnya, Gisel mencoba mengingat, di tumpukan mana ia meletakkan dokumen yang kemarin ia pindahkan – sembari ia mencarinya juga. Namun, baru beberapa saat setelah Dimas meninggalkan Gisel di sana. Terdengar suara mesin mobilnya – meninggalkan pekarangan rumah mereka itu. Gisel langsung mengintip melalui jendela yang ada di ruangan itu. Benar saja, mobil Dimas lah yang baru saja melaju. *** Dimas menghentikan laju mobilnya di depan sebuah gedung berlantai 25. Yang mana, gedung itu tidak lain adalah gedung apartemen – yang salah satu unitnya milik Sheira. Dimas menyalakan layar ponselnya. Telah tertera nama Gisel yang sudah hampir 10 kali menelfonnya. Namun...bukannya menelfon balik ke nomor Gisel, Dimas malah menelfon ke nomor Sheira. Sheira yang dari seberang sana pun menerima sambungan telfon itu. “Hallo, Pak.” “Kamu di apartemen?” “Aku di kantor. Masih ada pekerjaan sedikit lagi.” “Jam berapa akan pulang?” ”Mungkin jam 8 dan paling lambat jam 9 nanti. Ada apa, Pak?” “Saya di depan apartemen kamu. Bisa pulang sekarang?” “Tapi...” “Paling lambat, 30 menit kamu sudah sampai.” Tanpa menunggu jawaban dari Sheira di seberang sana. Dimas memutuskan sambungan telfon itu secara sepihak. Membuat Sheira terpaku menatap layar ponselnya. “Kenapa, Shei?” tanya Livia yang duduk di sampingnya. “Pak Dimas suruh aku pulang sekarang. Nggak tahu kenapa lagi,” jawab Sheira. “Pulanglah, Shei. Aku yakin kalau pasti ada hal yang membuat Pak Dimas suruh kamu pulang cepat. Lagian, pekerjaan ini akan selesai sebentar lagi. Aku bisa menyelesaikannya, kok,” ucap Livia. “Tapi, aku enggak enak hati sama Kakak. Ini kan kerjaan kita berdua. Masa Kakak sendirian yang menyelesaikannya?” sahut Sheira. “Kalau aku omongin, nanti makin panjang. Akan lebih baik kamu pulang sekarang. Sebelum Pak Dimas datang kemari untuk jemput kamu, Shei,” sahut Livia. Sheira pun akhirnya mengalah. Mengingat Dimas yang memberikannya waktu selama 30 menit. *** Untungnya, jalanan malam itu tidak membuat Sheira terlambat sampai di apartemen. Ketika memasukkan mobilnya ke dalam basement, Sheira melihat dengan jelas dan yakin bahwa mobil yang terparkir di tempat biasanya ia meletakkan mobil, itu adalah mobil milik Dimas. Setelah selesai memarkirkan mobilnya, Sheira langsung menghampiri mobil itu dan mengetuk kacanya. Dimas yang masih duduk di kursi kemudi pun menurunkan kaca jendelanya, kemudian ia menatap Sheira dengan santai. “Bagus, kurang 5 menit dari waktu yang saya kasih,” ujar Dimas. Kemudian, Dimas pun keluar dari mobilnya dan mengikuti Sheira berjalan menuju lift yang akan membawa mereka ke lantai di mana unit Sheira berada. “Ada apa kamu malam-malam begini ke sini?” tanya Sheira. “Nanti akan saya ceritakan setelah sampai di unit kamu,” sahut Dimas. Begitu tiba di unit, Sheira langsung melepas sepatu haknya. Baru saja ingin meletakkan tasnya ke sofa ruang tengah unit itu, Dimas lebih dahulu menarik Sheira dan memeluk wanita itu dari belakang. Dimas juga meletakkan dagunya di bahu Sheira. “Kenapa, Dim?” tanya Sheira lembut. “Saya lelah, Shei. Saya pikir, ketika saya pulang, saya bisa istirahat. Nyatanya, Gisel malah membuat saya marah lagi,” ungkap Dimas. “Kenapa lagi dengan Ibu?” tanya Sheira lagi. “Dia pindahkan dokumen yang ada di kamar saya ke ruang kerja saya, dan dokumen itu, dia gabungkan dengan dokumen lama,” ungkap Dimas. “Puncaknya, dia lupa meletakkan di bagian mana,” sambungnya. Sheira pun menghela napasnya seraya tersenyum. “Semua dokumen kamu kan selalu aku backup ke email. Nggak perlu sampai sebegininya dengan Ibu Gisel,” ucapnya. “Tetap aja, Shei. Saya sudah kasih tahu dia, kalau jangan pernah pindahkan barang saya tanpa seizin dari saya. Karena, sebelumnya dia juga pernah pindah-pindahin barang saya dan akhirnya bikin saya kesusahan nyarinya,” ucap Dimas. “Jadi, intinya kamu marah dengan Ibu Gisel. Pergi ke sini supaya malam ini kamu tidak tidur di rumah, begitu?” tanya Sheira. Dimas pun menjauhkan dagunya dari bahu Sheira, kemudian ia menarik wanita itu agar menghadap dirinya. “Kamu benar-benar peka dengan saya,” ucapnya sembari tersenyum senang. Sembari menunggu Sheira mandi. Dimas memilih untuk merebahkan tubuhnya di ranjang milik wanita itu. Saat lelaki itu tengah asik memainkan ponselnya, satu panggilan masuk lagi di sana. Tidak lain dan tidak bukan adalah panggilan suara dari Gisel. Namun, Dimas tidak menerima sambungan telfon itu. Ia lebih memilih untuk tetap memainkan ponselnya. Sampai saat, titik muak Dimas menyala ketika Gisel tak henti-hentinya menelfon dirinya. Dimas pun menerima sambungan telfon setelah 30 kali tidak diterimanya. “Kenapa?!” “Dim...aku sudah berusaha mengingatnya. Tapi, aku benar-benar lupa. Aku juga sudah mencarinya, tapi aku nggak tahu apa isi dokumen itu.” “Berhentilah mencari. Karena aku sudah suruh Sheira untuk ketik ulang laporan itu.” “Kamu di mana?” “Kamu nggak perlu tahu keberadaanku. Yang perlu kamu tahu, aku nggak akan pulang malam ini.” Setelah mengatakan itu, Dimas memutuskan sambungan telfon itu. Karena, bersamaan dengan itu, Sheira selesai dari kamar mandi dan ia hanya menggunakan bathrobe-nya saja. Dimas yang tadinya rebahan, ia langsung duduk dan tersenyum bahagia menatap wanita itu. “Bukannya tadi siang sudah, ya?” tanya Sheira. “Ayolah, Shei. Kamu sendiri yang memancing saya,” sahut Dimas. Sheira tersenyum senang ketika mendengar rengekan Dimas. Namun, dalam hatinya berkata “Akan aku nikmati walaupun hanya sebagai pelarian kamu, Dim.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD