Setelah selesai survei lokasi pembangunan hotel baru milik Dimas. Lelaki itu memutuskan untuk pulang. Meskipun waktu masih menunjukkan pukul 3 sore.
Setibanya di rumah, Dimas mendapati Gisel yang sedang menyeruput kopi – dengan ditemani oleh laptop di hadapannya.
“Eh, Dim...” kaget Gisel ketika melihat Dimas yang tiba-tiba sudah berada di dalam rumah.
“Sibuk?” tanya Dimas singkat.
“Enggak. Aku cuman kerjakan tugas kuliahku. Tapi, enggak banyak, kok,” jelas Gisel. “Mau aku siapkan air panas untuk kamu mandi?” tawarnya.
“Enggak perlu!” jawab Dimas ketus.
“Semalam...kamu tidur di mana?” tanya Gisel seraya menatap Dimas yang baru saja melangkah menuju kamarnya.
“Semalam aku tidur di tempat Jason,” bohong Dimas.
“Kamu tahu? Semalam aku nungguin kamu,” ucap Gisel dengan suara pelan.
Namun, nyatanya suara itu tetap bisa didengar oleh Dimas. Hingga membuat lelaki itu menghentikan langkahnya dan menghadap Gisel kembali. “Bukannya aku sudah bilang kalau aku nggak akan pulang semalam?” tanyanya.
Namun, setelah melontarkan pertanyaan itu, Dimas langsung mempercepat langkahnya – kembali ke tujuannya.
Atas amarahnya kemarin, Dimas berniat untuk memperbaiki komunikasinya dengan Gisel.
Selesai mandi, Dimas kembali ke lantai dasar rumahnya itu untuk menunggu makanan yang ia pesan melalui ojek online.
“Dim...kamu nungguin apa sampai duduk di sini?” tanya Gisel yang mendapati Dimas sedang duduk di bangku yang ada di teras depan rumah mereka.
“Nunggu gofood,” jawab Dimas apa adanya. “Kamu lanjut kerjakan tugas saja sana,” perintahnya.
“Kadang ini yang bikin aku bingung, Dim. Kadang kamu kasar sama aku, tapi kamu juga bisa bersikap lembut,” Gisel membatin.
Tak mau jika Dimas memarahinya lagi, Gisel pun masuk kembali ke dalam rumah.
Tidak lama setelah Gisel masuk, Dimas juga ikut masuk – dengan membawa beberapa kantong plastik di tangannya.
“Kalau aku bahas soal dokumennya kemarin itu sekarang, dia bakalan marah lagi nggak, ya?” Gisel membatin sembari menatap Dimas yang berjalan ke arahnya.
“Siapin sana,” perintah Dimas sembari memberikan kantong-kantong belanjaan itu kepada Gisel.
Gisel pun menerima itu dan melakukan apa yang diperintahkan oleh Dimas.
Setelah memindahkan semua makanannya ke piring, mereka berdua pun mulai makan.
“Nggak usah kamu pikirkan soal dokumen itu. Aku sudah suruh Sheira untuk cari dokumennya situs kantor dan mencetaknya ulang,” ucap Dimas membuka pembicaraan.
“Aku benar-benar merepotkan Sheira,” sesal Gisel.
“Mau bagaimana lagi, ‘kan?” tanya Dimas.
Namun, dari lubuk hatinya, Dimas merasa senang ketika melihat Gisel merasa bersalah atas perbuatan yang tidak seberapa itu.
***
Keesokan harinya.
Sheira menyelinap masuk ke dalam ruang kerja Dimas ketika pekerjaannya sudah sedikit santai.
Dilihat Sheira, Dimas sedang menatap 2 wadah kaca berukuran sedang di tangannya. Tanpa rasa canggung, wanita itu duduk di samping Dimas dan menatap lelaki itu dengan heran.
“Ngapain, Pak?” tanya Sheira santai.
“Saya bingung mau kasih kamu yang mana,” jawab Dimas tanpa melepaskan pandangannya dari 2 buah wadah itu.
“Memangnya, itu apa?” tanya Sheira.
“Vitamin,” jawab Dimas.
“Kenapa warna kemasannya beda?” tanya Sheira lagi.
“Makanya itu, saya lupa. Ini satu buat malam dan satu buat siang,” jawab Dimas. “Nanti saya search lagi deh. Kamu ambil aja dulu,” sambungnya kemudian memberikan kedua wadah itu kepada Sheira.
Sheira pun menerima itu dan membaca tulisan yang tertera di sana. “Lagian...beli vitamin aja yang dari China,” gerutunya ketika melihat tulisan yang ada di sana memiliki huruf mandarin semua.
“Apa, Shei?” tanya Dimas.
Sheira menggeleng seraya tersenyum. Kemudian ia berkata, “Terima kasih, Pak.”
“Sama-sama, cantik,” jawab Dimas seraya mengusap lembut pipi Sheira.
“Tapi, kamu tahu kan ini vitamin untuk apa?” tanya Sheira.
“Shei...saya hanya lupa, mana yang dimakan malam dan mana yang dimakan siang. Saya tidak lupa dengan fungsinya,” jawab Dimas.
“Berarti, bisa dong kamu kasih tahu aku,” ucap Sheira – tanpa berhenti tersenyum menatap Dimas.
“Ini vitamin buat kulit kamu. Karena, kita kan sudah memasuki musim panas. Kulit kamu pasti bakalan cepat keringnya,” jelas Dimas.
Sheira mengangguk tanda mengerti.
Di tengah perdebatan tentang vitamin itu, pintu ruangan kerja Dimas diketuk.
“Siapa?” tanya Sheira.
“Aku, Shei,” jawab Livia dari depan sana.
“Masuk saja, Kak,” ucap Sheira.
Livia pun membuka pintu ruangan itu dan berjalan masuk ke dalamnya.
“Ada apa, Liv?” tanya Dimas.
“Saya mau menyerahkan dokumen yang Pak Dimas pinta tempo hari,” jawab Livia.
“Letakkan saja di atas meja sana,” perintah Dimas.
Livia pun meletakkan dokumen itu ke atas meja kerja Dimas.
“Rapat hari ini ada berapa kali, Shei?” tanya Dimas santai.
“3 kali, Pak,” jawab Sheira apa adanya.
“Apa?! 3 kali?! Yang benar aja, Shei?!” pekik Dimas.
“2 kali pertemuan, Pak Dimas wajib hadir. 1 pertemuan, bisa kami wakilkan,” sahut Sheira.
“Lalu...bagaimana dengan asisten kalian, Liv?” kini Dimas beralih bertanya kepada Livia yang masih berada di sana.
“Ada beberapa karyawan sini yang mengajukan. Tapi, saya belum menemukan yang sesuai dengan kriteria yang Bapak inginkan,” jawab Livia.
“Memangnya...Bapak cari yang bagaimana?” tanya Sheira.
“Yang bisa meringankan pekerjaan kalian 100 persen,” sahut Dimas.
“Kalian atau Sheira, Pak?” tanya Livia.
Dimas menatap tajam ke arah Livia. Namun, Livia malah mengedipkan mata kanannya ke arah Sheira.
Dimas mengusir kedua wanita itu agar keluar dari ruang kerjanya. Supaya...Sheira juga tidak banyak menanyakan perihal asisten yang sedang ia cari untuk membantu pekerjaan wanita itu.
“Kak, kenapa Pak Dimas masih nyari asisten buat kita? Nggak cukup apa kalau kita berdua aja di sini?” tanya Sheira ketika mereka sudah sampai di meja kerja dirinya dan Livia.
“Karena, sudah 4 bulan terakhir ini, setiap mau tutup bulan, kita selalu lembur, Shei. Mungkin, Pak Dimas iba dengan kita,” sahut Livia asal.
Nyatanya...Sheira ragu dengan jawaban yang dilontarkan Livia.
Sebab, mereka memang sering kali lembur setiap akhir bulan tiba. Namun, paling lambat mereka pulang adalah jam 10 malam.
Suara ketukan di meja mereka, membuat Sheira menghentikan niatnya untuk bertanya lagi kepada Livia.
Suara ketukan di meja itu, tidak lain ditimbulkan oleh Dimas yang sudah berdiri di depan meja kerja Sheira.
“Ngobrol terus,” tegur Dimas. “Belikan saya kopi dulu sana,” perintahnya.
“Baiklah Pak Dimas yang tersayang,” jawab Sheira dengan candaan sebelum dirinya beranjak pergi.
Sepeninggal Sheira, Dimas beralih kepada Livia.
“Aman kok, Pak. Saya nggak akan kasih tahu Sheira tentang tujuan Bapak,” ucap Livia yang paham sebelum diajukan pertanyaan oleh Dimas.
“Bonus kamu, saya kirim nanti malam, ya,” ucap Dimas. Kemudian, ia kembali ke ruang kerjanya.
“Pak...Pak... Bisa-bisanya Bapak jatuh cinta sama orang lain setelah menikah,” ucap Livia dengan suaranya yang sangat pelan.