"Mbak Kia!" Nani mengetuk pintu kamar Kiana, sudah hampir masuk waktu magrib istri Regan itu belum juga keluar dari kamarnya.
Setelah sekian kali panggilan jug ketukan di pintu, akhirnya Kiana keluar dari kamar masih dengan wajah khas baru bangun tidur.
"Maaf Mbak kalau menganggu istirahat Mbak Kia, udah sore soalnya."
"Iya Nan, nggak pa-pa. Makasih sudah dibangunkan. Aku mandi dulu ya, tolong kamu masak nasi seperti biasa, jangan lupa kasih perasan jeruk nipis supaya lebih pulen," pinta Kiana sebelum beranjak ke kamar mandi.
Selesai makan rujak bareng Regan siang tadi, Kiana memang langsung masuk kamar karena tidak tahan dengan rasa pusing di kepalanya. Sampai Nani membangunkan berarti tidur Kiana terlampau nyenyak.
"Mbak, dicari Nyonya." Nani sudah nongol lagi di depan kamar Kiana, untung dirinya sudah selesai solat.
"Iya Nan, bentar ya." Kiana membereskan mukenanya lalu gegas ke dapur.
"Kata Dirga kamu sakit, Ki?" tanya Nyonya Wika yang sudah ada di dapur.
"Iya Nya, maaf tadi saya sempat istirahat sebentar, kepala saya pusing sekali," jawab Kiana sambil menghangatkan pesmol juga membuat ulang kue lumpur, karena Wika meminta yang hangat baru dikeluarkan dari cetakan.
"Sudah minum obat?"
"Saya jarang minum obat, Nya. Dipakai istirahat saja sudah mendingan."
"Ya sudah kalau nanti terasa nggak enak badan kamu bilang saja, biar saya minta Rumini bantu-bantu Nani."
"Iya Nya, terima kasih."
Kiana dengan cekatan menyiapkan menu untuk sajian makan malam. Selain pesmol ikan patin, kue lumpur, ada lotek permintaan Regan juga salad buah. Regan memang hampir tidak pernah makan berat setiap malamnya kecuali kalau ada acara jamuan yang mengharuskan makan berat, itupun hanya sedikit. Boleh dibilang sebagai formalitas saja.
"Nesa... Nesa, kesayangan tante." Wika menyambut kedatangan Nesa dengan wajah semringah.
"Tante apa kabar?" Mantan kekasih Regan itu memeluk Wika erat lalu cipika cipiki.
"Alhamdulillah tante baik. Kamu gimana setelah dari Bali? Kelihatan semringah sekali."
"Aku baik Te. Lagi usaha mendekati anak kesayangan Tante lagi. Doakan ya Te, biar Regan segera membuka hatinya untuk aku lagi."
"Pasti tante doakan yang terbaik untuk kalian, jadi nggak sabar melihat kalian duduk di pelaminan, Nes. Kamu memang dari dulu menantu idaman tante. Cantik, cerdas, sukses dalam karier, pokoknya kali ini kamu nggak usah pergi-pergi lagi. Nanti Regan malah kepincut wanita lain lagi."
Kiana yang kebetulan sedang menghidangkan kudapan dan minuman hanya bisa menarik sudut bibirnya, hatinya terasa ngilu mendapati kenyataan kalau bukan dirinya yang diinginkan jadi menantu di keluarga terpandang ini.
"Permisi, silakan dicicipi kudapan dan minumannya," ucap Kiana menyela obrolan dua wanita sosialita.
"Terima kasih. Tante selalu saja menyiapkan makanan kesukaan aku, makasih ya Te." Nesa menyomot kue lumpur buatan Kiana yang tidak pernah gagal soal rasa dan tekstur.
"Kia juga masak pesmol patin kesukaan kamu."
"O ya? Makasih Kia." Nesa mengulas senyum pada Kiana.
"Iya sama-sama. Maaf saya permisi ke belakang, kalau ada yang dibutuhkan bisa panggil saya."
Kiana beranjak dari tempatnya. Saat di ruang makan berpapasan dengan Regan yang baru saja turun dari lantai atas. Suaminya itu terlihat tampan dengan outfit celana pendek selutut, kaos berkrah dan yang pasti aroma parfum yang segar membuat Kiana betah berdekatan dengan lelaki yang menikahinya secara kontrak.
"Apa lihat-lihat? Kamu belum mandi ya?" ucap sarkas.
"Mandilah. Kenapa memangnya?" jawab Kiana tidak terima dituduh belum mandi.
"Bau tahu! Minggir jangan dekat-dekat." Regan mengibaskan tangannya, seakan menyuruh Kiana menjauh.
"Mana ada bau, wangi nih!" Kiana mendekatkan dirinya pada Regan yang langsung menutup hidungnya dan gegas menjauhi Kiana, menuju ruang tengah dimana ada ibunya juga Nesa.
"Awas aja kalau sampai kena karma, nggak akan bisa jauh-jauh dari aku. Orang wangi gini, sudah mandi pula masih saja dikatain bau. Dasar hidungnya lagi bermasalah," gerutu Kiana meneruskan langkah ke dapur.
Dirga yang sedari tadi melihat perseteruan Kiana dengan sang kakak dari tangga hanya mengernyitkan keningnya, merasa heran saja karena keduanya seperti Tom dan Jerry, biasanya Regan tidak peduli tentang orang lain apalagi para pekerja di rumah mereka, ini sampai memperhatikan bau badan Kiana, sungguh di luar kebiasaan Regan.
"Re, makasih ya udah ngundang aku lagi untuk makan malam." Nesa langsung menyongsong Regan yang baru bergabung.
"Mami yang ngundang, bukan aku." Regan menghempaskan tubuhnya di sofa single, lalu menyomot risol mayo pedas.
"Itu pedas, Re." Wika memperingatkan karena memang Regan kurang bisa makan pedas.
"Nggak pa-pa Ma, enak kok," jawab Regan sambil menyomot lagi risol buatan Kiana. Bahkan CEO RE Company itu menghabiskan tiga risol.
"Doya apa lapar, Mas," sindir Dirga yang langsung duduk di sandaran tangan sofa tempat duduk Regan.
"Nikmat tau, jangan kamu habisin," pinta Regan mengambil risol keempat.
"Makanan kalau dibuat dengan cinta memang beda, dari perut bisa nembus ke hati," ujar Dirga tersenyum makin menambah ketampanannya.
"Maksudmu apa Dir?" sambar Wika cepat.
"Maksudku dibuat dengan ketulusan, Kiana mencintai pekerjaannya, pasti melakukan dengan sepenuh hati, dengan ketulusan nggak setengah-setengah maka dari itu hasilnya pasti maksimal, memuaskan. Bukan begitu Kak Nesa? Kalau kita mencintai pekerjaan kita ibarat kata harus meninggalkan orang yang tulus mencintai kita pun tentu nggak masalah, iya 'kan?" tutur Dirga setengah menyindir wanita yang dulu membuat kakaknya hampir gila karena ditinggal pas lagi sayang-sayangnya.
Nesa langsung menatap tajam ke arah Dirga, begitu juga Wika, sedang Regan tetap asyik dengan risolnya, seakan tidak peduli pada ucapan adiknya yang membuat situasi jadi sedikit tegang.
"Dir!" tegur Wika.
"Memang seperti itu 'kan, Mam? Jadi nggak usah proteslah. Mas, ingat ada hati yang harus Mas." Dirga beranjak meninggalkan ruang tengah setelah menyomot dua risol dan itu membuat Regan ngamuk.
"Dir, kembalikan!" teriak Regan membuat terkejut Kiana yang baru datang membawa risol piring kedua.
"Jangan dikeluarkan lagi, simpan khusus buat saya," perintah Regan pada Kiana dan langsung diberi kode Wika dengan tangan supaya Kiana membawa risolnya kembali ke belakang.
"Dirga kampret! Bisa-bisanya ngabisin risolku." Regan masih ngomel tak jelas hanya gara-gara risol.
"Udah Re, malu sama Nesa," tegur Wika geleng-geleng kepala melihat inner child sulungnya keluar.
"Nggak pa-pa Te, Re dari dulu 'kan seperti itu kalau makanan kesukaannya diganggu," sahut Nesa menampilakan senyum terbaiknya.
"Tadi Dirga ngomong kalau Re harus menjaga hati seseorang, memang Re sudah menjalin hubungan lagi? Dengan siapa? Lalu kenapa Tante Wika nggak kasih tahu aku ya?" batin Nesa yang tiba-tiba isi kepala dipenuhi rentetan pertanyaan.
Jelas dia tidak terima kalau Regan bersama dengan wanita lain. Sudah cukup dirinya dulu ditinggal nikah, masak setelah menunggu dudanya harus kalah lagi.
"Biar bagaimanapun aku harus mendapatkan Re kembali, toh Tante Wika selalu mendukung aku, dan saat restu orang tua Re sudah di tangan, nggak akan susah untuk menaklukannya," ucap batin Nesa dengan senyum licik tersamarkan.
"Nes ayo makan, sepertinya sudah selesai disiapkan," ajak Wika mengandent tangan Nesa.
"Eh, i-ya Te," jawab Nesa tergeragap.
"Maksud Dirga apa ya, kok minta aku untuk menjaga hati seseorang? Apa dia tahu tentang pernikahanku dengan Kiana?" Regan masih asyik dengan pikirannya sendiri sambil tetap mengunyah risol terakhir.
Bersambung.