Bab 7. Rujak Serut Dan Lotek

1027 Words
Kiana sedang menunggu hasil test pack muncul dikejutkan suara menggelegar Regan yang memanggil namanya berulang kali. "Ck, ganggu orang aja. Ngapain coba siang bolong begini udah pulang," gerutu Kiana gegas keluar dari kamar mandi, bahkan alat tes kehamilan sampai terlempar ke dalam lubang kloset. "Saya Tuan!" Suara Kiana tak kalah lantang membalas panggilan suaminya. "Dari mana? Dipanggil dari tadi baru datang!" amuk Regan begitu Kiana berdiri di hadapannya. "Jangan dekat-dekat, bau kamu nggak enak, bikin saya mual!" "Tadi nyariin, giliran sudah datang malah diomelin, diusir. Mas maunya apa?" Kiana tanpa sadar kelepasan memanggil Regan dengan sebutan Mas. "Eh, ma-af Tuan." Ralat Kiana cepat. Regan sempat tetegun beberapa detik mendengar Kiana memanggilnya mas. Ada desir halus menyapa relung hatinya, indah terasa. "Ah, jangan baper Re. Dia hanya mau uangmu saja. Sama seperti perempuan di luar sana. Tidak ada perempuan yang benar-benar punya cinta tulus, semua berdasarkan materi," desis batin Regan menggeleng beberapa kali, berusaha mengenyahkan pikiran-pikiran tentang sikap Kiana. "Bikinkan saya saya rujak serut, yang dingin. Jangan pedas-pedas. Sama lotek, pakai lontong sama mie kuning, krupuknya merah," perintah Regan penuh otoriter. "Lah dia juga mau rujak. Apa aku beneran hamil ya?" ucap batin Kiana sambil menunduk, memandang perutnya yang masih rata. "Ki! Malah bengong, buruan nggak pakai lama!" Regas beranjak meninggalkan Kiana yang masih mematung. "Eh, Tu-an! Kalau rujak potong mau nggak? Kalau mau itu sudah ada, tinggal saya bikinkan loteknya." Nego Kiana mengejar langakh lebar Regan. Bukan maksud apa-apa hanya supaya nggak menambah pekerjaannya, bukan juga mau bermalas-malasan dirinya hanya ingin istirahat sejenak sebelum melanjutkan pekerjaan yang lain. Regan menghentikan langkahnya mendadak tanpa Kiana tahu, akibatnya tubuh Kiana menabrak d**a bidang Regan dan hampir saja wanita itu terpelanting ke belakang kalau suaminya tidak sigap menahan pinggang sang istri. Untuk beberapa saat keduanya beradu pandang. Debar jantung keduanya beroacu lebih cepat. Regan yang lebih dulu tersadar dengan posisi tidak seharusnya langsung melepaskan tanganya dari pinggang Kiana, bersyukur istrinya sudah bisa menyeimbangkan tubuh. "Rujak serut! Ngerti 'kan? Apa mau makan gaji buta!" bentak Regan. "I-ya Tuan." Kiana membuang napas lalu gegas ke arah dapur tanpa menoleh lagi ke belakang. "Untung jantungku masih ada di tempatnya. Orang kok senangnya bikin kaget, coba kalau aku jantungan, udah mati kemarin-kemarin." Kiana ngedumel sambil menyiapkan bahan-bahan untuk membuat ruja juga lotek. "Siapa yang mati Ki?" Dirga tahu-tahu ada di hadapan Kiana. "Astaqfirullohalazim, ini adiknya juga seneng bikin kaget!" Suara Kiana lumayam kencang bersamaan dengan suara baskom yang terjatuh ke lantai. "Maaf Ki, aku nggak maksud bikin kamu kaget," ucap Dirga dengan perasaan menyesal. "Iya Tuan, nggak pa-pa. Mungkin saya yang sekarang kagetan." Kiana sedikit terhuyung saat mengambil baskom yang terjatuh, hal itu tak luput dari pandangan Dirga, lekas bungsu Keluarga Prayogo membantu Kiana untuk duduk di kursi. "Aku tadi bilang kalau nggak enak badan istirahat dulu, kenapa masih ngeyel kerja," omel Dirga memberikan segelas air putih pada Kiana. "Saya nggak pa-pa Tuan, tadi juga udah istirahat sebentar." Air putih dalam gelas sudah tandas, berpindah membasahi kerongkongan Kiana. Sejak pagi istri rahasia Regan itu memang belum sarapan karena memang sedang tidak selera makan. Sampai pulang belanja hanya terisi sebotol jus jambu, niatnya tadi mau makan rujak sambil istirahat sejenak malah suaminya minta dibikinkan rujak sama lotek. "Sudah makan belum?" tanya Dirga melihat wajah Kiana memucat. Yang ditanya hanya menggeleng lemah. "Kamu gimana sih, orang kerja butuh asupan untuk tenaga. Sudah kamu diam di situ biar saya bikinkan makanan yang cepat, atau kamu pengen apa selain rujak?" Dirga memakai celemeknya lalu membuka kulkas, mencari bahan makanan yang bisa dimasak. "Jangan Tuan, nggak usah bia--" "Ki, rujak saya mana?" Suara Regan memotong ucapan Kiana. "Kamu ngapain malah duduk begitu? Dah kamu ngapain pakai celemek?" Lanjut Regan memandang Kiana juga adiknya bergantian. "Kiana sedang nggak enak badan, makanya aku mau bikinkan makanan. Mas mau sekalian dibikinkan?" Dirga memang jago masak dan masakannya lumayan enak. "Kamu mau makan gaji buta?" bentak Regan pada Kiana. "E-nggak Tuan, iya ini saya bikinkan. Permisi Tuan Dirga." Kiana langsung melanjutkan membikin rujak serut permintaan suaminya tanpa menggubris larangan Dirga. "Mas Re nggak lihat wajah Kia pucat seperti mayat hidup begitu? Kiana memang kerja untuk kita, tapi apa ya nggak boleh istirahat kalau memang benar-benar sakit," protes Dirga menatap tajam kakak lelakinya. "Kamu ada hubungan apa sama dia? Kamu suka sama dia?" Pertanyaan Regan justru membuat Dirga tidak bisa menahan tawa. "Mas Re cemburu? Tenang Mas, aku setia kok sama Arra, aku hanya peduli sama Kiana," ucap Dirga melepas celemek dan meninggalkan dapur. "Kalau suka perjuangkan, jangan sampai menyesal nantinya," bisik Dirga pada Regan sambil menepuk bahu kakaknya, sebelum benar-benar meninggalakn area dapur. "Maksud kamu apa?!" teriak Regan pada Dirga yang justru mengedipkan sebelah matanya dan mengulas senyum. "Ki, jangan kecapean, kalau Mas Re ngapa-ngapain kamu langsung panggil aku ya!" Dirga justru berpesan pada Kiana dengan lantang. "Senang ya merasa ada yang membela?" ucap Regan dengan tatapan tajam. Kiana tidak mempedulikan hal tersebut, fokusnya saat ini hanya menyelesaikan pekerjaannya supaya bisa cepat istirahat, kepalanya terasa pusing lagi dan perutnya juga mual. Dengan menahan rasa tidak nyaman pada tubuhnya, dengan cekatan Kiana menyelesaikan dua makanan permintaan Regan, bahkan masih sambil membuat kue lumpur. Entah kenapa hatinya tergerak untuk membuat kue pesanan mertuanya itu sekarang. "Silakan Tuan." Kiana menghidangkan sepiring rujak serut dingin yang sudah dicampur pecahan es batu juga sepiring lotek lengkap dengan lontong plus mie kuning sesuai permintaan, di hadapan Regan. Sorot mata Regan terlihat berbinar melihat makan yang diingintan tersaji di depannya. Tanpa menunggu lama, segera disantapnya kudapan berbahan dasar aneka buah yang dicampur dengan saus gula jawa pedas, terlihat segar menggugah selera yang melihatnya. Kiana jadi kepengen dan ikut makan sisa rujak serut yang masih ada. Sepasang suami istri tidak sengaja makan rujak bersama di satu meja. Sepiring rujak serut di piring Regan tandas tak bersisa, digesernya piring kosong lalu terganti oleh piring kedua yang berisi lotek. Termasuk makan berat berupa campuran beberpa sayur seperti kangkung, touge, irisan kol, irisan tempe dan tahu yang sudah digoreng, mie kuning, dan lontong lalu disiram bumbu kacang yang biasanya dibuat secara mendadak. "Kalian memang serasi, hanya saja rasa itu belum tumbuh sempurna di hati kalian masing-masing," ucap seseorang mengulas senyum selesai mengabadikan kebersamaan suami istri yang sedang makan bersama dengan kamera ponsel. Bersambung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD